Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpustakaan
Perpustakaan pusat UGM lantai tiga selalu menjadi tempat favorit Kay untuk mengerjakan tugas. Bukan karena koleksi bukunya yang lengkap, tapi karena suasananya yang tenang dan jendela-jendela besarnya yang menghadap ke barisan pohon randu.
Sore itu, sinar matahari mulai merambat masuk, menciptakan garis-garis cahaya yang menari di atas meja-meja kayu dan lantai keramik berwarna krem.
Kay duduk di meja dekat jendela, menyandarkan punggung di kursi sambil menghela napas panjang. Di hadapannya, tiga buku tebal tentang ekonomi makro terbuka, disertai laptop dan secangkir caramel macchiato yang sudah setengah habis.
Rambutnya diikat acak-asalan, beberapa helai terlepas dan jatuh di pelipis. Ia mengenakan kemeja flanel hitam-putih yang ia padukan dengan kaos putih polos di dalamnya, celana jeans biru muda yang sedikit robek di lutut, dan sepatu pantofel hitam yang tidak terlalu cocok tapi nyaman dipakai.
"Gue udah baca bab ini tiga kali, Mik, tapi nggak masuk-masuk," keluh Kay, menunjuk salah satu buku. "Mungkin otak gue udah mau short circuit."
Mika yang duduk di seberangnya hanya terkekeh tanpa mengangkat kepala dari laptopnya. Sahabatnya itu hari ini mengenakan dress bahan warna hijau army dengan outer denim, rambut pendeknya dijepit dengan klip bunga kecil.
"Lo tuh kebanyakan mikirin laki-laki, Kay. Bukan mikirin elastisitas permintaan."
"Gue nggak mikirin—"
"Bima."
Nama itu meluncur dari mulut Mika dengan mudah, membuat Kay tersentak kecil. "Mik!"
"Apa? Gue cuma menyebutkan nama seseorang. Nggak ada salahnya kan?" Mika masih mengetik dengan santai, tapi senyum nakal terukir di bibirnya.
Kay mendengus, lalu kembali ke bukunya. Tapi matanya terus melirik ke arah pintu masuk, lalu ke rak-rak buku, lalu ke meja-meja lain. Mencari. Selalu mencari.
"Lo kayak satpam," ledek Mika tanpa melihat. "Terus muter-muterin kepala."
"Gue cari—"
"Bima. Iya, gue tahu."
Kay menghela napas frustrasi, lalu menutup bukunya. "Oke. Iya. Gue lagi nyari dia. Puas?"
Mika akhirnya mengangkat kepala, tersenyum lebar. "Akhirnya jujur juga."
"Tapi dia nggak ada di sini. Udah sejam gue di sini, nggak ada tanda-tanda—"
"Kay."
"Apa?"
Mika menunjuk ke arah rak buku bagian belakang, dekat jendela di sisi lain ruangan. "Lihat tuh."
Kay menoleh, dan jantungnya seketika berhenti berdetak.
Di meja pojok yang selalu sepi, di bawah jendela yang sama-sama menghadap ke pohon randu, duduk Bima Wijaya.
Laki-laki itu hari ini mengenakan kemeja lengan panjang warna abu-abu—bukan kemeja kotak-kotak biru yang biasa—dengan celana jeans hitam dan sepatu kets putih yang sama usangnya.
Rambut ikalnya sedikit lebih rapi dari biasanya, mungkin karena baru keramas. Di hadapannya, laptop usang dan tiga buku tebal ilmu komputer bertumpuk rapi.
Tapi bukan itu yang membuat Kay terpaku.
Bima tidak sedang mengetik atau membaca. Tangannya memegang pensil, dan di samping laptopnya terbuka sebuah buku sketsa berukuran sedang.
Dengan gerakan tangan yang luwes dan terlatih, Bima menggoreskan pensilnya di atas kertas, sesekali mengangkat kepala untuk mengamati sesuatu, lalu kembali menggambar.
Kay tidak bisa melihat apa yang digambar Bima dari jarak itu, tapi cara Bima menggambar—fokus, tenang, seolah dunia luar tidak ada—membuatnya terpesona.
"Dia lagi ngapain?" bisik Mika, ikut menoleh.
"Gambar."
"Maksud lo?"
"Refreshing, kali. Atau hobi."
Mika mengamati Bima beberapa saat. "Gila. Laki-laki itu pinter, bisa gambar pula. Perfect package."
