Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang menegangkan
Malam itu, aku kembali ke kamar.
Pikiran ku terus-menerus tertuju padanya, Schevenko.
Setiap gerakannya, setiap kata yang ia ucapkan, dan bahkan cara ia menyerahkan bunga itu di atas panggung… semuanya terus berputar di kepalaku.
Aku menarik selimut lebih erat, menatap langit-langit kamar. Bayangan wajahnya menempel begitu nyata di mataku. Napasku terasa berat, jantungku berdetak cepat, tapi aku tetap diam di tempat tidur. Tidak ada suara. Hanya suara jarum jam yang berdetak pelan, menandai malam yang panjang dan hening.
Setelah lama, aku perlahan tertidur, meski tidurku tidak sepenuhnya nyenyak. Dalam mimpi-mimpiku, wajah Schevenko selalu muncul, tersenyum tipis namun serius, seolah ia bisa membaca semua yang ada di dalam diriku.
Keesokan harinya, matahari menembus gorden kamarku.
Aku membuka mata perlahan. Matahari pagi terasa hangat, tapi dadaku tetap terasa berat. Masih ada perasaan aneh yang tidak bisa dijelaskan, campuran penasaran, takut, dan… kagum.
Aku turun ke ruang makan.
Ayah dan ibu sudah duduk di meja sarapan. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi udara, namun aku tidak terlalu merasakannya. Mataku tetap kosong, pikiranku melayang pada Schevenko.
Aku duduk di kursi, menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
“Yang kemarin… bagaimana, yah?” tanyaku pelan, mencoba memulai pembicaraan.
Ayah menatapku, matanya lembut tapi serius.
“Itu keputusanmu, Nak,” jawabnya singkat.
Aku menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahku.
“Kalau begitu… aku ikut apa yang ayah katakan.” Suaraku terdengar lebih yakin daripada yang kurasakan. Aku ingin terlihat kuat, tapi jantungku tetap berdetak cepat, campur aduk antara lega dan gugup.
Ibu tersenyum tipis, tangannya menepuk bahuku perlahan.
“Bagus, Zahra. Kau sudah berpikir dengan baik.”
Kami melanjutkan sarapan. Percakapan ringan mengalir—tentang jadwal harian, rencana kecil di rumah, dan urusan keluarga yang biasa. Tapi meski terdengar biasa, hatiku tetap tidak bisa fokus. Setiap suara, setiap kata, aku selalu teringat pada Schevenko.
Ayah menyelesaikan sarapannya lebih cepat dari biasanya. Ia lalu mengambil ponsel di saku jasnya dan menekan beberapa tombol. Aku hanya memperhatikan, penasaran. Suasana menjadi tegang. Aku bisa merasakan sesuatu akan terjadi.
Beberapa menit kemudian, wajah ayah berubah serius. Ia tersenyum tipis, lalu menyerahkan ponsel itu ke tanganku.
“Aku menyerahkannya padamu,” katanya.
Aku menatapnya bingung. “Siapa ini, Ayah?” tanyaku, suara bergetar sedikit.
Ayah menatapku, matanya hangat tapi tegas.
“Suamimu.”
Pipiku panas. Segera memerah. Aku tercekat. Kata “suamimu” membuat dadaku berdebar lebih cepat daripada sebelumnya. Rasanya dunia di sekitarku seketika menjadi sunyi.
Ayah tersenyum tipis melihat reaksiku.
“Zahra… katakan padanya untuk datang ke rumah,” lanjutnya, lembut tapi tegas.
Aku terdiam beberapa detik. Jantungku seperti ingin melompat dari dada.
Aku memegang ponsel itu, jari-jariku gemetar.
“Assalamu’alaikum,” ucapku akhirnya, hampir berbisik, tapi terdengar jelas di ponsel.
Dari seberang, terdengar suara yang membuat seluruh tubuhku bergetar. Suara itu familiar, tenang, tegas, dan… menenangkan.
“Wa’alaikumussalam, Zahra,” jawab Schevenko.
Aku menunduk sebentar, menatap meja. Napasku tak teratur. Hatiku seperti dicubit halus, tapi sekaligus… terasa ringan. Ada ketenangan yang aneh, meski aku masih gugup.
Ia tersenyum di seberang sana, terdengar jelas meski hanya lewat suara.
“Terima kasih sudah menjawab, Zahra. Aku akan datang ke rumahmu. Jangan khawatir, aku tidak akan membuatmu terkejut.”
Aku mengangkat kepala perlahan, menatap ayah dan ibu. Mereka tersenyum, tapi matanya berbicara banyak—mereka tahu aku gugup, tapi mereka juga tahu ini langkah penting.
“Baiklah,” jawabku akhirnya, menelan ludah. Suaraku masih gemetar. “Datanglah, tapi… jangan membuat kami kaget.”
