Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Dekat untuk menjalin kerjasama
Di ruangan VIP itu, kini menjadi hangat dengan interaksi kedua saudara kembar yang menjadi penghibur, di saat suasana hati Kevandra yang tidak baik-baik saja: akibat melihat video tentang pembelaan Salsa atas perselingkuhannya.
"Betul kan, Bun, seharusnya Abang carikan istri." goda Liora, yang kini semakin menjadi-jadi akibat melihat wajah marah Lucas yang semakin memerah.
"Tentu saja, Ayah sudah siapkan wanita baik-baik untuk Lucas." sahut Prayudha, dengan nada sedikit bercanda.
Lucas semakin terperangah, saat mendengar perkataan Prayudha.
"No, apa-apaan sih, memang ini zaman Siti Nurbaya pake acara dijodoh-jodohkan?" gerutu Lucas, ia semakin mendengus kesal melihat Liora yang kini tertawa disaat melihatnya terpojok.
"Aduh... jeng anak-anak kamu asik juga ya! beda banget dengan anakku yang dingin dan datar, jarang-jarang bersikap seperti itu." kata Almaira, sambil melirik ke arah Kevandra yang kini masih duduk di sofa yang berada di ruangan itu.
Sementara Kevandra yang mendapatkan ledekan dari ibunya hanya bersikap acuh tak acuh dengan wajah datarnya.
"Begitulah jeng, kalau sudah bersama kadang bikin saya pusing." balas Kiara dengan tersenyum lembut.
Tiba-tiba bunyi ponsel menghentikan interaksi mereka.
Drt! Drt! Drt!
Suara dan getaran ponsel itu mengalihkan perhatian mereka, ternyata ponsel itu milik Liora.
"Siapa Dek?" tanya Lucas, yang kini menatap Liora dengan rasa penasaran.
"Paman Bagaskara." kata Liora, lalu ia menerima panggilan itu.
"Halo, Paman, ada apa?" tanya Liora, yang kini menerima sambungan telepon dari Bagaskara.
"Li, hari ini kamu masuk ya, proyek yang Paman kasih ada sedikit kendala, tentang lokasi pembangun yang akan kita laksanakan." jelas Bagaskara, di sebrang sana dengan nada khawatir.
"Baiklah, Paman, sekarang juga Liora akan ke sana." kata Liora, dengan menatap Kiara lalu beralih menatap Prayudha.
"Kalau begitu, Paman menunggu." ucap Bagaskara di sebrang sana, lalu memutuskan panggilan itu.
"Kenapa dengan Paman?" tanya Lucas, kini ia bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju Liora.
"Paman, mengatakan ada masalah dengan lokasi proyek yang akan aku kerjakan nanti." jawab Liora sambil menatap Lucas, lalu beralih menghampiri ayahnya Prayudha yang kini masih duduk dengan tenang.
Liora menjatuhkan kepalanya di bahu sang ayah. "Ayah... Lio izin ya untuk mengurus proyek dari Paman." pamit Liora, dengan nada memohon.
"Perusahan Paman terus yang Lio urus, kapan mau urus perusahaan Ayah, hhmm." kata Prayudha dengan nada lembutnya.
"Kalau perusahaan Ayah kan, sudah ada Abang Lucas yang urus. Lio pengen cari pengalaman yang berbeda di luar sana." ucap Liora dengan nada sedikit merajuk.
Prayudha yang kini mengelus kepala Liora, hanya menghela napas pasrah atas permintaan putrinya. "Baiklah, tapi ingat harus tetap hati-hati dan jaga diri baik-baik." putus Prayudha, dengan nada penuh perhatian.
Liora yang mendapatkan persetujuan itu seketika mengangguk. "Makasih, Ayah, sudah kasih izin. Kalau gitu Lio berangkat dulu." pamit Liora, lalu ia beranjak dari duduknya. Dan meraih tangan Prayudha lalu menyalaminya dengan takzim. Kemudian Liora beralih menghampiri Kiara dan memeluknya, sebelum berpamitan dengan cara yang sama.
Setelah berpamitan ia hendak melangkah, namun suara dingin dan datar milik seseorang menghentikannya. "Kita akan pergi bersama." katanya dengan singkat.
Semua orang mengalihkan tatapan mereka menatap ke arah suara itu yang tidak lain adalah Kevandra. Mereka mengerutkan kening bingung. Kenapa harus bersama Kevandra? pikirnya— mereka tidak tahu bahwa sebelumnya Liora memiliki proyek bersama dengan Kevandra.
