NovelToon NovelToon
MAHAR KEBEBASAN

MAHAR KEBEBASAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Mafia
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. MINDER

Gemerlap lampu kristal dan denting gelas sampanye di Grand Ballroom itu terasa semakin memuakkan bagi Keyla. Selama tiga jam terakhir, ia telah menjadi pusat perhatian. Dipta membawanya berkeliling dari satu lingkaran pengusaha ke lingkaran pejabat lainnya, memperkenalkan Keyla dengan nada suara yang penuh kebanggaan yang terukur.

"Ini istriku, Keyla," kalimat itu diulang Dipta berkali-kali seolah-olah itu adalah mantra untuk mengukuhkan kekuasaannya.

Keyla terus mempertahankan senyum porselennya, meski kakinya mulai lecet karena sepatu hak tinggi yang dipaksakan Dipta, dan jiwanya terasa makin menciut setiap kali para kolega Dipta menatapnya seperti menatap sebuah lukisan mahal yang baru saja dibeli dari lelang.

Di sudut lain, Rendy masih berdiri dengan wajah yang menegang. Matanya tidak pernah lepas dari sosok Keyla. Ia melihat bagaimana Dipta memperlakukan Keyla—bukan sebagai partner, melainkan sebagai aset. Rendy merasakan amarah yang membuncah di dadanya, namun ia sadar posisi. Ayahnya baru saja memperingatkannya melalui pesan singkat agar tidak membuat masalah dengan Mahendra Group karena kontrak distribusi mereka sedang berada di ujung tanduk. Kekuasaan Dipta bukan hanya sekadar uang; itu adalah jaring laba-laba yang bisa menjerat dan menghancurkan siapa saja.

***

Malam semakin larut, dan udara di dalam aula yang penuh dengan aroma parfum mahal dan asap cerutu itu mulai membuat Keyla mual. Ia berkali-kali membetulkan posisi berdirinya dan menarik napas panjang yang kentara.

Dipta, yang selalu peka terhadap setiap gerak-gerik Keyla, menyadari ketidanyamanan itu. Ia membungkuk, membisikkan sesuatu di telinga seorang menteri yang sedang berbicara dengannya, lalu merangkul pinggang Keyla dengan erat.

"Kau terlihat pucat, Sayang. Mari, kita istirahat sebentar," ujar Dipta. Suaranya terdengar lembut di telinga orang lain, namun Keyla tahu itu adalah perintah.

Dipta menuntunnya keluar dari aula menuju area privat di lantai atas gedung tersebut. Seorang petugas keamanan membukakan pintu sebuah kamar VIP yang sangat mewah—sebuah suite yang disiapkan khusus untuk tamu kehormatan. Interiornya didominasi warna emas dan beludru hitam, memberikan kesan intim sekaligus menekan.

Begitu pintu tertutup dan suara bising pesta di bawah sana meredup, Keyla langsung melepaskan sepatunya dan duduk di tepi ranjang besar. Ia memijat pergelangan kakinya yang memerah.

Dipta berdiri di dekat jendela besar yang menghadap kelap-kelip lampu Jakarta. Ia melepaskan tuksedonya, menyisakan kemeja putih yang kancing atasnya ia buka. Suasana seketika menjadi sangat sunyi, hanya ada suara detak jam dinding yang elegan.

"Pria tadi... Rendy," Dipta memulai pembicaraan tanpa menoleh. Suaranya rendah, bergetar dengan emosi yang ia tahan sekuat tenaga. "Seberapa sering dia mengganggumu di kampus?"

Keyla mendongak, matanya yang lelah menatap punggung tegap Dipta. "Dia tidak menggangguku, Dipta. Aku sudah mengatakannya tadi."

Dipta berbalik mendadak. Matanya berkilat tajam di bawah cahaya lampu temaram. "Jangan berbohong padaku, Keyla! Aku melihat bagaimana dia menatapmu. Aku melihat bagaimana dia mencoba meraih tanganmu di dekat meja minuman tadi. Seorang pria tidak akan senekat itu jika wanita di depannya tidak memberikan harapan."

"Dia tidak memberikan harapan apa-apa!" seru Keyla, suaranya parau. "Dia hanya orang baik. Rendy sangat baik padaku di saat semua orang di kampus itu melihatku sebagai orang asing. Dia memperlakukanku seperti manusia, bukan seperti trofi yang harus dipamerkan di depan rekan bisnis!"

Kalimat "Rendy sangat baik padaku" menghantam ego Dipta seperti godam berat. Rahangnya mengeras. Ia melangkah mendekat ke arah Keyla, membuat Keyla secara insting mundur hingga punggungnya menyentuh sandaran ranjang.

"Sangat baik, katamu?" Dipta berdesis. "Jadi kau membandingkan aku dengannya? Kau merasa dia lebih baik karena dia seusiamu? Karena dia bisa membicarakan hal-hal konyol tentang tugas kuliah dan kafe kekinian?"

"Setidaknya dia tidak memaksaku untuk menjadi orang lain," jawab Keyla berani, meski air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Dipta terdiam. Kata-kata Keyla seolah-olah menyiramkan air es ke wajahnya yang panas karena cemburu. Ia menatap Keyla—gaun birunya yang indah, riasan wajahnya yang sempurna, namun sorot matanya yang penuh dengan kepedihan.

