"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Pencerahan Dalam Keterbatasan
Sudah sepuluh hari sejak Hana Sato dipindahkan ke Villa Samudera, sebuah istana terisolasi di jantung Pasifik. Bagi dunia luar, Hana Sato mungkin dianggap hilang, diculik, atau bahkan sudah tiada. Namun di sini, di bawah langit biru yang menipu, Hana sedang menjalani kehidupan sebagai "calon ibu" dari pewaris takhta Matsuda.
Hana terbangun tepat pukul 05.45 pagi, saat fajar baru saja menyentuh cakrawala dengan warna ungu yang memar. Ia tidak langsung bergerak. Selama sepuluh hari ini, ia telah mempelajari satu hal penting: Kenzo Matsuda adalah pria yang digerakkan oleh algoritma. Pria itu mencintai keteraturan. Setiap langkah kaki penjara ini, setiap denting sendok perak saat sarapan, semuanya mengikuti pola yang kaku.
Hana memejamkan mata, menghitung mundur di dalam kepalanya. Tiga... dua... satu.
Klik.
Suara kunci elektronik di pintu kamarnya terbuka secara otomatis. Itu adalah tanda bahwa sistem keamanan pusat sedang melakukan reboot harian selama enam puluh detik. Dalam satu menit itu, seluruh kamera pengawas di lorong akan mengalami freeze.
Hana bangkit dari tempat tidur sutranya. Rasa mual kehamilan yang biasa menghantamnya setiap pagi kini terasa lebih tajam, namun ia menelannya bulat-bulat. Ia berjalan ke arah jendela, menatap helipad di puncak bukit. Sebuah helikopter sedang mendarat, membawa logistik mingguan.
"Kau melihat apa, Hana?"
Hana tersentak, namun ia segera mengatur detak jantungnya. Kenzo berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja linen putih yang tipis, memegang segelas jus jeruk segar. Pria itu tampak sangat tenang, namun matanya-mata yang selalu mencari bayang-bayang Rena di dalam diri Hana-menatapnya dengan intensitas yang tidak sehat.
"Aku hanya melihat helikopter itu," jawab Hana lembut, memasang wajah penurut yang sempurna. "Aku bertanya-tanya... apakah mereka membawa sesuatu untukku?"
Kenzo mendekat, langkahnya tidak terdengar di atas karpet Persia. Ia meletakkan gelas itu di meja dan berdiri di belakang Hana, melingkarkan tangannya di perut Hana. "Aku membawakanmu tim medis terbaik dari Tokyo, Sayang. Hari ini, kita akan melihat perkembangan anak kita."
Hana merasakan dorongan untuk muntah saat tangan dingin Kenzo menyentuh kulitnya, namun ia justru menyandarkan kepalanya di bahu Kenzo. "Terima kasih, Kenzo-sama. Aku hanya ingin memastikan dia sehat."
Kenzo tersenyum-sebuah senyum kemenangan yang membuat Hana merasa kotor hingga ke tulang.
❤️❤️❤️
Setelah sesi pemeriksaan medis yang melelahkan-di mana Hana harus berbaring sementara alat-alat canggih memindai rahimnya-Kenzo harus pergi ke ruang komunikasi satelit untuk urusan bisnis mendadak. Inilah kesempatan yang Hana tunggu.
Dengan alasan ingin membaca di perpustakaan, Hana menyelinap. Namun, targetnya bukan buku sastra. Ia menuju ruang kerja pribadi Kenzo yang berada di sayap barat. Ia telah mengamati Kenzo menekan kode keamanan digital berkali-kali dari pantulan cermin di lorong.
3-1-1-9-8-9.
Hana tersenyum sinis. Tanggal pertama kali Kenzo bertemu Rena Sato di laboratorium kimia. Obsesi pria ini adalah kunci kehancurannya sendiri.
Pintu terbuka dengan suara desis yang halus. Ruangan itu dingin, suhunya diatur konstan 18 derajat Celcius. Hana langsung menuju laci bawah meja jati raksasa itu. Ia menemukan sebuah map kulit hitam tebal bertuliskan "PROYEK HYDRA: OPERASI DINASTI".
