NovelToon NovelToon
Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: RantauL

Season 2 dari Novel Sang Penakluk.

Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.

Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.

Selamat Membaca...,,,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31. Lyra

Ren Zen pun menangkupkan tangan dan memberi salam. “Lama tidak bertemu, Kakek Han, Tiger, Trile… dan juga Bibi Lus Si.”

Lyra ikut menangkupkan tangan, memberi salam dengan sikap santai namun sopan.

Keempatnya membalas dengan senyum ramah.

“Silakan duduk, Pangeran,” kata Lus Si sambil mempersilakan.

Mereka pun berkumpul di gazebo. Teh hangat kembali dituangkan. Uap tipis mengepul perlahan, menghangatkan suasana. Untuk sesaat, mereka terasa seperti keluarga kecil yang lama terpisah dan akhirnya berkumpul kembali.

Lia Zen langsung membombardir Ren Zen dengan pertanyaan—tentang latihan apa yang ia jalani, teknik apa yang telah ia kuasai, sekte apa yang pernah ia temui, dan apakah ia pernah berada di ambang kematian.

“Beberapa kali,” jawab Ren Zen jujur.

Lia Zen menelan ludah. “Menyeramkan sekali…”

“Namun aku selalu menolongnya,” sela Lyra sambil tersenyum. “Kakakmu ini berutang budi padaku.”

Ren Zen menatap Lyra tajam.

“Hehehe… maaf,” Lyra terkekeh. “Aku hanya bercanda.”

Han Yu menatap Ren Zen dengan sorot mata penuh kebanggaan. “Nak Ren, jalan yang kau tempuh benar-benar tidak mudah.”

“Itu bukan masalah, Kakek Han,” jawab Ren Zen mantap. “Yang pasti, aku akan terus berlatih dan mencari pengalaman sebanyak mungkin… sampai aku benar-benar menjadi yang terkuat.”

Di bawah cahaya lentera dan langit berbintang, tekad itu terdengar jelas—bukan sebagai janji kosong, melainkan sebagai sumpah yang lahir dari tekad dan keteguhan hati yang kokoh.

Beberapa saat kemudian, langkah kaki lain terdengar.

Kali ini berbeda.

Setiap langkahnya tenang, stabil, dan sarat wibawa—seolah tanah taman itu sendiri dengan sukarela memberi jalan.

Semua yang berada di gazebo langsung menyadarinya.

Dari balik pepohonan yang diterangi lentera, muncul sosok Kaisar Jack Zen. Ia mengenakan jubah sederhana berwarna gelap, tanpa simbol kekaisaran yang mencolok. Di sisinya berjalan Permaisuri Mei Ling, anggun seperti biasa, wajahnya dihiasi senyum lembut yang menenangkan hati siapa pun yang memandangnya.

Tanpa perlu aba-aba, semua yang hadir berdiri dan memberi hormat.

“Salam hormat untuk Yang Mulia Kaisar!”

“Salam hormat untuk Permaisuri!”

Kaisar mengangkat satu tangan. Gerakannya sederhana, namun penuh otoritas.

“Kalian tidak perlu terlalu formal,” katanya. “Ini hanya pertemuan keluarga.”

Nada suaranya tenang, tidak mengandung perintah—namun tak seorang pun berani mengabaikannya.

Ia melangkah mendekat dan duduk di salah satu kursi kosong di gazebo, diikuti oleh Permaisuri Mei Ling yang duduk anggun di sampingnya. Tatapan Kaisar menyapu sekeliling sebentar, lalu berhenti pada satu sosok.

Ren Zen.

Untuk sesaat—hanya sesaat—sorot mata Kaisar melembut. Perubahan kecil itu hampir tak terlihat, namun cukup jelas bagi Permaisuri Mei Ling yang telah mendampinginya selama bertahun-tahun.

“Ren Zen,” ucap Kaisar tenang. “Kau semakin kuat saja, putraku,” lanjut Kaisar. “Apakah petualanganmu menyenangkan?”

