NovelToon NovelToon
Ketika Sahabatku, Merebut Suamiku

Ketika Sahabatku, Merebut Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Nikah Kontrak
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.

Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.

*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perubahan Sikap Nathan

Ada yang berubah.

Naura merasakan perubahan itu sejak tiga hari setelah Mahira datang ke mansion,Nathan yang biasanya pulang tengah malem atau malah ga pulang sama sekali, sekarang pulang jam delapan. Jam sembilan. Maksimal jam sepuluh.

Tapi jangan salah.

Nathan ga pulang buat Naura.

Nathan pulang buat... entah apa. Naura juga ga ngerti. Cuma Nathan jadi sering ada di rumah. Sering duduk di ruang tengah. Sering mondar mandir seperti orang ga tenang. Seperti ada yang dicari tapi ga tau apa.

Pagi ini Nathan ga langsung berangkat kerja seperti biasa,dia duduk di meja makan lebih lama sambil memainkan sendok dan garpunya. Sesekali lirik Naura yang lagi makan roti panggang dengan selai strawberry.

Naura nervouse. Jantungnya deg degan karena Nathan menatapnya. Menatap dengan tatapan yang... bingung? Atau apa ya? Naura ga bisa baca.

"Naura." suara Nathan tiba tiba.

Naura hampir tersedak rotinya."I.. iya?"

Nathan diem sebentar. Kayak mikir keras. Rahangnya mengeras. Jari jemarinya ngetuk ngetuk meja dengan ga sabaran.

"Mahira... dia tinggal dimana sekarang?"

Deg.

Pertanyaan itu kayak ditampar.

Mahira lagi.

Selalu Mahira.

Naura meletakkan rotinya pelan."Aku.. aku ga tau Nathan.. dia ga pernah bilang alamat rumahnya ke aku.."

Nathan terlihat kecewa,matanya redup sedetik. Lalu dia tanya lagi "Dia kerja dimana?"

"Dia bilang lagi bantu bisnis keluarga.. tapi detailnya aku juga kurang tau.."

"Sudah menikah?"

Pertanyaan itu keluar cepat. Terlalu cepat. Kayak Nathan ga sabaran mau denger jawabannya.

Naura menggeleng pelan "Belum... setauku dia masih single.."

Nathan menghela napas panjang.

Napas lega.

Naura bisa liat itu. Bisa liat bahu Nathan yang tadinya tegang jadi rileks dikit. Bisa liat ekspresinya yang tadi cemas jadi... senang? Lega?

Sakit.

Dadanya sakit liatnya.

Nathan lega dengar Mahira belum nikah.

Berarti Nathan masih berharap.

Masih cinta.

Masih...

"Kenapa kamu berteman dengannya?"Nathan bertanya dengan nada yang lebih lembut,tapi tetep ada sesuatu dibaliknya. Sesuatu yang Naura ga ngerti.

"Dia sahabatku sejak SMA Nathan.. kami udah deket banget.. dia kayak kakak buat aku.."

Nathan terdiam.

Lama.

Matanya menatap kosong ke arah jendela.

Ada sesuatu diwajahnya. Sesuatu yang Naura ga bisa baca. Terkejut? Sedih? Atau... lega?

"Sejak SMA?" Nathan mengulang pelan."Berarti kalian udah kenal lama.."

"Iya.. udah hampir sepuluh tahun.."

Nathan mengangguk pelan.Lalu dia bangkit dari kursi "Aku berangkat."

Dan Nathan pergi begitu saja. Ninggalin Naura yang duduk sendirian dimeha makan dengan roti setengah dimakan dan hati yang remuk.

Kenapa Nathan tanya tanya tentang Mahira?

Kenapa Nathan keliatan lega dengar Mahira belum nikah?

Kenapa Nathan keliatan kayak... kayak masih ada harapan?

Naura ga ngerti.

Atau sebenernya Naura ngerti tapi ga mau mengakuin.

Nathan masih cinta sama Mahira.

Dan sekarang Mahira udah balik.

Belum nikah.

Masih available.

Berarti Nathan punya kesempatan lagi.

Berarti Naura... Naura jadi penghalang.

Air mata Naura jatuh ke piring. Netes ke roti yang udah dingin itu.

Bi Ijah lewat dan lihat Naura nangis."Nyonya... Nyonya nangis lagi..."

"Aku ga apa apa Bi.." Naura cepet usap air matanya."Cuma ada debu masuk mata.."

Bohong.

Bi Ijah tau itu bohong. Tapi dia ga bilang apa apa. Cuma ngelap meja dengan wajah sedih.

