Maxime Brixtone adalah seorang mafia yang sepanjang hidupnya terjebak dalam perselisihan kelam dengan ibu tirinya. Di tengah hidupnya yang penuh duri dan misteri tentang bagaimana konflik itu akan berakhir, Max berada di ambang kematian akibat rencana pembunuhan yang dirancang oleh sang ibu tiri.
Tak disangka, hidupnya di selamatkan oleh seorang wanita yang telah bersuami. Max bersembunyi di kediaman wanita tersebut, hingga mereka tanpa sengaja menyaksikan sang suami melakukan perselingkuhan.
Dari titik itu, batas antara rasa terima kasih, kemarahan, dan obsesi kepada wanita penyelamat hidupnya mulai kabur.
Max pun memiliki sebuah ide gila untuk menjadikan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya menjadi seorang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 31
Pria itu melangkah satu langkah lagi. Sepatunya bergesek pelan di atas tanah berdebu.
“Kau membuat banyak orang tidak nyaman, Max,” ucapnya tenang, namun nada suaranya menyimpan ancaman. “Beberapa dari mereka ingin kau berhenti… hari ini.”
Max tersenyum tipis. Bukan senyum ramah—lebih seperti ejekan halus.
“Biasanya,” jawabnya datar, “orang yang ingin aku berhenti tidak cukup berani datang sendiri.”
Salah satu pria di sisi kanan bergerak samar. Bahunya menegang. Tangan kirinya sedikit terangkat.
Bleiz melihatnya.
Gerakan kecil. Terlalu kecil untuk orang biasa. Tapi cukup jelas bagi seseorang yang terlatih.
“Dua detik,” bisik Bleiz pelan.
Max tak menjawab. Hanya mengangguk tipis.
Dan benar saja—
Pria di sisi kanan tiba-tiba menerjang maju, diikuti dua lainnya hampir bersamaan. Serangan terkoordinasi.
Bleiz bergerak lebih dulu.
Ia melangkah cepat ke depan, memotong jalur pria pertama. Tangan lawan mengayun lurus ke wajahnya, namun Bleiz memiringkan tubuh, menangkap pergelangan itu dan memutarnya dengan presisi brutal. Bunyi retakan tulang terdengar jelas di udara siang yang sunyi.
Belum selesai—
Lutut Bleiz menghantam perut pria kedua yang datang dari samping, membuatnya terhuyung ke belakang. Tanpa memberi celah, Bleiz menyapu kaki lawan hingga jatuh keras menghantam material di dekat gudang.
Di sisi lain, Max menghadapi tiga orang sekaligus.
Salah satu dari mereka mencoba memukul dengan kombinasi cepat. Max menahan pukulan pertama, membiarkan yang kedua melewati bahunya, lalu membalas dengan hantaman siku tepat ke rahang. Pria itu jatuh dalam satu gerakan bersih.
Pria lain mengeluarkan pisau lipat dari balik jaketnya.
Kilatan logam memantul di bawah matahari.
Bleiz melihatnya dari sudut mata. “Pisau.”
Namun Max sudah bergerak.
Saat bilah itu menusuk ke arah dadanya, Max melangkah ke samping, menangkap pergelangan tangan lawan dengan tangan kiri dan menghantamkan tinju kanannya ke siku pria itu. Pisau terlepas. Dalam gerakan lanjutan, Max memutar tubuh lawan dan menjatuhkannya ke tanah dengan tekanan di leher.
Pria terakhir mencoba menyerang dari belakang.
Terlambat.
Bleiz muncul seperti bayangan. Ia mencengkeram kerah pria itu dan membantingnya ke kap mobil SUV hingga terdengar dentuman keras. Kaca depan retak membentuk garis laba-laba.
Kini hanya tersisa pria yang tadi berbicara.
Ia mundur setengah langkah, wajahnya tak lagi setenang tadi.
“Jadi… memang benar,” gumamnya pelan. “Kalian tidak mudah.” Kata pria itu.
Max berjalan mendekat perlahan. Langkahnya tenang, hampir santai. Namun tatapannya menusuk.
“Kau datang membawa enam orang,” ucap Max dingin. “Dan masih menyebutku masalah.”
Pria itu tiba-tiba merogoh bagian belakang pinggangnya.
Bleiz sudah siap—
Namun suara letusan kecil lebih dulu terdengar.
Bukan tembakan keras. Lebih seperti desisan teredam.
Sebuah peluru menembus tanah gersang di dekat kaki Max.
Bleiz refleks menarik Max ke samping, keduanya berlindung di balik mobil mereka.
“Penembak,” desis Bleiz. “Atap gudang sebelah kiri.”
