Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.
Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.
Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.
Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #1: Semangkuk Mie
Angin musim dingin di wilayah utara Provinsi Henan bertiup seperti pisau tumpul. Tidak cukup tajam untuk membnuh dengan cepat, tapi cukup kejam untuk menggerogoti siapa pun yang tidak punya mantel bulu tebal atau perut yang kenyang.
Geun tidak punya keduanya.
Pemuda enam belas tahun itu duduk di pojok kedai mie yang dinding kayunya retak di sana-sini. Atapnya bocor di dekat pintu masuk, membiarkan salju bercampur lumpur hitam menetes masuk dan menmpel di ujung sepatunya yang sudah berlubang.
Geun merasa dirinya sedang sekarat.
Bukan karena racun sekte sesat, bukan karena luka dalam pertarungan legendaris. Dia sekarat karena alasan yang jauh lebih menyedihkan. Dia bangkrut.
Geun adalah yatim piatu. Ibunya mati saat melahirkan calon adiknya, dan ayahnya mati ditanduk kerbau saat dia berusia 10 tahun. Dia tumbuh besar dengan memakan sisa makanan anjing liar, mencuri persembahan di kuil, dan kerja serabutan. Filosofi hidupnya sederhana. Jika tidak dikunyah, berarti kau yang dikunyah.
Tiga hari lalu, dia merasa menjadi raja karena menemukan sekantong koin tembaga yang jatuh. Tapi nasib buruk membawanya ke rumah judi. Geun berpikir dia bisa melipatgandakan uang itu untuk membeli rumah.
Hasilnya?
Bandar judi itu tersenyum lebar, dan Geun keluar tanpa uang sepeser pun, bahkan mantel kulit domba butut satu-satunya ikut berpindah tangan sebagai taruhan terakhir.
Sekarang dia hanya mengenakan pakaian linen tipis yang penuh tambalan, duduk memeluk lutut di tengah angin dingin hujan salju.
“Satu… mangkuk… mie babi…”
Suaranya serak, patah-patah, dan menyedihkan. Mirip suara pintu engsel tua lumbung padi yang minta diminyaki.
Pemilik kedai menatap koin tembaga terakhir yang Geun letakkan di meja dengan jijik. Koin itu kotor, berminyak, dan ada bekas gigitan yang menandakan bahwa Geun pernah memastikan keasliannya dengan gigi.
“Bayar di muka,” dengus pemilik kedai. Dia menyambar koin itu secepat kilat, takut Geun berubah pikiran, lalu berbalik ke arah tungku.
Geun tidak peduli dengan tatapan hina itu. Harga diri tidak bisa dimakan.
Fokusnya hanya satu, bertahan hidup lima menit lagi sampai mie itu datang.
"Dingin sekali… Sialan, kenapa dingin sekali?" gerutunya.
Rahangnya bergetar hebat. Gigi-giginya ingin beradu menciptakan musik kematian, tapi dia menahannya sekuat tenaga. Jika dia membiarkan tubuhnya gemetar, panas terakhir di tubuhnya akan hilang.
Jadi Geun melakukan salah satu teknik bertahan hidup yang dia kuasai.
Dia menegangkan seluruh tubuhnya.
Setiap serat otot dikontraksi kan secara paksa. Setiap sendi dikunci mati. Dia menahan napas, memaksa darahnya tetap berputar di organ dalam dan membiarkan kulit luarnya mati rasa.
Otot lehernya menegang seperti kabel baja. Punggungnya tegak lurus secara tidak wajar.
Krieeet.
Pintu kedai terbuka. Angin dingin menyapu masuk, membawa seorang pemuda tampan berseragam biru laut dengan mantel bulu.
Pakaiannya tebal, bersih, dan harum. Di dadanya tersemat lambang bangau terbang, tanda murid luar Sekte Qingcheng, salah satu sekte ortodoks yang cukup besar di Murim.
Di pinggangnya terdapat plakat kayu yang terukir namanya, Baek Ho.
Dia melangkah masuk dengan dagu terangkat, seolah-olah tanah yang diinjaknya harus bersyukur karena disentuh oleh sepatunya yang mahal. Tatapannya menyapu kedai dengan ekspresi bosan.
