menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 30
Keesokan harinya, sinar matahari pagi masuk melalui celah jendela ruang OSIS, menciptakan suasana yang hangat namun riuh.
Saat Indah mendorong pintu ruangan tersebut, matanya langsung terbelalak. Di sana, di tengah meja panjang yang biasanya penuh laporan, duduklah **Rudy**.
Rudy tidak sendirian. Ia tengah duduk melingkar bersama Sasha, Yudas, dan Kael. Di tangan mereka masing-masing terdapat tumpukan kartu yang digenggam erat.
"Ah, Indah! Kau sudah datang?" sapa Lily yang sedang duduk santai di pojok sambil membaca buku.
Rudy menoleh ke arah pintu dan memberikan senyum sopannya yang khas. "Halo, Indah. Selamat pagi."
Indah mengerjapkan mata berkali-kali, masih mencoba mencerna pemandangan di depannya. "Rudy? Tumben sekali kau ada di sini. Sejak kapan kau jadi bagian dari perkumpulan ini?"
Rudy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan wajah bingung. "Sejujurnya... aku bahkan tidak ingat kenapa aku bisa berakhir di sini. Tadi aku hanya lewat di koridor, lalu Kael menarik kerah bajuku dan berteriak bahwa mereka butuh orang keempat untuk main kartu."
"Hahaha! Jangan banyak bicara, Rudy! Fokus ke kartumu! Aku akan menghancurkan kalian semua!" seru Kael dengan tawa jahatnya yang cempreng. Ia tampak sangat kompetitif hingga urat lehernya terlihat.
Indah hanya bisa menggelengkan kepala. Tak lama, Kael menarik tangan Indah agar ikut duduk. "Ayo Indah, kau juga harus ikut! Biar makin kacau!"
Di tengah kehebohan permainan kartu itu, pintu terbuka lebar.
Aria masuk dengan wajah serius, diikuti oleh Raka yang membawa setumpuk gulungan kertas besar.
"Perhatian semuanya! Berhenti bermain sekarang juga!" seru Aria dengan nada otoriter yang membuat kartu di tangan Kael langsung berjatuhan.
Aria meletakkan satu gulungan kertas di atas meja. "Aku ingin kalian semua menempelkan poster ini di setiap sudut strategis sekolah."
Mereka semua mendekat untuk melihat. Poster itu terlihat sangat mewah dengan desain emas dan biru tua. Di sana tertulis: **FESTIVAL OLAHRAGA TAHUNAN SMA Garuda bangsa**.
Meskipun acaranya masih beberapa minggu lagi, aura kemegahan sekolah elite mereka sudah terasa dari desain posternya saja.
"Festival Olahraga?" gumam Yudas dengan mata berbinar. "Ini panggungku!"
Namun, Sasha menyipitkan mata dan melipat tangan di dada. "Tunggu dulu, Aria. Kenapa *kami* yang harus menempelnya? Bukannya itu tugas anggota OSIS bawahan atau departemen humas?"
Aria menatap Sasha dengan senyum tipis yang mematikan. "Karena kalian adalah anggota OSIS," jawabnya santai.
"APA?!" seru Sasha, Yudas, dan Kael secara serempak.
"Sejak kapan?!" Sasha memprotes keras. "Aku hanya numpang main di sini karena AC-nya dingin!"
Raka membetulkan letak kacamatanya, suaranya terdengar datar namun tajam. "Karena kalian selalu main di sini setiap hari, menghabiskan stok minuman di kulkas OSIS, dan menggunakan fasilitas ruangan ini, maka secara otomatis kalian sudah kami daftarkan sebagai anggota tambahan. Tidak ada komplain."
"Ini pemerasan namanya!" protes Kael sambil memegangi kepalanya secara dramatis. Namun,
Aria tidak peduli dan langsung membagikan lembaran-lembaran poster itu ke tangan mereka satu per satu.
"Kerjakan sekarang atau aku akan melarang kalian masuk ke ruangan ini selama satu semester," ancam Aria.
Mau tidak mau, dengan wajah lesu dan keluhan yang tidak berhenti, mereka semua berpencar keluar ruangan membawa ember lem dan poster.
Beberapa menit kemudian, Indah menyeka keringat di dahinya.
Ia baru saja selesai menempelkan poster terakhir di mading dekat aula.
Karena merasa sangat haus, ia melangkah menuju kantin yang mulai sepi karena jam pelajaran akan segera dimulai lagi.
Indah membeli sebotol minuman dingin dan duduk di salah satu kursi panjang kantin.
Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menikmati kesendirian sejenak setelah drama di ruang OSIS.
Tiba-tiba, seorang siswi berdiri di samping mejanya.
Gadis itu mengenakan seragam yang rapi dengan rambut yang tergerai indah.
