NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 : Mereka lebih bodoh dari Chika.

Chapter 4 : Gurun Kegilaan

Pagi di Havenload terasa aneh—langit biru pucat seperti kaca tipis, angin berembus membawa bau logam dan kayu basah dari dermaga terapung. Di tengah pulau melayang itu, berdiri sebuah penginapan kayu milik Vivi: bangunan miring dengan papan-papan yang bunyinya kriiit–kraak tiap kali diinjak, atapnya dipenuhi jamur kecil berwarna oranye menyala.

Chika melangkah ke arah pintu sambil menyeret kakinya. Mantel petualangnya masih penuh bekas jelaga dari ritual kemarin. Begitu ia mendorong pintu—

KREEEEK.

Suara besi, baut, dan palu langsung menyambutnya.

Di dalam, Beatrix dan Marianne sibuk di lantai, dikelilingi tumpukan kabel, pipa mana, dan pelat logam berukuran absurd. Di sudut ruangan berdiri setengah badan Teatan, robot raksasa milik Marianne, dadanya terbuka seperti pasien operasi.

Marianne berjongkok, memegang obeng raksasa. “Kalau aku pasang modul pendingin di sini… boom, Teatan bisa tahan panas ekstrem.”

Beatrix sedang mengelas sesuatu. ZZZTTT! Percikan biru meloncat ke udara.

Chika mengangkat tangan kecil. “Ehh… lagi merakit ya?”

Beatrix berhenti mengelas, visor kacamatanya terangkat. “Ah… Gorila. Dari mana aja kamu?”

Marianne menoleh, alisnya terangkat tinggi. “Gorila? Kenapa kamu manggil dia gorila?”

Dari dalam sebuah tong kayu besar di pojok ruangan, tiba-tiba terdengar suara malas: “Ya jelas karena dia bisa mecahin batu pake satu tangan.”

Tutup tong bergeser sedikit. Kepala Selena muncul, rambutnya kusut, mata setengah tertutup seperti baru bangun tidur.

Beatrix menunjuk ke arahnya. “Dari mana kau tahu?!”

Selena menguap lebar sampai rahangnya berbunyi krek. “Di Hutan Gurial Tempest. Dia sering mecahin batu sambil nyari reward. Haaa… dasar otak kubik emas…”

Chika langsung tersenyum lebar, senyum khasnya yang bodoh tapi tulus. “Lagian kubiknya cerah dan indah banget! Aku suka!!”

Beatrix memijat pelipisnya. “Sekarang aku makin yakin… gorila ini memang suka emas.”

Pintu belakang terbuka.

KLEK.

Vivi masuk membawa keranjang jamur penuh, senyumnya yang selalu menutupi mata dan hatinya tak berubah. Langkahnya ringan seperti tidak menyentuh lantai.

“Hai… Chika. Lokasi Hero keempat masih jauh.”

Chika menoleh cepat. “Hah? Memangnya… di mana?”

Vivi meletakkan keranjang di meja, jamur-jamurnya bergoyang. “Di gurun… tempat elf tinggal.”

Chika langsung menjatuhkan bahunya. “Aduh… pasti panas banget. Kenapa sih lokasi para Hero selalu nyusahin aku… Kemarin sekolah sihir berhantu, sekarang gurun pasir… Aku bakal meleleh kayak lilin di sana…”

Ia menoleh ke samping.

Princes berdiri di dekat pintu, memegang ujung mantel Chika dengan dua tangan kecilnya.

Chika berjongkok di depannya, sejajar dengan matanya. “Untuk hari ini… Princes di Havenload aja, ya.”

Princes menggeleng keras sampai rambutnya bergoyang. “Tidak. Aku mau berpetualang sama Chika.”

Chika menghela napas, lalu berbicara lebih pelan. “Di sana panas, Princes… kamu bisa cepat haus. Airnya juga… kumuh. Nggak bisa diminum sembarangan.”

Hening.

Lalu serempak—

Vivi, Selena, Marianne, dan Beatrix berkata: “Njir… tumben pintar.”

Chika berkedip. “Heh?!”

Princes mengatupkan bibir, menatap lantai sebentar, lalu mengangguk kecil. “Yaudah… tapi janji, ya. Kamu pulang bawa Hero keempat… terus aku ikut cari Hero kelima bareng kamu.”

Chika tersenyum, menepuk dada. “Iya, aku janji.”

Princes meraih tangan Chika sebentar, lalu melepaskannya dengan ragu.

