Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HUJAN PERTAMA DI MUSIM GUGUR
03:00 PM. Analogue Heart, Pesisir Selatan Yunani.
Langit yang biasanya biru cemerlang seolah-olah ditarik oleh tirai abu abu yang berat. Angin Mediterania yang biasanya hangat berubah menjadi embusan tajam yang membawa aroma tanah basah dan garam. Kemudian, tanpa peringatan, rintik pertama jatuh menghantam kaca jendela toko buku dengan suara detak yang ritmis.
Hujan pertama di musim gugur telah tiba.
Di dalam toko, Bimo baru saja selesai memasang rak buku tambahan di sudut belakang. Ia mendongak, menatap rintik hujan yang semakin deras. "Wah, kalau hujannya begini, Pak Kostas dan kawan kawannya tidak akan datang untuk sekadar numpang baca koran. Sepertinya kita harus menutup toko lebih awal, Bos."
Raka, yang sedang berdiri di dekat jendela, memperhatikan butiran air yang mengalir di kaca. Ia menarik napas panjang, menikmati aroma hujan yang masuk lewat celah pintu. "Kau benar, Bim. Lagi pula, tidak ada gunanya memaksakan buka kalau jalanan setapak ke pelabuhan sudah licin seperti es."
Liana muncul dari ruang belakang, membawa selimut wol tebal yang baru ia ambil dari binatu. "Aku sudah membuat cokelat panas dengan sedikit kayu manis di atas. Bimo, kalau kau mau pulang ke penginapanmu, sekaranglah saatnya sebelum air meluap di jembatan bawah."
Bimo menyeringai, mengambil jaket kuningnya yang mencolok. "Ah, aku tahu kode kalian. Bimo, pergilah agar kami bisa bermesraan di antara rak buku. Tenang saja, aku paham. Aku akan pergi ke kedai kopi tua di dermaga, siapa tahu ada janda kaya yang butuh bantuan teknologi."
Bimo melambai santai dan menghilang di balik pintu yang berdenting, meninggalkan Raka dan Liana dalam kesunyian yang tiba tiba terasa begitu padat.
Raka membalik tanda di pintu menjadi CLOSED dan mengunci gerendelnya. Ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu lampu dekoratif berwarna kekuningan yang memberikan kesan hangat dan intim di dalam toko.
Liana meletakkan nampan berisi dua cangkir cokelat panas di atas meja kayu besar yang biasanya digunakan untuk membaca. Ia duduk di salah satu kursi kulit tua, membungkus tubuhnya dengan selimut wol.
"Kemarilah, Raka," panggil Liana lembut.
Raka menghampirinya, namun alih alih duduk di kursi satunya, ia duduk di lantai karpet di samping kursi Liana, menyandarkan kepalanya pada lutut wanita itu. Liana jemarinya menyisir rambut Raka yang pendek, sebuah gerakan yang selalu berhasil meluluhkan sisa-sisa kewaspadaan militer pria itu.
"Suara hujannya... mengingatkanku pada sesuatu," bisik Liana.
"Pada apa?"
"Pada malam di bunker Maladewa. Saat kita mengira itu adalah hujan, padahal itu adalah suara reruntuhan di atas kepala kita," Liana menghela napas, matanya menatap cokelat panasnya yang mengepul. "Terkadang aku masih kaget saat menyadari bahwa suara di luar sana benar benar hanya hujan. Bukan ledakan. Bukan drone."
Raka meraih tangan Liana, menggenggamnya erat. "Itu sudah lewat, Li. Sekarang, satu satunya hal yang akan jatuh dari langit di sini adalah air untuk menyirami kebun zaitun Pak Kostas."
Suasana menjadi semakin emosional saat petir menyambar di kejauhan, menciptakan kilatan cahaya yang memantul di mata mereka. Raka mendongak, menatap Liana dengan tatapan yang sangat jujur.
"Li, aku ingin berterima kasih," kata Raka pelan.
Liana tersenyum kecil. "Untuk apa? Cokelat panasnya?"
"Untuk tidak menyerah padaku saat aku masih menjadi robot yang rusak," Raka menarik napas, seolah kata kata ini sangat berat untuk dikeluarkan. "Selama bertahun tahun, aku dilatih untuk tidak merasakan apa apa. Hujan bagiku hanya berarti gangguan pada jarak pandang penembak jitu. Dingin hanya berarti penurunan efisiensi tubuh. Tapi kau... kau membuatku merasakan hujan ini. Kau membuatku merasa... dingin yang nikmat karena aku tahu ada kau yang menghangatkanku."
Mata Liana berkaca kaca. Ia turun dari kursinya, ikut duduk di karpet bersama Raka, memeluk pria itu dari samping. "Kita berdua sama sama rusak saat itu, Raka. Kau robotnya, dan aku adalah sistem yang penuh bug karena ketakutan. Kita saling memperbaiki. Bukan dengan kode, tapi dengan kehadiran."
