NovelToon NovelToon
Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Langit

"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang Merah yang Mulai Terurai

Hening yang mencekam menyelimuti ruang kerja Arkan setelah pesan singkat dari Kevin masuk. Cahaya lampu meja yang remang-remang menciptakan bayangan panjang yang seolah-olah hendak menelan sosok Arkan yang duduk kaku di kursi kebesarannya. Arkan meremas ponselnya kuat-kuat, hingga buku-buku jarinya memutih dan urat di punggung tangannya menonjol tajam. Matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan amarah yang tertahan, menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta yang tak pernah tidur. Namun, pikirannya berada di tempat yang jauh lebih gelap.

Ia tahu Kevin bukanlah lawan yang bisa diremehkan. Adiknya itu adalah anjing pelacak yang gigih; jika Kevin sudah mulai mengirimkan gertakan lewat pesan singkat, artinya dia sudah berhasil memegang setidaknya satu ujung benang merah dari kebohongan besar ini.

Alana masih berdiri mematung di tengah ruangan, hanya beberapa meter dari meja Arkan. Meski ia tidak bisa melihat isi pesan di layar ponsel pria itu, ia bisa merasakan perubahan aura di ruangan tersebut. Udara mendadak terasa tipis dan menyesakkan. Napas Alana tertahan di tenggorokan, ia merasa seolah-olah setiap gerakannya diawasi oleh ribuan pasang mata yang tersembunyi di balik dinding mansion mewah ini.

"Tuan Arkan? Apakah... apakah ada masalah yang serius?" suara Alana memecah kesunyian, nyaris seperti bisikan yang rapuh.

Arkan tidak langsung menjawab. Ia berbalik perlahan, kursinya berderit pelan—suara yang terdengar sangat nyaring di tengah kesunyian malam. Ia menatap Alana dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilat kecemasan yang asing di sana, sesuatu yang sangat jarang ditunjukkan oleh seorang penerus utama Arkananta Group.

"Kevin. Dia mulai bergerak lebih cepat dari yang kuprediksi," ujar Arkan dengan nada rendah yang bergetar karena emosi. Ia bangkit dari kursinya, melangkah perlahan mendekati Alana. Setiap langkah sepatu pantofelnya di atas lantai kayu terdengar seperti detak jam menuju eksekusi. Arkan berhenti tepat di depan Alana, memangkas jarak di antara mereka hingga Alana bisa mencium aroma parfum sandalwood yang maskulin bercampur dengan aroma sisa kopi pahit dari napas pria itu.

"Dia mengirimiku pesan. Dia mengancam akan membongkar keberadaan Elena yang asli," lanjut Arkan, matanya mengunci mata Alana.

Jantung Alana seakan berhenti berdetak sesaat. Wajahnya yang biasanya cerah kini pucat pasi, seperti kehilangan seluruh aliran darahnya. "Tapi... Elena sedang dalam perawatan intensif di paviliun rahasia, Tuan. Jika Kevin berhasil menemukannya dan membawanya ke hadapan Tuan Besar Arkananta... semuanya akan berakhir."

Arkan mencengkeram bahu Alana dengan kedua tangannya. Tidak cukup kuat untuk menyakiti, namun cukup tegas untuk menunjukkan betapa gentingnya situasi mereka saat ini. "Tepat sekali. Jika itu terjadi, bukan hanya kontrak pernikahan kita yang akan dibatalkan secara sepihak. Kakek akan menganggap ini sebagai penghinaan terbesar terhadap martabat keluarga Arkananta. Aku akan kehilangan hak warisku, dan kau... kau akan dianggap sebagai penipu yang mencoba merampok kekayaan keluarga ini. Kau tahu apa yang dilakukan keluarga ini pada orang yang mengkhianati mereka?"

Alana menelan ludah dengan susah payah. Ia teringat akan ibunya yang masih terbaring lemah di rumah sakit, hidupnya bergantung sepenuhnya pada biaya pengobatan yang dikirimkan oleh Arkan setiap bulannya sebagai imbalan atas penyamaran gila ini. Jika penyamaran ini terbongkar, ibunya akan kehilangan harapan untuk sembuh. Ia tidak boleh gagal. Ia harus menjadi Elena, meskipun jiwanya adalah Alana yang polos.