Matanya berhenti pada satu kursi kosong yang paling strategis di dekat tungku api.
Masalahnya, kursi itu sedang diduduki oleh Geun.
“Oi,” bentak Baek Ho. “Minggir.”
Geun tidak bereaksi.
Bukan karena dia pemberani. Bukan karena dia tuli.
Tapi karena tubuhnya benar-benar terkunci. Lututnya kaku total karena kedinginan. Pinggangnya mati rasa. Saraf kakinya sedang mogok kerja. Dia ingin minggir, sungguh, tapi tubuhnya menolak perintah otaknya.
Baek Ho mengerutkan kening. Alisnya menyatu.
Dia melangkah maju dan menendang kaki kursi Geun dengan kasar.
Brak!
“Kau tuli atau mati, hah?”
Kursi itu bergeser, tapi tubuh Geun tetap diam, tegak, dan kaku.
Di dunia persilatan, mengabaikan seorang pendekar dari sekte besar adalah penghinaan yang setara dengan meludahi wajah leluhurnya.
Baek Ho mencabut pedangnya setengah. Kilatan logam memantulkan cahaya api tungku.
“Aku tanya sekali lagi,” katanya dingin. “Kau cari mati?”
Di mata Geun yang cekung dan gelap, dunia tiba-tiba berubah.
Dia melihat cahaya biru muda mengalir di tubuh Baek Ho.
Aliran Qi.
Geun bisa melihat hal ini sejak kecil. Dia tidak tahu kenapa, dan dia tidak peduli. Baginya, melihat Qi hanya berguna untuk tahu kapan harus lari.
Qi Baek Ho mengalir deras dari bahu, turun ke lengan, lalu menyelimuti bilah pedang. Alirannya kasar dan tidak stabil, seperti tanda seorang pemula yang sombong.
Dia mau menebas, batin Geun panik.
Otaknya berteriak histeris. Tapi otot-ototnya yang beku membisu. Dia terjebak dalam penjara dagingnya sendiri.
Saat itulah, keajaiban, atau bencana terjadi.
Pemilik kedai datang tergopoh gopoh dan meletakkan mangkuk mie panas di meja, tepat di antara Geun dan Baek Ho.
Uap tebal mengepul naik. Aroma kaldu babi yang gurih, bawang putih, dan lemak hangat menusuk hidung Geun.
Dunia berhenti berputar.
Ancaman pedang? Persetan.
Murid sekte besar? Masa bodoh.
Harga diri? Apa itu?
Seluruh insting purba Geun mengambil alih. Mie itu adalah tuhannya sekarang. Dia harus melindungi mie itu, atau lebih tepatnya, dia harus memeluknya agar hangat.
Otak Geun mengirim sinyal darurat ke tangannya.
Otot-otot lengan yang sudah ditegangkan sampai batas maksimal, seperti pegas yang tertekan, tiba-tiba dilepaskan kunciannya secara paksa.
Itu bukan gerakan bela diri. Itu bukan teknik rahasia.
Itu adalah kejang otot yang eksplosif.
Tangan Geun melesat ke depan dengan kecepatan tidak wajar, murni karena pelepasan tegangan elastis ototnya yang kaku.
TRAAANG!
Punggung tangan Geun menghantam sisi bilah pedang Baek Ho yang sedang terayun turun.
Suara logam beradu memekakkan telinga.
Hentakan itu begitu keras dan mendadak. Getaran kasar merambat dari pedang langsung ke tulang lengan Baek Ho. Rasanya seperti memukul tiang besi padat dengan tongkat kayu.
“Argh!”
Baek Ho menjerit kaget. Jarinya mati rasa. Pedangnya terlepas dari gengaman, berputar di udara, lalu menancap di tiang kayu di seberang ruangan dengan bunyi dengung yang menakutkan.
Hening.
Seluruh kedai sunyi senyap.
Sementara itu, tangan Geun yang tadi memukul pedang, kini sudah melingkar manis memeluk mangkuk mie.
“Ahh…”
Geun mendesah panjang.
