Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Terjadi Sesuatu?
Tatapan Narendra yang tajam dan tak berpaling sedikit pun membuat Kanaya merasa seolah-olah oksigen di sekitarnya mendadak menipis, atmosfer di meja pojok itu terasa begitu intim sekaligus mengintimidasi dan mengingatkan Kanaya pada perasaan yang sama lima tahun lalu, saat ia hanya berani mencuri pandang ke arah pria ini dari balik rak buku perpustakaan.
"A-aku... aku ke kamar mandi sebentar ya," pamit Kanaya tiba-tiba.
Kanaya bahkan tidak menunggu jawaban Narendra dan langsung berdiri, bahkan ia hampir menyenggol pinggiran meja karena terburu-buru.
Narendra hanya menaikkan satu alisnya dan memperhatikan langkah kaki Kanaya yang sedikit cepat menuju arah toilet, ia tahu gadis itu sedang salah tingkah dan hal itu membuat sudut bibirnya sedikit terangkat.
Di dalam kamar mandi, Kanaya segera menyalakan keran dan membasuh tangannya yang terasa dingin. Kanaya menatap pantulan dirinya di cermin besar, pipinya merah padam, bukan karena udara pegunungan, tapi karena perlakuan Narendra yang terasa jauh lebih berani dan terbuka dibandingkan dulu.
"Tenang, Kanaya. Ini cuma pertemuan biasa, jangan banyak berharap dan jangan kelihatan norak," gumam Kanaya pada diri sendiri sambil mengatur napas.
Setelah merasa sedikit lebih tenang, ia memperbaiki tatanan rambutnya dan memulas ulang liptint-nya tipis-tipis. Namun, baru saja ia hendak keluar, pintu kamar mandi terbuka dan masuklah dua orang wanita muda yang tadi sempat Kanaya lihat mencuri pandang ke meja mereka.
"Gila sih, cowok yang di pojok tadi ganteng banget," ucap salah satu wanita itu sambil bercermin di samping Kanaya.
"Iya, tapi sayang banget kayaknya dia bareng ceweknya. Padahal ceweknya biasa aja ya, cuma pakai kemeja sama rok gitu doang. Nggak sebanding banget sama auranya si cowok," jawab temannya dengan suara yang tidak dikecilkan sama sekali.
Kanaya tertegun dan ia pura-pura sibuk mengeringkan tangan dengan tisu, meskipun hatinya terasa sedikit mencelos mendengar komentar merek. Itulah kenyataan yang selalu ia takutkan jika bersanding dengan Narendra, terutama sekarang, di saat pria itu sudah berada di puncak kesuksesan.
Kanaya melangkah keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang sedikit lebih berat, namun saat ia kembali ke area meja, ia melihat pemandangan yang membuatnya terhenti.
Narendra sedang berdiri di duduk kursinya dengan wajah yang sangat dingin, hingga seorang wanita datang menghampiri Narendra dan mencoba mengobrol dengan Narendra, namun sayangnya Narendra tidak meresponnya bahkan dengan tegas Narendra mengusir wanita tersebut.
"Mbak bisa pergi, saya merasa terganggu dan tidak nyaman," usir Narendra.
Wanita tersebut pun terlihat sedih dan akhirnya ia pergi kembali ke kursinya yang tak jauh dari kursi Narendra dan hanya selisih dua meja saja.
Begitu Narendra melihat Kanaya datang, wajah dingin itu seketika melunak meski hanya sedikit.
"Lama sekali," ucap Narendra sambil menarikkan kursi untuk Kanaya kembali duduk.
"Maaf, tadi antre," bohong Kanaya pelan.
Narendra duduk kembali, matanya memicing menyadari perubahan ekspresi Kanaya. "Kenapa?" tanya Narendra.
Kanaya menggeleng cepat, "Nggak kok, oh ya minuman kamu sudah datang, diminum dulu nanti dingin," ucap Kanaya.
Tak lama kemudian, minuman Kanaya pun datang lalu pesanan mereka juga datang, di mana Narendra memesan pasta dan Kanaya memesan nasi goreng.
Narendra tidak langsung menyentuh pastanya, matanya masih tertuju pada Kanaya yang kini tampak lebih banyak menunduk dan sibuk mengaduk tehnya, seolah-olah cangkir itu adalah hal paling menarik di dunia.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Narendra.