Saat ia membukanya, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ini bukan sekadar laporan bisnis. Ini adalah catatan pencucian uang global yang melibatkan yayasan-yayasan amal. Dan yang paling menjijikkan, Kenzo menggunakan nama "Rena Sato Foundation" sebagai kedok untuk menyalurkan dana ilegal ke berbagai partai politik di Jepang dan luar negeri.
"Jadi, kau bukan hanya menculikku," bisik Hana pada kesunyian ruangan. "Kau mengotori nama ibuku untuk membangun kerajaan haram ini."
Hana membolak-balik halaman dengan cepat. Ia menemukan daftar nama "subjek" yang pernah tinggal di pulau ini sebelumnya. Ada tiga nama wanita sebelum dirinya. Semuanya berstatus: Terminated. (Dihilangkan).
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat menggema di lorong marmer. Hana tidak punya waktu untuk keluar. Ia melihat ke sekeliling dengan panik. Satu-satunya tempat adalah di balik tirai beludru merah marun yang berat di belakang meja kerja. Ia menyelinap ke sana, merapatkan tubuhnya ke dinding yang dingin, menahan napas hingga paru-parunya terasa terbakar.
❤️❤️❤️
Pintu terbuka. Kenzo masuk bersama seorang pria yang Hana kenali sebagai kepala keamanan, seorang mantan tentara bayaran bernama Elias.
"Satelit menunjukkan ada gangguan di sektor utara," suara Elias berat dan serak. "Apakah kau yakin gadis itu tidak mencoba melakukan kontak keluar?"
Kenzo tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan pisau di atas piring. "Hana? Dia terlalu sibuk dengan mual paginya dan rasa takutnya. Dia sudah menjadi milikku, Elias. Dia bahkan memanggilku 'sama' sekarang. Dia jauh lebih mudah dikendalikan daripada ibunya."
Hana, di balik tirai, mengepalkan tinjunya hingga kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Rasa benci yang murni membakar dadanya.
"Bagaimana dengan Proyek Hydra?" tanya Elias lagi. "Miyu mulai mencium sesuatu di Tokyo. Dia mengirim tim audit ke kantor pusat."
"Miyu adalah putriku, tapi dia terlalu idealis," desis Kenzo. Hana bisa mendengar suara kursi yang ditarik tepat di depannya. Kenzo duduk hanya beberapa inci dari tempat Hana bersembunyi. "Jika dia terlalu banyak mencampuri urusanku, dia akan berakhir seperti wanita-wanita sebelum Hana. Keluarga Matsuda tidak butuh pembangkang. Kita hanya butuh pewaris yang murni."
Hana membeku. Kenzo baru saja mengakui bahwa ia siap melenyapkan putri kandungnya sendiri, Miyu, demi ambisinya.
Kenzo berdiri dan berjalan menuju jendela, tepat ke arah tirai tempat Hana bersembunyi. Hana melihat bayangan Kenzo membesar di kain tirai. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut Kenzo bisa mendengarnya. Kenzo mengulurkan tangannya ke arah tirai... hanya untuk menarik tali pengikatnya agar cahaya matahari masuk lebih banyak.
"Pulau ini cantik," gumam Kenzo pelan. "Tapi keindahan paling sempurna ada di dalam rahim Hana."
Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, Kenzo dan Elias keluar dari ruangan untuk menuju helipad. Hana jatuh terduduk di lantai setelah pintu terkunci. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
❤️❤️❤️
Hana kembali ke kamarnya dengan langkah gemetar namun kepala yang dingin. Ia duduk di depan meja rias, menatap wajahnya sendiri. Ia teringat pada Miyu Matsuda. Miyu bukan hanya musuh; Miyu adalah kunci. Jika Miyu sedang menyelidiki ayahnya di Tokyo, maka Hana harus menemukan cara untuk mengirimkan bukti Proyek Hydra ini kepadanya.
Hana menyadari satu hal: Kenzo merasa sangat aman karena ia pikir ia telah memenangkan hati Hana. Pria itu sangat sombong sehingga ia tidak menyangka bahwa Hana sedang melakukan observasi mendalam.