Di luar, angin Havenload berdesir membawa debu cahaya ke langit. Dari kejauhan, siluet gurun tampak seperti lautan emas mati.

Beatrix menyandarkan senjatanya ke bahu. “Baiklah, Gorila… siap dipanggang matahari?”

Marianne menepuk dada Teatan. “Robotku siap. Kalau panas, kita pakai dia sebagai payung raksasa.”

Selena kembali masuk ke tong. “Aku tidur dulu. Bangunin kalau kalian mati di gurun.”

Vivi tersenyum kecil. “Gurun elf bukan hanya panas… tapi penuh kegilaan.”

Chika menatap keluar jendela, senyum bodohnya muncul lagi, tapi matanya sedikit lebih tajam dari biasanya.

“Kalau begitu… kita ke tempat paling gila berikutnya.”

Angin berdesir. Jamur di atap bergetar. Dan petualangan baru pun dimulai.

Langit Havenload masih biru pucat ketika Chika dan Selena melangkah keluar dari penginapan Vivi. Papan kayu di teras berbunyi kriiit–kraak di bawah sepatu Chika, sementara Selena membuka payung merahnya dengan bunyi fwap! seperti bunga mekar mendadak.

Chika berhenti sejenak, menatap ke arah kota terapung itu. Beberapa bangunan baru berdiri—menara kecil dari logam ringan, jembatan gantung yang masih bau cat, dan rumah-rumah modular yang tampak seperti dirakit tergesa-gesa oleh tangan mekanik.

“Kerja bagus, robot MK!!” teriak Chika ke langit, sambil mengacungkan jempol. Angin membawa suaranya, entah sampai atau tidak ke telinga MK.99.

Selena mendesah panjang, memiringkan payung agar menutupi wajahnya. “Haa… Chika… panas banget. Padahal kita belum sampai gurun.”

Chika terkekeh kecil, mengusap tengkuk. “Iya sih… hehe. Tapi… kenapa kamu mau ikut aku?”

Selena berjalan setengah langkah di belakangnya, bayangan payung merah membentuk lingkaran di pasir jalan. “Aku ingin minum darah penjahat di gurun itu,” katanya datar. “Darah elf… sangat aku butuhkan.”

Chika menoleh cepat, ekspresinya antara kaget dan sok yakin. “Tenang aja, Selena! Aku pasti nangkap penjahat yang ada di gurun!”

Selena meliriknya dari balik payung, matanya menyipit. “Tapi… Chika… penduduk elf di gurun pasir itu terkenal… cukup gila.”

Chika mengayunkan tangan, penuh semangat bodoh khasnya. “Gila bukan berarti kuat! Tenang saja, Selena! Aku akan—”

Beberapa jam kemudian.

Suasana berubah drastis.

Dinding batu pasir mengurung sebuah ruangan sempit dengan jeruji besi berkarat. Bau keringat, pasir panas, dan sup aneh bercampur jadi satu. Di sudut sel, Chika duduk bersila sambil menangis keras.

“HAAA!! KENAPA SEORANG KNIGHT MASUK PENJARA!! SELENAAAA!!”

Air matanya menetes ke lantai berdebu, membentuk noda kecil seperti peta benua mini.

Selena duduk di atas ranjang penjara yang keras, kakinya disilangkan anggun meski suasananya mengenaskan. “Ini semua karena ulahmu,” katanya sambil mengibas-ngibaskan payung. “Mereka itu bandit gila.”

Chika menoleh dengan wajah merah. “Aku cuma… ikut nari…”

Selena menghela napas panjang. “Kita kembali ke beberapa menit yang lalu.”

Flashback.

Matahari gurun seperti bola api raksasa yang menggantung rendah. Desa elf pasir muncul dari balik bukit pasir: bangunan dari tanah liat retak, kain warna-warni tergantung seperti bendera perang, dan penduduk dengan mata tajam serta senyum mencurigakan.

Begitu Chika dan Selena masuk, langkah mereka diikuti suara tap… tap… tap…

Seorang elf bertopi miring muncul dari gang sempit. Ia berjalan sambil tertawa terbahak, lalu… mulai berdansa aneh: bahunya naik turun, kakinya menyeret pasir, tangannya berputar seperti baling-baling rusak.

“Hehehe… hehehe… Knight… vampir… mari menari…”

Selena menarik lengan Chika. “Jangan diladeni.”

Chika justru tersenyum lebar. “Oh! Tarian lokal? Seru juga!”

