NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Tiri

Obsesi Sang Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Enemy to Lovers / Saling selingkuh / Ibu Tiri / Konflik etika
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lalalati

Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.

Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.

Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'

Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Calon Ayah dan Ibu Sambung

Terdengar bunyi bel.

"Udah masuk, Yang," ujar Bian menjauhkan bibirnya dari sang pacar.

"Gak bisa bentar lagi?" rajuk Theo. "Aku masih kangen."

"Bucin banget sih kamu sama aku, Yang." Bian mencubit gemas kedua pipi Theo.

Theo meraup kedua pipi Bian. "Gimana aku gak bucin, kamu itu cantik dan baik banget. Kamu manja, kamu lucu, selalu bikin aku pengen ketemu terus sama kamu. Ditambah aku udah ngejar kamu sejak kelas 10, dan sekarang aku bisa dapetin kamu, rasanya bener-bener gak bisa aku ungkapin. Aku bahagia banget punya kamu, Sayang."

Bian pun merona merah. Ia tak pernah bosan mendengar kata-kata yang terkesan gombal dari sang pacar karena walaupun pada awalnya Bian merasa risih karena Theo yang terus mengejarnya sejak mereka di awal kelas 10, tapi kini perasaannya sudah tertuju pada Theo juga.

"Aku juga seneng ada kamu dalam hidup aku. Makasih ya karena dulu kamu bisa yakinin aku buat nerima kamu jadi pacar aku," sahut Bian tak kalah dimabuk cinta.

Mendengar kata-kata Bian membuat Theo ingin menciumnya lagi. Bibir Theo pun sudah berada di bibir Bian kembali. Satu tangannya di pipi Bian, dan satu lagi sudah meremas salah satu bulatan kenyal itu lagi.

Bian mulai mende sah ditengah cumbuannya. Ia biarkan Theo meremas benda pribadinya itu. Bahkan saat Theo melepas dua kancing teratas kemejanya, Bian diam saja. Nampaklah bra berwarna abu yang masih menutupi puncak yang sudah lama ingin Theo lihat.

"Sayang, 'katanya mau jaga batasan," ujar Bian mengingatkan. Nafasnya tersengal, tangannya tak mampu mendorong Theo seperti waktu itu. Ia malah merasa ingin di ja mah oleh Theo sekarang. Namun sedikitnya logikanya masih menjalankan tugasnya untuk mengingatkan.

Theo seperti tak mendengar. Ia tak mendengarkan peringatan Bian. Tangannya menelusup masuk ke balik bra itu dan berhasil, satu bukit dengan puncak kecoklatan itu nampak di hadapannya. Ibu jari dan telunjuknya memilin pelan puncak itu. Benak Theo tak percaya ia bisa menyelesaikan satu rasa penasarannya.

"Cantik banget, Yang..." gumam Theo.

Bian menutup wajahnya. Entah mengapa ia tiba-tiba menjadi malu.

Theo begitu ingin mengulumnya. Namun sekuat tenaga ia mencoba membuat pertahanan. Ia khawatir tak bisa berhenti jika ia melakukannya. Di tambah mereka ada di sekolah, gawat kalau mereka ketahuan.

Dengan sangat terpaksa Theo kembali mengurung benda indah itu. Anehnya Bian merasa sedikit kecewa. Ia sendiri penasaran bagaimana rasanya jika bibir Theo yang biasanya bermain di bibirnya, justru bermain di bendanya itu.

"Maaf ya, aku ngelewatin batas." Theo mengecup kening Bian.

"Gak apa-apa, Yang. Emang susah sih. Tapi kamu hebat banget, Sayang, bisa berhenti."

"Aku pengen tetep dibilang laki-laki yang baik sama Daddy kamu, Yang. Pesennya 'kan aku harus bisa jagain kamu." Theo pun kembali mengancingkan kemeja Bian.

Bian sontak memeluk sang pacar. "Makin sayang sama kamu deh, Yang."

"Aku juga, Sayangku. Makin sayang banget sama kamu," jawab Theo.

...***...

Bian sibuk dengan ponselnya. Ia mengetik balasan untuk Theo.

[Bian]: Aku lagi makan malam sama calonnya Mommy sama Daddy. Nanti aku chat lagi ya, Yang.

Kemudian Bian menyimpan ponselnya karena sang ayah sudah memperingatkannya beberapa kali agar Bian tak memainkan ponselnya.

"Gimana Bian, kamu suka makanannya?" tanya Soraya yang sudah berkenalan dengan Bian tadi.

