NovelToon NovelToon
SETELAH KAMU MENJADI ASING

SETELAH KAMU MENJADI ASING

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Diam-Diam Cinta / Mantan / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Dingin yang Menghangat

Pukul enam lewat empat puluh lima menit. Embun masih betah memeluk kaca jendela rumah tua di Dago saat Maya memutar kunci dengan gantungan daun maple itu. Suara gerendel besi yang terbuka terdengar seperti desahan panjang dari masa lalu.

Maya masuk ke dalam, sendirian. Suasana rumah di pagi buta terasa berbeda—lebih tenang, namun lebih menghantui. Ia menyalakan lampu kuning di lorong, lalu berjalan menuju dapur untuk meletakkan tasnya.

Ia pikir ia adalah orang pertama yang sampai. Namun, saat ia melangkah ke area belakang, bau kopi yang sangat kuat menyerang indra penciumannya. Di sana, di atas meja marmer yang kemarin mereka gunakan untuk bertengkar, sudah ada dua gelas kertas dari kedai kopi ternama. Satu hitam pekat, dan satu lagi—Maya tertegun—Hot Hazelnut Latte dengan sedikit kayu manis. Itu adalah minuman favoritnya.

"Jangan kegeeran. Itu tadi beli satu gratis satu," suara bariton Arlan muncul dari arah tangga pelayan.

Arlan muncul dengan kaos polo hitam dan celana kargo. Rambutnya sedikit berantakan, tanda dia mungkin sudah ada di sini sejak subuh.

Maya mengambil gelas itu, merasakan hangatnya menjalar ke telapak tangannya. "Terima kasih. Tapi hazelnut latte nggak pernah masuk dalam promo beli satu gratis satu, Arlan."

Arlan hanya mendengus, menghindari tatapan Maya. "Cepat minum. Pekerja bangunan akan datang jam sembilan. Sebelum mereka sampai, aku mau kamu jelaskan detail teknis di area belakang ini."

Mereka mulai bekerja. Selama dua jam berikutnya, suasana terasa sangat aneh. Mereka bekerja dengan sangat intens. Maya membentangkan cetak biru di atas meja, dan mereka berdiskusi—atau lebih tepatnya, saling beradu argumen—tentang letak dinding penyekat.

Namun, ada yang berbeda. Setiap kali tangan mereka tidak sengaja bersentuhan saat memegang kertas yang sama, atau saat bahu mereka berpapasan di lorong yang sempit, tidak ada yang segera menjauh. Ada semacam gravitasi yang menarik mereka kembali, meskipun lidah mereka tetap mengeluarkan kata-kata pedas.

"Pilar ini harus dipertahankan, Lan. Kalau kita ganti dengan besi industri, nilai estetikanya hilang," ujar Maya sambil menunjuk salah satu bagian di sudut ruang makan.

Arlan berdiri tepat di belakang Maya, melihat ke arah yang sama. "Tapi strukturnya sudah keropos, May. Kalau rubuh, siapa yang mau tanggung jawab? Kenanganmu?"

Maya berbalik dengan cepat, berniat memprotes, namun ia lupa betapa dekatnya Arlan berdiri. Hidung mereka hampir bersentuhan. Napas Arlan yang hangat menerpa wajah Maya.

"Bukan kenangan," bisik Maya, suaranya mendadak hilang. "Ini soal menghargai apa yang masih tersisa."

Arlan tidak membalas. Matanya turun ke mata Maya, lalu ke bibirnya. Di saat itulah, guntur menggelegar di langit Dago. Dalam hitungan detik, hujan deras tumpah seolah langit sedang memuntahkan seluruh isinya. Suara hantaman air di atap seng tua itu begitu memekakkan telinga.

"Sial, jendelanya!" Arlan tersentak.

Mereka berdua berlari ke arah ruang tamu yang jendela besarnya masih terbuka lebar. Angin kencang membawa masuk air hujan, membasahi lantai kayu yang baru saja dibersihkan. Arlan mencoba menarik daun jendela yang berat, sementara Maya membantu menahan gerendelnya.

Pakaian mereka mulai basah kuyup. Rambut Maya lepek menempel di wajahnya. Setelah perjuangan yang melelahkan, jendela itu akhirnya tertutup rapat.

Mereka berdua terengah-engah, berdiri di tengah ruang tamu yang remang-remang karena langit mendadak gelap. Maya menggigil. Kemeja kremnya yang tipis menjadi transparan karena air, memperlihatkan lekuk tubuhnya dan tali pakaian dalamnya.

Arlan menyadari itu. Ia segera memalingkan wajah, lalu dengan kasar melepas jaket windbreaker yang tadinya ia sampirkan di kursi dan melemparkannya ke arah Maya.