Ia ikut bergerak, mengangkat tangan dan memutar badan dengan gaya yang sama sekali salah irama. Pasir beterbangan.

Awalnya hanya satu elf.

Lalu dari balik rumah tanah liat muncul satu lagi. Dan satu lagi. Dan satu lagi.

Dalam hitungan detik, puluhan elf berpakaian aneh berkumpul, semuanya tertawa dan berdansa memutari Chika dan Selena.

DUM—DUM—DUM.

Entah dari mana, drum gurun dipukul. Irama kacau. Lingkaran makin rapat.

Selena sadar terlalu terlambat. “Chika… ini bukan tarian…”

Chika masih berputar. “Eh? Tapi mereka senyum…”

Tiba-tiba, jaring pasir dilempar dari atas atap. FWOOOSH!

Chika dan Selena terjerat, jatuh ke tanah.

Elf-elf itu berhenti menari seketika. Senyum mereka berubah jadi seringai licik.

“Bandit gurun menangkap mangsa hari ini,” kata salah satu dari mereka sambil mengangkat tombak pendek.

Kembali ke penjara.

Chika memukul dinding sel dengan kepala pelan. “Aku pikir… mereka cuma mau joget…”

Selena menutup wajah dengan satu tangan. “Kau itu… terlalu mudah percaya.”

Chika terisak. “Selena… aku gagal jadi pahlawan… aku malah jadi… tahanan…”

Selena meliriknya, lalu tersenyum tipis—senyum yang berbahaya. “Tenang saja. Kita memang ditangkap… tapi kita juga sedang berada di sarang penjahat.”

Ia berdiri, membuka payung merahnya sedikit. “Dan aku… sangat lapar.”

Chika mengangkat kepala, matanya berbinar. “Berarti… ini kesempatan kita kabur sambil jadi pahlawan?”

Selena mengangguk pelan. “Kalau kau tidak ikut menari lagi dengan bandit.”

Chika mengusap hidungnya. “Aku janji… cuma menari dengan teman.”

Di luar sel, suara langkah bandit mendekat.

Tap… tap… tap…

Dan di tengah panas gurun yang gila, petualangan mereka berubah dari konyol… menjadi berbahaya.

Lampu obor di lorong penjara berkedip fssst… fssst… seperti napas orang tua. Bayangan jeruji menari-nari di dinding batu pasir. Selena berdiri perlahan, payung merahnya ia lipat, lalu ia mencondongkan tubuh ke telinga Chika.

“Chika… diam sebentar,” bisiknya, suaranya setipis benang.

Chika langsung mengangguk kaku, seperti boneka kayu. Matanya menatap lurus ke depan.

Dari ujung lorong terdengar langkah malas. Tap… tap… tap…

Seorang bandit gurun muncul. Tubuhnya tinggi kurus, jubahnya kusam, dan di pinggangnya tergantung kunci besar yang berbunyi kring-kring tiap kali ia melangkah. Ia berhenti di depan sel mereka, menyeringai lebar.

“Hai, nona manis…” katanya pada Selena, nadanya malas tapi genit. “Nanti aku cium ya…”

Chika langsung menoleh, alisnya mengernyit bingung. “Cium? Apa itu?”

Bandit itu terkekeh. “Ah… sudahlah. Nanti kamu tahu setelah aku melakukannya…”

Ia lalu duduk di kursi kayu di depan sel, menyandarkan kepala ke dinding, dan dalam beberapa detik… khrrr… khrrr… Tertidur pulas, mendengkur seperti unta kelelahan.

Chika merapat ke Selena, berbisik panik. “Selena… cium itu apa?”

Selena menoleh pelan, bibirnya melengkung jadi senyum licik yang berbahaya. “Oh? Cium ya… baiklah,” katanya pelan. “Aku akan memperlihatkannya.”

Ia menggigit ujung jarinya sendiri. Setitik darah muncul, lalu berubah menjadi benang tipis merah gelap yang melayang di udara seperti benang layang-layang hidup. Benang itu meluncur keluar sel, berputar, lalu mengait kunci di pinggang bandit.

kring… kring…

Dengan gerakan halus seperti penjahit ahli, Selena menarik benang itu kembali. Kunci masuk ke tangannya. Klik! Sel terbuka.

Selena mengangkat satu jari ke bibirnya. “Shhh… Chika. Perhatikan baik-baik… ini yang disebut ‘ciuman’.”

