"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."
Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.
Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.
Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.
Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.
Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Labirin Asap dan Pembalasan
Bab 35: Labirin Asap dan Pembalasan
Asap putih pekat mulai memenuhi koridor Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, memicu kepanikan masal yang tak terkendali. Suara alarm kebakaran yang melengking tinggi bersahutan dengan teriakan pengunjung sidang yang berebut menuju pintu keluar. Di tengah arus manusia yang kalut, Anindya tidak mengikuti arus. Matanya terpaku pada sosok wanita berpakaian hitam yang bergerak licin seperti bayangan di antara kerumunan.
"Nyonya Lastri! Berhenti!" teriak Anindya, suaranya parau tertelan hiruk-pikuk.
Anindya mengabaikan rasa perih di paru-parunya akibat menghirup asap. Ia terus berlari, menabrak bahu orang-orang, fokusnya hanya satu: sosok bertopi lebar itu. Ia melihat Nyonya Lastri menyelinap masuk ke sebuah lorong yang menuju ke arah tangga darurat di bagian belakang gedung, area yang seharusnya tertutup bagi umum.
"Anindya! Jangan ke sana! Itu berbahaya!" teriak Ibu Ratna dari kejauhan, namun Anindya tidak peduli. Ia tidak bisa membiarkan wanita itu menghilang lagi ke dalam kegelapan. Jika Lastri lolos hari ini, ayahnya tidak akan pernah benar-benar aman.
Anindya sampai di pintu tangga darurat dan mendorongnya dengan keras. Suasana di sini lebih sepi, namun asap tetap merayap masuk lewat celah pintu. Ia mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru menaiki anak tangga. Anindya ikut berlari naik. Nafasnya memburu, kakinya yang masih sedikit pincang karena kecelakaan tempo hari mulai terasa berdenyut nyeri, namun amarah di dadanya bertindak sebagai bahan bakar yang tak kunjung padam.
Di lantai empat, pintu menuju atap (rooftop) terbuka sedikit. Angin kencang bertiup masuk, membawa sedikit oksigen yang menyegarkan. Anindya mendorong pintu itu dan mendapati dirinya berada di ruang terbuka. Di depan sana, di dekat tepi gedung yang tinggi, Nyonya Lastri berdiri. Ia sudah melepas topinya, membiarkan rambut sanggulnya yang rapi kini berantakan tertiup angin.
"Kau gigih sekali, Pelayan Kecil," ucap Nyonya Lastri tanpa berbalik. Suaranya terdengar tenang, namun ada nada kegilaan di sana.
"Permainan sudah berakhir, Nyonya," sahut Anindya sambil mengatur nafasnya. Ia berdiri beberapa meter di belakang wanita itu. "Polisi sudah mengepung gedung ini. Satria sudah bicara. Ayah Anda, suami Anda, semuanya sudah runtuh. Serahkan diri Anda."
Nyonya Lastri berbalik perlahan. Wajahnya yang dulu selalu terlihat anggun dan berwibawa, kini tampak seperti topeng retak. Matanya merah dan penuh kebencian yang murni. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah botol kecil yang berisi cairan bening.
"Menyerah? Kepada siapa? Kepada hukum yang dibuat oleh orang-orang yang selama ini menyembah kakiku hanya demi sepeser uang?" Lastri tertawa, suara tawa yang kering dan mengerikan. "Kau pikir kau menang karena kau punya bukti? Kau hanya menang karena aku membiarkan tikus seperti Satria tumbuh di dalam rumahku sendiri."
"Satria menyelamatkan apa yang tersisa dari kemanusiaan di rumah itu," balas Anindya tajam. "Anda membunuh orang, Nyonya. Anda mengunci pintu gudang itu dan membiarkan mereka terpanggang. Anda memperbudak saya selama delapan tahun untuk hutang yang sudah lunas. Apa yang Anda harapkan? Sebuah pelukan dari dunia?"
Nyonya Lastri melangkah maju, tangannya yang memegang botol gemetar. "Hutang itu tidak akan pernah lunas selama aku masih bernapas! Kau dan ayahmu seharusnya membusuk di selokan, bukannya berdiri di sini menatapku dengan mata menjijikkan itu!"
Tiba-tiba, Lastri membuka tutup botol itu. Bau bensin yang tajam langsung tercium. Anindya sadar, wanita ini tidak berencana melarikan diri. Ia berencana melakukan apa yang ia lakukan pada para buruh di tahun 2005. Ia ingin membakar segalanya, termasuk dirinya sendiri.
"Jangan lakukan itu!" teriak Anindya, mencoba maju.
"Jangan mendekat!" Lastri menyiramkan sedikit cairan itu ke pakaian mahalnya. Di tangan kirinya, ia sudah memegang sebuah pemantik api emas. "Jika aku harus jatuh, aku akan memastikan kau melihat bagaimana rasanya menjadi abu, seperti yang dirasakan orang-orang di gudang itu!"
