NovelToon NovelToon
2 Hari 1 Malam

2 Hari 1 Malam

Status: tamat
Genre:Misteri / TKP / Kriminal / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: M. A. K

Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.

Kecuali Karina.

Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.

Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17 - Orang yang Selalu Ada

Hujan turun tipis seperti jarum-jarum halus yang menancap di kaca mobil.

Karina menatap layar laptopnya tanpa berkedip.

Angka-angka waktu terpampang di sana.

00.17

00.19

00.48

00.52

01.27

01.41

Waktu tidak pernah berbohong.

Manusia yang berbohong.

Rekaman CCTV kafe memperlihatkan dirinya dan Adelia berdiri, tertawa pelan, lalu berjalan keluar pukul 00.17.

Ia masih bisa mengingat senyum itu.

Ia masih bisa mendengar suara Adelia.

“Kar, jangan pernah lupain aku ya.”

Karina menutup laptopnya perlahan.

Tangannya gemetar, tapi bukan karena sedih.

Karena ada sesuatu yang tidak sinkron.

...----------------...

Data GPS kendaraan dinas Arga.

Karina sudah memintanya secara resmi, dengan alasan pengecekan prosedur.

Tidak ada yang mencurigakan—di atas kertas.

00.30 — Tercatat di sekitar kantor.

00.48 — Sinyal bergerak ke arah pusat kota.

00.52 — Lokasi tidak terdeteksi.

01.27 — Sinyal muncul kembali.

01.41 — Transaksi QRIS di minimarket Jalan Sudirman.

Tiga puluh lima menit kosong.

Cukup untuk apa saja.

Cukup untuk mengejar mobil Adelia.

Cukup untuk menunggu di depan rumah.

Cukup untuk membekap.

Cukup untuk membunuh.

Karina menelan ludahnya.

Masih bisa kebetulan.

Masih bisa.

Tapi dunia ini sudah terlalu penuh kebetulan.

...----------------...

Ia mengingat kembali pagi itu.

Rumah Adelia.

Udara pagi terasa aneh—terlalu sunyi.

Karina berdiri di hadapan jasad yang tertutup kain putih.

Jantungnya berdentum seperti ingin keluar.

Lalu Arga mendekat.

Ia tidak berkata, “yang kuat.”

Ia tidak tahu siapa korban itu.

Ia hanya berkata:

“Kar. Tarik napas. Fokus.”

Netral.

Profesional.

Tapi ketika Karina belum mengatakan apa pun, belum membuka suara, belum menjelaskan—

Arga memandangnya lebih lama.

Dan berkata pelan:

“Kamu kenal ya?”

Karina terdiam waktu itu.

Bagaimana dia tahu?

Bisa saja dari ekspresi.

Bisa saja.

Tapi bukan hanya itu.

Tatapan Arga saat itu bukan tatapan orang yang menebak.

Itu tatapan orang yang memastikan.

...----------------...

Karina memutuskan menguji sesuatu.

Ia menemui Arga di ruang rapat kecil, sore hari.

“Ga,” katanya pelan, “pelaku nulis huruf A di dinding ruang tamu.”

Padahal bukan.

Huruf itu ditulis di lantai, dekat kaki Adelia.

Arga bersandar di kursinya.

Berpikir.

“Berarti dia berdiri cukup dekat sama tubuh korban.”

Jawaban cepat.

Terlalu cepat.

Tanpa bertanya detail.

Tanpa memastikan posisi.

Seolah-olah ia sudah membayangkan adegan itu.

Karina menatapnya dalam.

“Kenapa kamu bisa yakin dia berdiri dekat tubuh?”

Arga menatap balik, sedikit heran.

“Logis aja, Kar. Kalau mau pesan terlihat jelas, pasti dekat.”

Masuk akal.

Sangat masuk akal.

Dan justru itu yang mengganggu.

Karina merasa seperti sedang berbicara dengan seseorang yang memahami pola pembunuh itu terlalu baik.