Chika mengangguk serius, wajahnya tegang seperti murid ujian.

Selena melangkah keluar sel, mendekati bandit yang masih tidur. Ia menyentuh bahu bandit itu ringan. “Oh… bandit tampan…”

Bandit itu terbangun tersentak. “Hah?! Kalian—kalian lolos?!”

Selena menempelkan jari telunjuk ke bibir bandit. “Eits… tadi kamu mau mencium kami, kan?” katanya manis. “Apa niatmu itu cuma bohong?”

Mata bandit itu berbinar. “T-tidak, nona cantik!”

“Kalau begitu…” Selena menunjuk sel. “Masuk dulu ke dalam penjara. Malu dilihatin orang.”

Dengan gerakan cepat, ia menarik bandit itu masuk ke sel. DUK! Pintu ditutup dari luar.

Chika yang berdiri di lorong menatap bingung. “Mana ciumannya?”

Selena menoleh ke bandit, senyumnya berubah tajam dan intimidatif. Ia mendekatkan wajahnya ke leher bandit.

“Giliran pertama… aku yang ambil, ya.”

Bandit itu malah tersenyum gugup. “Ba-baiklah!”

Selena mencondongkan kepala. Senyumnya melebar… dan taring vampirnya muncul.

CHUP.

Bandit itu sempat berkata, “Hei… jangan kasar ya—”

Namun suaranya langsung melemah. Tubuhnya mengempis perlahan seperti kantong air bocor. Dalam hitungan detik, ia berdiri kurus kering, lalu Selena menyentuh dadanya ringan.

“Pup.”

DUK! Bandit itu jatuh ke lantai sel seperti karung gandum kosong.

Selena mengusap bibirnya dengan punggung tangan. “Nah, Chika… ini yang dinamakan ciuman.”

Chika menatap tubuh bandit itu, matanya melebar. “Jadi… ciuman itu perilaku para vampir?!”

Selena berpura-pura berpikir, lalu mengangguk serius. “Iya, Chika yang polos. Begitulah.”

Chika langsung mundur satu langkah, memeluk dadanya sendiri. “B-berarti… jangan cium aku, ya…”

Selena tertawa kecil. “Tenang saja. Aku tidak suka ciuman dengan manusia.”

Mereka berjalan keluar dari penjara. Lorong batu pasir itu terasa lebih panjang, suara langkah mereka bergema tok… tok… tok…

Chika menoleh ke Selena, wajahnya pucat tapi penasaran. “Selena… bandit itu mati?”

Selena mengangkat bahu. “Tidak. Hanya pingsan… dan sangat kurus.”

Chika mengangguk perlahan. “Oh… jadi ciuman itu… menyeramkan.”

Selena tersenyum samar. “Selamat datang di dunia vampir.”

Di luar penjara, matahari gurun masih menyala seperti neraka kecil di langit. Angin panas membawa bau pasir dan suara jauh dari desa bandit.

Chika menghela napas panjang. “Baiklah… sekarang kita bebas… tapi aku kapok ikut menari.”

Selena membuka payung merahnya kembali. “Pelajaran hari ini: jangan menari dengan orang asing di gurun.”

Mereka melangkah pergi, satu knight polos dan satu vampir licik, meninggalkan penjara bandit yang kini sunyi… dengan satu bandit kurus.

Di depan pintu keluar penjara, cahaya matahari gurun menyelinap masuk lewat celah atap dan jendela kisi-kisi. Sinar itu jatuh miring ke lantai batu, membentuk garis-garis terang seperti pedang cahaya. Selena langsung berhenti melangkah, menutup wajahnya dengan lengan.

“Chika…” katanya pelan, suaranya tegang. “Kurasa… aku berhenti di sini.”

Chika yang sudah melangkah setengah jalan menoleh. “Hah? Kenapa?”

Selena menunjuk ke seberang lorong, ke sebuah ruangan penjaga yang pintunya terbuka setengah. Di dalamnya terlihat meja kayu, rak senjata, dan… sebuah payung merah tersandar di dinding. “Payung kesayanganku ada di ruangan seberang. Aku tidak tahan matahari. Kulitku bisa… gosong.”

Chika mengangguk, baru sadar. “Oh iya… kamu vampir.”

Lalu ia menepuk dadanya sendiri dengan percaya diri. “Tenang, Selena! Serahkan padaku! Lagipula, pedang Lumina dan perisai Lumina-ku juga masih di ruangan itu!”