“Baik,” jawabnya singkat. “Sampai nanti, Zahra.”
Aku menutup ponsel perlahan. Hening kembali menyelimuti ruang makan. Tapi hening itu kini berbeda dari sebelumnya. Heningnya bukan hanya karena pagi. Hening itu penuh ketegangan, campur penasaran, dan sedikit rasa takut yang manis—seperti adrenalin yang mengalir di setiap pembuluh darahku.
Ibu menepuk tanganku lembut, senyumnya hangat.
“Lihat, Nak. Kau sudah melakukan hal yang tepat. Kau sudah berbicara dengan tenang. Sekarang… kita tunggu dia datang.”
Aku mengangguk, namun tetap tidak bisa menahan rasa gugup. Hati dan pikiranku terus melayang pada Schevenko. Bayangan wajahnya, cara ia berbicara, suara tenangnya… semuanya membekas di pikiranku.
Ayah menatapku, lalu berkata serius, “Zahra, ingat. Apapun yang akan terjadi nanti, tetap tenang. Jangan biarkan perasaanmu menguasai semuanya. Kau harus berpikir dengan kepala dingin, tapi jangan menipu hatimu sendiri.”
Aku menarik napas panjang. “Iya, ayah.”
Beberapa menit kemudian, kami selesai sarapan. Tapi pikiranku tetap tidak tenang. Aku berulang kali menatap jam di dinding, membayangkan langkah Schevenko yang akan segera terdengar di halaman rumah.
Pikiran tentang bunga yang ia berikan, kata-kata sopan dan tegasnya, dan cara ia menghormati keluargaku… semuanya terus muncul. Aku merasa campuran rasa kagum, takut, penasaran, dan… sesuatu yang sulit dijelaskan.
Aku berdiri dari kursi, melangkah ke jendela ruang makan. Pandangan ku menembus halaman depan rumah.
Aku ingin melihat mobilnya, ingin melihatnya datang. Tapi aku juga takut. Takut menghadapi perasaanku sendiri.
Ibu menepuk bahuku pelan. “Jangan terlalu tegang, Nak. Ingat, ia datang sebagai tamu, bukan untuk menaklukkanmu.”
Aku tersenyum tipis, meski dalam hati… semuanya terasa terlalu nyata. Segera, suara mobil terdengar di jalan depan rumah. Jantungku langsung berdebar kencang.
Ayah menatapku, tersenyum tipis.
“Siap?” tanyanya.
Aku mengangguk, suara tertahan di tenggorokan.
Ketika mobil itu berhenti, pintu terbuka, dan dua pengawal muncul, aku sudah menahan napas.
Dan kemudian… Schevenko muncul.
Tampilannya tetap rapi, jas hitam yang pas di badan, kemeja putih bersih, dan dasi yang sederhana tapi elegan. Matanya mencari arahku, dan saat pandangan kami bertemu, dadaku langsung terasa aneh—campuran rasa kagum, takut, dan penasaran yang begitu kuat.
Aku menahan napas. Jantungku berdetak terlalu cepat. Seolah waktu berhenti sebentar.
Lalu, ia membuka kacamatanya.
Bola matanya berwarna biru. Biru seperti langit musim dingin yang jernih tapi dalam. Sekilas, mata itu terlihat dingin, namun ada kilau hangat di dalamnya—seolah bisa membaca isi hatiku.
Ayah dan ibuku keluar menyambutnya, senyum mereka hangat tapi resmi.
“Izinkan aku menyambut tamu, Zahra,” kata ayah lembut.
Aku berdiri dari kursiku, ragu tapi penasaran.
Aku berjalan pelan menuju Schevenko, hatiku berdebar.
“Selamat pagi, Pak Schevenko,” sapaku, suaraku sedikit bergetar.
Ia tersenyum tipis, menatapku, lalu membungkukkan kepala hormat.
“Selamat pagi, Zahra,” jawabnya dengan suara tenang tapi hangat.
Aku tersenyum tipis, mencoba menenangkan diri, lalu sedikit membungkuk sebagai balasan.
“Terima kasih sudah datang,” lanjutku.
Schevenko mengangguk, senyum tipisnya tidak lepas dari wajahnya.
“Senang bisa hadir, Zahra. Aku harap aku tidak terlalu mengganggu,” ucapnya santai.
Aku menepuk kursiku untuk mempersilakan dia duduk, lalu ikut duduk di kursi di hadapannya.
Ia menatapku sebentar lagi, lalu berbicara dengan sopan.
“Terima kasih atas sambutannya. Aku senang bisa berbicara langsung denganmu. Aku ingin mengenalmu lebih baik, jika kau mengizinkan.”
Aku mengangguk, meski jantungku terasa tak teratur.