***

Malem harinya Naura ga bisa tidur lagi.

Udah jadi kebiasaan. Tiap malem mata ga bisa terpejam. Pikiran kemana mana. Hati sakit sakit terus.

Jam sepuluh malem Naura denger suara mobil Nathan masuk.Dia bangkit dari ranjang dan ngintip dari celah pintu kamar.

Nathan naik tangga dengan langkah pelan. Wajahnya terlihat lelah. Tapi bukan lelah karena kerja. Lelah karena... mikirin sesuatu.

Nathan ga masuk kamar. Dia jalan ke balkon besar yang ada di ujung koridor lantai dua. Balkon yang ngadep ke taman belakang.

Naura penasaran.

Dia keluar dari kamar pelan pelan. Jalan ngikutin Nathan dengan jarak aman. Sembunyi dibalik tiang supaya ga ketahuan.

Nathan berdiri di balkon sambil bersandar di pagar besi. Tangannya merogoh saku jas dan ngeluarin sesuatu.

Sebungkus rokok.

Naura kaget.

Nathan merokok?

Setau Naura, Nathan ga pernah merokok. Richard pernah bilang Nathan benci rokok. Benci sama bau asapnya.

Tapi sekarang Nathan nyalain rokok itu dengan korek api. Asapnya mengepul diudara malam yang dingin.

Nathan mengisap dalem dalem. Napasnya keluar bareng asap putih tipis.

Wajahnya terlihat sangat lelah dibawah cahaya bulan,mata Nathan menatap kosong ketaman yang gelap. Tangannya yang ga pegang rokok mengepal erat di pagar.

Naura berdiri disitu aja. Kedinginan karena cuma pake kaus tipis dan celana pendek. Tapi dia ga bergerak. Ga bisa bergerak.

Cuma bisa nonton Nathan dari kejauhan.

Nonton suaminya yang terlihat tersiksa.

Tersiksa karena wanita lain.

Bukan karena Naura.

Nathan ngabisin satu batang rokok. Lalu nyalain yang kedua. Ketiga.

Naura ngitung dalam hati. Enam batang Nathan habisin dalam setengah jam.

Enam batang sambil menatap kosong. Sambil sesekali ngusap wajah kasar. Sambil kadang geleng geleng kepala kayak lagi debat sama diri sendiri.

Apa yang Nathan pikirin?

Mahira?

Pasti Mahira.

Selalu Mahira.

Naura merasa dadanya makin sesak. Makin sakit. Seperti ada yang remes jantungnya kuat kuat sampe mau pecah.

Kenapa sakit sekali?

Kenapa meski dia tau ini kontrak,meski dia tau Nathan ga cinta, tapi tetep aja sakit liat Nathan kayak gini?

Sakit liat Nathan tersiksa karena wanita lain?

Karena Naura udah jatuh cinta.

Tanpa sadar.

Tanpa dia mau.

Naura jatuh cinta sama Nathan.

Jatuh cinta sama pria yang ga akan pernah cinta balik.

Jatuh cinta sama pria yang hatinya udah dimiliki orang lain.

Air mata Naura jatuh lagi,ngalir deras dipipi yang udah bengkak karena terlalu sering nangis.

Dia mau balik ke kamar tapi kakinya ga mau gerak. Kayak ada yang nempel di lantai.

Naura terus berdiri disitu. Nonton Nathan yang merokok batang ketujuh. Kedelapan.

Sampe akhirnya Nathan berbalik.

Dan mata mereka bertemu.

Nathan membeku.

Naura juga membeku.

Mereka saling menatap dari jarak beberapa meter. Ga ada yang bergerak. Ga ada yang bicara.

Cuma menatap.

Naura bisa liat mata Nathan yang merah. Bisa liat ada jejak air dikujung matanya. Nathan nangis?

"Kenapa kamu disitu?" suara Nathan serak. Kayak lama ga dipake.

"Aku... aku ga sengaja lewat... aku ga tau kamu ada disini.."

Bohong lagi.

Nathan tau itu bohong. Tapi dia ga protes.

"Pulang ke kamarmu. Dingin diluar"

"Kamu... kamu merokok Nathan..."

"Bukan urusanmu"

"Tapi kamu bilang kamu ga suka rokok.."

"AKU BILANG ITU BUKAN URUSANMU!"

Nathan berteriak.

Naura tersentak mundur. Tubuhnya gemetar. Bukan karena dingin. Tapi karena takut.

