NovelToon NovelToon
Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Balas Dendam
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Gas Saraf dan Amukan Katus Emas

Asap hitam mengepul tinggi dari sisa-sisa warung Pak Bambang yang hancur berkeping-keping. Aroma kayu terbakar bercampur dengan bau bensin yang tajam menusuk indra penciuman. Alana merasakan kepalanya berputar hebat; debu menutupi bulu matanya, dan ia bisa merasakan perih di pipinya yang tergores serpihan kaca tajam. Namun, pemandangan paling mengerikan berdiri tepat di depannya: Bayu.

Pria itu tidak lagi terlihat seperti mantan kekasih yang hancur karena dendam. Ia berdiri tegak dengan baju zirah taktis berwarna hitam karbon yang mengilap, tangannya menggenggam tabung gas saraf yang siap dilepaskan ke udara. Topeng peraknya memantulkan kobaran api desa Sukomulyo, membuatnya tampak seperti malaikat maut dari masa depan yang turun ke lereng Merapi.

"Reuni keluarga yang sangat mengharukan, bukan?" Suara Bayu terdengar mekanis melalui pengeras suara helmnya. "Seorang kakek yang mati, ayah yang bangkit dari kubur, dan seorang guru tua yang sok bijak. Sayangnya, skenario ini harus berakhir tragis di tangan orang yang paling kalian remehkan."

"Bayu! Berhenti!" Arkan muncul dari balik puing-puing kayu yang masih membara. Kemejanya sobek di bagian bahu, tangannya memegang pistol dengan stabil meski napasnya terengah-engah. "Kamu hanya digunakan oleh faksi 'The Remnant'! Kakek sudah memanfaatkanmu sejak awal, jangan biarkan mereka melakukannya lagi untuk kepentingan yang lebih busuk!"

"Memanfaatkanku?" Bayu tertawa sinis, suara tawanya terdistorsi oleh modulasi suara helm. "Mereka tidak memanfaatkanku, Arkan. Mereka memperkuatku. Aku adalah apa yang kalian takuti—seseorang yang tidak punya beban lagi untuk kehilangan, seseorang yang sudah mati rasa terhadap rasa sakit."

Tanpa peringatan lebih lanjut, Bayu menekan tombol di tabung tersebut. Gas berwarna hijau neon mulai merayap keluar dari lubang-lubang katup, menyebar di permukaan tanah dengan cepat layaknya kabut beracun yang lapar, siap melahap oksigen siapa pun yang menghirupnya.

"Semuanya, naik ke tempat tinggi! Jangan sampai menghirup kabut itu!" teriak Adiwangsa yang sudah bersiaga di atap mobil jeep yang terbalik. Ariel segera menarik Larasati dan Pak Bambang menuju sisa tembok pondasi yang masih berdiri tegak di bagian desa yang lebih tinggi.

Alana terdesak. Ia terjepit di antara reruntuhan meja kasir yang berat, sementara kabut hijau itu mulai mengepung kakinya dengan kecepatan yang mengerikan. "Mas Arkan! Gasnya sudah sampai sini!"

Arkan mencoba berlari menerjang kabut ke arah istrinya, tapi dua tentara bayaran berpakaian hitam muncul dari balik bayangan dan menghadangnya dengan berondongan peluru. Arkan terpaksa melompat berlindung di balik bak sampah besi besar yang cukup tebal untuk menahan peluru kaliber menengah.

"Tutup hidungmu dengan kain basah!" teriak Arkan panik, matanya menatap liar mencari celah untuk menyelamatkan wanitanya.

Di saat kritis yang seolah menjadi detik-detik terakhir bagi mereka, Mochi bergerak. Kucing oren itu tidak lari ketakutan layaknya hewan pada umumnya. Ia justru melompat ke atas sebuah drum minyak tua tepat di depan Alana. Mata emasnya kini tidak lagi hanya berpendar, tapi memancarkan sinar yang sangat terang hingga menciptakan distorsi udara yang terlihat seperti riak air di sekelilingnya.

Ggrrrrrr....

