Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.
Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.
Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.
Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter¹⁹ — Ketulusan Lastri.
Tapi Lastri tidak menilai dari penampilan, ia ber-husnudzon yaitu berprasangka baik.
Ia hanya melihat dua orang yang tampak “niat” dan… mungkin memang butuh bantuan.
Lastri tersenyum.
“Wah, ya Allah… kalau kalian mau belajar, saya senang sekali. Masuk dulu, di luar panas.”
Alya dan Kalvin saling melirik.
Alya menahan tawa kecil.
Langkah pertama... sukses.
Di dalam rumah, Alya duduk dengan sopan.
Sementara Kalvin duduk agak kaku, seolah kursi kayu kecil yang ia duduki bisa meledak kapan saja.
Lastri menuangkan air putih ke gelas, lalu meletakkan di depan mereka.
“Kalian dari kampus mana?” tanya Lastri.
Alya tak langsung menjawab lancar, suaranya gagap. “Dari… kampus… eh…”
Kalvin menendang pelan kaki Alya di bawah meja.
Alya terkekeh kecil, lalu cepat-cepat membenarkan. “Dari kampus Trisakti, Mbak. Kami magang bareng.”
Lastri mengangguk. “Oh. Kalau gitu, kalian mau magang berapa lama?”
Kalvin akhirnya bersuara, suaranya tenang dan terkontrol. “Satu minggu dulu, Mbak. Kalau cocok… bisa lanjut.”
Lastri tersenyum hangat. “Bagus. Tapi… kalian nginep di mana?”
Alya langsung memegang dada, memainkan ekspresi sedih. “Nah itu, Mbak… kami belum dapat tempat.”
Lastri terdiam sebentar.
Lalu ia menatap rumah kecilnya, seolah sedang menghitung ruang. Dan akhirnya, ia berkata pelan, “Kalau kalian nggak keberatan… kalian bisa tinggal di sini dulu.”
Alya membelalak.
Kalvin juga.
Mereka tidak menyangka Lastri akan sebaik itu.
Lastri cepat-cepat menambahkan, “Rumah saya kecil. Tapi kalau kalian nggak pilih-pilih… saya bisa atur. Nanti kalau tidak betah, kalian bisa cari rumah sendiri.”
Alya langsung tersenyum lebar, benar-benar tulus kali ini. “Mbak… makasih banyak. Mbak baik banget, sih.”
Kalvin mengangguk pelan. “Terima kasih.”
Lastri tertawa kecil. “Ya sudah, anggap saja kalian adik saya. Panggil saya, Teh Lastri saja.”
Alya melirik Kalvin.
Dalam hati, ia ingin berkata. 'Aduh Bang, calon kakak ipar kita ini baiknya keterlaluan.'
Sore harinya, Lastri mulai memasak.
Alya duduk di dapur, pura-pura membantu. Padahal yang ia lakukan hanya… memandangi. Kalvin berdiri di dekat pintu dapur, tangan dilipat seperti bodyguard.
Lastri membuka panci, lalu mengeluarkan beberapa bahan.
Alya memperhatikan.
Ada jantung pisang dan ada jeroan ayam.
Dan… bahan makanan itu membuat Alya menelan ludah. Kalvin juga menatap bahan itu, dengan penasaran.
Lalu Kalvin bertanya pelan, “Teh… itu apa?”
Lastri menjawab santai, “Oh, ini jeroan ayam. Buat oseng-oseng, enak banget kalau pakai cabai rawit.”
Alya tersenyum kaku. “Hehe… iya ya. Kayaknya enak…” Padahal wajahnya sudah pucat.
Lastri lalu mengambil jantung pisang.
“Ini sayur jantung, kalian pernah makan?”
Alya dan Kalvin kompak menggeleng.
Lastri tertawa kecil. “Nanti kalian coba ya. Jangan takut, ini sehat.”
Kalvin mengangguk.
Alya juga mengangguk.
Namun Alya berbisik pada Kalvin, “Bang… aku biasanya makan salad sama steak.”
Kalvin menatapnya datar. “Lo mau balik ke kota?”
Alya langsung menggeleng keras. “Enggak! Demi Bang Malvin!”
Malam itu, mereka makan bersama.
Dan mengejutkannya…
Masakan Lastri memang enak.
Bukan enak 'lumayan', tapi benar-benar enak yang membuat Alya akhirnya berhenti mengeluh.
Oseng jeroannya gurih, pedasnya pas. Sayur jantungnya lembut, tidak pahit dan malah segar.
Alya sampai menatap piring kosongnya sendiri dengan tidak percaya, bahkan Kalvin juga makan lebih banyak dari biasanya.
Lastri memperhatikan, lalu tersenyum puas.
“Kalian suka?”
Alya mengangguk cepat. “Suka banget, Teh.”
Kalvin menambahkan, “Enak. Aku… jarang makan begini.”
Lastri tertawa kecil. “Ya wajar, kalian anak kota. Mungkin jarang ketemu makanan kayak gini.”
Alya nyengir. “Iya, Teh. Anak kota yang mulai insaf.”
Keesokan paginya, Lastri membangunkan mereka lebih pagi. Alya masih setengah tidur saat mendengar suara Lastri.
“Alya… bangun ya. Kita ke sawah.”
Alya membuka mata.