"Pakai. Jangan sampai kamu sakit dan bikin proyek ini tertunda," perintahnya.

Maya memakai jaket itu. Ukurannya terlalu besar, menenggelamkan tubuhnya, tapi aroma Arlan—campuran keringat, kopi, dan parfum mahal—seketika mengepungnya. Itu adalah aroma yang paling ia rindukan selama lima tahun ini.

"Kenapa kamu melakukan ini, Lan?" tanya Maya pelan di tengah suara hujan.

"Melakukan apa?"

"Semua ini. Membeli rumah ini, menyewaku, memberiku kopi favoritku, lalu menghinaku seolah aku sampah. Kamu mau apa sebenarnya?"

Arlan berjalan mendekat, langkahnya pelan dan berirama seperti detak jam dinding tua. Dia berhenti tepat di depan Maya, membiarkan keheningan hujan menjadi latar belakang.

"Aku mau kamu merasakan apa yang aku rasakan, May," suara Arlan terdengar sangat rapuh, jauh dari kesan CEO yang angkuh. "Aku ingin kamu tahu gimana rasanya terjebak di tempat yang setiap sudutnya meneriakkan namamu, tapi orangnya nggak ada."

"Lan..."

"Kamu pergi gitu aja. Lewat satu surat bodoh yang ditaruh di bawah pintu. Kamu bahkan nggak kasih aku kesempatan buat tanya 'kenapa'." Arlan meraih bahu Maya, cengkeramannya sedikit kuat namun tidak menyakitkan. "Aku benci karena aku masih tahu ukuran kopimu. Aku benci karena aku masih tahu kamu bakal lari ke dapur kalau takut petir. Dan aku benci karena sampai detik ini... aku masih bisa ngerasain kamu, meski kamu sudah jadi orang asing."

Air mata yang sejak kemarin ditahan Maya akhirnya jatuh juga. "Aku terpaksa, Arlan. Ibuku... utang keluarga kami..."

"Jangan pakai alasan klasik itu!" Arlan memotong dengan nada tinggi. "Kenapa nggak bilang? Kenapa nggak biarkan aku bantu?"

"Karena aku nggak mau kamu jadi bagian dari kehancuranku, Arlan! Kamu punya masa depan yang cerah, sementara aku cuma beban."

Maya terisak. Bahunya berguncang. Di tengah kemarahan dan rasa sakit itu, Arlan tidak bisa lagi menahan dirinya. Dia menarik Maya ke dalam pelukannya. Awalnya Maya memberontak, memukul dada Arlan dengan kepalan tangannya yang lemah, tapi Arlan justru mempererat pelukannya.

"Lepas, Lan... ini salah..."

"Diamlah sebentar saja, Maya. Biarkan aku benci kamu besok pagi. Tapi sekarang... biarkan aku cuma jadi Arlan yang bodoh itu lagi."

Maya akhirnya menyerah. Ia menyandarkan kepalanya di dada Arlan, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup kencang, persis seperti detak jantungnya sendiri. Mereka berdiri di sana, di tengah reruntuhan kenangan dan badai yang mengamuk di luar, saling berpegangan seolah jika mereka melepaskan, mereka akan hancur berkeping-keping.

Tiba-tiba, suara klakson mobil di depan gerbang mengejutkan mereka. Itu adalah para pekerja bangunan yang datang lebih awal.

Arlan segera melepaskan pelukannya, berbalik memunggungi Maya untuk mengatur napas dan ekspresi wajahnya. "Hapus air matamu. Pakai jaket itu dengan benar. Kita punya pekerjaan yang harus diselesaikan."

Maya mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa harga dirinya yang tercecer di lantai kayu itu. "Iya, Pak Arlan."

Saat Arlan berjalan menuju pintu depan untuk membukakan gerbang bagi para pekerja, ia sempat berhenti sejenak tanpa menoleh.

"Hazelnut latte itu... aku memang sengaja membelinya. Dan aku nggak akan pernah memaafkan diriku sendiri karena masih ingat itu."

Setelah Arlan keluar, Maya jatuh terduduk di kursi tua. Ia tahu, setelah ini segalanya akan menjadi jauh lebih rumit. Mereka bukan lagi sekadar klien dan desainer. Mereka adalah dua orang yang sedang saling melukai karena terlalu lelah untuk saling mencintai.

Di luar, hujan mulai mereda, menyisakan bau tanah yang tajam. Namun di dalam hati Maya, badai yang baru saja dimulai terasa jauh lebih mengerikan daripada apa pun yang bisa diberikan oleh alam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!