Panas dari mangkuk keramik itu merambat ke telapak tangannya yang beku. Sensasi terbakar yang nikmat menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia tidak peduli tangannya baru saja menghantam baja tajam. Kulitnya yang mati rasa karena dingin membuatnya kebal terhadap rasa sakit benturan itu.
Baek Ho mundur dua langkah, wajahnya pucat pasi. Dia memegangi pergelangan tangannya yang gemetar.
Matanya terbelalak menatap Geun.
"Apa… apa yang baru saja terjadi?" pikir Baek Ho kacau.
Dia tidak merasakan energi internal dari bocah gembel ini. Tidak ada aura. Tidak ada niat membunuh.
Tapi saat pedangnya menyentuh tangan itu, rasanya seperti menghantam dinding baja dingin yang tak tertembus. Dan yang lebih mengerikan… pemuda itu melakukan tangkisan secepat kilat itu tanpa menoleh sedikit pun.
Geun mengangkat mangkuk.
Sluuuurp!
Bunyi seruputan keras dan tidak sopan memecah keheningan yang mencekam.
Dalam tiga detik, mie, daging, dan kuah yang panas itu lenyap ke dalam perut Geun.
Panas mulai menyebar. Otot-otot nya yang kaku perlahan mencair. Sendi-sendi mulai berfungsi lagi.
Geun menurunkan mangkuk kosong itu. Dia menghela nafas puas, lalu perlahan mendongak menatap Baek Ho.
Kreeek…
Lehernya berbunyi keras saat digerakkan, seolah-olah tulang-tulangnya terbuat dari batu gilingan.
Tatapan mata Geun yang cekung, gelap, dan kurang tidur bertemu dengan mata Baek Ho.
Bagi Geun, itu adalah tatapan, “Maaf, ya. Tadi tanganku menyenggol pedangmu."
Tapi bagi Baek Ho, itu adalah tatapan kosong dari seorang iblis yang tidak memiliki jiwa. Tatapan seseorang yang memandang nyawa manusia tidak lebih berharga dari debu.
Kaki Baek Ho lemas.
“S-Senior…” Baek Ho tergagap, keringat dingin mengucur di pelipisnya. “Ampuni mata Junior yang buta ini. Saya buta karena tidak menyadari Gunung Tai.”
Tangan Baek Ho gemetar saat merogoh jubahnya. Dia melempar sebuah kantong perak yang berat ke meja.
“Ini… ini sedikit tanda permintaan maaf!”
Tanpa menunggu jawaban, Baek Ho menyambar pedangnya yang tertancap di tiang dan lari terbirit-birit keluar menembus badai salju, seolah dikejar hantu.
Geun menatap kantong itu. Dia berkedip lambat.
"Uang? Dia memberiku uang karena aku makan mie di depannya? Orang Murim memang aneh." pikir Geun.
Tapi Geun tidak protes. Tangannya bergerak lebih cepat dari pikiran. Kantong itu lenyap ke balik bajunya dalam sekejap mata.
Dia berdiri. Langkahnya masih agak pincang karena kakinya belum sepenuhnya sadar.
Geun berjalan keluar dari kedai dengan gerakan kaku dan patah-patah, persis seperti mayat hidup yang baru bangkit dari kubur.
Di pojok gelap kedai, seorang pria tua berjubah abu-abu meletakkan cawan araknya perlahan. Matanya yang tajam menatap punggung Geun yang menghilang di balik tirai salju.
“Apa pendapat Tuan?” bisik pengawal di sebelahnya dengan nada ngeri.
Pria tua itu mengelus jenggotnya, ekspresinya serius.
“Kau lihat tangannya? Tidak ada energi internal pelindung, tapi mampu menepis pedang baja Qingcheng. Dia mematikan rasa sakit dan mengubah struktur tubuhnya menjadi benda mati.” Pria tua itu menggelengkan kepala.
Geun berjalan menembus hujan salju sambil menyeringai lebar, meremas kantong perak di dadanya.
Di kepalanya hanya ada satu pikiran suci. "Dengan uang sebanyak ini… aku bisa beli arak mahal dan tidur di kasur empuk malam ini."