Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - My Dangerous Kenzo
...----------------...
...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...
...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...
...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...
...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...
...Cerita ini fiksi yaa ✨...
...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...
...No plagiarism allowed ❌📝...
...----------------...
Malam itu suasana meja makan terasa lebih tenang dari biasanya.
Bukan karena nggak ada drama—tapi karena semua lagi fokus makan.
Suara sendok beradu pelan dengan piring. Gelas disentuh hati-hati. Aroma sup hangat masih mengepul tipis.
Pappi duduk di ujung meja, kemeja rumahnya rapi seperti biasa. Mommy di sisi kanan, elegan bahkan saat cuma makan malam keluarga. Reno di seberang Naya, yang dari tadi lebih banyak ngelirik kanan kiri daripada makan.
Pappi menurunkan sendoknya lebih dulu.
“Jadi,” suaranya tenang tapi tegas, “kamu sudah pilih kampus mana?”
Reno menelan makanannya dulu sebelum jawab.
“Antara Harvard atau Toronto, Ppi.”
Sendok Naya langsung berhenti di udara.
“Haaahhh?” Naya menoleh cepat. “Santai banget ngomongnya kayak milih mie instan.”
Reno melirik. “Biasa aja.”
Mommy menyeka sudut bibirnya dengan tisu. “Kamu harus betul-betul pertimbangkan, Kak. Lingkungan, jurusan, jaringan. Jangan cuma ikut gengsi.”
“Reno nggak mikirin gengsi, Mom,” jawab Reno kalem. “Harvard kuat di bisnis. Toronto juga bagus dan lebih… realistis secara jarak.”
“Realistis?” Naya nyeletuk. “Itu beda benua loh, Kak.”
“Makanya gue bilang realistis secara opsi,” Reno mendengus.
Pappi menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kalau kamu ambil Harvard, kamu siap dengan tekanan?”
Reno terdiam sebentar. “Siap.”
“Kalau Toronto?”
“Siap juga.”
Naya mengangkat tangan kecil. “Kalau Naya ikut?”
Semua langsung menoleh.
“Nanti Naya mau satu universitas sama Kenzo, Ppi,” lanjut Naya polos tapi matanya berbinar.
Hening.
Mommy langsung menghela napas panjang.
“Nggak bisa.”
“Lohh kok Mommy gitu?” Naya protes cepat.
“Kamu kuliah di sini saja,” Mommy lanjut tenang tapi final. “Biar ada yang ngawasin.”
Reno langsung batuk kecil menahan tawa.
“Kenapa lo ketawa?” Naya melotot.
“Lucu aja. Ternyata bukan cuma gue yang diatur.”
Naya menghadap Pappi. “Ppi?”
Pappi tersenyum kecil. “Nanti kita pikirkan bersama ya, sayang.”
Itu jawaban diplomatis khas Pappi.
Naya mengangguk pelan. “Oke, Ppi.”
Lalu pelan-pelan dia melirik Mommy… dan menjulurkan lidah kecil. “Wlee.”
Mommy langsung menatap tajam.
“Kamu itu sudah kelas 2 SMA masih saja.”
“Masih saja apa, Mom?” Naya sok polos.
“Masih saja bucin.”
“Mom!” Naya protes.
Reno tertawa. “Fix. Diagnosis resmi dari Mommy.”
Pappi menahan senyum. “Yang satu mau ke Harvard, yang satu mau ikut pacarnya. Pappi pusing sendiri.”
“Kenzo juga daftar Harvard, Ppi,” Naya menambahkan santai.
Reno langsung berhenti ketawa. “Hah? Serius?”
“Iya.”
Reno menatap kosong beberapa detik. “Berarti kalau gue ke Harvard…”
“Lo satu kampus sama Kenzo,” Naya memotong.
Reno langsung menatap langit-langit. “Cobaan hidup.”
Mommy menatap Reno. “Kalau kamu ke Harvard, kamu fokus belajar. Jangan ikut-ikut drama adikmu.”
“Mom,” Reno mendengus. “Yang drama itu bukan Reno.”
Naya langsung menunjuk Reno. “Dia! Dia paling drama!”
“Lo paling sensitif!”
“Lo paling posesif!”
“Lo paling bucin!”
Reno - Naya Bersamaan:
“LO!”
“CUKUP,” Pappi akhirnya bersuara.