Kesan Bian saat pertama kali melihat wanita yang ternyata selama ini masih dicintai sang ayah adalah betapa elegannya wanita ini. Pakaiannya mahal, perhiasannya juga memiliki desain yang sederhana namun Bian tahu itu sangat mahal. Wajahnya teduh dan Bian langsung menyukainya. Bahkan entah bagaimana ia merasa Soraya sangat cocok dengan sang ayah dibandingkan dengan sang ibu.

"Suka, Tante," jawab Bian singkat. Ia masih merasa canggung karena melihat kedua orang tuanya malah duduk bersebelahan dengan wanita dan pria yang asing baginya, namun di saat yang bersamaan Bian malah merasa mereka nampak serasi.

"Om seneng akhirnya bisa ketemu sama kamu. Cantiknya kamu gak beda jauh dari mommy kamu loh, Bian. Kalian kayak kakak dan adik malahan," ujar Kaisar.

Kesan yang Bian rasakan terhadap calon ayah sambungnya ini justru berbeda. Kaisar terkesan penuh canda, tapi juga kharismatik dan mengintimidasi. Mungkin karena ia seorang CEO. Namun ia tidak pendiam seperti mantan istrinya, justru pria ini sangat pintar membangun suasana menjadi tidak canggung, mirip sekali dengan sang ibu.

Pakaian yang digunakannya juga sama-sama menampakkan aura mahal seperti Soraya. Kini Bian tahu calon orang tua sambungnya berasal dari kalangan atas, jauh lebih atas dari kedua orang tuanya yang juga bisa dikatakan berada di kalangan atas.

"Kamu bisa aja sih, Kai. Tapi banyak yang bilang, kok, cantiknya Bian itu nurun dari mommynya," ujar Diana sambil mencubit pelan dagu Bian dengan gemas.

"Setuju, mirip banget loh Bian sama kamu, Di," ujar Soraya.

"Aku mirip mommy sama Daddy," sanggah Bian seraya meraih tangan kedua orang tuanya yang duduk di sebelah kanan dan kirinya.

Seketika suasana menjadi sedikit canggung. "Maaf, tapi Bian masih susah buat nerima keadaan ini. Apalagi kalau inget Bian gak akan tinggal lagi salah satu dari mommy dan daddy."

Air mata Bian menggenang di pelupuk matanya.

"Nak, gak akan ada yang berubah dari kita. Daddy janji," ujar Radit menenangkan sang putri.

"Kalau gitu Bian gak mau tinggal salah satu dari mommy dan daddy. Bian mau kita tetap tinggal bareng," isak Bian kembali tak rela. Ia tak bisa mencegahnya.

Walaupun akhirnya ia setuju untuk berkenalan dengan Kaisar dan Soraya, tapi tetap saja ia belum bisa menerima perceraian dan pernikahan yang akan segera dilakukan oleh kedua orang tuanya.

"Itu gak mungkin, Baby. Lagian kita masih bisa ketemu kapan pun kamu mau. Mommy akan tetap anter kamu ke tempat modeling, Daddy juga akan selalu masak buat kamu. Gak akan ada yang berubah, Baby. Ayo dong, Mommy yakin kamu udah cukup dewasa untuk menerima keadaan Mommy dan daddy."

Bian terus saja menangis. Ia masih belum menemukan titik nyaman dengan kondisi barunya ini.

"Gini deh, gimana kalau kita tinggal di mansion punya aku aja?" saran Soraya. "Kai, mansion kita yang di pinggir kota 'kan ada dua paviliun, kita bisa tinggal di sana. Jadi walaupun rumahnya misah, tapi kita masih ada di halaman yang sama. Jadi Bian gak usah pisah sama Radit dan Soraya. Gimana?"

"Boleh, aku setuju. Menurut kalian gimana?" tanya Kaisar.

"Aku sih ikut gimana kamu, Kai," ujar Diana.

"Kalau kamu gimana, Radit?" tanya Soraya.

Radit pun bertanya pada sang putri. "Gimana, Nak? Kamu setuju kalau gitu? Kalau kamu setuju Daddy akan setuju."

Bian berpikir sejenak. Lalu akhirnya ia merasa itu ide yang bagus. "Iya, Bian setuju kalau gitu, Dad."

"Syukurlah," ujar semua hampir bersamaan dengan raut wajah yang lega. Satu masalah sudah bisa terpecahkan.

"Maaf aku terlambat."

Tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang baru saja datang ke meja mereka. Sontak semua menatap ke arah pria tampan itu.

'Cowok ini... bukannya yang gue lihat di sekolah?' gumam Bian tak terlalu yakin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!