Kanaya tersentak mendengar pertanyaan Narendra hingga membuat sendoknya berdenting pelan menyentuh piring, "Nggak ada apa-apa, Narendra. Aku cuma sedikit pusing karena udara dingin," ucap Kanaya.
Narendra meletakkan cangkir kopinya dan menatap Kanaya dengan kening berkerut, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia bangkit dari kursi. Kanaya sempat bingung dan mengira Narendra marah atau tersinggung karena jawabannya yang kurang meyakinkan.
"Tunggu di sini, jangan ke mana-mana," ucap Narendra.
Kanaya hanya bisa menatap punggung Narendra yang bergerak menjauh menuju area parkir, tak sampai lima menit, pria itu kembali dengan sebuah jaket bomber berwarna hitam berbahan tebal di tangannya. Tanpa meminta izin, Narendra berdiri di belakang Kanaya dan menyampirkan jaket itu ke bahu mungil Kanaya.
"Pakai ini,biar gak kedinginan," ucap Narendra sambil merapikan bagian kerah jaketnya agar menutupi leher Kanaya.
Aroma sandalwood yang kuat langsung menyeruak, kali ini jauh lebih pekat. Kanaya merasa tubuhnya seolah tenggelam di balik jaket yang ukurannya jauh lebih besar darinya, namun rasa hangat segera menjalar, mengusir hawa dingin sekaligus rasa insecure yang tadi sempat hinggap di hatinya.
"Terima kasih, Narendra. Tapi kamu sendiri bagaimana? Kamu cuma pakai kaos polo," tanya Kanaya pelan dan tangannya meremat ujung jaket yang kepanjangan.
"Aku nggak kedinginan kok, kamu pakai aja jaketnya," jawab Narendra datar sambil kembali duduk.
Narendra memperhatikan Kanaya yang tampak seperti anak kecil yang memakai baju Ayahnya, "Lebih baik?" tanya Narendra.
Kanaya mengangguk pelan, "Iya, jauh lebih baik," jawab Kanaya.
"Sekarang makan, jangan hanya diaduk," ucap Narendra dengan nada bicaranya yang sedikit lebih lembut namun tetap tidak bisa dibantah.
Mereka pun menikmati makanan mereka dan sesekali Narendra melirik ke arah wanita yang ada di meja seberang, tatapannya begitu tajam dan mengintimidasi seolah ia bisa membaca pikiran mereka atau mendengar setiap bisikan merendahkan yang mereka tujukan pada Kanaya.
Narendra sengaja menggeser kursinya sedikit lebih dekat ke arah Kanaya, memberikan gestur posesif yang sangat jelas bagi siapa pun yang memperhatikan.
"Bagaimana makanannya? Apa sesuai seleramu?" tanya Narendra memecah kesunyian.
"Enak, Narendra. Nasi gorengnya punya aroma rempah yang pas," jawab Kanaya sambil sedikit menarik lengan jaket bomber yang terus melorot menutupi jemarinya.
Narendra meraih tisu lalu tanpa diduga, ia condong ke depan dan mengusap sedikit sisa bumbu yang menempel di sudut bibir Kanaya. Gerakannya begitu santai, namun bagi Kanaya, sentuhan itu rasanya seperti sengatan listrik yang membuatnya mematung.
"Makan pelan-pelan, Kanaya. Tidak ada yang akan merebut makananmu," ucap Narendra dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Kanaya meremang.
Kanaya menelan ludah dengan susah payah, "Maaf, aku... aku cuma lapar," ucap Kanaya gugup.
"Baguslah kalau lapar, habiskan semuanya," ucap Narendra dan kembali menikmati makanannya, namun matanya tak lepas dari Kanaya.
Beberapa saat kemudian, mereka pun selesai menghabiskan makanannya. Narendra meletakkan garpunya dengan tenang lalu meraih segelas air putih yang sempat ia pesan tadi dan menyesapnya sedikit.
Suasana tenang di kafe pinggir tebing itu mendadak terasa lebih berat, kabut di luar jendela tampak semakin tebal seolah sengaja mengisolasi mereka berdua dalam pembicaraan ini.
"Kanaya," panggil Narendra.
"Ya?" Kanaya mendongak dan masih dengan tangan yang sedikit tenggelam di dalam lengan jaket bomber milik Narendra.
"Apa kamu punya pacar?" tanya Narendra.
.
.
.
Bersambung.....