Semua langsung diam.
Pappi menyandarkan siku ke meja, menatap anak-anaknya satu per satu.
“Kuliah itu bukan cuma soal tempat. Tapi soal kesiapan. Kakak, kamu pilih karena visi kamu. Adek, nanti kan kamu pilih karena masa depan. Bukan karena siapa pun.”
Kalimat itu bikin meja makan agak hening.
Naya menunduk sedikit. “Iya, Ppi.”
Reno mengangguk pelan. “Iya.”
Mommy menatap Naya lagi. “Dan kamu, jangan pakai alasan Kenzo untuk kabur dari pengawasan.”
“Siapa juga yang kabur,” gumam Naya kecil.
Reno langsung nyeletuk pelan, “Belum aja.”
Naya menendang kaki Reno di bawah meja.
“AUW!” Reno refleks.
Mommy langsung menatap. “Ada apa lagi?”
“Nggak ada, Mom,” jawab Reno cepat sambil melotot ke Naya.
Pappi tersenyum tipis. “Kalau memang takdirnya satu kampus, nanti juga ketemu. Tapi keputusan besar jangan diambil cuma karena cinta.”
Naya diam sebentar. Lalu pelan-pelan berkata, “Kalau cintanya serius gimana, Ppi?”
Reno langsung, “WOOO.”
Mommy menatap tajam.
Pappi justru tersenyum lembut. “Kalau serius, dia nggak akan lari walau beda kota.”
Kalimat itu bikin Naya terdiam beberapa detik.
Reno menoleh ke adiknya. “Denger tuh.”
Naya mendengus kecil. “Iya, iya.”
Suasana meja makan kembali normal. Sendok kembali berbunyi pelan.
Tapi malam itu, di antara candaan dan sindiran kecil, masing-masing mulai sadar…
Mereka sudah di fase hidup yang bukan lagi cuma soal rebutan remote TV.
Melainkan tentang masa depan.
Dan mungkin… jarak.
Lampu kamar Reno menyala terang. Meja belajarnya penuh buku brosur universitas—Harvard, Toronto, beberapa kampus lain yang bahkan Naya nggak bisa bacanya karena terlalu banyak bahasa Inggris formal.
Reno duduk di kursi belajar, ponselnya disandarkan ke tumpukan buku tebal. Di layar, wajah Citra terlihat dengan background kamar yang lampunya agak redup.
“Iya, nanti gue kabarin lagi soal berkasnya,” kata Reno santai.
Citra menyipitkan mata.
“Lo tuh kalau ngomong sama gue serius banget. Kayak lagi interview.”
Reno mendengus kecil. “Ya masa gue ngomong pake baby voice?”
Belum sempat Citra jawab—
Cklek.
Pintu kamar kebuka tanpa ketukan.
Naya masuk dengan gaya khasnya—terpincang-pincang karena kaki masih digips. Rambutnya diikat asal, muka sok innocent tapi jelas mau bikin onar.
Reno langsung refleks berdiri.
“Eh, eh, pelan-pelan! Lo kenapa nggak manggil gue dulu?”
“Capek,” jawab Naya datar.
Reno geleng-geleng tapi tetap menghampiri, memapah adiknya dengan hati-hati sampai duduk di sisi kasur.
“Tumben?” Reno melipat tangan.
“Udah lama nggak kesini semenjak di gips,” Naya jawab santai sambil melihat ke arah meja.
Matanya langsung menyipit melihat layar ponsel.
“Lo lagi video call sama Citra?”
Reno cuma mengangguk. “Hem. Mau ngomong?”
Naya langsung senyum lebar.
“Ya iyalah.”
Tanpa protes, Reno mengambil ponselnya dan menyerahkan ke Naya, lalu bersandar ke meja dengan ekspresi pasrah.
Di layar, Citra sudah nyengir duluan.
“Jarang chat gue,” Naya mulai drama, “taunya VC-an sama kakak gue.”
Citra terkekeh. “Ahh lo juga sering sama Kenzo.”
Reno langsung melirik tajam.
Naya pura-pura nggak dengar.
“Kemarin jalan kemana, Ra?” Naya lanjut.
“Ke mall sama ke lapangan basket.”
“Ajakin gue kek.”
“Lo kan ada pacar juga, Nay.”
Naya mendengus. “Ya tapi kan seru kalau rame-rame.”
