NovelToon NovelToon
Kupinjam Waktu Untuk Membalasmu

Kupinjam Waktu Untuk Membalasmu

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Berondong / Ketos / Reinkarnasi / Obsesi / Pembaca Pikiran / Tamat
Popularitas:472
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Musuh dalam Selimut

Gavin masih terduduk kaku di hadapan gue, wajahnya menunjukkan campuran antara malu dan putus asa. Namun, sebelum dia sempat membuka suara lebih jauh, pintu ruang rapat kembali terbuka tanpa ketukan.

​Seorang pria dengan setelan charcoal grey yang sangat tajam melangkah masuk. Langkahnya tenang, auranya dingin, jauh berbeda dari Rizky yang gue kenal sebagai "Ketua Senat yang hangat".

​"Maaf saya terlambat, Ms. Odelyn. Saya dengar G-Corp sedang butuh suntikan dana segar?" Suara itu datar, tapi penuh ancaman.

​"Rizky?" Gavin tersentak berdiri. "Ngapain lo di sini?"

​Rizky tidak menjawab Gavin. Dia berjalan lurus ke arah gue, lalu mengulurkan tangannya. "Halo, Olyn. Lama nggak jumpa. Sekarang gue adalah CEO dari Archipelago Capital. Investor yang akan 'menyelamatkan' G-Corp... atas rekomendasi firma lo, kan?"

​Gue menyambut tangannya, tapi gue merasakan genggamannya terlalu erat. Ada kilat di matanya yang bukan lagi pemujaan, melainkan kebencian yang dikemas rapi dalam profesionalisme.

​"Senang melihat lo sukses, Kak Rizky," ucap gue sambil menarik tangan gue kembali.

​"Tentu saja," Rizky duduk di sebelah Gavin, namun matanya tetap tertuju pada gue.

"Gue belajar banyak dari lo, Lyn. Terutama soal gimana cara menjatuhkan orang di depan publik. Itu... sangat menginspirasi gue buat membangun kerajaan gue sendiri."

​Gue terdiam. Sial, gue meremehkan rasa sakit hatinya. Rizky nggak pernah memaafkan gue soal debat itu. Dia nggak datang buat nolongin Gavin—dia datang buat menguasai G-Corp dan mungkin... menghancurkan gue lewat jalur hukum.

Malamnya, saat kantor sudah sepi, Rizky menyelinap ke ruangan gue. Dia melempar sebuah dokumen ke meja gue—dokumen rahasia audit yang seharusnya nggak bisa diakses siapapun kecuali gue.

​"Lo pikir gue nggak tahu, Lyn?" bisik Rizky, berdiri terlalu dekat dengan meja gue. "Lo sengaja bikin audit G-Corp kelihatan lebih buruk dari aslinya supaya lo bisa ambil alih dengan harga murah, kan? Lo masih mainin Gavin kayak dulu."

​Gue bersandar di kursi, mencoba tetap tenang. "Itu cuma asumsi lo, Kak."

​"Oh, ya? Gimana kalau laporan manipulasi ini sampai ke telinga otoritas Singapura? Karier lo hancur, dan Gavin bakal tahu kalau 'penyelamat'-nya adalah orang yang sama yang pengen dia mati," Rizky tersenyum licik.

"Gue punya semua buktinya."

​Rizky kemudian menunduk, wajahnya sejajar dengan wajah gue. "Gue punya satu penawaran. Bantu gue ambil alih G-Corp sepenuhnya, bikin Gavin bangkrut tak bersisa, dan gue akan tutup mulut soal manipulasi ini. Kalau nggak... lo akan jatuh bareng cowok yang lo benci itu."

Di dalam ruangan, tensi antara gue dan Rizky makin memuncak. Rizky baru saja hendak menyentuh dokumen di meja gue dengan gaya mengancam, wajahnya condong ke arah gue dengan tatapan sinis. Dari posisi pintu yang sedikit terbuka, posisi kami memang terlihat sangat ambigu—seolah-olah Rizky sedang menyudutkan gue secara fisik.

​BRAKK!

​Pintu ruang rapat itu dihantam terbuka. Gavin masuk dengan napas memburu dan tangan yang terkepal kuat.

​"LEPASIN DIA, BRENGSEK!" teriak Gavin.

​Gavin langsung menerjang, menarik kerah kemeja Rizky dan menyentaknya menjauh dari meja gue. Rizky yang nggak siap hampir tersungkur ke lantai.

​"Lo pikir karena lo punya duit buat investasi, lo bisa berbuat seenaknya sama Odelyn?!" suara Gavin menggelegar di seluruh lantai 50. Dia berdiri di depan gue, membentengi gue dengan tubuhnya, persis kayak dua tahun lalu di UKS—tapi kali ini dengan aura yang lebih gelap.

​Rizky tertawa sinis sambil merapikan jasnya. "Gavin, Gavin... lo bener-bener nggak berubah ya? Masih aja jadi cowok yang pake otot daripada otak. Lo nggak tahu apa yang lagi kita bahas di sini."

​"Gue nggak peduli apa yang kalian bahas!" Gavin menoleh sedikit ke arah gue, matanya penuh kekhawatiran yang tulus. "Lyn, lo nggak apa-apa? Dia ngancem lo? Dia nyentuh lo?"

​Gue sengaja mengatur napas jadi sedikit pendek, memasang wajah pucat, dan meremas ujung blazer gue seolah-olah gue baru saja mengalami trauma hebat. Gue nggak menjawab, cuma menatap Gavin dengan mata berkaca-kaca—sebuah akting yang sempurna untuk mengonfirmasi "salah paham" dia..

​"Liat? Dia ketakutan gara-gara lo!" bentak, Gavin lagi ke arah Rizky.

"Keluar dari sini sekarang sebelum gue panggil keamanan atau gue abisin lo di sini!"

​Rizky menatap gue dengan tatapan yang seolah bilang, “Hebat banget akting lo, Lyn.” Dia tahu gue lagi memanfaatkan Gavin buat mengusir dia tanpa harus gue yang kotorin tangan.

​"Oke, gue pergi," ucap Rizky santai. Dia melirik gue untuk terakhir kalinya. "Tapi inget, Olyn... permainan ini belum selesai. Gavin cuma tameng sementara yang nggak tahu kalau dia lagi lindungin orang yang bakal gigit dia dari belakang."

Setelah Rizky keluar, ruangan mendadak hening. Gavin berbalik, dia memegang kedua bahu gue dengan tangan yang masih gemetar karena amarah.

​"Sori, Lyn... sori gue telat masuk," bisiknya pelan. "Gue nggak akan biarin cowok itu atau siapapun nyakitin lo lagi. Gue tahu kondisi perusahaan gue lagi di ujung tanduk, tapi gue nggak akan biarin lo jadi tumbal buat investasi dia."

​Dia menarik gue ke dalam pelukannya. Erat banget. Gue bisa ngerasain detak jantungnya yang nggak karuan. Di pundak Gavin, mata gue terbuka lebar—dingin dan penuh rencana. Gue nggak merasa bersalah. Gue justru merasa menang.

​Gavin sekarang bener-bener jadi "anjing penjaga" gue secara sukarela. Dia bakal makin benci sama Rizky, dan dia bakal makin percaya sama apapun yang gue katakan soal audit perusahaannya nanti.

...

1
Anonymous
Keren banyak banget plot twisnya😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!