Liana menyandarkan kepalanya di bahu Raka, mendengarkan deru hujan yang semakin menggila di luar. Di dalam toko buku ini, dikelilingi oleh ribuan cerita dalam kertas, mereka sedang menulis bab mereka sendiri yang paling jujur.
"Raka, apa kau pernah menyesal?" tanya Liana tiba tiba. "Menyesal karena kita tidak bisa memiliki kehidupan yang normal sejak awal? Tanpa senjata, tanpa pelarian?"
Raka terdiam sejenak, lalu menggeleng perlahan. "Jika kita memiliki kehidupan normal sejak awal, aku mungkin hanya akan menjadi pria biasa yang lewat di depanmu di jalanan Jakarta, dan kau mungkin tidak akan pernah menoleh padaku. Aku tidak menyesali jalannya, Li. Aku hanya bersyukur pada tujuannya. Dan tujuannya adalah ruangan ini. Bersamamu."
Sentuhan emosional itu perlahan lahan memicu gairah yang berbeda bukan gairah yang liar dan tergesa gesa, melainkan gairah yang dalam dan penuh pemujaan. Raka memutar tubuh Liana agar menghadapnya. Dalam temaram lampu toko, wajah Liana tampak seperti dewi kuno yang keluar dari buku mitologi di rak sebelah mereka.
Raka menelusuri garis bibir Liana dengan ibu jarinya. "Kau tahu, setiap kali hujan turun, aku selalu ingin melakukan satu hal."
"Apa itu?" bisik Liana, napasnya mulai memburu.
"Memastikan bahwa kau tahu... kau adalah satu satunya alasan aku masih bernapas."
Raka mencium Liana dengan kelembutan yang memabukkan. Ciuman itu terasa seperti janji yang diperbarui. Liana membalasnya dengan menarik Raka lebih dekat, selimut wol yang mereka gunakan jatuh ke lantai, membiarkan tubuh mereka saling merasakan panas satu sama lain melalui pakaian tipis yang mereka kenakan.
Di tengah keheningan toko buku, di antara aroma kertas tua dan kayu, mereka bercinta dengan ritme yang selaras dengan rintik hujan di luar. Setiap sentuhan Raka di kulit Liana terasa seperti sebuah doa syukur. Liana merespons dengan setiap desahan yang menyebut nama Raka, sebuah melodi yang jauh lebih indah daripada suara badai di luar sana.
Di lantai karpet yang empuk, di bawah bayang-bayang rak buku sastra klasik, mereka melepaskan segala sisa trauma yang ada. Gairah malam ini adalah sebuah ritual pembersihan. Air di luar membasuh bumi, sementara cinta mereka membasuh sisa-sisa kegelapan di hati mereka masing masing.
"Raka..." Liana mencengkeram bahu Raka saat mereka mencapai puncak emosi dan fisik secara bersamaan. Suaranya menyatu dengan suara petir yang menggelegar di langit Mediterania.
Beberapa waktu kemudian, mereka masih berbaring di karpet, berselimutkan wol yang tadi jatuh. Hujan mulai mereda menjadi rintik rintik halus yang menenangkan.
Liana memainkan kancing kemeja Raka yang terbuka. "Kita harus membersihkan tempat ini sebelum Bimo kembali besok pagi. Dia punya mata yang sangat tajam untuk hal hal seperti ini."
Raka terkekeh, mencium pelipis Liana. "Biarkan saja. Dia sudah tahu kita gila."
Raka bangkit sedikit, menatap sekeliling toko bukunya yang kini terasa jauh lebih hidup. "Li, aku punya ide. Bagaimana kalau di musim gugur ini, kita mengadakan malam pembacaan puisi untuk warga desa? Kita bisa menyajikan anggur dan cokelat panas ini."
Liana mendongak, matanya berbinar. "Seorang mantan point man Unit 09 ingin mengadakan malam puisi? Dunia benar benar sudah berubah."
"Duniaku sudah berubah sejak kau masuk ke dalamnya," sahut Raka dengan senyum manis yang jarang ia tunjukkan.
Liana tertawa dan memeluk Raka erat. Mereka berdiri bersama, merapikan pakaian mereka, lalu berjalan menuju jendela besar. Di luar, jalanan desa yang basah memantulkan cahaya lampu jalan yang redup. Semuanya terasa begitu tenang, begitu damai.
Hujan pertama di musim gugur ini bukan lagi sebuah gangguan atau pengingat akan masa lalu yang kelam. Bagi Raka dan Liana, ini adalah bab baru yang bersih. Sebuah pengingat bahwa setelah badai yang paling hebat sekalipun, akan selalu ada waktu untuk menutup toko lebih awal, menyeduh cokelat panas, dan menemukan rumah di dalam pelukan seseorang.
"Ayo tidur, Raka," ajak Liana sambil menuntun tangan suaminya menuju tangga lantai atas. "Besok kita punya banyak buku basah yang harus dikeringkan."
"Dan banyak cerita baru yang harus kita buat," jawab Raka pelan, menutup lampu terakhir di Analogue Heart.