Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertukaran Nyawa
Kegelapan di dalam ruang tamu itu terasa mencekam, hanya diterangi oleh nyala kecil dari pemantik api di tangan Dimas yang bergoyang ditiup angin malam. Bayangan Dimas memanjang di dinding, tampak seperti monster yang siap menelan apa pun yang ada di depannya.
Gio berdiri kokoh, menyembunyikan Sasha sepenuhnya di balik punggungnya. Genggaman tangannya pada senjata kecil itu begitu erat hingga buku-bukunya memutih. Ia bisa merasakan detak jantung Sasha yang berpacu di punggungnya,
"Jangan melangkah lebih dekat, Dimas," desis Gio, suaranya rendah dan sarat akan ancaman. "Atau aku pastikan ini akan jadi malam terakhirmu bernapas."
Dimas tertawa, suara tawa yang kering dan hampa. Ia mematikan pemantik apinya, membuat ruangan kembali jatuh ke dalam kegelapan total, kecuali sedikit cahaya perak dari rembulan yang menembus jendela kaca.
"Kau selalu merasa menjadi pahlawan, Gio. Padahal darah yang mengalir di nadimu sama kotornya dengan darah ayah kita," ujar Dimas dari balik kegelapan. Langkah kakinya terdengar pelan, bergeser memutar, seolah sedang mengincar mangsa. "Sasha, apa suamimu yang setia ini sudah memberitahumu? Bahwa dia sebenarnya adalah anak kesayangan yang mendapatkan segalanya, sementara aku dibuang ke jalanan hanya karena aku lahir dari wanita yang tidak diinginkan?"
Sasha mencengkeram kemeja Gio lebih kuat. "Aku tidak peduli siapa kamu, Dimas! Pergi dari rumah kami!"
"Rumah kalian?" Dimas mendengus remeh. "Ini rumah yang dibangun di atas fondasi penderitaan keluarga kita, Sasha. Ayah Gio menghancurkan orang tuamu untuk harta, dan dia mengirim Gio untuk memilikimu agar rahasia itu tetap terkubur. Tidakkah kau merasa menjadi bahan lelucon di antara mereka?"
Kalimat itu menyengat hati Sasha, tapi ia melihat bagaimana bahu Gio menegang. Ia melihat luka yang tak terlihat di punggung suaminya. Di saat seperti ini, Sasha menyadari satu hal: Gio mungkin putra dari seorang pembunuh, tapi dia adalah pria yang sedang mempertaruhkan nyawanya untuk melindunginya sekarang.
Tiba-tiba, lampu senter yang sangat terang menyala dari arah pintu depan, membutakan pandangan mereka. Bersamaan dengan itu, beberapa pria bertubuh besar masuk dengan langkah cepat.
"Ambil wanitanya. Habisi pria itu," perintah Dimas dingin.
Kekacauan pecah dalam sekejap. Gio menarik Sasha, mendorongnya ke balik sofa besar. "Sha, tetap di sini! Jangan bergerak!"
Suara tembakan pertama memecah kesunyian malam, diikuti oleh dentuman benda-benda yang jatuh. Gio bergerak dengan tangkas, meskipun ia kalah jumlah. Ia bukan sekadar pengusaha sukses; ia adalah pria yang telah mempersiapkan diri untuk malam seperti ini selama bertahun-tahun. Namun, fokusnya terpecah. Ia lebih mengkhawatirkan keselamatan Sasha daripada nyawanya sendiri.
Sasha melihat dari balik persembunyiannya bagaimana Gio bergulat dengan dua pria. Ia melihat suaminya terkena pukulan keras di wajah, namun Gio tetap bangkit, menendang lawannya menjauh demi memastikan tidak ada yang mendekati sofa tempat Sasha bersembunyi.
"Gio, awas!" jerit Sasha saat melihat Dimas mengeluarkan senjata dan membidikkannya ke arah Gio dari sudut ruangan.
BANG!
Suara tembakan itu menggema, memekakkan telinga. Sasha memejamkan mata, jantungnya seolah berhenti berdetak. Saat ia membuka mata, ia melihat Gio tersungkur di lantai, memegangi bahunya yang mulai bersimbah darah.
"Tidak! GIO!" Sasha berlari keluar dari persembunyiannya, tidak lagi peduli pada bahaya. Ia berlutut di samping Gio, merengkuh kepala suaminya dengan tangan yang gemetar hebat. Cairan hangat dan kental membasahi jemarinya. "Gio, kumohon... jangan tinggalkan aku..."
Gio terengah, wajahnya pucat menahan rasa sakit yang luar biasa. Meski begitu, tangannya yang tidak terluka masih berusaha menggapai wajah Sasha. "Lari, Sha... pergilah..."
Dimas melangkah mendekat, moncong senjatanya masih mengepulkan asap tipis. Ia menatap pemandangan di depannya dengan rasa puas yang sakit. "Lihatlah kalian. Begitu menyedihkan. Cinta di atas tumpukan mayat."
