NovelToon NovelToon
Cinta Pandangan Pertama

Cinta Pandangan Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Cintapertama
Popularitas:853
Nilai: 5
Nama Author: Lanaiq

Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.

Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mampir

Sejak Aurellia mengungkapkan bahwa dia sudah memiliki pacar, suasana di rumah itu menjadi sedikit lebih hidup—bukan karena suara, melainkan karena rasa ingin tahu yang bertebaran di udara.

Nara adalah yang paling bersemangat, tentu saja.

“Jadi,” ucap Nara sambil bersantai di sofa, kakinya terangkat, “kapan aku bisa ketemu lagi sama pacar kakak yang legendaris itu? ”

Aurellia melirik adiknya dari arah meja makan. “Legendaris dari mana? ”

“Dari cara senyum kakak tiap kali namanya muncul di chat,” jawab Nara cepat. “Itu bukan senyum biasa-biasa aja. ”

Aurellia pura-pura sibuk mengaduk teh. “Kamu terlalu kepo. ”

“Sebagai adik, itu kan tugasku,” balas Nara tanpa rasa bersalah.

Bu Dewi, yang sejak tadi hanya mendengarkan sambil melipat kain, juga tersenyum kecil. “Ibu nggak bermaksud untuk mencampuri,” katanya pelan, “tapi ibu juga penasaran. ”

Aurellia mengangkat kepala. “Penasaran apa, Bu? ”

“Orang yang buat kamu pulang sambil senyum, tidur lebih nyenyak, dan lebih sering tertawa sendiri,” jawab Bu Dewi dengan jujur.

Pernyataan itu membuat Aurellia terdiam sejenak.

Dia tidak bisa membantahnya. Tidak mungkin.

“Ibu mau ketemu,” lanjut Bu Dewi. “Bukan buat menguji, cuma ingin kenal. ”

Nara segera menyela, “Nah, itu. Aku juga mau. ”

Aurellia menarik napas dalam-dalam, lalu tertawa kecil. “Kalian kompak banget. ”

“Karena kamu penting buat kami,” kata Bu Dewi singkat, namun tepat.

Malam itu, Aurellia mengunci diri di kamar, duduk di tepi tempat tidur sambil menatap ponsel. Jari-jarinya tampak ragu sebelum akhirnya mulai mengetik.

Aurellia:

Var… ibuku mau ketemu sama kamu.

Pesan itu terkirim, dan detak jantung Aurellia langsung menjadi lebih cepat dari sebelumnya.

Tak lama, balasan pun muncul.

Alvaro:

Ketemu… maksudnya gimana?

Aurellia tersenyum kecil, terbayang raut wajah gugup Alvaro.

Aurellia:

Mampir ke rumah. Santai aja. Ibu cuma pengen kenal kamu.

Beberapa detik berlalu tanpa respon.

Alvaro:

Aku jujur… aku ngerasa grogi.

Aurellia menghela napas lega. Kejujuran itu memberikan ketenangan.

Aurellia:

Aku ngerti. Tapi ibuku baik. Nara juga—walaupun sedikit gaduh.

Alvaro:

Gaduhnya tipe yang tegas atau cerewet?

Aurellia:

Cerewet yang sok dewasa.

Alvaro:

Oke… aku bakal coba.

Kata "coba" itu sederhana, namun cukup untuk membuat Aurellia tersenyum lebar.

Hari yang telah dijadwalkan akhirnya tiba.

Sejak pagi, Nara sudah bersikap seperti tuan rumah untuk acara besar.

“Kak, jangan pakai baju itu. Terlalu santai. ”

“Ini rumahku sendiri,” jawab Aurellia.

“Justru itu. Ini rumah kita sendiri yang akan kedatangan pacar kakakku. ”

Bu Dewi hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Nara, jangan bikin kakakmu makin tegang. ”

“Tapi aku seneng, Bu. ”

“Aku juga,” jawab Bu Dewi lembut.

Sore pun tiba. Aurellia duduk di ruang tamu, tangannya terus bermain dengan ujung lengan bajunya. Setiap suara motor yang lewat membuat jantungnya berdebar, lalu mereda.

Hingga akhirnya sebuah motor berhenti tepat di depan rumah.

Aurellia berdiri hampir tanpa sadar.

“Itu dia,” kata Nara tanpa menoleh.

Aurellia membuka pintu.

Alvaro berdiri di sana, helm di tangan, ransel di punggung, dan senyuman yang berusaha dipertahankan meski tampak gugup.

“Hai,” sapanya.

“Hai,” jawab Aurellia, lebih lembut dari yang dia niatkan.

“Permisi,” ucap Alvaro sambil sedikit membungkuk saat masuk.

Bu Dewi sudah berada di ruang tamu. “Kamu Alvaro? ”

“Iya, Bu,” jawabnya cepat. “Alvaro. ”

“Ibu Dewi,” kata Bu Dewi sambil mengulurkan tangan.

Alvaro menyambut dengan sopan. “Makasih udah mau bertemu sama saya. ”

“Ibu seharusnya yang bilang makasih,” balas Bu Dewi. “Sudah jaga anak ibu. ”

Aurellia menahan napas.

Pernyataan itu sederhana, tetapi memiliki arti yang mendalam—dalam cara yang positif.

Nara tiba-tiba muncul di samping Alvaro. “Aku Nara. Adiknya Aurellia. ”

“Aku tau,” kata Alvaro sambil tersenyum. “Sering denger nama kamu. Kan kita pernah ketemu. ”

Nara tertawa kecil. “Yang baik-baik aja, kan? ”

“Campur,” jawab Alvaro dengan jujur.