Selena menatapnya lama, lalu menyeringai tipis. “Baik. Tapi kalau kamu gagal mengambil payungku…”

Ia mendekat setengah langkah. “Aku akan menciummu.”

Bayangan bandit kurus kering langsung terlintas di kepala Chika.

“Tidak! Tidak! Jangan!”

Chika langsung berlari ke pintu keluar. “Aku pasti dapat payungmu, Selena!!”

Selena mundur satu langkah, menyandar ke dinding yang gelap. “Hah… bandit-bandit di sini… bodohnya mereka membiarkan knight sepertimu berkeliaran.”

Chika menerobos pintu dan masuk ke ruangan kedua.

Ruangan itu sangat luas, atapnya tinggi, ditopang tiang kayu besar. Di kiri dan kanan berjajar sel-sel besi. Di dalamnya, ada penduduk gurun: pedagang, anak kecil, bahkan seorang kakek berjanggut putih yang memeluk karung kosong.

Di tengah ruangan, dua penjaga bandit duduk di meja, bermain kartu sambil tertawa keras. “Kalau aku menang, kau yang jaga sel malam ini!” “Bohong! Kau curang!”

Chika bersembunyi di balik peti kayu, mengintip.

Dalam hatinya:

Pedang dan perisaiku di sana… payung Selena juga… tapi… orang-orang ini juga harus keluar…

Ia menghela napas. “Baiklah… operasi: Bebaskan Semua Orang dan Ambil Payung.”

Chika mengambil seutas tali dari lantai dan sebuah ember kosong. Ia mengikat tali ke kaki meja penjaga, lalu ujung satunya ke gagang pintu.

Ia berlari kecil ke arah pintu sel pertama dan berbisik: “Pak… bisa berdiri diam sebentar?”

Kakek berjanggut di dalam sel menatapnya bingung. “Hah?”

Chika mendorong pintu sel sedikit.

“Kalau bandit datang, teriak saja ‘ada tikus’.”

Kakek itu mengangguk ragu.

Chika lalu melempar batu kecil ke arah meja penjaga.

TIK!

“Eh? Apa itu?” Penjaga berdiri.

Begitu ia melangkah, kakinya tersangkut tali.

“WOAH—”

BRUK!

Meja kartu terseret, ember jatuh ke kepalanya:

PLONG!

“KENAPA ADA EMBER?!”

Chika menutup mulutnya sendiri. “Maaf… refleks.”

Penjaga kedua berlari ke arah temannya, tapi Chika sudah melompat ke saklar pintu sel dan memutar tuas besar.

KRAK-KRAK-KRAK!

Beberapa pintu sel terbuka bersamaan.

“Cepat! Keluar!” bisik Chika.

Penduduk gurun keluar satu per satu, terhuyung-huyung. “Terima kasih, Knight!” “Semoga air minummu selalu dingin!”

Chika tersenyum lebar. “Hehe… sama-sama!”

Tiba-tiba terdengar teriakan: “ADA TIKUS!”

Kakek berjanggut menunjuk lantai dengan dramatis.

Para penjaga lain panik. “TIKUS?! DI PENJARA?!”

Chika memanfaatkan kekacauan itu. Ia berlari ke rak senjata, mengambil pedang Lumina dan perisai Lumina.

“Lengkap!”

Lalu ia melihat payung merah Selena di sudut ruangan penjaga.

Ia melompat, mengambilnya, dan mengacungkannya tinggi.

“PAYUNG DAPAT!!”

Seorang bandit lain masuk sambil berteriak: “HEI KAU—”

Chika refleks melempar bangku ke arah kakinya.

DUAK!

Bandit itu tergelincir dan jatuh menabrak sel yang sudah kosong.

Chika berlari sambil menarik tuas lain.

KRAK!

Sel-sel sisanya terbuka.

Penduduk yang baru keluar menatap Chika. “Kau mau kami ke mana?”

Chika berpikir cepat. “Ke pintu keluar! Kalau ada bandit, bilang saja kalian… sedang kerja bakti!”

Mereka saling pandang, lalu mengangguk. “Baik… entah kenapa masuk akal.”

Chika berlari kembali ke arah pintu awal.

Di lorong gelap, Selena masih menunggu, membelakangi cahaya matahari.

“Chika… lama sekali—”

Chika muncul dengan pedang di tangan, perisai di punggung, dan payung merah diangkat tinggi. “SELENA! PAYUNGMU!”

Selena langsung meraih payung itu dan membukanya. “Syukurlah… aku hampir berubah jadi arang.”