Nathan ngusap wajahnya kasar."Maaf.. maaf aku ga bermaksud bentak.. cuma... cuma tolong Naura.. tolong jangan ganggu aku malem ini.. aku lagi butuh sendiri.."

Suaranya bergetar.

Kayak mau nangis tapi ditahan.

Naura pengen peluk Nathan. Pengen bilang semuanya bakal baik baik aja. Pengen jadi tempat Nathan bersandar.

Tapi dia ga bisa.

Karena Nathan ga butuh Naura.

Nathan butuh Mahira.

"Oke... oke aku balik kekamar.." Naura berbisik pelan.

Dia berbalik dan jalan balik ke kamar dengan langkah gontai.

Dari belakang, Nathan menatap punggung Naura yang menjauh.

Ada sesuatu didadanya. Sesuatu yang aneh. Sesuatu yang membuat dia ingin panggil Naura balik. Ingin bilang jangan pergi. Ingin...

Tapi Nathan diam.

Biarkan Naura pergi.

Biarkan jarak diantara mereka makin lebar.

Karena Nathan ga boleh lemah.

Ga boleh peduli sama Naura.

Ga boleh mulai merasa sesuatu.

Karena kalo Nathan mulai peduli...

Kalo Nathan mulai merasa...

Semuanya bakal berantakan.

Mahira bakal pergi lagi.

Dan Nathan ga sanggup kehilangan Mahira untuk kedua kalinya.

Nathan nyalain rokok lagi.

Yang kesembilan.

Mengisap dalem dalem sampe asapnya penuh diparu paru.

Matanya menatap bulan yang bersinar terang diatas sana.

Mahira dulu suka banget liat bulan. Suka bilang bulan itu romantis. Suka ajak Nathan keluar malem malem cuma buat liat bulan bareng.

Sekarang bulan itu cuma ngingetin Nathan tentang Mahira.

Ngingetin tentang kenangan yang ga bisa balik.

Ngingetin tentang cinta yang ga pernah mati.

Meski Nathan udah coba lupain.

Meski Nathan udah coba move on.

Tapi Mahira balik.

Dan semua effort Nathan selama lima tahun buat lupain dia jadi sia sia.

Cuma butuh satu tatapan.

Satu senyuman.

Satu kata dari Mahira.

Dan Nathan jatuh lagi.

Jatuh ke jurang yang sama.

Jurang yang bernama cinta yang ga kesampaian.

Nathan menghabiskan rokok terakhir dalam bungkusan. Lalu dia masuk ke rumah. Ke kamarnya yang gelap dan dingin.

Berbaring ditempat tidur tanpa ganti baju.

Menatap langit langit sambil pikiran kemana mana.

Kenapa Mahira balik?

Kenapa sekarang?

Kenapa pas Nathan udah nikah?

Kenapa pas Nathan udah coba ikhlaskan?

Apa ini ujian?

Apa ini siksaan?

Pertanyaan pertanyaan itu terus berputar dikepala Nathan.

Ga ada jawaban.

Cuma kegelapan.

Dan rasa sakit yang ga pernah hilang.

Sementara itu dikamar sebelah, Naura meringkuk diranjang sambil nangis.

Nangis buat Nathan yang masih cinta sama Mahira.

Nangis buat dirinya yang jatuh cinta sendirian.

Nangis buat pernikahan yang ga akan pernah jadi nyata.

Dan diluar jendela, bulan bersinar terang.

Menerangi dua kamar yang berdekatan tapi dipisahkan jarak yang lebih jauh dari samudera.

Menerangi dua hati yang patah dengan cara berbeda.

Nathan patah karena cinta lama yang kembali.

Naura patah karena cinta baru yang ga akan pernah terbalas.

Ironis.

Menyakitkan.

Dan malem itu, didua kamar berbeda, dua orang yang terikat pernikahan kontrak sama sama ga bisa tidur.

Sama sama meneteskan air mata.

Untuk alasan yang berbeda tapi berujung pada satu nama yang sama.

Mahira.

1
Masitoh Masitoh
semoga Naura baik2 saja..pergi mulakan hidup baru..buat nathan menyesal
Leoruna: jangan bertahan dengan laki2 seperti Nathan ya kak🤭
total 1 replies
kalea rizuky
pergi jauh naura
Esma Sihombing
cerita kehidupan yg sangat menarik
Leoruna: mkasih kak🙏
total 1 replies
Fitri Yani
pergi aza Naura untuk menjaga kewarasan mu,dan bayi mu, buat Nathan menyesal
kalea rizuky
minta cerai aja dan pergi jauh biarkan penghianat bersatu nanti jg karma Tuhan yg berjalan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!