...----------------...

Hal kecil berikutnya datang dua hari kemudian.

Bagian IT menyerahkan daftar panggilan anonim yang pernah masuk ke ponselnya.

Ada satu nomor yang muncul beberapa kali.

Nomor itu yang mengirim pesan:

“Permainan dimulai kembali.”

Karina meminta pengecekan silang terhadap nomor-nomor yang pernah berinteraksi dengan nomor anonim itu.

Hasilnya membuat udara di ruangan terasa lebih tipis.

Nomor anonim tersebut pernah melakukan satu panggilan keluar.

Durasi: 2 detik.

Waktu: 00.48.

Ke siapa?

Ke ponsel Arga.

Karina membaca ulang laporan itu tiga kali.

Mungkin salah.

Mungkin kesalahan sistem.

Tapi waktu itu tepat sebelum GPS Arga hilang.

Tepat sebelum 35 menit kosong.

...----------------...

Ia mulai mengingat kembali beberapa minggu terakhir.

Arga selalu ada.

Terlalu ada.

Saat media menyerangnya—Arga di sampingnya.

Saat ia diserang opini publik—Arga membelanya.

Saat ia jatuh di rumah Adelia—Arga yang menangkapnya.

Saat ia sadar di rumah sakit—Arga yang pertama ia lihat.

“Jangan percaya siapa pun dulu, Kar.”

“Semakin dekat seseorang, semakin besar kemungkinan dia menyakitimu.”

Kalimat-kalimat itu terngiang.

Dulu terdengar protektif.

Sekarang terdengar seperti strategi.

Menjauhkan dirinya dari Antono.

Membuatnya hanya bergantung pada satu orang.

Arga.

...----------------...

Malam itu Karina sengaja memancing.

Ia menghubungi Arga.

“Aku merasa pelaku orang dalam.”

Sunyi sejenak di ujung sana.

“Kenapa?”

“Karena dia tahu pergerakanku. Tahu titik lemahnya.”

Arga menghela napas.

“Kalau memang orang dalam… kamu siap kalau ternyata itu orang yang paling dekat sama kamu?”

Nada suaranya rendah.

Datar.

Karina merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Bukan takut.

Tapi seperti sedang berdiri di tepi jurang yang tidak terlihat.

“Kalau itu kamu gimana, Ga?”

Hening.

Dua detik.

Tiga detik.

Lalu Arga tertawa kecil.

“Kalau aku pelakunya, kamu pasti sudah mati duluan.”

Kalimat bercanda.

Mungkin.

Tapi tidak ada intonasi bercanda di sana.

...----------------...

Karina kembali membuka data GPS.

Ia memperbesar peta di antara titik hilang 00.52 hingga 01.27.

Ada satu kemungkinan rute tercepat menuju rumah Adelia.

Ia coba hitung.

Jika Arga meninggalkan pusat kota pukul 00.48 setelah panggilan 2 detik itu—

Ia bisa tiba di rumah Adelia sekitar 01.05.

Waktu kematian diperkirakan 01.10–01.30.

Cocok.

Terlalu cocok.

Karina merasakan dingin menjalar di punggungnya.

Ia tidak ingin ini benar.

Tapi semua potongan mulai membentuk wajah yang sama.

Wajah yang selalu menenangkannya.

...----------------...

Malam itu, tanpa memberitahu siapa pun, Karina memeriksa CCTV di sekitar rumahnya sendiri.

Ada satu rekaman yang membuat napasnya tertahan.

Pukul 02.13.

Mobil Arga terparkir di ujung jalan.

Mesinnya mati.

Lampu padam.

Ia di sana selama sepuluh menit.

Hanya duduk.

Menatap ke arah rumah Karina.

Lalu pergi.

Kenapa?

Kalau hanya khawatir, kenapa tidak masuk?

Kenapa tidak menghubungi?

Ia seperti memastikan sesuatu.