“Ke sawah?” suaranya serak.
Tak lama Kalvin juga bangun, rambutnya acak-acakan, wajahnya masih dingin.
“Ngapain, Teh?” tanya Kalvin.
Lastri menjawab ringan, “Ambil tutut.”
Alya terdiam.
Kalvin terdiam.
Lalu Alya bertanya pelan, “Tutut… itu apa, Teh?”
Lastri menoleh, ekspresinya santai. “Keong sawah.”
Alya langsung memegang mulutnya. “Keong… sawah?”
Lastri mengangguk. “Iya, nanti dibersihin. Direbus, terus dimasak pedas.”
Kalvin menghela napas. Alya menatap kakaknya, matanya seperti minta diselamatkan.
Kalvin berkata pelan, “Kita udah sampai sini.”
Alya mengangguk lemah. “Iya… kita udah sampai sini. Nggak mungkin kita batalin, terus balik ke kota.”
Mereka berjalan ke sawah.
Lastri mengenakan caping petani di atas kerudungnya, menutup kepala rapat-rapat agar terik matahari di sawah tak langsung menyengat.
Alya juga dipakaikan caping, namun caping itu malah membuat Alya terlihat seperti artis yang sedang syuting sinetron. Dan Kalvin, memakai caping dengan ekspresi seolah hidupnya sedang diuji.
Lastri menurunkan kaki perlahan ke pematang.
Alya mengikuti.
Baru dua langkah, Alya terpeleset.
“Hiiiii!”
Kalvin cepat-cepat menarik lengannya. “Jangan lebay.”
Alya menatap kakinya sendiri. “Bang… ini lumpur… masuk ke sepatu aku.”
Kalvin menatap sepatu putih Alya yang sudah cokelat. Lalu ia berkata datar, “Itu sepatu... nasibnya udah tamat.”
Lastri menahan tawa. “Maaf ya… kalian pakai sepatu bagus, harusnya pakai sandal atau bot.”
Alya tersenyum kaku. “Nggak apa-apa, Teh. Namanya juga… belajar hidup di desa.”
Kalvin melirik Alya. “Belajar apa?”
“Belajar hidup jadi manusia beneran.” Alya menjawab dengan nada putus asa, kesal kenapa kakaknya bertanya.
Lastri mulai mengambil tutut, tangannya cekatan. Sementara Alya menatap dengan jijik, tapi juga penasaran.
Kalvin menatap, lalu ikut jongkok.
“Ini cara ambilnya gimana?” tanya Kalvin.
Lastri mengajarkan.
Kalvin mencoba. Dan… entah kenapa, Kalvin bisa.
Alya membelalak. “Bang… kok abang berani?!”
Kalvin menatapnya datar. “Ini cuma keong.”
Alya memegang dada. “Cuma keong? Bang, itu… itu makhluk berlendir!”
Lastri tertawa kecil. “Alya, kamu coba. Pelan-pelan.”
Alya menelan ludah, ia menatap tutut di lumpur. Lalu menatap Lastri yang tersenyum sabar. Alya menarik napas, dan akhirnya…
Ia mencoba.
Begitu jarinya menyentuh tutut…
“HIIIIIIII!”
Alya langsung melompat, hampir jatuh lagi.
Kalvin menahan tawa.
Lastri juga.
Alya menatap mereka dengan kesal. “Kalian jahat!”
Lastri menggeleng. “Kamu lucu.”
Kalvin mengangguk. “Iya.”
Alya mendengus.
Lastri tertawa lebih keras.
Siang itu, mereka pulang dengan ember berisi tutut. Alya menatap ember itu sepanjang jalan.
“Ini… kita beneran bawa pulang?” tanyanya lirih.
Lastri mengangguk. “Iya dong, nanti sore Teteh masak.”
Kalvin menatap Alya. “Lo jangan pingsan pas entar makan.”
Alya mendelik. “Bang, aku belum pernah menyentuh hewan berlendir seumur hidupku.”
Kalvin menjawab datar, “Hari ini lo mulai.”
Alya ingin protes, tapi entah kenapa... di dalam hati kecilnya, ia merasa ini menyenangkan. Menjijikkan, tapi seru.
Dan yang paling mengejutkan…
Lastri tidak berpura-pura baik, wanita itu memang baik dan tulus. Dan saat Alya menatap wajah Lastri yang cerah meski hidupnya sederhana, Alya mulai mengerti. Kenapa kakaknya—Malvin, yang terlihat selalu tenang, dan sulit jatuh hati... bisa jatuh cinta pada perempuan desa seperti Lastri.
Di sudut rumah, Alya menatap Kalvin pelan.
“Bang…”
Kalvin menoleh.
Alya berkata lirih, “Kayaknya… Bang Malvin beneran serius deh.”
Kalvin mengangguk, suaranya rendah. “Iya.”
Dan hari itu… dua adik Malvin mulai sadar. Mereka bukan sedang 'menguji' Lastri, akan tetapi mereka justru sedang 'diuji' oleh ketulusan Lastri sendiri.
Sementara itu, Malvin yang belum mengetahui apapun baru saja tiba di rumah sewaannya di desa. Malam ini, ia bertekad menemui Lastri. Dan kali ini, ia akan menyatakan cintanya secara langsung.
mereka emang pantes di bui