Suara geraman Mochi berubah menjadi frekuensi rendah yang membuat telinga siapa pun yang mendengarnya berdenging hebat. Tiba-tiba, dari balik kerah baju Alana, kalung permata biru "The Blue Phoenix" bereaksi secara otomatis. Permata itu bergetar hebat, mengeluarkan energi yang selaras dengan frekuensi mata emas Mochi.

"Mas Ariel, lihat kucing itu!" Alana berseru, terpana melihat apa yang terjadi di depannya.

Sebuah kubah energi transparan—hasil dari teknologi mikroskopis yang tertanam dalam kalung dan diaktifkan oleh biometrik sensorik Mochi—mengembang dengan cepat ke segala arah. Kubah itu menyelimuti Alana dan Arkan, menciptakan zona hampa udara yang menahan kabut gas hijau itu agar tidak bisa masuk sedikit pun.

"Apa-apaan teknologi itu?!" Bayu tertegun di balik topeng peraknya. Ia melepaskan tembakan beruntun ke arah kubah transparan tersebut, tapi setiap peluru yang mengenai dinding energi itu membalas dengan pantulan kinetik yang hampir mengenai kepalanya sendiri.

"Wah... Mochi beneran punya rahasia militer di badannya!" Alana bergumam tak percaya di dalam perlindungan kubah. "Mas Arkan! Kita aman! Gasnya tertahan di luar!"

"Jangan lengah, ini hanya bertahan selama dayanya cukup!" Arkan segera memanfaatkan momen itu untuk membalas tembakan ke arah tentara bayaran yang tadi menghambatnya. "Ariel! Papa! Cepat masuk ke dalam jangkauan kubah ini!"

Ariel dan Adiwangsa bergerak lincah di bawah perlindungan tembakan Arkan, membawa Larasati dan Pak Bambang masuk ke dalam perimeter energi yang dipancarkan oleh sinkronisasi Mochi dan permata biru. Kubah itu kini melindungi mereka semua di tengah desa yang mulai dipenuhi gas mematikan yang melumpuhkan saraf.

"Bambang, bagaimana cara mematikan distribusi gas ini? Ini bukan gas biasa!" tanya Adiwangsa sambil mengawasi Bayu yang mulai tampak frustrasi di luar kubah.

Pak Bambang terengah-engah, ia membuka kembali laptop tuanya yang secara ajaib masih utuh karena ia peluk erat saat ledakan tadi. "Gas ini dikendalikan secara digital melalui frekuensi radio dari helikopter yang berputar di atas kita! Kita harus meretas sinyal kendalinya, tapi enkripsi mereka jauh lebih rumit dari yang aku bayangkan!"

"Berikan padaku, aku akan coba menjebolnya dari jalur backdoor," sahut Ariel. Ia menyambungkan perangkat kecil dari pergelangan tangannya ke laptop Pak Bambang. "Aku butuh waktu setidaknya dua menit tanpa gangguan. Arkan, kau harus bisa mengalihkan perhatian Bayu agar dia tidak mendekati pusat energi kucing itu!"

"Dua menit? Ariel, lakukan lebih cepat atau kita semua akan terpanggang jika dia menggunakan peledak!" seru Arkan.

Di luar kubah, Bayu semakin menggila. Ia menyadari bahwa gas sarafnya tidak mempan menembus perisai energi tersebut, maka ia memberikan isyarat pada helikopternya untuk kembali menyiapkan serangan udara.

"Kalau gas tidak bisa menembus kalian, maka api dari langit akan melakukannya!" Bayu berteriak penuh kemarahan.

"Berikan kalung itu pada kucingmu!" perintah Arkan mendadak kepada istrinya.

"Buat apa, Mas?"

"Mochi adalah sistem pusatnya! Dia butuh koneksi fisik penuh dari permata itu untuk memperluas output energi pertahanan!"

Alana segera melepas kalung "The Blue Phoenix" dan mengalungkannya ke leher Mochi. Begitu permata itu bersentuhan dengan bulu kucing itu, Mochi mengeluarkan suara mengeong yang sangat keras, hampir terdengar seperti raungan predator besar. Cahaya biru dan emas menyatu dengan harmonis, menciptakan gelombang kejut yang kuat hingga menyapu bersih kabut hijau di sekitar mereka.

