Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyedot Debu
...୨ৎ──── F A R R I S ────જ⁀➴...
Aku enggak bisa fokus sama latihan. Di tengah latihan, aku angkat tangan dan bilang, "Kalian semua pulang. Besok datang satu jam lebih awal."
Nyonya Hadibroto bangkit dari tempat duduknya dan menghampiriku.
Saat dia berhenti di dekatku, aku bergumam, "Pulanglah. Aku bakal bicara sama kamu besok."
"Aku cuma mau minta maaf lagi. Seharusnya aku nangani situasinya dengan lebih baik. Ini enggak bakal kejadian lagi."
Aku ambil HPku dan menekan nomor Eva.
Teleponnya berdering lebih lama dari biasanya.
...📞...
^^^"Halo."^^^
"Datang ke auditorium."
^^^"Oke."^^^
Sambil menunggu, aku mikir, berapa kali aku lihat Eva lagi bersih-bersih dan enggak sekali pun aku mengenali dia. Kesal sama diri sendiri, aku menatap panggung kosong.
Sekarang masuk akal, bagaimana caranya dia bisa kabur dari aku setelah menari.
Saat dia masuk ke auditorium lewat pintu samping, aku berdiri dan keluar dari koridor. Menuruni tangga, aku ketemu dia di depan panggung.
Aku ambil topinya dan lepas dari kepalanya. Melingkarkan jari aku di lehernya, aku mencondongkan badan dan kasih ciuman lembut di bibirnya.
Aku menjauh, menutup mata bersamanya.
"Semua omong kosong soal dunia kita yang berbeda itu enggak berarti apa-apa buat aku. Aku mau kamu apa adanya, Eva."
Pertarungan di matanya menghilang. Saat setetes air mata mengalir di pipinya, aku mengusapnya dengan ibu jari.
"Aku cuma enggak mau bikin kamu malu," katanya.
"Kamu enggak bikin aku malu."
"Orang-orang bakal gosipin kamu!"
"Aku enggak peduli apa yang orang lain pikir. Yang penting buat aku cuma kita." Aku meyakinkan dia.
Dia menatapku sebentar sebelum melingkarkan tangannya di pinggangku dan menenggelamkan wajahnya di dadaku.
"Maaf soal malam ini," katanya, suaranya serak karena tangis. "Aku enggak mau kamu tahu dengan cara kayak gini."
"Enggak apa-apa. Aku ngerti kenapa kamu ragu buat cerita ke aku."
Itu alasan yang sama kenapa aku enggak cerita ke dia soal Marunda. Aku bakal jadi munafik kalau pakai itu buat menyerang dia.
Yang bisa aku harapkan cuma dia bakal menunjukkan pengertian yang sama, saat aku bilang kalau aku adalah bos mafia.
Aku menggosokkan tanganku naik turun di punggungnya beberapa kali sebelum memegang dagunya dan mengangkat wajahnya supaya dia menatapku.
"Aku enggak mau denger kata-kata perpisahan lagi. Oke?"
"Oke."
Aku menciumnya dan bertanya, "Kamu mau nari buat aku?"
Senyum sayu muncul di bibirnya saat dia mengangguk. "Biar aku ganti baju dulu."
"Ikut aku." Aku pegang tangannya dan membawa dia ke belakang panggung, ke tempat beberapa kostum pertunjukan tergantung.
Aku memperhatikan satu per satu sampai menemukan yang pas buat Eva.
"Pakai ini."
Matanya berpindah-pindah antara wajahku dan gaunnya sebelum dia menggenggamnya. "Aku bakal nunggu kamu di studio."
Aku menghela napas lega.
Syukurlah dia enggak lanjut ribut sama aku soal perbedaan itu. Aku mengerti dia butuh waktu buat menyesuaikan diri sama gaya hidupku, dan aku bakal sabar selama yang dia perlukan.
Sampai di studio, aku lepas jas dan menaruhnya di salah satu kursi. Aku membuka kancing manset kemeja lengan panjangku dan menggulungnya sampai siku sambil menunggu Eva datang.
