NovelToon NovelToon
Bahu Yang Memikul Langit Prau

Bahu Yang Memikul Langit Prau

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Mengubah Takdir / Keluarga
Popularitas:887
Nilai: 5
Nama Author: Nonaniiss

Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cahaya di Ujung Jalan Setapak

Lembayung senja mulai memudar, digantikan oleh selimut malam yang membawa udara dingin menusuk tulang. Di desa kami, malam berarti sunyi yang pekat. Aku segera mengenakan jaket biru tebal favoritku, sementara Ibu sudah melilitkan kain jarik bermotif batik usang di bahunya, persiapan yang selalu sama setiap malamnya.

Rumah kami memang sunyi. Tidak ada kotak ajaib yang mengeluarkan gambar berwarna-warni. Yang kami miliki hanyalah sebuah radio kecil berbahan plastik kusam yang lebih sering mengeluarkan suara krusuk-krusuk ketimbang lagu, seolah-olah ia sedang batuk karena usianya yang sudah terlalu tua.

"Ayo, Nak. Nanti acaranya keburu mulai," ajak Ibu sambil menggandeng tanganku.

Kami berjalan menembus kegelapan, hanya mengandalkan cahaya senter yang sesekali berkedip. Jalan setapak menuju rumah Nenek lumayan jauh, melewati rimbun pohon pisang dan kebun-kebun warga yang sunyi. Namun, rasa takut selalu kalah oleh rasa antusias untuk melihat dunia lewat layar kaca.

Begitu sampai di rumah Nenek, suasana seketika berubah hangat. Nenek selalu menyambutku seolah aku adalah tamu agung yang sudah dinanti bertahun-tahun.

"Cucu Nenek sudah datang! Sini, duduk di depan," seru Nenek dengan wajah berseri-seri.

Di ruang tengah itu, televisi berukuran 14 inci menjadi pusat semesta kami. Ajaibnya, meski rumah itu ramai dengan paman atau sepupu yang lain, kendali penuh atas saluran televisi ada di tanganku.

"Mau nonton apa hari ini? Film kartun atau sandiwara laga?" tanya Paman sambil menyodorkan remot.

"Kartun saja!" jawabku riang.

Anehnya, mereka semua menurut saja. Mereka ikut menonton apa yang aku tonton, sesekali tertawa bersamaku, seolah memberikan kebebasan mutlak padaku untuk berkuasa malam itu. Tapi, ritual malam belum lengkap tanpa satu hal.

"Sini, kepalamu taruh di sini," perintah Nenek sambil menepuk lantai di depannya.

Meski siang tadi Ibu sudah "panen" besar-besaran, Nenek seolah punya insting pemburu yang lebih tajam. Di bawah cahaya lampu bohlam yang remang-remang, jemari Nenek yang mulai keriput bergerak lincah di antara helai rambutku. Beliau adalah ahli sejati, matanya tetap awas meski penerangan sangat minim.

"Wah, masih ada ini satu yang bersembunyi! Pinter sekali dia sembunyi di balik telinga," gumam Nenek dengan penuh semangat.

Pletok!

Bunyi itu kembali terdengar, lebih nyaring di keheningan malam. Aku merasa sangat dimanja. Di satu sisi ada tontonan yang menghibur mataku, dan di sisi lain ada jemari Nenek yang menari-nari di kepalaku, memberikan rasa nyaman yang luar biasa.

"Nenek kok bisa lihat, sih? Kan lampunya redup," tanyaku sambil menguap lebar.

"Nenek tidak cuma pakai mata, Nak, tapi pakai perasaan," jawabnya sambil tertawa kecil, membuat kepalaku ikut bergoyang di pangkuannya.

Lama-kelamaan, suara televisi mulai terdengar samar. Dialog-dialog di layar kaca berubah menjadi gumaman yang tidak jelas. Rasa kantuk yang berat kembali menyerangku, lebih hebat dari siang tadi. Hal terakhir yang kuingat adalah tangan Ibu yang mulai mengalungkan kain jarik ke tubuhku yang lemas karena kantuk.

"Sudah tidur dia, Bu," bisik Ibu pelan kepada Nenek.

"Gendong saja, kasihan. Biar dia mimpi indah malam ini," sahut Nenek lembut.

Ibu mengangkat tubuhku dengan cekatan, memasukkanku ke dalam ayunan kain jarik yang hangat dan akrab. Dalam keadaan setengah sadar, aku merasakan tubuhku bergoyang seiring langkah kaki Ibu yang berjalan pulang menembus dinginnya malam. Kepalaku bersandar di bahunya, mendengarkan detak jantungnya yang tenang. Bagi dunia, kami mungkin keluarga yang kekurangan karena tak punya televisi, tapi malam itu, di dalam dekapan kain jarik Ibu, aku merasa aku adalah anak paling kaya di seluruh dunia.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Zanahhan226: terima kasih, Kak..
🥰🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!