Ren Zen menjawab tanpa ragu. “Ya, Ayah. Itu semua berkat restu dari Ayah dan Ibu.”

Permaisuri Mei Ling tersenyum lembut. “Kami hanya mendukungmu, Ren. Usaha dan kerja kerasmu-lah yang membawamu sampai ke titik ini.”

Ren Zen mengangguk pelan, lalu ikut tersenyum. Senyum tipis—jarang, namun tulus.

Pandangan Kaisar kemudian bergeser.

Ke arah Lyra.

Ia menatap wanita berambut ungu itu lebih lama dari sekadar sopan santun. Tatapannya dalam, menelusuri wajah Lyra seolah mencari sesuatu yang tersembunyi di balik ekspresinya yang santai. Di balik mata Kaisar, ada kilatan samar—sebuah ingatan lama, bayangan yang nyaris terlupakan.

“Kau teman Ren Zen?” tanya Kaisar akhirnya.

“Bisa dibilang begitu, Yang Mulia,” jawab Lyra santai, meski sikapnya sedikit lebih tegap dari biasanya. “Aku hanya kebetulan ikut.”

“Hm…” Kaisar mengangguk pelan. “Kebetulan yang menarik.”

Ia terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada kasual—terlalu kasual untuk sebuah pertanyaan yang sebenarnya sarat makna.

“Lyra,” katanya, “apakah kau mengenal seseorang bernama Lylis?”

Waktu seolah berhenti.

Lyra terkejut.

Cangkir teh di tangannya bergetar dan sedikit isinya tumpah ke meja. Ia membeku. Hanya sepersekian detik—namun cukup untuk membuat udara di sekitar gazebo terasa berubah.

Nama itu.

Nama yang hampir tak pernah diucapkan dan ia dengar lagi. Nama yang seharusnya terkubur bersama masa lalunya.

Matanya menatap Kaisar Jack Zen sebentar, seolah bertanya, mengapa Kaisar Jack Zen bisa mengenal nama itu?

Jari Lyra mengepal tanpa sadar di balik meja. Napasnya tersendat sepersekian detik sebelum kembali teratur.

Ren Zen langsung menoleh. Ia melihat perubahan itu. Terlalu jelas. “Lyra?” panggilnya pelan. “Ada apa?”

Lyra membuka mulut—

Namun sebelum satu pun kata keluar—

“Ternyata semua berkumpul di sini!”

Suara itu memecah ketegangan seperti batu yang dilempar ke permukaan danau.

Dari arah taman, Ray Zen muncul dengan langkah santai. Senyum khasnya terukir di wajah—senyum yang hangat dan selalu membuat suasana berubah. Di belakangnya berdiri dua sosok kuat, Bai Hu dan Bear, pengawal setianya.

“Kak Ray!” seru Lia Zen gembira.

Ray Zen mengangkat tangan dan tertawa kecil. “Kau semakin cantik saja, adik kecil.”

“Benarkah, Kak?” Lia Zen tertawa. “Kak Ray memang yang terbaik!”

Ray Zen mengalihkan pandangannya pada Ren Zen. Senyumnya tak berubah, namun sorot matanya sedikit lebih dalam.

“Kau akhirnya pulang juga, Ren,” katanya. “Dan…” ia menatap Ren Zen lebih lekat, “…sepertinya kekuatanmu meningkat pesat.”

Ren Zen tersenyum canggung. “Kau terlalu memujiku, Kak. Aku belum sekuat dirimu.”

Ia lalu melanjutkan, suaranya jujur penuh rasa ingin tahu. “Lia bilang kau menjadi pahlawan di perang perbatasan selatan. Melawan iblis.”

Ray Zen tertawa pelan. “Berita itu terlalu dibesar-besarkan, Ren. Kak Mei dan Tim Pemburunya-lah pahlawan yang sesungguhnya.”

Ren Zen mengernyit.

Ia mencoba memeriksa aura Ray Zen. Namun semakin ia memperhatikan, semakin ia kebingungan.