Besok aku bakal kasih peringatan terakhir ke Nyonya Hadibroto dan mengurus Beatrice. Enggak mungkin dia menari buat perusahaanku setelah menampar pacarku.
Saat Eva masuk ke studio, mengenakan jumpsuit putih bertabur berlian, sudut bibirku terangkat. Kain sifon menjuntai di sekelilingnya seperti jubah, melayang mengikuti setiap langkahnya.
Dia menyambungkan HPnya ke speaker. Sama seperti terakhir kali dia menari buat aku, dia mendekat sampai telapak tangannya menyentuh daguku.
Never Let Me Go dari Florence & The Machines, mulai memenuhi ruangan.
Aku memalingkan wajah dan mencium telapak tangannya. Sedetik kemudian, dia berputar menjauh dari aku.
Sambil memperhatikan pacarku menari, stres dari insiden sialan beberapa jam lalu lenyap dari pundakku.
Otot-otot aku mengendur, dan aku tenggelam dalam kilau berlian serta gairah yang dia pancarkan saat tubuhnya bergerak di lantai.
Saat lagu berakhir, aku berdiri dan berjalan ke tempat HPnya berada. Aku memutus sambungan perangkatnya sebelum menyambungkan HPku. Mencari lagu yang tepat, aku menekan play lalu melangkah ke arah Eva.
Aku melingkarkan lenganku di sekelilingnya saat You’re Still You dari Josh Groban mulai diputar. Perlahan, aku menuntunnya di lantai, berharap dia mendengarkan liriknya.
Matanya mulai berkilau oleh air mata yang berkumpul di pelupuk nya, lalu dia melingkarkan lengannya di leherku, memelukku sekuat yang dia bisa.
Aku terus bergerak mengikuti irama lagu sambil menikmati sensasi tubuhnya menempel di tubuhku.
Saat lagu mencapai puncaknya, aku menundukkan kepala dan menciumnya dengan seluruh emosi yang dia bangkitkan di hatiku.
Perempuan ini menari langsung ke hatiku.
Saat ini, rasanya aku sudah menemukan orang yang memang ditakdirkan untukku.
Separuh jiwaku.
Di suatu titik kami berhenti menari, cuma menikmati ciuman itu.
Saat akhirnya aku mengangkat kepala, senyum lembut melengkung di bibirnya, "Enggak apa-apa."
Aku menatapnya heran. "Enggak apa-apa?"
"Enggak apa-apa, aku bakal jadi pacar kamu."
Tawaku meledak dan aku langsung memeluknya erat.
Aku mencium kepalanya dan berkata, "Sebagai bos kamu, aku kasih kamu libur malam ini."
Dia menjauh dan menggeleng. "Enggak. Biar aku kerjain tugas aku. Ini penting buat aku."
"Kalau gitu aku bakal bantu biar bisa lebih lama sama kamu."
Dia mulai tertawa. "Kamu mau bantu aku bersih-bersih?"
"Iya."
"Oke." Dia keluar dari pelukanku dan berjalan ke pintu. "Aku cuma mau ganti baju."
Aku mengikuti dia ke ruang ganti di belakang panggung dan memperhatikannya saat dia kembali pakai seragam kerjanya.
Setelah mengenakan celemek, dia mengambil topi dan memakaikannya di kepalaku sambil bilang, "Ayo. Kita masih banyak yang harus dikerjain."
Aku mengikuti dia ke tempat dia meninggalkan troli dan bergumam, "Suruh aku kerjain sesuatu!"
"Oh, kamu bakal nyesel udah ngomong gitu," candanya.
Dia mendorong troli ke auditorium dan memerintah, "Kamu bisa nyedot debu sementara aku moles panggung."
"Oke."
Eva menunjukkanku cara pakai penyedot debu. Saat dia puas sama caraku mengerjakannya, dia naik ke panggung.
Kami terus saling bertukar pandang. Begitu akhirnya selesai, aku dapat hadiah berupa sebuah ciuman.
JD penasaran Endingnya