Sore harinya, Kenzo mengundangnya makan malam di balkon tebing. Angin laut bertiup kencang, membawa aroma garam dan kebebasan yang terasa jauh.
"Kau tampak melamun, Hana," ucap Kenzo sambil menuangkan wine ke gelasnya (dan memberikan jus delima untuk Hana). "Apa yang kau pikirkan?"
Hana menatap mata Kenzo, lalu tersenyum-sebuah senyuman yang paling manis yang pernah ia buat. "Aku hanya sedang berpikir tentang nama untuk anak kita nanti, Kenzo-sama. Aku ingin nama yang melambangkan kekuatan... seperti namamu."
Kenzo tampak sangat tersentuh. Ia meraih tangan Hana dan menciumnya. "Kau benar-benar telah berubah. Aku tidak menyesal membawamu ke sini."
"Aku juga tidak menyesal," bohong Hana dengan lancar. "Tapi, aku merasa bosan. Bolehkah aku menggunakan komputer di perpustakaan? Aku ingin mencari inspirasi nama-nama kuno Jepang."
Kenzo ragu sejenak, namun egonya menang. "Tentu. Tapi hanya di bawah pengawasan Mari. Dan ingat, Hana... internet di pulau ini diawasi secara real-time olehku."
"Aku mengerti," jawab Hana patuh.
Dalam hatinya, Hana tertawa. Ia tidak butuh internet untuk mengirim pesan. Ia hanya butuh akses ke sistem untuk memasukkan virus "logika terbalik" yang pernah ia pelajari secara rahasia. Jika ia bisa mengganggu sistem keamanan satelit selama lima menit saja, ia bisa menyalakan suar darurat yang akan tertangkap oleh radar patroli laut internasional atau tim intelijen Miyu.
❤️❤️❤️
Malam itu, saat Kenzo sudah tertidur lelap, Hana berjalan di pantai di bawah pengawasan penjaga yang menjaga jarak. Ia menemukan sebuah botol kaca yang terdampar di antara karang tajam. Ia membawanya ke kamar dan membukanya dengan tangan bergetar.
Di dalamnya ada secarik kertas usang dengan tulisan tangan yang mulai memudar:
'Jangan percaya pada dokternya. Cairan biru yang mereka suntikkan bukan vitamin. Itu adalah penekan emosi. Mereka ingin bayinya lahir tanpa perasaan, persis seperti alat. Jika kau membaca ini, lari sebelum bulan purnama kedua.'
Hana menatap kertas itu, lalu menatap perutnya. Rasa mual yang menyerangnya bukan hanya karena kehamilan, tapi karena ia menyadari bahwa Kenzo sedang melakukan eksperimen genetik padanya.
Hana meremas kertas itu dan membakarnya dengan korek api di atas asbak kristal. Ia menatap bayangannya di cermin. Ia tidak lagi takut. Ia merasa haus akan darah.
"Kau ingin pewaris yang murni, Kenzo?" bisik Hana pada kegelapan. "Aku akan memberimu kehancuran yang paling murni."
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan di pintu. Bukan ketukan Kenzo yang berirama, melainkan ketukan yang terburu-buru dan lemah. Hana membuka pintu sedikit dan menemukan Mari, pelayan bisu itu, berdiri dengan mata yang basah oleh air mata.
Mari menyerahkan sebuah flashdisk kecil yang disembunyikan di balik kain serbetnya, lalu menunjuk ke arah helipad dengan wajah ketakutan sebelum segera pergi.
Hana menggenggam flashdisk itu erat-erat. Jantungnya berpacu. Inilah bukti yang ia butuhkan. Namun, di saat yang sama, suara alarm keamanan mulai meraung di seluruh penjuru pulau. Cahaya merah berputar-putar di dinding kamar.
"Subjek terdeteksi melakukan pelanggaran protokol keamanan di Sayap Barat," suara mesin otomatis menggema dari pengeras suara di langit-langit.
Kenzo tahu.
Hana menatap pintu kamarnya yang mulai digedor dengan kasar. Ia hanya punya satu pilihan: bertindak sekarang atau mati sebagai wadah.
Bersambung...