Dari belakang Chika, para penduduk gurun berlarian keluar.

Selena menatap mereka. “…Apa yang kau lakukan?”

Chika tersenyum polos. “Sedikit membebaskan orang… dan sedikit menjebak bandit… dan sedikit ketagihan memasang jebakan.”

Selena terdiam beberapa detik, lalu tertawa kecil. “Kau ini… Knight paling berisik yang pernah kulihat.”

Chika menggaruk kepalanya. “Hehe… yang penting kamu tidak mencium aku.”

Selena menutup payungnya sebentar, mendekat, lalu berkata pelan: “Untuk kali ini… kau selamat.”

Di belakang mereka, dari dalam penjara terdengar suara: “KENAPA SEMUA SEL TERBUKA?!” “KENAPA ADA TIKUS, EMBER, DAN BANGKU DI SINI?!”

Chika dan Selena sudah berjalan menjauh, menuju desa gurun, dengan matahari menyala di atas kepala dan suara kekacauan penjara sebagai musik latar petualangan mereka.

...----------------...

Di gurun yang panas menyengat, debu beterbangan ke udara dan cahaya matahari membakar kulit, Chika dan Selena berjalan perlahan sambil mengantar penduduk yang baru mereka bebaskan dari penjara bandit ke desa gurun terdekat. Setiap langkah Chika meninggalkan jejak di pasir panas, sementara Selena melayang sedikit di atas tanah, payung merahnya menahan teriknya sinar matahari, bayangan panjangnya menari di atas pasir.

“Chika… kau yakin semua penduduk sudah aman?” tanya Selena, matanya biru menyipit karena sinar menyilaukan.

Chika tersenyum bodoh, mengusap peluh di dahinya dengan siku.

“Hehe… setidaknya mereka semua sudah keluar dari sel… tapi, tunggu… aku merasa masih ada yang tersembunyi.”

Selena mengerutkan alisnya, menatap ke arah penjara yang mereka tinggalkan. “Aku juga merasa begitu… penjara itu lebih besar dari yang terlihat. Banyak sel samping, bahkan mungkin ada ruang bawah tanah yang belum kita periksa.”

Chika mengangguk, matanya mulai berbinar penuh semangat.

“Oke… ayo kita kembali. Kita pastikan tidak ada penduduk yang tertinggal.”

Mereka berdua kembali ke penjara, berjalan melewati lorong-lorong yang sebelumnya kacau, sekarang lebih tenang karena bandit-bandit kecil yang masih linglung ketakutan belum bangkit kembali. Chika menatap dinding-dinding besi yang masih menyisakan bekas goresan dan noda darah kering. Debu beterbangan di udara setiap kali mereka melangkah, terdengar suara gemerincing rantai dari sel kosong yang mereka lewati.

Selena mencondongkan tubuhnya ke depan, mata menatap gelap bawah tanah.

“Chika… siap-siap, aku merasakan banyak bandit di bawah. Mereka pasti berkumpul di sana, menunggu.”

Chika mengangkat pedang Lumina yang berkilau biru muda dengan elemen petir berdesis, perisai di tangan lain bergetar ringan saat ia menahan debu dan pasir beterbangan.

“Siap… mari kita bebaskan mereka lagi!”

Mereka menuruni tangga batu yang sempit dan lembap, udara semakin pengap dan berbau apek. Lampu sihir Lumina di pedang Chika memancarkan cahaya biru yang menembus kegelapan, bayangan mereka menari liar di dinding basah.

Begitu tiba di ruang bawah tanah, bandit-bandit itu menatap mereka dengan mata melotot. Salah seorang menantang dengan senyum licik, membawa gada panjang.

“Hei… kalian pikir bisa lolos begitu saja?!” teriaknya.

Chika menepuk bahunya sendiri, tersenyum bodoh tapi penuh semangat.

“Kalau mau bertarung… mari kita mulai! Tapi jangan salahkan aku kalau kamu terbang ke langit!”

Dengan gerakan kilat, Chika memutar pedang Lumina ke atas, elemen petir menyambar di udara. ZZZZT! Suara listrik memecah keheningan bawah tanah. Bandit-bandit mundur beberapa langkah, namun beberapa mencoba menyerang.