Max menyeka debu dari jasnya, wajahnya tetap tenang meski peluru baru saja hampir menembus kakinya.
“Jadi ini bukan hanya penyergapan,” katanya pelan. “Ini eksekusi.”
Pria terakhir memanfaatkan kekacauan itu untuk berlari menuju SUV.
“Biarkan dia,” ucap Max tiba-tiba saat Bleiz hendak mengejar.
Bleiz menoleh. “Tuan?”
Max berdiri tegak kembali, menatap ke arah atap gudang tempat penembak bersembunyi.
“Orang seperti mereka tidak bergerak tanpa perintah. Jika kita menekan terlalu cepat, dalangnya akan menghilang.”
Satu peluru lagi melesat, memecahkan kaca spion mobil mereka.
Bleiz menyipitkan mata, menghitung sudut dan jarak.
“Tiga puluh meter. Sudut tinggi. Angin ringan dari kanan.”
Max menatapnya sekilas. “Kau bisa?”
Bleiz tersenyum tipis—senyum dingin yang jarang terlihat.
“Sudah lama tidak latihan di siang hari.”
Ia membuka pintu mobil dengan cepat, mengambil sesuatu dari bawah kursi—senjata pendek dengan peredam yang tersembunyi rapi.
Dalam satu gerakan cepat, Bleiz berguling ke sisi kanan mobil, mengambil posisi rendah, lalu membidik.
Suasana hening sepersekian detik.
Lalu—
Letusan teredam.
Sosok di atas atap tersentak dan jatuh menghilang dari pandangan.
Keheningan kembali menyelimuti kawasan gudang itu. Hanya suara mesin SUV yang menjauh di kejauhan.
Bleiz berdiri perlahan, memastikan tidak ada gerakan lain.
“Area bersih.”
Max merapikan lengan jasnya yang sedikit berdebu. Wajahnya kembali tanpa ekspresi.
“Tidak,” jawabnya pelan. “Area ini hanya pembuka.”
Ia menatap ke arah jalan keluar yang kini kosong.
“Mereka ingin menguji kita di siang hari. Terang-terangan.”
Bleiz berjalan mendekat. “Perintah selanjutnya, Tuan?”
Max tersenyum tipis—senyum yang tak pernah membawa kabar baik bagi musuhnya.
“Sepertinya Nevari sudah berani terang-terangan membuat keributan.”
Matahari tetap bersinar terang.
Namun sejak detik itu, kota tahu—
perburuan telah dimulai.
Bleiz terdiam sesaat, mencerna setiap kata.
Angin siang berembus lebih kencang di antara deretan gudang tua. Sisa ketegangan dari baku hantam tadi masih terasa di udara, namun percakapan mereka kini jauh lebih berbahaya daripada enam pria bersenjata.
“Kalau begitu ada dua kemungkinan, Tuan,” ucap Bleiz hati-hati. “Pertama, beliau memang tidak tahu. Kedua… beliau tahu, tapi membiarkan sesuatu berjalan.”
Tatapan Max mengeras tipis.
“Membiarkan?” ulangnya pelan.
Bleiz menunduk sedikit. “Untuk melihat siapa yang muncul ke permukaan.”
Hening.
Max memahami maksud itu tanpa perlu dijelaskan lebih jauh. Ayahnya bukan pria yang ceroboh. Jika benar pengawal ayahnya terlihat mengawasi tadi—bukan membantu, bukan ikut campur—itu berarti ada perhitungan lain yang sedang dimainkan.
“Aku tidak suka menjadi umpan,” gumam Max rendah.
Bleiz menatap lurus ke depan. “Namun jika Anda adalah umpannya… berarti targetnya bukan Anda.”
Max tersenyum tipis. “Nevari.”
Nama itu terasa berat di udara.
Beberapa detik kemudian mobil pengawal mereka terlihat mendekat dari ujung jalan. Formasi kembali terbentuk—kali ini lebih waspada.
“Maaf tuan kami terlambat, beberapa musuh mengecohkan kami.”
“Hm.” Jawab Max.
Max melangkah menuju mobilnya.
“Ada kabar tentang Drake?” Tanya Max pada Bleiz kemudian.
“Kenji sudah memastikan Drake benar-benar mengajukan gugatan tuan. Dia datang sendiri ke kantor catatan sipil.”
“Apa kau yakin?”
“Ya, Tuan. Dokumen resmi. Masuk ke pencatatan sipil siang ini. Tidak ada tekanan dari luar yang terdeteksi.”
Max masuk ke kursi belakang. Bleiz kembali ke kemudi.
Mesin menyala.
“Kau tahu artinya?” tanya Max pelan.
Bleiz menarik mobil keluar dari area gudang. “Drake memutuskan sendiri.”