Kubah itu membesar dengan kekuatan ganda, tidak hanya melindungi mereka, tapi juga mulai mendorong gas saraf itu kembali ke arah pasukan Bayu yang berada di luar jangkauan.

"Argh! Mundur! Semuanya mundur ke zona aman!" teriak Bayu saat melihat pasukannya sendiri mulai bertumbangan karena terpapar gas beracun mereka sendiri yang tertiup balik oleh energi kubah.

"Dapet!" teriak Ariel dengan mata berbinar di depan layar laptop. "Sinyal kendali helikopter berhasil aku ambil alih sepenuhnya! Aku akan memaksa mereka mendarat atau jatuh sekalian!"

Helikopter tanpa logo yang berputar di atas mereka mulai oleng di udara. Baling-balingnya melambat secara drastis, dan mesinnya mengeluarkan asap hitam pekat. Helikopter itu akhirnya jatuh menghantam lereng bukit curam di belakang desa dengan ledakan yang menggetarkan seluruh permukaan tanah Merapi.

Bayu berdiri sendirian di tengah kepungan gasnya yang mulai menipis karena tertiup angin kencang gunung. Ia menatap ke arah kubah energi tempat Alana dan keluarganya berada. Ia perlahan membuka helm peraknya, menampakkan wajah yang dipenuhi luka gores baru dan mata yang memancarkan keputusasaan yang mendalam.

"Ini belum berakhir, Arkan... Kalian pikir kalian pemenangnya hari ini?" suara Bayu kini terdengar sangat parau, penuh dengan kepedihan yang nyata. "Dana Perwalian Global itu... Julian Black tidak pernah menginginkan uangnya. Dia hanya ingin menarik perhatian entitas yang lebih besar. 'The Remnant' hanyalah gangguan kecil. Musuh yang sebenarnya sedang mengawasi kalian dari kegelapan yang lebih dalam."

Bayu merogoh sesuatu dari saku zirah taktisnya—sebuah detonator kecil dengan lampu merah yang berkedip cepat.

"Hentikan dia sebelum dia melakukan hal bodoh!" teriak Arkan.

Adiwangsa hendak melepaskan tembakan pelumpuh, tapi Malik tiba-tiba muncul dari kegelapan hutan di belakang posisi Bayu. Malik tampak terluka di lengannya, tapi matanya sudah benar-benar jernih, menunjukkan kesadaran penuh.

"Bayu, letakkan benda itu," ucap Malik dengan nada tenang yang sangat berwibawa. "Aku tahu rasanya menjadi alat di tangan orang lain. Aku tahu rasanya dikendalikan oleh dendam yang bukan milikmu. Tapi mengakhiri semuanya dengan cara ini tidak akan memberikanmu kedamaian."

Bayu menoleh lambat ke arah Malik. "Om Malik? Anda... Anda masih mau bicara padaku setelah apa yang aku lakukan?"

"Aku hidup untuk memastikan masa depan yang lebih baik, bukan untuk menambah daftar kematian," Malik mendekati Bayu tanpa rasa takut. "Ayo pulang. Kita selesaikan ini sebagai manusia yang terluka, bukan sebagai bidak yang saling menghancurkan."

Bayu menatap detonator di tangannya, lalu menatap Alana yang berdiri di dalam kubah dengan pandangan yang penuh rasa simpati. Ketegangan yang tadinya memuncak mendadak meluruh. Bayu perlahan menjatuhkan detonator itu ke tanah yang berdebu. Ia berlutut di atas pasir Merapi yang dingin, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat.

Fajar mulai menyingsing di ufuk timur Merapi, membiaskan warna merah yang perlahan berganti menjadi kuning keemasan yang damai. Pasukan Brimob dan tim medis yang sudah dipanggil sejak awal mulai berdatangan ke lokasi untuk mengevakuasi warga desa yang terdampak dan mengamankan sisa-sisa tentara bayaran.

Alana duduk di samping Mochi yang kini tertidur pulas karena kehabisan seluruh energi biometriknya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Arkan yang masih terasa tegang.

"Mas... ini benar-benar berakhir kan untuk sekarang?" tanya Alana lirih.