Sasha mendongak. Air matanya sudah berhenti mengalir, digantikan oleh tatapan benci yang begitu murni. Ia berdiri perlahan, menatap tepat ke mata Dimas. "Kamu ingin menghancurkan hidup kami? Kamu sudah melakukannya. Tapi kamu tidak akan pernah bisa memiliki apa yang dimiliki Gio."
"Oh ya? Dan apa itu?" tanya Dimas sambil tersenyum miring.
"Kesetiaanku," jawab Sasha dingin. "Kamu boleh membunuh kami berdua malam ini, tapi dalam napas terakhirku, aku akan tetap menjadi milik Gio, bukan bagian dari rencana gilamu."
Dimas tampak tersinggung. Wajahnya memerah karena marah. Ia mengangkat senjatanya, membidik tepat ke arah dahi Sasha. "Kalau begitu, matilah bersama cinta bodohmu ini."
Namun, di saat kritis itu, suara sirine polisi meraung-raung dari kejauhan, semakin lama semakin dekat. Cahaya biru dan merah mulai terpantul di dinding ruang tamu. Gio, dengan sisa kekuatannya, menekan sebuah tombol kecil di jam tangannya—sebuah sinyal darurat yang sudah ia hubungkan ke markas kepolisian pusat sejak awal keributan.
"Sial!" kutuk Dimas. Ia menoleh ke arah anak buahnya. "Kita harus pergi! Sekarang!"
Sebelum pergi, Dimas menatap Sasha sekali lagi. "Ini belum selesai, Sasha. Aku akan kembali untuk mengambil apa yang menjadi hakku."
Dalam hitungan detik, para penyusup itu menghilang melalui pintu belakang sebelum polisi berhasil mengepung rumah. Keheningan kembali menyergap, hanya menyisakan suara napas Gio yang semakin berat.
Polisi merangsek masuk, menyinari ruangan dengan lampu-lampu terang. Sasha kembali jatuh berlutut di samping Gio, menekan luka di bahu suaminya dengan sobekan kain bajunya sendiri.
"Bertahanlah, Gio. Ambulans akan segera datang," isak Sasha. "Jangan berani-berani menutup matamu. Kamu masih punya banyak hutang penjelasan padaku."
Gio tersenyum lemah, sebuah senyuman yang sangat tulus hingga membuat hati Sasha hancur. "Aku... aku tidak akan pergi, Sha. Aku belum mendapatkan maafmu..."
Beberapa jam kemudian di rumah sakit. Aroma antiseptik yang tajam mengisi udara. Gio sudah selesai dioperasi; peluru itu berhasil diangkat, meski ia kehilangan banyak darah. Ia berbaring di bangsal kelas VIP dengan berbagai selang menempel di tubuhnya.
Sasha duduk di samping tempat tidur, menggenggam tangan Gio yang terasa dingin. Ia tidak tidur sedetik pun. Di kepalanya, ia mengulang kembali semua kejadian malam itu. Tentang sabotase, tentang ayah Gio, dan tentang pengakuan Dimas bahwa mereka bersaudara.
Pintu terbuka pelan. Seorang pengacara kepercayaan Gio masuk membawa sebuah tas koper kecil.
"Nyonya Sasha," ucap pria itu pelan. "Tuan Gio meminta saya menyerahkan ini kepada Anda jika sesuatu terjadi padanya. Dia bilang, di dalam sini ada semua jawaban yang Anda cari selama ini."
Sasha menerima koper itu dengan tangan gemetar. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat tumpukan dokumen, sebuah rekaman suara lain, dan sebuah surat wasiat yang ditandatangani Gio dua tahun lalu.
Sasha mulai membaca dokumen pertama. Matanya membelalak. Dokumen itu bukan bukti kejahatan ayah Gio, melainkan bukti bahwa Gio telah mengalihkan seluruh harta kekayaan keluarganya atas nama Sasha secara diam-diam sejak mereka menikah. Gio tidak pernah menginginkan harta itu; dia sedang mencoba mengembalikan apa yang dicuri ayahnya kepada Sasha.
Dan di bagian paling bawah, ada sebuah amplop cokelat bertuliskan: HASIL TES DNA - RAHASIA DIMAS.
Sasha membukanya dan jantungnya seolah berhenti berdetak saat membaca hasil analisis di sana.
Tepat saat itu, Gio mulai sadar. Ia mengerang pelan dan membuka matanya. Hal pertama yang ia cari adalah sosok Sasha. "Sha..."
Sasha berdiri, memegang lembaran tes DNA itu di depan wajah Gio. Suaranya bergetar antara amarah, haru, dan kebingungan yang luar biasa.
"Kenapa kamu melakukan ini, Gio? Kenapa kamu membiarkan Dimas percaya bahwa dia saudaramu, padahal hasil tes ini mengatakan hal yang sebaliknya?"
Gio menarik napas panjang yang menyakitkan, menatap istrinya dengan tatapan yang sangat lelah namun penuh kasih.
"Karena jika Dimas tahu dia bukan siapa-siapa dalam keluarga kami... dia akan langsung membunuhmu untuk melenyapkan semua bukti sejarah keluarga kalian, Sha. Aku membiarkannya merasa memiliki hak atas 'darah' itu agar dia tetap fokus padaku, bukan padamu."