NovelToon NovelToon
Apex Of The Red Tower

Apex Of The Red Tower

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Cicilia_.

Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4# Fragmen Yang Hancur

Sinar mentari pagi di Saka tidak pernah benar-benar terang. Cahaya itu harus berjuang menembus kabut tebal dan celah-celah tebing yang tinggi sebelum akhirnya jatuh ke tanah dalam bentuk garis-garis pucat yang dingin. Harry sudah bangun sejak sebelum fajar, ia tampak sibuk mengasah pisau besarnya dengan sebuah batu sungai yang rata. Suara srek... srek... yang ritmis itu menjadi alarm pagi bagi ketujuh remaja yang masih berusaha menyesuaikan diri dengan kenyataan pahit mereka.

Arlo terbangun dengan keringat dingin yang membasahi keningnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena suara Phenix Omega, melainkan karena sebuah mimpi bukan, itu lebih terasa seperti potongan film yang diputar paksa di kepalanya. Ia melihat sebuah ruangan yang didominasi warna putih, aroma pembersih kimia yang menyengat, dan suara langkah kaki yang teratur di atas lantai beton.

"Kau baik-baik saja?"

Suara lembut itu membuyarkan lamunan Arlo. Ia menoleh dan mendapati Selene sedang duduk tidak jauh darinya, memeluk lututnya sendiri sambil menatap Arlo dengan tatapan yang sulit dibaca.

"Hanya... mimpi buruk," jawab Arlo pendek. Ia memijat pelipisnya, mencoba menangkap kembali gambaran ruangan putih itu, namun gambaran itu menguap secepat embun pagi.

"Mimpi di tempat ini jarang sekali hanya sekadar mimpi, Arlo," bisik Selene. Ia tidak bertanya lebih lanjut, namun kehadirannya memberikan ketenangan yang aneh sekaligus mencurigakan bagi Arlo.

Di sudut lain camp, Rayden sedang berusaha membantu Harry menyalakan perapian untuk memasak jatah sarapan mereka yang sangat sederhana semacam umbi-umbian yang tumbuh di kebun kecil Harry.

"Jadi, Harry... kau bilang sudah sembilan tahun di sini," ucap Rayden sambil meniup-niup bara api hingga wajahnya memerah. "Selama itu, apa kau tidak pernah menemukan pintu keluar? Maksudku, pasti ada pintu belakang atau sesuatu di hutan ini, kan? Tempat ini tidak mungkin hanya berisi pohon gila dan monster kaki lima."

Harry berhenti mengasah pisaunya. Ia menatap Rayden dengan mata yang tampak sangat tua. "Aku sudah mencoba setiap inci hutan ini selama sembilan tahun, Nak. Setiap kali kami berpikir menemukan jalan keluar, hutan itu berubah. Jalan yang ada kemarin, hilang hari ini. Itulah kenapa kami membangun Saka. Ini satu-satunya titik yang tetap diam."

"Tapi Menara itu..." Naya bergabung ke percakapan, matanya menatap Menara logam yang terlihat dari celah lorong gua. "Menara itu memancarkan sinyal. Secara logika, sinyal berarti komunikasi. Ada seseorang yang mengoperasikannya."

"Atau sesuatu," koreksi Harry. "Banyak teman-temanku mati mencoba mendekati Menara itu. Mereka bilang, semakin dekat kau ke sana, semakin banyak memori yang kau dapatkan, tapi semakin cepat pula kau kehilangan akal sehatmu."

Arlo tersentak mendengar kata "memori". Ia berjalan mendekati Harry. "Apa maksudmu? Menara itu bisa mengembalikan ingatan kita?"

Harry berdiri, ia menatap Arlo dengan intens, seolah baru menyadari sesuatu pada pemuda itu. "Begitulah menurut teori pemimpin timku dulu. Dia merasa ada gelombang frekuensi yang hanya bisa ditangkap oleh gelang kita. Tapi peringatanku tetap sama: jangan cari apa yang sudah dikubur oleh tempat ini."

Siang itu, Harry mulai memberikan tugas kepada mereka. Ia tahu bahwa ketujuh remaja ini tidak bisa hanya diam jika ingin bertahan hidup. Finn dan Zephyr ditugaskan untuk memperkuat pagar kayu yang sudah mulai lapuk, sementara Naya membantu Harry memilah bahan bakar yang masih bisa digunakan. Lira bertugas mengawasi lorong gua, menggunakan kepekaannya untuk mendeteksi getaran dari luar.