"Apa yang harus saya lakukan, Tuan?" tanya Alana, matanya menunjukkan keteguhan yang membuat Arkan sedikit tertegun.

"Mulai besok, kau bukan lagi sekadar sekretaris yang tinggal di mansion ini. Kau harus berperan sebagai istri yang sangat mencintaiku di depan publik. Kevin akan mencoba memancingmu, dia akan mencari celah pada ingatan masa lalumu yang tidak kau miliki. Jangan pernah lepaskan penjagaanmu, bahkan saat kau bernapas sekalipun," bisik Arkan tepat di telinga Alana, mengirimkan getaran aneh yang menjalar ke seluruh tulang belakang gadis itu.

Keesokan harinya, atmosfer di mansion Arkananta terasa sangat berbeda. Kesibukan persiapan untuk pesta ulang tahun Tuan Besar Arkananta yang ke-80 sudah mulai terlihat di mana-mana. Para pelayan sibuk mondar-mandir membawa dekorasi emas, namun Alana harus tetap tenang di bawah pengawasan ketat Bi Minah, kepala pelayan yang ditugaskan khusus oleh sang Kakek untuk memantau "Elena".

Alana sedang berada di taman mawar belakang mansion, mencoba mencari udara segar sejenak, ketika Kevin muncul dari balik bayangan pilar. Senyum miringnya yang penuh tipu daya selalu membuat Alana merasa terancam.

"Wah, wah. Lihat siapa yang sedang menikmati paginya dengan begitu tenang," sapa Kevin sinis. Ia berjalan santai sambil memainkan kunci mobil mewah di jarinya. "Sedang merenungi nasib, Kakak Ipar? Atau sedang menyusun kebohongan baru untuk makan malam nanti?"

Alana menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak untuk menenangkan diri. Ia mencoba meniru ketenangan dan keangkuhan Arkan yang telah ia pelajari. Ia berbalik dan menatap Kevin dengan senyum tipis yang elegan. "Kevin. Aku tidak tahu bahwa menyiram bunga sekarang dianggap sebagai kegiatan kriminal. Mungkin kau terlalu banyak menonton film detektif murah."

Kevin tertawa renyah, namun matanya tetap sedingin es. "Kau berubah sangat banyak sejak kecelakaan itu, Elena. Sangat drastis hingga aku hampir tidak mengenalimu. Dulu kau sangat membenci mawar merah. Kau bilang aromanya membuatmu pening dan mengingatkanmu pada pemakaman. Tapi sekarang? Kau tampak begitu menikmati berada di tengah-tengah mereka. Apakah amnesia benar-benar bisa mengubah DNA seseorang?"

Deg. Alana merasakan jantungnya mencelos. Informasi tentang alergi atau ketidaksukaan Elena terhadap mawar sama sekali tidak ada dalam berkas profil yang diberikan Arkan. Ia melakukan kesalahan fatal di hari pertamanya.

"Manusia berubah seiring berjalannya waktu, Kevin. Terutama setelah seseorang hampir kehilangan nyawanya di jalanan yang dingin," jawab Alana, suaranya tetap stabil meski tangannya gemetar di balik lipatan gaunnya. "Hal-hal yang dulu aku benci sekarang terasa seperti anugerah yang harus kusyukuri karena aku masih diberi kesempatan untuk bernapas."

Kevin melangkah maju, mempersempit jarak hingga ia bisa melihat pantulan ketakutan di mata Alana. "Jawaban yang sangat puitis, sayang sekali aku tidak mudah percaya pada puisi. Aku tahu kau bukan Elena yang kukenal. Elena yang asli tidak akan pernah sudi merendahkan dirinya menjadi sekretaris pribadi Arkan. Dia terlalu malas untuk memegang pena, apalagi mengurus jadwal rapat yang membosankan itu."