Selena, dengan gerakan anggun dan cepat, memutar payungnya untuk menahan cahaya yang sedikit masuk, kemudian menekuk pergelangan tangannya. Tangan kanannya mengeluarkan benang darah tipis seperti ular merah yang meluncur ke leher bandit. Bandit itu terkejut, mencoba melepaskan diri, tapi darah Selena mengekang tubuhnya dan membuatnya terangkat sedikit ke udara.

“Selena… kau gila!” teriak Chika sambil melompat ke atas kotak kayu, menghindari tombak bandit lain.

Chika mengayunkan pedang Lumina dengan gerakan akrobatik: salto ke belakang, menendang satu bandit, berputar, lalu menebas udara dengan Petir Raksasa Lumina, sambaran petir mengenai tiga bandit sekaligus, membuat mereka terpental dan menabrak tumpukan besi tua.

Selena tertawa kecil sambil menarik satu bandit ke dinding, menekannya hingga tubuh bandit itu terikat benang darahnya sendiri, matanya membulat. “Ini… namanya ciuman vampir gurun,” ujarnya sambil melepaskan bandit itu ke lantai, tubuhnya sedikit terhuyung.

Setelah semua bandit di bawah tanah jatuh atau lari panik, Chika menoleh ke sebuah pintu besi yang setengah terkubur debu. Pedang Lumina di tubuhnya bergetar hebat. Cahaya biru menyala lebih terang, hingga seluruh lorong bawah tanah bergetar seolah merespon energi itu.

Selena menatap Chika, matanya menyipit.

“Chika… ini bukan main-main. Aku merasakan energi… sangat kuat. Hero keempat mungkin ada di balik pintu itu.”

Chika mengangguk, menggenggam pedang dan perisai lebih erat, napasnya mulai memburu.

“Oke… kita turun. Kalau Hero keempat benar-benar di sini… kita harus hati-hati.”

Mereka membuka pintu, cahaya biru dari pedang Lumina menyapu ke seluruh ruangan. Di sana, di tengah tumpukan bandit yang sudah dikalahkan, berdiri seorang pria besar, kekar, berkulit cokelat dengan rambut putih panjang yang sedikit berantakan, dan mata hitam yang menatap mereka tajam. Kedua tangannya dibalut sarung tinju besi besar, tubuhnya tegap seperti gunung, dan di sekelilingnya bandit-bandit yang tadi sudah dijatuhkan tersusun seperti tumpukan kubus kacau.

Chika melangkah maju, Hero Sword di tubuhnya berdenyut hebat. Cahaya biru dari pedang dan perisai Lumina beradu dengan aura Hero Sword, menimbulkan getaran keras yang terdengar sampai lorong bawah tanah.

“Selena… Hero keempat…” Chika berbisik sambil menyipitkan mata.

Selena menggenggam payungnya, darahnya berdesir lembut di udara.

“Ya… dia di depan kita. Bersiaplah, Chika. Aku bisa merasakan kekuatannya… dan kita harus bekerja sama. Ini bukan sekadar pertarungan biasa.”

Ruang bawah tanah seketika sunyi kecuali desah Chika dan suara gemerincing sarung tinju pria itu. Debu beterbangan, cahaya biru berpendar, dan semua tumpukan bandit tampak seperti menunggu ketegangan yang akan segera meledak menjadi aksi perang.

Chika tersenyum bodoh, mengibas pedang Lumina.

“Selamat datang… Hero keempat… mari kita lihat siapa yang bisa membuat gorila ini melompat lebih tinggi!”

Dan lantai bawah tanah bergetar keras, suara debu dan logam saling bertabrakan, menandai awal pertempuran epik mereka dengan Hero keempat yang misterius itu.

Di lorong bawah tanah yang remang-remang, debu beterbangan setiap kali kaki Chika dan Selena menapak, udara panas bercampur dengan bau besi dan pasir. Cahaya biru Lumina di pedang Chika bergetar lembut, sementara payung merah Selena meneduhkan sebagian bayangan di wajahnya. Di hadapan mereka, Hero keempat berdiri tegap, tubuh kekarnya memancarkan aura menekan, tapi matanya… ada bekas luka di sudut kanan, seolah menandai sejarah panjang perjuangannya.

Pria itu menoleh perlahan ke belakang, menghela napas panjang, suaranya berat dan terdengar seperti guruh lembut di gurun.

“Hah? Apa yang kau katakan, gadis knight… Kau pikir aku ini orang jahat?”

Chika menatap pria itu dengan mata membulat, tapi bibirnya masih menyunggingkan senyum bodoh khasnya. Ia mundur satu langkah sambil mengangkat tangan, menahan napas panas yang bercampur debu.