Arkan merangkul bahu istrinya erat. "Untuk Bayu dan sisa-sisa Kakek, ya. Tapi seperti kata Bayu tadi... Dana Perwalian Global ini telah membuka pintu yang selama ini terkunci rapat. Kita sekarang bukan lagi sekadar keluarga miliarder, kita adalah target pengawasan global."

Adiwangsa menghampiri mereka berdua dengan langkah tegap, kembali ke mode pemimpin karismatiknya. "Arkan, Alana. Aku akan kembali ke Zurich segera untuk membersihkan jaringan 'The Board' yang tersisa di sana agar mereka tidak mengganggu kalian lagi. Tetaplah di Jakarta, jaga Dana itu dengan baik. Gunakan untuk tujuan sosial seperti yang dicita-citakan ibu kalian."

Satu minggu kemudian, di Jakarta.

Alana berdiri di depan gedung baru Panti Asuhan "Phoenix" yang megah namun tetap memiliki suasana hangat rumah. Ratusan anak panti tertawa bahagia saat melihat truk besar datang membawa bantuan mainan dan logistik pendidikan.

Arkan berdiri di sampingnya, mengenakan kemeja santai tanpa dasi.

"Bagaimana, sudah merasa menjadi Nyonya Besar yang sesungguhnya?" goda Arkan.

"Puas banget, Mas! Tapi Mas, aku dapet kabar dari Mas Ariel semalam. Katanya dia menemukan sesuatu yang ganjil saat menyisir sisa server 'The Board' di London," Alana menunjukkan layar ponselnya dengan wajah serius.

"Apa itu?"

"Ada sebuah nama yang muncul berulang kali sebagai donatur bayangan di balik beberapa transaksi terlarang mereka. Seseorang yang namanya sama sekali tidak ada di catatan sipil mana pun, tapi memiliki akses finansial yang hampir setara dengan Kakek."

Alana menatap suaminya dengan tatapan tajam. "Namanya adalah zainab. Mas, nama itu terasa sangat familiar, tapi aku tidak ingat di mana aku pernah mendengarnya."

Arkan terdiam sejenak, menatap istrinya dengan senyum yang sulit diartikan. Di atas pagar panti asuhan, Mochi duduk mengawasi mereka. Mata emas kucing itu bersinar sesaat sebelum kembali ke warna normal, seolah memberikan isyarat bahwa babak baru yang lebih besar baru saja dimulai.

1
Afsa
Sepertinya ada penghianat atau penyusup di kediaman Arkan
Afsa
Keren Kak.. seperti nya seru
Siti Naimah
serem banget yang dihadapi Alana..
semoga Alana bisa melewati ini semua
Siti Hodijah Enjen
haha pembawaannya lucu aku suka😄
Sefna Wati: 😄😄🤭
lanjut baca terus ya kak kalau suka,terimakasih sudah mampir dan baca ceritaku...
mampir juga di novel lainnya ya siapa tau suka 🙏🙏🙏🥰
total 1 replies
deepey
kadang mulut arkan juga setajam silet
Sefna Wati: iya bener
tolong dong Arkan... mulutmu dijaga😁😁😁
total 1 replies
deepey
jadi alana pasti bingung...
Sefna Wati: bener banget,pasti bingung banget ya kak jadi Alana ini🤣
total 1 replies
deepey
saling support ya kk
Sefna Wati: oke kk💪💪💪💪
total 1 replies
deepey
alana beruntung banget ketemu arkhan
Sefna Wati: iya bener kak...
makasih ya sudah mampir dan jangan lupa tinggalkan like jika kakak menyukai ceritanya😁😁🤫
total 1 replies
deepey
semangat Alana. 💪
Sefna Wati: 💪💪💪💪semangat💪💪💪💪💪


jangan lupa mampir di cerita yang lain ya kak
mana tau kkk juga suka ceritanya🙏🙏🙏
total 1 replies
Sefna Wati
"Nulis bab ini beneran bikin aku putar otak banget biar tetep seru buat kalian. Semoga suka ya! Kalau ada saran atau kritik, langsung tumpahin aja di sini. Aku butuh asupan semangat dari kalian nih! ❤️"
deepey: semangat berkarya ya ka. salam kenal
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!