Kay tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada Bima, pada tangannya yang bergerak dengan pasti, pada alisnya yang sedikit berkerut karena konsentrasi, pada cara ia menggigit bibir bawahnya saat menggambar detail tertentu.
"Kay, lo ngiler," goda Mika.
Kay tersadar, buru-buru mengalihkan pandangan. "Enggak!"
"Iya-iya. Enggak." Mika kembali ke laptopnya, tapi masih menyunggingkan senyum. "Nah, ini kesempatan lo."
"Kesempatan apa?"
"Ngedeketin dia. Secara natural. Lo kan emang lagi di perpus buat tugas. Nggak perlu maksa."
Kay menggigit bibir bawahnya, ragu. "Terus gue harus ngapain?"
"Kay, lo ini cewek. Pake insting lo. Kalo perlu, lo bisa pinjem buku di dekat dia. Atau—"
Sebelum Mika selesai bicara, Kay sudah berdiri. "Gue ambil buku dulu."
Mika mengangkat kedua jempol. "Good luck, satpam."
Kay melirik sekilas ke arah Bima, lalu berjalan menuju rak buku yang tidak terlalu jauh dari tempat duduk Bima. Ia pura-pura mencari sesuatu di rak yang berlabel "Ekonomi Pembangunan", padahal ia sudah pernah membaca hampir semua buku di rak itu.
Jantungnya berdetak kencang. Ia bisa melihat Bima dari sini—hanya beberapa meter, dipisahkan oleh dua rak buku dan lorong kecil. Bima masih asyik menggambar, sesekali menoleh ke arah jendela, lalu kembali ke sketsanya.
Kay mengambil satu buku secara acak, membukanya, berpura-pura membaca. Tapi matanya terus melirik ke arah Bima. Laki-laki itu mengangkat kepalanya, mengamati rak buku di seberangnya, lalu kembali menggambar.
Kay mengikuti arah pandangannya, tapi tidak melihat apa pun yang menarik—hanya deretan buku dan sesekali mahasiswa lewat.
Lalu Bima menoleh ke arahnya.
Kay panik, buru-buru menunduk menatap buku di tangannya. Ia tidak tahu buku apa yang ia pegang, judulnya bahkan tidak ia baca. Dari balik halaman buku, ia bisa merasakan—atau mungkin hanya berharap—Bima masih menatapnya.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti jam, Kay mengangkat kepala dengan hati-hati. Bima sudah kembali ke sketsanya. Kay menghela napas lega.
"Lo mau baca buku itu atau lo mau peluk?" suara Mika tiba-tiba muncul dari belakang, membuat Kay hampir menjatuhkan buku.
"Mik! Lo ngagetin aja!"
Mika terkekeh. "Gue liat lo dari meja. Udah lima menit lo megang buku itu tapi nggak dibuka-buka. Lo yakin mau baca?"
Kay menatap buku di tangannya. Pengantar Ekonomi Mikro Edisi Keempat. Buku yang sudah ia baca sejak semester lalu. "Ini buat... refreshing."
"Refreshing baca buku ekonomi? Lo lebih aneh dari Bima."
"Ssst! Jangan keras-keras!" Kay menutup mulut Mika.
Mika melepaskan tangan Kay sambil tertawa pelan. "Oke oke. Tapi serius, lo mau ngapain? Mau ngomong sama dia?"
Kay menatap Bima lagi. Laki-laki itu baru saja selesai menggambar sesuatu, lalu membalik halaman sketsanya dan mulai menggambar lagi. "Gue... nggak tahu harus ngomong apa."
"Bilang aja, 'hai, lo Bima kan? Gue Kay. Lo lagi gambar apa?' Simple."
"Terlalu maksa."
"Ya elah, Kay. Lo ini—"
Tiba-tiba Bima berdiri. Ia mengambil buku sketsanya, lalu berjalan menuju rak buku—rak yang sama dengan tempat Kay berdiri. Kay panik, tapi kakinya seperti terpaku di lantai. Bima semakin dekat, matanya fokus pada deretan buku di rak, sama sekali tidak melihat ke arah Kay.
Saat Bima melewatinya, jarak mereka hanya sekitar satu meter. Kay bisa mencium aroma—bukan parfum, tapi aroma sabun dan kertas dan sedikit kopi. Bima mengambil sebuah buku dari rak paling atas, lalu berbalik.
Dan untuk pertama kalinya, mata mereka bertemu.