Tidak ada apa-apa.

Tidak ada tekanan kultivasi. Tidak ada fluktuasi energi. Tidak ada tanda-tanda kekuatan apa pun.

Ray Zen berdiri di sana… seperti orang biasa.

Ren Zen menatapnya lekat-lekat. “Bagaimana mungkin…?”

Ray Zen tidak menjawab. Ia justru menoleh ke arah Lyra. Tatapan mereka bertemu. Dan dunia Lyra seolah runtuh.

Tidak ada ledakan aura. Tidak ada tekanan yang terlihat. Namun, batinnya dihantam oleh sesuatu yang tak kasatmata—keberadaan yang terlalu dalam, terlalu padat. Seperti jurang tak berdasar yang menatap balik ke arahnya.

Untuk pertama kalinya sejak lama—Lyra merasakan ketakutan.

Seolah pemuda di hadapannya adalah sosok Dewa Kematian. Sesuatu yang, jika menginginkan, bisa mencabut nyawanya tanpa usaha sedikit pun.

“Siapa wanita yang bersamamu ini, Ren?” tanya Ray Zen, suaranya tetap ringan.

Ren Zen menjawab cepat. “Namanya Lyra, Kak.”

Ray Zen mengulurkan tangannya. “Salam kenal, Lyra.”

Lyra menyambut uluran itu.

Begitu kulit mereka bersentuhan—Sesuatu menghantam batinnya.

Tekanan.

Tekanan yang luar biasa hebat.

Bukan aura yang mengamuk. Bukan kekuatan yang menindas.

Melainkan keberadaan.

Dalam.

Padat.

Dan Tak terukur.

Jantung Lyra berdegup keras. Napasnya tercekat. Keringat dingin mengalir di punggungnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

........Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss........

........Selamat Membaca........

........Lanjut Terussss........

1
Zul Fiandi
jadi lira musuh nya keluwarga rayzen apa ada salah paham tor ayotur semangat😄
Zul Fiandi
ayo tor sebelum kompenrisi bawa adiak adiak nya raizen kedunia tersembunyi untuk menambah kekuatan nya toor
teguh andriyanto
lima tangkai mawar 🌹 buatmu thor..
teguh andriyanto
setidaknya ada keterangan siapa si lyra wanita terkutuk ini Thor...🤣🤣
Jojo Prabowo Gemblung
ayo dunk lebih semangat lagi,thor.....
reader yg setia masih menanti update yg terbaru
MF
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Hary
pertanyaan kaisar belum di jawab lyra
Salsa billa 1494
lanjut thor.....
Abdul Rahman
Lanjuuuut👍
Hary
Mu Che... MUKA CHETAN....😜
Hary
PANGERAN KOPLAK LAH....
Zul Fiandi
makasih up nya yg memuaskan ini tor ayoraizen bawak adiak mu kedunia tersembunyi itu buat adiak adik dan kakak mu menjadi kuwat biar kamu meni gal kan kekaisan nanti kamu gak perlu kuwatir lagi dengan saudara dan ayah mu semya sudah kuwat masak pengawal musaja yg di bawa ayo tor semangat
Zul Fiandi
boleh saran tor biasa nya kalau anak nya kuat biaaa bapak nya ju ga di bawa kuat sama anak nya kwnapaya raizen gak memperkuat kekuatan kasar bapak nya sendiri jagi gak bisa pejabat nya semena mena lagi
RantauL: Sippp Cesss, makasih sarannya 🙏🙏🙏
total 1 replies
teguh andriyanto
5 mawar buatmu thor👍👍
MF
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
MF
💪💪💪💪💪
Harno
cuuus
teguh andriyanto
Thor.. Tuhan selalu suka hitungan ganjil, kenapa author sukanya hitungan genap, spt apdetannya..🤭
RantauL: Aduhh Cesss... kayak mana lagi ya kan 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
MF
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ArganLK10
Wihhh dah ada lanjutannya nih.. Gassss terusss Thor, jngan nanggung" lah.👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!