"Hah! apa maksudnya berangkat dengan kamu." tanya Lucas, dengan suara sedikit meninggi. Ia menatap tajam ke arah Liora dan meminta penjelasan lewat tatapan matanya.
"Kerja sama." jawab Kevandra singkat.
Liora yang mendengar perkataan Kevandra, seketika ia teringat dengan kerja sama mereka. sambil mengagguk pelan ke arah Lucas. "Bisa-bisanya aku lupa." gumam Liora dalam hati.
"Nggak bisa, kalau Liora berangkat dengan kamu, saya akan ikut dengan kalian." sahut Lucas dengan cepat.
Almaira yang melihat saudara kembar itu hanya terkekeh kecil. "Jeng, apa Lucas selalu begitu?" bisik Almaira pada Kiara.
"Iya, Jeng, apalagi setelah kejadian kemarin, semakin membuat Lucas protektif terhadap saudaranya." jawab Kiara dengan berbisik balik.
Sementara Prayudha yang melihat sikap Lucas hanya menggelengkan kepala sambil memijit pelipisnya. "Abang hari ini ikut Ayah ke kantor, jadi biarkan Lio mengerjakan pekerjaannya, jangan mengganggu Adik kamu." perintah tegas Prayudha tanpa menerima bantahan.
Lucas medengus kasar mendengar perintah ayahnya, mau tidak mau ia hanya mengangguk pasrah. "Baiklah, yah."
Liora yang melihat wajah Lucas yang ditekuk hanya bisa mengulum senyum, bisa-bisanya Lucas masih bersikap protektif seperti itu. pikirannya.
"Ma, kevan izin untuk melihat proyek dulu, Mama tidak apa-apa Kevan tinggal? Kevan sudah menghubungi Papa mungkin sebentar lagi akan tiba di bandara." jelas Kevandra, dengan nada lembut berbeda jika berbicara dengan orang lain.
Almaira mengangguk mengerti, namun tatapannya pada Kevandra dan Liora sulit untuk diartikan.
"Hati-hati Nak." kata Almaira, Kevandra mengangguk kecil lalu menyalaminya tangan Almaira dengan takzim.
"Mari..." ajak Kevandra, yang kini sudah melangkah lebih dulu dari sana. Liora mengekori di belakangnya.
Selama perjalanan menuju parkiran mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga tiba di tempat mobilnya Kevandra yang terparkir.
Liora dan Kevandra kini telah berada di dalam mobil. Mesin menderu halus saat Kevandra mulai membelah jalanan dengan kecepatan sedang. Meski tak ada kata yang terucap, suasana terasa hidup saat mata mereka tak sengaja saling beradu lewat pantulan kaca spion di depan.
hingga tiba-tiba suara dingin Kevandra memecah keheningan di antara mereka.
"Kita sama-sama dikhianati." katanya sambil menatap lurus ke arah depan. "Mau bekerja sama denganku." ajak Kevandra, dengan nada tegas dan meyakinkan.
Liora terkejut. Dengan tawaran tiba-tiba itu, ia melirik Kevandra yang kini masih memandang ke arah jalanan yang mulai ramai. "Apa alasanmu mengajakku?" taya Liora dengan nada menuntut.
"Simpel, aku dan kamu sama-sama terluka oleh mereka." ujar Kevandra datar, namun ada penekanan di setiap kalimatnya.
"Pikirkan baik-baik, bukankah selama ini kamu mencoba mendekatiku untuk membuat Salsa terpancing." lanjut Kevandra dengan tersenyum smirk.
Deg!
Jantung Liora berdetak lebih cepat setelah mendengar ucapan Kevandra. Jadi selama ini diam-diam dia mengetahuinya? pikir Liora
"Lalu kenapa dia selama ini tetap diam saja?" gumam Liora dalam hati.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Kenapa aku tetap diam?" Kevandra seolah menjawab pertanyaan di kepala Liora. "Alasannya cukup mudah: aku menunggunya untuk berubah."
Kevandra terdiam sejenak. Ingatannya kembali pada janji Salsa yang mengatakan akan menerima pernikahan mereka dengan tulus. Tanpa sadar, ia mencengkeram kemudi dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih dan memerah.
Lagi-lagi Liora tersentak. "Apa dia paranormal sampai bisa tahu apa yang kupikirkan?" batin Liora.