“Baik… silakan, Pak Schevenko.”
Obrolan mereka berlanjut, awalnya ringan. Tentang perjalanan ke sini, kondisi rumah, dan hal-hal sepele yang tetap membuat suasana terasa nyaman tapi penuh wibawa.
Aku tidak bisa menahan pandanganku padanya.
Setiap gerakannya, cara ia duduk, cara ia menatapku… semuanya membuatku semakin terkesan.
Ada ketenangan yang luar biasa, tapi juga wibawa yang membuatku ingin tahu lebih banyak.
Ayah menatapku, tersenyum tipis.
“Zahra, lihat bagaimana ia memperlakukanmu. Tenang, sopan, tapi jelas wibawa. Itu bukan hal yang mudah dimiliki orang lain.”
Aku menelan ludah.
“Ya, Ayah… aku… aku… kagum,” jawabku pelan.
Ia tersenyum lagi, seolah mendengar itu tanpa menghakimi.
“Jangan khawatir, Zahra. Aku tidak akan membuatmu merasa terpaksa. Aku hanya ingin kau nyaman saat kita berbicara,” katanya lembut.
Aku merasa seolah dunia di sekitarku berhenti.
Setiap kata yang ia ucapkan terasa… hangat tapi penuh makna.
Setiap senyumnya, setiap tatapannya, membuatku semakin penasaran, dan… jantungku semakin berdebar.
Ayah dan ibu tersenyum, saling menatap, tapi membiarkan aku dan Schevenko berbicara.
Mereka tahu, ini adalah momen penting—momen di mana Zahra mulai mengenal seseorang yang akan mempengaruhi hidupnya.
Schevenko kemudian bertanya tentang pesantren, sekolah, dan kehidupanku sehari-hari.
Aku menjawab dengan hati-hati, tapi ia mendengarkan dengan penuh perhatian.
Setiap tanggapan kecilku disambutnya dengan anggukan halus, senyum tipis, atau komentar ringan yang membuatku merasa dihargai.
Aku merasa aneh.
Biasanya aku dingin, jarang tertarik pada orang lain, dan selalu menjaga jarak.
Tapi sekarang… hatiku terusik.
Satu per satu rasa kagum, penasaran, takut, dan… sesuatu yang belum bisa kulabeli muncul bersamaan.
Schevenko menatapku sekali lagi, senyum tipis menghiasi wajahnya.
“Zahra… jangan merasa terburu-buru. Aku ingin kau nyaman. Jika ada pertanyaan, tanyakan saja. Aku akan menjawab dengan jujur,” ucapnya.
Aku menatapnya, jantungku berdetak cepat.
“Bagaimana… bagaimana bisa Bapak begitu tenang?” tanyaku akhirnya.
Suara yang keluar hampir berbisik, tapi ia mendengar jelas.
Ia mencondongkan badan sedikit, tetap menjaga jarak sopan, namun tatapannya membuatku tersentuh.
“Ketika seseorang menghormati hatimu dan pikirannya, tidak ada alasan untuk tergesa-gesa,” jawabnya lembut.
Aku menelan ludah.
Hati dan pikiranku bergejolak.
Setiap kata yang ia ucapkan membuatku semakin terkesan, penasaran, dan sulit berpikir jernih.
Kami terus berbicara beberapa saat, obrolannya ringan tapi intim.
Aku mulai menyadari satu hal: Schevenko bukan hanya seorang pria muda yang berpendidikan dan kaya.
Ia… sopan, hangat, penuh perhatian, dan… membuatku merasa nyaman sekaligus terpesona.
Ayah akhirnya menatap kami berdua dan berkata:
“Zahra… lihat bagaimana dia memperlakukanmu. Itu wajar jika hatimu mulai tergerak. Tapi ingat, kau harus tetap berpikir jernih.”
Aku mengangguk, meski hatiku campur aduk.
Rasa kagum, penasaran, takut, dan sedikit perasaan yang belum bisa kulabeli bercampur menjadi satu.
Schevenko menatapku sekali lagi, senyum tipis menghiasi wajahnya.
Ia mencondongkan badan sebentar sebagai salam hormat kecil.
Aku membalasnya dengan menunduk sedikit, tapi hati dan pikiranku… bergetar tak terkira.
Dan aku tahu… pagi ini bukan sekadar perkenalan.
Ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Awal dari perubahan hidup yang tak bisa kuabaikan.
Setiap detik terasa menegangkan, penuh rasa penasaran, dan… terlalu nyata untuk diabaikan.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
Tapi semakin lama aku menatapnya, semakin sulit untuk berpaling.
Aku sadar, Schevenko bukan sekadar tamu.
Ia adalah seseorang yang… akan mengubah hidupku selamanya.
Tak terasa....
Bersambung.....