“Dan jika Drake benar-benar melepaskan Zayna…”
Max berhenti sejenak, memandang keluar jendela. Pantulan matahari di kaca gedung terasa menyilaukan.
“…maka langkah berikutnya akan lebih mudah.”
Bleiz tidak menanggapi, tapi ia tahu arah pikiran tuannya.
Masalahnya bukan sekadar perceraian.
Masalahnya adalah waktu.
“Tuan,” ucap Bleiz lagi, suaranya lebih rendah. “Jika pengawal ayah Anda memang menerima perintah langsung, maka pergerakan kita mulai sekarang pasti dilaporkan. Termasuk soal Drake. Termasuk soal Zayna.”
Mata Max menyipit.
“Itulah sebabnya hari ini aku tidak menemui Zayna.”
“Untuk melindunginya?”
Max tidak langsung menjawab.
“Untuk melihat siapa yang bergerak ketika aku menjauh.”
Bleiz memahami.
Jika Nevari memang mengincar Max, maka orang-orang di sekitarnya adalah titik lemah. Jika ayahnya mengawasi, maka setiap emosi Max akan dicatat.
“Tuan,” Bleiz kembali berbicara setelah beberapa detik. “Tentang kejadian beberapa waktu lalu… saat Anda hampir mati dan pengawal ayah Anda membantu melawan utusan Nevari…”
Max mengangguk kecil.
“Itu yang membuat saya ragu,” lanjut Bleiz. “Apakah beliau melindungi anda atau sekedar menjadikan anda umpan.”
“Benar.”
Mobil melaju memasuki jalan utama kembali. Kota tampak normal, tak tahu bahwa permainan besar sedang bergerak di baliknya.
“Dan Ayahku bukan pria yang bermain setengah hati,” ujar Max dingin. “Jika ia tahu Nevari adalah ancaman… Nevari sudah tidak bernapas.”
“Jadi kesimpulannya?” tanya Bleiz.
Max menatap lurus ke depan.
“Ayahku tidak tahu.”
“Atau?” Lanjut Bleiz.
“…atau dia sedang menunggu Nevari melakukan kesalahan besar.”
Keheningan kembali menyelimuti mobil.
Bleiz memegang kemudi lebih erat.
“Jika itu yang terjadi, Tuan… maka hari ini mungkin bukan tentang Anda.”
Max tersenyum tipis, tapi kali ini ada bayangan bahaya yang lebih gelap di sana.
“Tidak,” ucapnya pelan. “Hari ini tentang siapa yang berani menyentuhku di siang hari. Tapi anehnya utusan Nevari kali ini tidak bersenjata. Sebuah kemunduran. Apa yang Nevari rencanakan?”
Max menutup matanya sejenak, lalu membukanya dengan ketegasan baru.
“Kirim pesan ke Kenji. Percepat penyelidikan ke lingkaran dalam Nevari. Aku ingin daftar nama. Semua yang terlibat dalam serangan hari ini.”
“Baik, Tuan.”
“Dan satu lagi.”
Bleiz menoleh sedikit.
“Pantau pergerakan pengawal Ayahku. Jika mereka mengubah pola… laporkan tanpa menunggu perintah.”
“Dimengerti.”
Max bersandar, menatap langit cerah melalui kaca mobil.
Lingkaran kehidupan Max memang rumit.
Bukan lagi hanya tentang cinta, bukan hanya tentang Drake, bukan hanya tentang Zayna.
Ini tentang siapa yang sedang menguji batas kekuasaan.
Dan Max tidak pernah suka diuji.
“Bleiz.”
“Ya, Tuan?”
“Jika ternyata Ayahku benar-benar mengetahui semuanya… dan tetap diam…”
Nada suaranya berubah—lebih dingin dari sebelumnya.
“…maka aku harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.”
Bleiz tidak bertanya apa maksudnya.
Karena ia tahu.
Jika seorang ayah memilih diam di tengah ancaman—
Maka perang yang akan datang bukan lagi melawan Nevari.
Melainkan melawan darahnya sendiri.
Bersambung
tuan nelson hrs pnjng umur dlu biar dia bsa jelsin ke max yg sbnar.a
aku mencintaimu zayna, mari kita mulai semua dari awal. lupakan masalalu dan sambutlah masa depan denganku. gimana tanggapan Zayna nanti🤣
astaga zayna 🤐
diboongin lgii perihal hp 🙊 moga kdpan.a pasangan ni bsa sling jjur dlm kmunikasi 😁
Dari awal baca, bletz itu ku pikir perempuan 😂. ternyata lelaki. karna tmnku juga namanya bleitz tapi cewek✋