Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Letusan yang Membawa Telur
Gunung Merapi meletus pada malam tanpa bulan, tahun yang kemudian disebut Tahun Abu Panjang. Langit berubah merah darah, abu jatuh seperti salju hitam, dan lava mengalir seperti darah dewa yang terluka. Desa-desa di lereng bawah gunung hancur dalam semalam—rumah panggung kayu terbakar, sawah tertimbun lahar, dan jeritan manusia lenyap ditelan gemuruh bumi.
Di tengah kekacauan itu, seorang tetua klan Phoenix bernama Ki Ageng Wiratama naik ke kawah bersama tiga muridnya. Mereka bukan penyelamat desa—mereka datang karena firasat. Api Phoenix di dada mereka bergetar aneh sejak letusan dimulai, seperti ada sesuatu yang memanggil dari dalam gunung.
Kawah masih panas ketika mereka tiba. Lava mengalir lambat, membentuk sungai merah yang membara. Di tengah sungai lava itu, sesuatu tidak wajar: sebuah telur besar, seukuran tubuh manusia dewasa, berdiri tegak tanpa terbakar. Cangkangnya merah menyala seperti bara yang belum padam, permukaannya berdenyut pelan seperti jantung yang hidup. Panas dari lava seolah tidak menyentuhnya—bahkan uap yang naik dari telur itu lebih dingin daripada lava di sekitarnya.
Ki Ageng berlutut di tepi kawah, tangannya gemetar. “Ini bukan telur biasa,” katanya pada murid-muridnya. “Ini lahir dari api gunung… atau dari sesuatu yang lebih tua.”
Salah satu murid, seorang pemuda bernama Raden Surya, maju. “Tetua, apakah ini tanda dari Naga Cahaya? Atau… hukuman karena kita pernah membiarkan kutukan lama berlalu tanpa pengawasan?”
Ki Ageng menggeleng pelan. “Bukan hukuman. Ini… kelahiran. Tapi kelahiran yang tidak seharusnya terjadi.”
Mereka membawa telur itu turun dengan hati-hati, menggunakan rantai api Phoenix yang tidak bisa terbakar oleh lava. Saat telur disentuh, getaran di dada mereka semakin kuat—seperti ada suara samar di dalam telur yang berbisik: “Aku lahir untuk membakar kegelapan.”
Berita tentang telur menyebar cepat di kalangan klan Phoenix. Ada yang bilang telur itu lahir dari lava gunung—kekuatan bumi dan api yang bersatu secara alami setelah ratusan tahun keseimbangan. Ada yang bilang ini hasil hubungan terlarang antara Naga Cahaya dan seorang Phoenix—cahaya dan api yang menyatu tanpa izin dewa-dewa lama, melanggar aturan kuno setelah kutukan pertama dipatahkan.
Dewi Lara, pemimpin klan saat itu, memerintahkan telur disembunyikan di kuil rahasia di lereng utara Merapi. “Telur ini bisa menjadi berkah… atau kehancuran baru,” katanya pada para tetua. “Kita jaga sampai kita tahu asalnya. Dan kalau ia lahir sebagai ancaman… kita hancurkan sebelum ia membuka mata.”
Tetua Wiratama ditugaskan menjaga telur bersama murid-muridnya. Malam demi malam, ia duduk di depan telur, mendengar denyutnya yang semakin kuat. Ia tidak takut—ia merasa seperti sedang menjaga anak yang belum lahir.
Dan di dalam telur itu, sesuatu mulai bergerak.
Denyutnya bukan lagi acak. Ia berirama—seperti jantung yang belajar bernapas.
Dan di suatu malam tanpa angin, retak pertama muncul di cangkang merah itu.
Cahaya merah menyala dari celah retak, menerangi kuil rahasia seperti fajar yang terlalu dini.
Ki Ageng tersenyum tipis. “Ia mau lahir.”
Di luar kuil, angin malam membawa bisikan samar dari gunung: suara lava yang masih hidup, suara api yang belum padam.
Dan dunia—yang sudah damai setelah kutukan lama dipatahkan—mulai merasakan getaran baru.
Getaran api yang tidak pernah ada sebelumnya.