"Mungkin kau tidak pernah benar-benar mengenal kakak iparmu sendiri, Kevin. Kau terlalu sibuk memperhatikan kesalahan orang lain hingga lupa melihat perubahan mereka," suara berat dan dingin Arkan terdengar dari arah teras, menyelamatkan Alana dari interogasi yang semakin menyudutkan.

Arkan berjalan mendekat dengan langkah tegap, lalu dengan natural melingkarkan tangannya di pinggang Alana. Sentuhan itu terasa panas di kulit Alana, menciptakan debaran yang aneh, namun ia harus tetap berakting seolah itu adalah hal yang biasa. Ia menyandarkan kepalanya sedikit di bahu Arkan, menambah kesan keintiman yang meyakinkan.

"Jangan ganggu istriku dengan teori konspirasimu yang konyol, Kevin. Pergilah urusi proyekmu di pinggiran kota yang sedang merugi itu sebelum Kakek mengetahuinya," sindir Arkan telak.

Kevin mendengus, wajahnya memerah karena malu dan amarah yang tertahan. "Kita lihat saja nanti, Kak. Di pesta Kakek, semua topeng akan lepas. Aku sudah menyiapkan 'kado' yang sangat spesial untuk kalian berdua. Sesuatu yang akan membuat Kakek sangat... terkejut."

Setelah Kevin pergi dengan langkah gusar, Arkan tidak langsung melepaskan rangkulannya. Ia tetap mendekap Alana selama beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. Alana bisa merasakan kekuatan dari pelukan pria itu, sebuah bentuk perlindungan yang tak terucapkan.

"Kau melakukannya dengan baik tadi, meski soal mawar itu hampir menghancurkan kita," gumam Arkan, matanya menatap tajam ke arah perginya Kevin.

"Saya hampir terjebak, Tuan. Saya benar-benar tidak tahu soal mawar itu," sahut Alana jujur, suaranya bergetar karena sisa ketakutan. "Tuan, saya takut. Bagaimana jika di pesta nanti ada orang lain yang lebih mengenal Elena daripada Kevin? Bagaimana jika saya gagal?"

Arkan melepaskan rangkulannya dan menatap Alana lekat-lekat. Untuk pertama kalinya, ia menyentuh pipi Alana dengan ibu jarinya, sebuah gerakan lembut yang terasa sangat manusiawi.

"Maka kau harus membuat mereka percaya bahwa kau adalah satu-satunya Elena yang pantas ada di sampingku. Di dunia ini, kebenaran hanyalah apa yang dipercayai oleh orang banyak. Kita hanya perlu memastikan mereka memercayai kita, bukan dia."

Di dalam hati Arkan, ia mulai merasakan sesuatu yang mengganggu. Seharusnya ini hanya soal bisnis, warisan, dan takhta. Namun, melihat Alana yang gemetar namun tetap berusaha tegar di bawah bayang-bayang dosanya, membuat Arkan merasakan dorongan posesif yang asing. Ia tidak hanya ingin melindungi rahasianya; ia ingin melindungi gadis ini dari kekejaman keluarganya sendiri.

Malam itu, Alana tidak bisa tidur. Ia duduk di balkon kamarnya, menatap gedung pencakar langit Arkananta Group dari kejauhan—sebuah menara gading yang tampak megah namun berlumuran dosa pengkhianatan. Ia sadar, benang merah kebohongan ini sudah mulai terurai, dan ia harus siap jika suatu saat nanti benang itu mencekik lehernya sendiri hingga ia tak bisa lagi bernapas.

1
Sweet Girl
Nikmati aja dulu kemewahan yang diberikan Arkan, toh kamu sendiri belum punya pacarkan...
Sweet Girl
Nah... ini gak enaknya...
Sweet Girl
Kok seperti nya Arkan sudah mengenal Alana ya Tor...
Sweet Girl
Dirantai kamu Alana...
Sweet Girl
Apa kau terpesona pada pandangan pertama dengan Sekretaris kecil pengganti, Tuan CEO...???
Sweet Girl
Bwahahaha bener tau dia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!