"Maaf... apakah aku boleh duduk di sini juga?" tanya siswi itu dengan nada bicara yang sangat halus.
Indah tersentak dan mendongak. Matanya bertemu dengan tatapan siswi tersebut, dan seketika rasa heran menyelimuti hatinya karena ia merasa belum pernah melihat siswi ini secara dekat sebelumnya.
---
Suasana kantin yang tadinya tenang mendadak terasa dingin ketika siswi tersebut duduk di hadapan Indah.
Ia meletakkan jemarinya yang lentur di atas meja, lalu tersenyum tipis.
"Namaku Karin, dari kelas 3-3," ucapnya memperkenalkan diri dengan nada suara yang tenang namun penuh wibawa.
Indah sedikit merapikan duduknya, merasa aura Karin sedikit berbeda dari siswi kebanyakan. "Aku Indah. Salam kenal, Karin."
Karin melirik botol minuman Indah, lalu beralih ke noda lem yang masih sedikit menempel di ujung jari Indah. "Apa yang sedang kau lakukan tadi? Kau terlihat sangat sibuk sampai berkeringat begitu."
"Ah, ini... aku baru saja selesai memasang poster festival olahraga di mading depan," jawab Indah sambil mencoba menyeka jarinya.
Mata Karin berbinar sesaat. "Festival olahraga ya? Aku benar-benar tidak sabar untuk itu. Pasti akan sangat meriah tahun ini." Namun, ekspresi Karin berubah dengan cepat menjadi lebih intens.
Ia menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Indah lekat-lekat. "Ngomong-ngomong, Indah... aku sering melihatmu di sekitar koridor. Kau dan Raka terlihat cukup dekat, ya?"
Indah tersentak, hampir tersedak minumannya sendiri. "Eh? R-Raka? Kami hanya teman biasa, kok. Sungguh, tidak lebih dari itu. Kami berada di lingkaran pertemanan yang sama di OSIS."
Mendengar jawaban itu, Karin tidak tampak lega, melainkan justru memberikan senyum misterius yang membuat Indah merasa tidak nyaman.
"Cuma teman, ya? Tidak lebih?" Karin menjeda kalimatnya, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Indah. "Kalau begitu... jika kalian memang cuma berteman, apakah aku boleh mengambil Raka?"
Indah membeku. "Apa... apa maksudmu?"
"Sebenarnya, aku sudah cukup lama menyukai Raka," bisik Karin dengan nada pengakuan yang dramatis. "Tapi karena belum ada waktu yang pas, aku belum mengungkapkan perasaanku padanya. Aku selalu memperhatikan dari jauh. Namun, belakangan ini aku melihat kau dan kelompokmu sangat akrab dengannya. Raka yang biasanya dingin terlihat berbeda saat bersama kalian. Itu sebabnya aku berpikir, mumpung kau hanya 'temannya', aku akan bergerak."
Karin menatap Indah dengan tatapan menantang namun tetap dihiasi senyuman manis. "Boleh, kan? Kau tidak keberatan jika aku mendekatinya secara agresif?"
Pikiran Indah mendadak kacau. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dadanya.
Pemikiran tentang Raka yang berjalan berdua dengan Karin, Raka yang tersenyum pada Karin, atau Raka yang tidak lagi menghabiskan waktu di ruang OSIS bersamanya, membuat Indah merasa sangat tidak rela.
Ia tidak pernah menyangka akan merasakan egoisme seperti ini.
"Indah? Kenapa diam? Boleh, kan?" tanya Karin lagi, mendesak.
Indah menundukkan kepalanya, suaranya keluar sangat pelan, hampir seperti bisikan. "Tidak boleh..."
"Hah? Apa kau bilang? Aku tidak dengar," ujar Karin sambil mendekatkan telinganya.
Seketika, Indah berdiri dari kursinya. Rasa ragu yang tadi menyelimutinya menghilang, digantikan oleh keberanian yang meledak-ledak.
Ia menatap Karin dengan tatapan tajam yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Indah bahkan menunjuk ke arah Karin dengan jari yang gemetar namun tegas.
"Tidak akan!" tegas Indah, suaranya menggema di sudut kantin. "Aku tidak akan pernah menyerahkan Raka kepada siapapun! Ingat itu baik-baik!"
Karin tertegun, matanya membelalak melihat perubahan drastis dari gadis yang tadinya terlihat sangat lembut itu.
Tanpa menunggu balasan dari Karin, Indah segera memutar tubuhnya, mengambil tasnya, dan melangkah pergi dengan cepat.
Ia berjalan dengan napas memburu, menyadari bahwa ia baru saja mendeklarasikan sesuatu yang besar.
Sementara itu, di meja kantin, Karin hanya bisa menghela napas panjang sambil menatap punggung Indah yang menjauh.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak termenung sendirian di tengah kesunyian kantin yang kembali menyelimuti.
Bersambung...