Mereka duduk bersama. Teh disajikan. Beberapa detik awal diwarnai dengan keheningan canggung yang biasa, hingga Nara kembali menghangatkan suasana.

“Jadi, kak Alvaro,” ujarnya, “kakakku ini orangnya ribet. ”

Aurellia langsung menoleh. “Nara. ”

“Tapi baik,” sambung Nara cepat. “Cuma sulit buat cerita. ”

Alvaro melirik Aurellia. “Aku mulai paham. ”

Bu Dewi memperhatikan interaksi mereka dengan seksama. Bukan karena curiga—lebih kepada mengamati bagaimana Alvaro melihat Aurellia, cara dia mendengarkan, dan bagaimana dia tidak mencoba mendominasi pembicaraan.

“Di mana kalian bertemu? ” tanya Bu Dewi.

“Di kafe tempat Aurellia bekerja,” jawab Alvaro. “Awalnya cuma pelanggan biasa. ”

“Pelanggan yang kembali terus,” celetuk Nara.

Alvaro tertawa kecil. “Iya. ”

Aurellia merasakan pipinya menjadi hangat.

Percakapan berlangsung santai. Tentang pekerjaan Alvaro. Tentang rutinitas Aurellia. Tentang hal-hal kecil yang tidak terasa seperti wawancara, lebih kepada perkenalan yang hangat.

“Ibu seneng akhirnya bisa ketemu kamu,” ucap Bu Dewi menjelang Alvaro pamit. “Selama ini cuma denger cerita. ”

“Cerita yang baik-baik saja kan, Bu? ” tanya Alvaro.

Bu Dewi tersenyum. “Iya. Dan sekarang ibu liat sendiri. ”

Pernyataan itu membuat Alvaro mengangguk dengan mata sedikit berbinar, meskipun dia cepat-cepat menutupinya.

Ketika Alvaro berdiri di ambang pintu, Nara mengulurkan tangan. “Hati-hati di perjalanan, kak. ”

“Makasih,” jawab Alvaro. “Jaga kakakmu yaa. ”

Nara tersenyum lebar. “Tenang aja. Tapi jika kakakku sedih, aku akan mencari kak Varo. ”

Alvaro tertawa. “Okee deal. ”

Motor melaju menjauh. Pintu ditutup.

Nara langsung menoleh ke kakaknya. “Aku suka dia. ”

Bu Dewi mengangguk perlahan. “Ibu juga. ”

Aurellia berdiri di tempat itu, dadanya dipenuhi perasaan yang sulit untuk diungkapkan. Bahagia, lega, dan untuk pertama kalinya… merasa aman.

Malam itu, saat dia masuk ke kamar dan membuka ponsel, pesan dari Alvaro sudah menunggu.

Alvaro:

Makasih ya. Aku diterima lebih baik dari yang aku bayangin.

Aurellia tersenyum.

Aurellia:

Mereka emang kek gitu. Kalo sudah peduli.

Ia memandang layar sejenak, lalu menambahkan satu kalimat yang selama ini hanya ada dalam pikirannya.

Aurellia:

Dan aku seneng banget kamu mau dateng.

Di luar, malam berlalu seperti biasanya. Namun di dalam hati Aurellia, ada sebuah keyakinan baru yang perlahan tumbuh:

Kali ini, dia tidak hanya mencintai—dia juga didukung untuk mencintai.

Motor Alvaro melaju dengan lambat, jauh lebih pelan dari biasanya. Bukan karena kemacetan, melainkan karena pikirannya dipenuhi kenangan-kenangan yang baru saja terjadi. Senyum Bu Dewi. Canda tawa Nara. Tatapan Aurellia yang diam-diam, seolah ingin memastikan semua baik-baik saja.

Dia berhenti sejenak di lampu merah, melepas helmnya, lalu menghela napas panjang.

Gue diterima.

Pernyataan itu berputar-putar dalam pikirannya, sederhana tetapi terasa sangat berarti.

Selama ini, Alvaro merasa seolah hidupnya dijalani sendirian. Pekerjaan freelancer, jam yang tidak menentu, hubungan yang datang dan pergi. Berkenalan dengan keluarga seseorang—apalagi dalam konteks pasangan, selalu terasa seperti tanah asing. Namun sore ini terasa berbeda. Tidak ada tatapan yang menuduh. Tidak ada pertanyaan yang mendesak. Hanya ada rasa ingin tahu yang hangat.

Dia mengingat ungkapan Bu Dewi, “Ibu liat sendiri. ”

Kata-kata itu tertanam lebih dalam dari yang dia bayangkan.

Sesampainya di kos, Alvaro memarkir motornya, naik ke kamar, dan langsung terjatuh ke kasur tanpa melepas jaketnya. Ia menatap plafon sambil tertawa kecil sendiri. Tawa yang bukan karena sesuatu yang lucu, tetapi lebih kepada perasaan lega.

“Gila ya,” bisiknya pelan. “Ternyata sesederhana ini. ”

Ponselnya berbunyi. Pesan dari Aurellia.

Dia membacanya sekali. Dua kali. Lalu kembali tersenyum.

Bukan senyum lebar yang meletup-meletup, melainkan senyum yang tenang—tipe senyum yang muncul ketika seseorang merasa akhirnya berada di tempat yang tepat.

Gue bukan cuma pacarnya, pikir Alvaro. Gue sekarang bagian dari hidupnya.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alvaro merasa masa depan tidak lagi menakutkan. Tidak pasti, betul. Tetapi terasa hangat. Seperti sore itu. Seperti rumah dengan pintu yang terbuka, yang mempersilakan dia untuk memasuki.

1
deepey
semangat kk, salam kenal..
Lanaiq: makasi kak 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!