“Soalnya… tubuhmu… besar… dan gelap… terus… ada bekas goresan di matamu…”

Selena mencondongkan tubuh ke samping Chika, berbisik setengah ketakutan tapi tegas di telinganya.

“Gausah rasis, tolol…”

Chika tersentak, lalu tertawa kecil gugup. “Eh… hehe… iya deh…”

Pria itu menghela napas panjang, menurunkan sedikit kedua bahunya, dan menatap mereka dengan mata tajam yang penuh pengalaman.

“Lalu… apa benda-nya dengan kalian? Uhum… benar, kau cantik… tapi senyummu itu… seperti orang bodoh yang baru saja keluar dari penjara.”

Chika tersipu sebentar, menyeka debu di pipi dengan siku, lalu menundukkan kepala.

“Hehe… ga jadi deh…”

Pria itu menatap mereka lebih tajam, suara beratnya bergema di dinding bawah tanah.

“Jadi… apa yang kalian lakukan di sini, gadis-gadis?”

Selena mengangkat payungnya sedikit, matanya biru bersinar di cahaya biru Lumina.

“Kami… sedang memeriksa penjara ini kembali, dan… kami awalnya ditangkap secara tiba-tiba. Kami sudah membebaskan semua penduduk desa.” Matanya melirik Chika sejenak, menekankan ketelitian dan ketegasannya. “Kau… kenapa di sini?”

Pria itu menghela napas panjang, kedua tangannya terlipat di depan dada.

“Aku… sedang mencari kenalanku, gadis elf yang masih kecil… Namanya Nayla. Dia ditangkap oleh pemimpin bandit sekaligus tirani wilayah gurun, dipaksa membuat acar kaktus tanpa dibayar. Aku sudah menjelajahi semua ruangan sel… tapi tak ada tanda-tanda Nayla.”

Chika melangkah maju, matanya bersinar penuh semangat meski senyum bodohnya masih terpampang.

“Paman… aku akan membantumu! Oh ya… kamu juga salah satu dari 16 Hero yang ditakdirkan oleh Hero Sword!”

Pria itu menundukkan kepala sedikit, alisnya berkerut.

“Baiklah… tapi… Hero Sword? Dan aku salah satu Hero-nya?”

Chika mengangguk cepat, tubuhnya bergerak lincah, pedang Lumina di tangan bergetar ringan.

“Iya! Sebenarnya tujuan kami di sini adalah mencari Hero keempat yang berada di wilayah gurun. Oh ya, nama ku Chika, pemilik baru Havenload sekaligus pemilik Hero Sword. Dan ini gadis vampir di sampingku…”

Selena melangkah maju, payungnya tertutup sebagian dan gaun merahnya mengembang sedikit saat ia membungkuk sopan.

“Aku Selena, Hero pertama yang ditakdirkan Hero Sword… senang bertemu denganmu, Hero keempat yang ditakdirkan.”

Marvin, Hero keempat, menurunkan sedikit dagu dan menyentuh pelipisnya sejenak, matanya menatap mereka tajam tapi ada kilatan terkejut.

“Aku… sedikit terkejut… tapi baiklah. Terima kasih telah bersedia membantu, nama ku Marvin. Aku menghargai kalian ingin membantu mencari Nayla.”

Chika menepuk pundak Selena dengan ringan, matanya berbinar penuh semangat.

“Baiklah… ayo, Marvin! Bersama kita akan menaklukkan gurun dan menyelamatkan Nayla!”

Selena tersenyum tipis, payungnya meneduhkan wajahnya yang bersinar biru di cahaya pedang Lumina Chika, dan keduanya mulai melangkah menyusuri lorong bawah tanah menuju pintu rahasia yang memancarkan aura misterius Hero keempat. Suara pasir berderak di lorong bawah tanah, desah angin gurun masuk dari ventilasi jauh, sementara debu beterbangan di udara, memberi kesan dunia bawah tanah yang hidup, menunggu petualangan mereka selanjutnya.

Chika, dengan senyum bodohnya yang tak berubah, menatap Marvin.

“Siap-siap ya, Hero keempat… Gorila dan vampir ini akan bikin gurun panas ini jadi pertarungan paling seru yang pernah kau lihat!”

Dan ketiganya melangkah bersama, bayangan mereka menari di dinding batu bawah tanah, debu berputar, dan udara panas menyelimuti langkah awal mereka di chapter Gurun Kegilaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!