Seperti memastikan Karina masih di dalam.

Masih hidup.

Masih hancur.

...----------------...

Karina duduk sendirian di ruang kerjanya.

Semua bukti belum cukup untuk menahan.

Belum cukup untuk menuduh.

Tapi cukup untuk membuat satu kesimpulan sementara:

Arga terhubung.

Langsung atau tidak langsung.

Ia meraih ponselnya.

Pesan baru masuk.

Nomor anonim.

“Kamu mulai melihatnya, ya?”

Jantungnya berhenti satu detik.

Layar kembali menyala.

“Hati-hati, Karina. Salah pilih, kamu kehilangan semuanya.”

Tangannya gemetar.

Ia mengangkat wajahnya perlahan.

Di luar jendela kantornya, hujan kembali turun.

Dan di seberang jalan—

Sosok berdiri di bawah lampu jalan.

Jauh.

Samar.

Tak terlihat wajahnya.

Tapi Karina tahu.

Permainan ini tidak sesederhana siapa pelaku.

Ini tentang siapa yang ia percayai.

Dan untuk pertama kalinya—

Nama Arga tidak lagi terdengar seperti tempat aman.

...----------------...

Malam itu Arga berdiri di luar rumah Karina lagi.

Tidak mengetuk.

Tidak menelepon.

Hanya berdiri.

Menatap jendela kamar yang gelap.

Wajahnya sulit dibaca.

Antara khawatir.

Atau memastikan sesuatu telah berjalan sesuai rencana.

Di sudut jalan yang lebih gelap—

Seseorang memotret mereka berdua.

Klik.

Senyap.

Suara pelan berbisik dalam gelap:

“Bagus… Karina mulai salah arah.”

1
Ira Resdiana
sebenarnya ada dendam apa Antononl sama keluarag Karina. suami Ibu Karina kah yg telah membuatnya masuk dlm skandal besar 20th lalu?
Ira Resdiana
sapertinya salah satu juniornya karina sdg berkhianat untuk menjadi informan bagi pelaku. karena posisi pelaku tidak dekat. dia berada di luar kota, hanya menerima infornasi² ...
Ira Resdiana
kenapa pelaku bs tau setiap detail langkah karina.. siapa yg udh bocorin setiap kegiatan yg terjadi di unit karina
Dinda Wei
Ceritanya bagus, seru. Kalau suka genre psikopat, novel ini recommended buat di baca👍👍👍
semangat thor, smg ada karya baru lagi.
Dinda Wei
😢😢😢
Dinda Wei
Tokoh Antono terlalu kuat karakternya. Hebat, msh santai gitu
Dinda Wei
Karina harus di jaga, pst Antono merencanakan sesuatu gimana caranya bunuh Karin
Dinda Wei
Kabur lagi ...lolos lagi😡😡😡😡
Dinda Wei
Lamban amat polisi nangkep Antono. Pelakunya msh santai nikmatin kopi🤔
Dinda Wei
Ini persis di konoha, saling menutupi 😂
Dinda Wei
Kasihan Karina, kehilangan teman baiknya kehilangan ibunya jg😢
Dinda Wei
🤔🤔🤔
Dinda Wei
Hukum mati Antono, masak msh melenggang gitu. Santuy amat😡😡😡
Dinda Wei
Antono kasih hukuman mati thor😡
Dinda Wei
Antono kasih hukuman mati thor
Dinda Wei
Kurang ajar Antono 😡😡😡
Eleanor
wahh bakal ada kejutan apalagi nihhh, makin penasaran
Dinda Wei
Ohh ternyata sakit hati, iri dengki, alasannya ngabisin orang2 itu. psikopat gila kamu Antono
Dinda Wei
Duh jgn ada yg mati lagi dah, udah terlalu byk korbannya 😱
Dinda Wei
Udah curiga dg anthono ini, sok2an jd mentor tenyata psikopat gila😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!