Rayden? Ia mencoba membantu Lira, meski sebenarnya ia lebih banyak mengeluh tentang tangannya yang kasar karena harus mengangkat batu.

"Lira, kau tahu tidak?" ucap Rayden sambil mencoba duduk bergaya di samping Lira yang sedang berkonsentrasi. "Meskipun kita lupa ingatan, aku merasa aku ini dulunya pasti seorang bintang film atau penyanyi terkenal. Lihat saja struktur wajahku, sangat marketable."

Lira memejamkan matanya, mengabaikan ocehan Rayden. "Rayden, bisakah kau diam? Aku sedang mencoba mendengarkan detak tanah. Jika kau terus bicara, yang kudengar hanya suara ego mu yang besar."

"Ego? Ini namanya kepercayaan diri, Lira! Di tengah hutan maut seperti ini, kita butuh harapan," balas Rayden sambil nyengir. Namun, saat melihat ekspresi Lira yang serius, ia terdiam sejenak. "Kau... kau merasakan sesuatu di luar sana?"

Lira mengangguk pelan. Wajahnya menegang. "Phenix Omega itu... dia tidak pergi jauh. Dia masih di sana, berputar-putar di sekitar tebing. Dia menunggu kita membuat kesalahan."

Sementara yang lain sibuk, Arlo kembali terdiam di dekat dinding tebing Saka yang paling tinggi. Ia menyentuh permukaan batu yang kasar. Tiba-tiba, sebuah suara berdenging keras muncul di telinganya. Pandangannya kabur.

“Subjek 01 adalah kunci. Jika dia stabil, yang lain akan mengikuti.”

Sebuah suara pria paruh baya bergema di kepala Arlo. Ia melihat sebuah tangan yang mengenakan sarung tangan karet putih sedang menyentuh bahunya. Arlo melihat ke arah pergelangan tangannya sendiri di dalam ingatan itu, dan ia melihat gelang yang sama, namun warnanya biru cerah, bukan perak kusam.

"Arlo! Awas!"

Teriakan Zephyr menarik Arlo kembali ke kenyataan. Sebuah batu kecil jatuh dari atas tebing, nyaris mengenai kepala Arlo. Zephyr berlari mendekat, wajahnya yang biasanya dingin tampak sedikit khawatir. "Kau melamun lagi. Kau bisa terbunuh bahkan di tempat aman ini jika pikiranmu melayang."

"Aku tidak melamun," bisik Arlo, napasnya memburu. Ia menatap Zephyr dengan mata yang bergetar. "Zephyr... aku rasa aku mengenal tempat ini. Bukan hutannya, tapi... tujuannya."

"Apa maksudmu?" tanya Zephyr curiga.

"Menara itu bukan sekadar tempat komunikasi," Arlo menatap Menara di kejauhan dengan tatapan yang jauh lebih dalam. "Itu adalah pusat kendali. Dan entah kenapa, aku merasa akulah yang seharusnya berada di sana, bukan di sini."

Zephyr terdiam. Ia tidak tahu apakah Arlo mulai gila atau memang mulai mengingat sesuatu yang berbahaya. Di sisi lain camp, Harry memperhatikan Arlo dari kejauhan. Harry menggenggam pisau asahnya lebih erat. Ia pernah melihat tatapan itu sebelumnya tatapan pemimpin timnya sembilan tahun lalu tepat sebelum ia memutuskan untuk melakukan perjalanan bunuh diri menuju Menara.

Harry bergumam pelan, sangat pelan hingga tidak ada yang mendengar, "Jangan sekarang, Arlo. Kau terlalu penting untuk mati secepat ini."

Malam pun kembali jatuh. Saka kembali sunyi, namun di dalam diri Arlo, sebuah badai memori mulai berkecamuk. Ia adalah orang penting, sebuah kunci dalam permainan mengerikan ini, namun ia hanyalah seorang remaja 18 tahun yang bahkan tidak tahu siapa orang tuanya.

Di luar gua, mata kuning Phenix Omega kembali menyala, seolah-olah ia juga tahu bahwa "kunci" yang ia cari ada di dalam sana, menunggu untuk ditemukan.

1
only siskaa
cmngtt KK jngn lupa mmpir di karya aku yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!