Di saat yang kritis itu, pintu atap terbuka kembali. Pak Arman muncul dengan wajah penuh keringat dan ketakutan. Ia membawa tas koper kecil yang tampaknya berisi uang dan paspor.
"Nyonya! Apa yang Anda lakukan?! Helikopternya tidak bisa mendarat karena asap terlalu tebal! Kita harus pergi lewat jalur bawah!" teriak Pak Arman.
Nyonya Lastri menoleh ke arah Pak Arman dengan tatapan menghina. "Kau penakut, Arman. Kau lari seperti anjing saat air mulai naik. Aku tidak akan lari. Aku adalah Wijaya!"
"Nyonya, sadarlah! Polisi sudah di tangga!" Pak Arman mencoba meraih tangan Nyonya Lastri, namun Lastri justru menyiramkan sisa bensin di botol itu ke arah Pak Arman.
"Pergilah ke neraka bersamaku!" Lastri menyalakan pemantik apinya.
Anindya bereaksi secepat kilat. Ia tidak menyerang Lastri, melainkan menerjang Pak Arman agar pria itu tidak terbakar sepenuhnya, sekaligus mencoba menendang pemantik dari tangan Lastri. Namun, api sudah menyambar ujung pakaian Lastri.
Wushhh!
Api berkobar di tubuh Nyonya Lastri. Wanita itu menjerit, namun jeritannya bukan jeritan kesakitan, melainkan jeritan kemenangan yang gila. Ia mencoba menerjang Anindya, ingin menarik gadis itu ke dalam pelukan api.
Anindya berguling di lantai beton yang kasar, menghindari terkaman maut itu. Pak Arman yang ketakutan setengah mati langsung lari kembali ke dalam gedung, meninggalkan koper uangnya yang berhamburan tertiup angin.
"Anindya!"
Itu suara Satria. Ia muncul di pintu atap, dipapah oleh dua orang polisi. Satria mematung melihat ibunya yang kini sudah menjadi bola api manusia di tepi gedung.
"Ibu... TIDAK!" Satria mencoba berlari, namun polisi menahannya.
Nyonya Lastri menatap Satria untuk terakhir kalinya. Di tengah kobaran api yang melalap wajahnya, ia tidak menangis. Ia tersenyum tipis—sebuah senyum yang akan menghantui mimpi Anindya selama sisa hidupnya. Kemudian, dengan satu langkah ke belakang, ia menjatuhkan dirinya dari tepi gedung lantai empat.
Suasana seketika menjadi hening, hanya ada suara angin dan sirine di bawah sana. Anindya merangkak menuju tepi gedung, melihat ke bawah. Tubuh itu tergeletak di atas kap mobil polisi, apinya perlahan padam oleh air yang disemprotkan petugas pemadam kebakaran.
Anindya terduduk lemas. Ia tidak merasa bahagia. Ia tidak merasa puas. Ia hanya merasa... kosong. Delapan tahun penderitaannya berakhir dengan sebuah adegan mengerikan yang tak pernah ia bayangkan.
Satria jatuh berlutut, menangis tersedu-sedu. Polisi segera mengamankan Pak Arman yang tertangkap di lantai bawah, sementara Tuan Wijaya yang masih di dalam ruang sidang dikabarkan pingsan saat mendengar kabar kematian istrinya.
Satu jam kemudian, Anindya turun dari gedung, dikawal oleh Ibu Ratna. Di lobi, ia melihat ayahnya yang menunggu dengan wajah penuh kecemasan. Saat melihat Anindya, Pak Rahardian langsung memeluk putrinya erat-rat.
"Semua sudah berakhir, Yah," bisik Anindya di bahu ayahnya. "Dia sudah pergi. Mereka semua sudah kalah."
"Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya ayahnya sambil mengusap jelaga di dahi Anindya.
Anindya mengangguk pelan. Ia menoleh ke arah wartawan yang masih mengerumuni tempat kejadian. Ia tidak lagi melihat mereka sebagai ancaman atau alat. Ia melihat mereka sebagai saksi bahwa hari ini, seorang pelayan telah berhasil meruntuhkan sebuah dinasti yang dibangun di atas darah dan air mata.
Namun, di saku jaketnya, Anindya merasakan ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
“Selamat, Anindya. Sang Ratu telah jatuh. Tapi jangan lupa, kekosongan kekuasaan di Jakarta selalu diisi oleh sesuatu yang lebih haus darah. Black Rose Holdings bukan hanya milik keluarga Wijaya. Ada pemegang saham lain yang belum kau sentuh. Sampai jumpa di babak selanjutnya.”
Anindya mengerutkan kening. Ia menatap ke arah kerumunan, mencari sosok yang mungkin mengirim pesan
"Nin? Ada apa?" tanya ayahnya.
Anindya memasukkan kembali ponselnya ke saku. Ia menggenggam tangan ayahnya kuat-kuat. "Tidak ada apa-apa, Yah. Mari kita pulang. Kita punya banyak waktu untuk memulai hidup yang baru... sebelum badai berikutnya datang."