Untuk pertama kalinya, Dipta tidak membalas dengan bentakan. Ia tidak menyeret Keyla ke ranjang untuk membuktikan kepemilikannya seperti biasanya. Sebaliknya, ia justru mundur satu langkah.

Dipta menatap tangannya sendiri yang gemetar karena amarah. Di dalam pikirannya, sebuah kenyataan pahit mulai merayap naik. Ia melihat dirinya di cermin—seorang pria dewasa yang penuh dengan luka masa lalu, penuh dengan taktik bisnis, dan berlumuran ambisi. Lalu ia melihat Keyla—gadis muda yang seharusnya sedang bermimpi tentang cinta yang manis dan masa depan yang cerah.

Dia benar, pikir Dipta. Dia lebih pantas bersanding dengan pria seperti Rendy. Pria yang bisa memberikan tawa, bukan pria yang memberikan ketakutan.

Dipta merasa asing dengan perasaan ini. Ini bukan amarah, melainkan rasa tidak aman yang sangat dalam. Ia merasa tua. Ia merasa kaku. Ia merasa tidak cukup untuk memenuhi binar di mata Keyla yang kini telah padam karenanya.

"Dipta?" panggil Keyla lirih. Ia terkejut melihat Dipta yang tiba-tiba terdiam dengan tatapan kosong.

Dipta tidak menjawab. Ia mengambil tuksedonya yang tergeletak di kursi, lalu berjalan menuju pintu kamar.

"Tetaplah di sini sampai kau merasa lebih baik," ujar Dipta tanpa menoleh kembali. "Aku akan kembali ke bawah untuk menyelesaikan urusan dengan menteri. Sopir akan menunggumu di lobi bawah kalau kau ingin pulang lebih dulu."

"Kau mau pergi?" Keyla bertanya dengan nada heran. Biasanya Dipta tidak akan melepaskannya begitu saja, apalagi setelah melihatnya berinteraksi dengan pria lain.

Dipta berhenti sejenak di ambang pintu, memegang gagang pintu dengan erat. "Aku hanya butuh udara segar. Kau... kau cantik malam ini, Keyla. Terlalu cantik untuk pria sepertiku."

Klik.

Pintu tertutup. Keyla terpaku di tempatnya. Ia menatap pintu yang tertutup itu dengan perasaan campur aduk. Ia mengharapkan ledakan amarah, ia mengharapkan paksaan yang biasanya dilakukan Dipta untuk menunjukkan dominasinya. Namun, kepergian Dipta yang tenang dan pengakuannya yang tersirat justru terasa jauh lebih menyakitkan di hati Keyla.

Ada sesuatu dalam suara Dipta tadi—sebuah kerapuhan yang tersembunyi. Keyla menyadari bahwa di balik semua sikap semena-mena itu, Dipta memiliki rasa minder yang besar karena perbedaan usia dan latar belakang mereka. Pria yang tampak begitu berkuasa itu ternyata sedang berperang dengan rasa takut bahwa suatu hari nanti, Keyla akan benar-benar meninggalkannya demi seseorang yang "lebih pantas".

***

Bersambung...

1
Nanik Arifin
jangan sampai Keyla diapa-apain Dipta Krn Rendy. Keyla dh berusaha menghindar & menjauh
Fbian Danish
lanjut Thor.....🔥🔥
Nanik Arifin
kau hanya butuh raganya kan ? ambil raganya Dipta, janga harap tawa & senyumnya untukmu. senyum & tawa da karena rasa.
mahasiswa normal, apakah kau pernah jadi mahasiswa normal, Dipta ? melihat sikapmu yakin kau tak pernah jadi mahasiswa normal atau bahkan lbh parah, tak pernah kuliah
Nanik Arifin
pengen banget penggal pala Dipta😠
Nanik Arifin
monster itu g peka, klo kau sedang sakit Key, jangan berharap banyak. sadarlah, keras kepalamu membuatnya brutal. berdamailah kalian.
Dipta, gunakan hati & otakmu, bisa kan ? kalau kau ingin Keyla menurut, perlakukan dia dg baik, dg pendekatan hati pasti timbal baliknya juga baik
Nanik Arifin
sungguh luar biasa kau melukai psikis Keyla, Dipta. kau memperkosanya lagi, apakah otakmu tak bisa berpikir ? kau hanya bisa menunjukkan dominasimu, perasaanmu. kau hanya uang & kuasa, tak lebih. akal sehat, akhlaq, empati bahkan kecerdasan juga kau tak punya. kamu tak peka. hati & otakmu mati. karma spt yg layak kau dapatkan ??
Nanik Arifin
kau bukan manusia Dipta. aku yakin, kau lahir buka dari wanita baik". wanita baik" & terhormat akan melahirkan & mendidik anaknya menjadi manusia baik" yang terkendali, memiliki adab + kesopanan & empati, bukan melahirkan monster yg jauh lebih mengerikan dr iblis.
ayo Dipta buktikan, dirimu manusia baik" atau kakek moyangnya iblis dg perilakumu
Nanik Arifin
karmamu segera otw Dipta. kau ciptakan trauma tanpa penyembuhan pd diri Keyla. iblis aj tunduk & bakal berguru padamu
Fbian Danish
lanjut Thor.... ayo semangat🔥🔥🔥💪💪
Fbian Danish
lanjut Thor.... ceritanya seruuuu🔥
Nda
novelmu selalu keren thor😍
MissSHalalalal: terimakasih kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!