Reno angkat alis. “Rame-rame? Maksud lo jadi nyamuk di antara gue sama Citra?”
Naya langsung menunjuk Reno.
“Eh, lo jangan sotoy. Gue bukan nyamuk. Gue kupu-kupu sosial.”
Citra ngakak. “Kupu-kupu sosial apaan sih?”
“Cantik, terbang ke mana-mana, dicari banyak orang.”
Reno menatap datar. “Lebih mirip lebah sih. Suka nyengat.”
“Lo tuh iri karena gue lebih charming.”
“Charming apaan, lo kalau jalan aja masih diseret gue.”
Naya langsung manyun, tapi detik berikutnya malah ketawa sendiri.
Citra geleng-geleng. “Serius deh, kalian ini kalau satu frame tuh chaos.”
“Chaos tapi lucu kan?” Naya bangga.
Reno menghela napas. “Citra, lo sadar kan, tiap kali VC sama gue, yang ganggu pasti dia?”
“Gue nggak ganggu. Gue quality control,” jawab Naya cepat.
“Quality control apa?”
“Ngontrol supaya kakak gue nggak aneh-aneh.”
Reno hampir tersedak. “Aneh apaan?”
Naya mendekat ke kamera, bisik-bisik dramatis.
“Citra, kalau dia tiba-tiba sok cool, itu bohong ya. Aslinya cerewet.”
Reno langsung menarik ponselnya pelan. “Udah cukup.”
Citra tertawa lepas. “Gapapa Ren, seru kok.”
Naya menyeringai puas. “Tuh kan.”
Reno duduk di samping Naya di kasur, mengambil kembali ponselnya tapi tetap membiarkan Naya bersandar di lengannya.
“Lo nggak tidur?” Reno tanya pelan.
“Belum ngantuk.”
“Kaki lo sakit?”
“Dikit.”
Nada suara Naya yang pelan bikin Reno otomatis lebih lembut.
“Tadi udah minum obat?”
Naya mengangguk kecil.
Citra yang melihat dari layar senyum tipis. “Sweet juga ya kakaknya.”
Reno langsung defensif. “Gue emang sweet.”
Naya menoleh cepat. “Sweet apaan. Lo cuma panikan.”
“Ya gue panik karena lo kalau jatoh lagi, Mommy yang marah ke gue.”
“Alasan.”
“Fakta.”
Naya ketawa kecil. Lalu kembali menatap layar.
“Ra, serius ya. Kalau jalan lagi, ajakin gue.”
Citra mengangguk. “Iya. Tapi lo jangan bawa Kenzo doang.”
Naya menyeringai jahil. “Kenzo mah otomatis.”
Reno langsung menatap curiga.
“Otomatis apaan?”
“Ya otomatis ikut.”
“Kenapa otomatis?”
Naya memutar bola mata. “Ya karena dia… ya… pokoknya otomatis.”
Citra ngakak lagi. “Udah jelas banget sih, Nay.”
Reno cuma bisa geleng kepala, tapi ada senyum kecil di sudut bibirnya.
Beberapa menit kemudian, Citra pamit tidur.
Setelah panggilan berakhir, kamar jadi lebih sunyi.
Naya bersandar pelan ke bahu Reno.
“Ren.”
“Hm?”
“Nanti kalau lo kuliah luar negeri… VC-an juga ya sama gue.”
Reno menoleh, menatap adiknya yang pura-pura santai.
“Lo kira gue bakal ilang?”
“Ya kali aja sibuk.”
Reno mengacak pelan rambut Naya.
“Sebarang apa pun gue, lo tetap prioritas.”
Naya mendengus, tapi senyumnya nggak bisa disembunyikan.
“Yaudah. Gue balik kamar.”
“Pelan-pelan.”
Reno berdiri lagi, memapah Naya sampai ke pintu.
Sebelum keluar, Naya berhenti.
“Oh ya.”
“Apa lagi?”
“Kalau lo nikah duluan, gue yang paling ribut di resepsi.”
Reno langsung refleks, “Nikah apaan sih?!”
Naya cuma nyengir.
“Quality control, ingat?”
Lalu dia tertatih keluar kamar dengan ekspresi puas, meninggalkan Reno yang berdiri sambil geleng-geleng kepala.
Tapi senyum itu tetap ada.
...----------------...
...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...
...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...
...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...
...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...
...----------------...