NovelToon NovelToon
Ustadz, I’M In Love

Ustadz, I’M In Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

di bawah umur di larang membaca.

Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
​Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
​Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
​Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9

Rina memalingkan wajah, menyembunyikan rona merah yang kini sudah menjalar sampai ke belakang telinganya. Meski hatinya mulai luluh, gengsinya sebagai lulusan S2 tetap setinggi langit. Ia bersedekap, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawanya yang sudah berceceran sejak tadi pagi.

​"Halah, pokoknya saya tetap kesal sama kamu!" ketus Rina, bibirnya mengerucut. "Kok bisa ya, saya cinta dan sayang sama orang yang nggak ada mukanya di media sosial? Ternyata aslinya menyebalkan begini! Mana budek lagi pas dipanggil di masjid!"

​Rohman hanya tersenyum, tidak sedikit pun terpancing emosi. "Saya bukannya budek, Rina. Saya cuma kaget dengar suara kamu yang aslinya lebih galak daripada di voice note. Tapi jujur, teriakan 'orang aneh' dari kamu tadi itu... adalah sambutan paling berkesan yang pernah saya terima."

​"Dih! Ngeledek terus!" Rina menghentakkan kaki. "Terus sekarang gimana? Ayah sama Bunda pasti mikir aku ini anak durhaka karena sudah ngata-ngatain calon menantunya habis-habisan."

​"Ya itu tugas kamu buat memperbaiki keadaan," sahut Rohman santai. "Tadi kan kamu bilang mau nikah sama orang ganteng, mapan, dan setia. Sekarang orangnya sudah di depan mata. Apa masih mau alasan saya 'bau' lagi?"

​Rina mendengus, teringat kebohongannya tadi. "Tadi itu kan refleks! Habisnya kamu datang-datang langsung bikin jantungan. Terus... soal mahar itu, kamu beneran serius? Dua miliar itu bukan uang kecil, lho. Kamu nggak lagi ngerampok bank, kan?"

​Rohman terkekeh, sorot matanya melembut. "Bisnis ekspor di Mesir dan Jawa Tengah alhamdulillah lancar, Rina. Kalau cuma buat memuliakan istri yang mau lanjut S3 sampai London, insya Allah saya sanggup. Saya nggak mau kamu menderita, persis seperti yang kamu bilang tadi di dalam."

​Rina terdiam sebentar, menatap ujung sandalnya. "Berarti... kamu nggak akan larang aku kuliah lagi?"

​"Kenapa harus dilarang? Dunia butuh orang pintar seperti kamu. Dan saya butuh istri yang bisa diajak diskusi cerdas, bukan cuma yang bisa dandan," jawab Rohman mantap.

​Tiba-tiba, pintu depan terbuka sedikit. Kepala Imron muncul dari celah pintu dengan cengiran tanpa dosa. "Woi! Sudah belum dramanya? Itu es krim titipan 'orang bau' sudah mau cair di atas meja! Mau dimakan sekarang apa mau lanjut pacaran di teras?"

​Rina langsung menoleh dan melotot. "Cak Imron! Masuk nggak?! Kan sudah Adek pecat jadi kakak!"

​"Yah, dipecat beneran," goda Imron sambil tertawa, lalu masuk lagi ke dalam sebelum kena lemparan sandal Rina.

​Rina kembali menatap Rohman yang masih setia menunggunya bicara. Rasa kesalnya perlahan menguap,

berganti dengan debaran aneh yang menyenangkan. "Ya sudah... tapi jangan panggil aku 'Sayang' di depan Ayah! Malu!"

​"Iya, Sayang," goda Rohman pelan sambil mengedipkan sebelah matanya.

​"Ustadz aneeehhh!" teriak Rina pelan, lalu lari masuk ke dalam rumah dengan wajah yang benar-benar cerah, meninggalkan Rohman yang tersenyum puas melihat calon istrinya yang super unik itu.

Rina yang baru saja masuk dengan wajah ceria, mendadak menghentikan langkahnya tepat di tengah ruang tamu. Ia melotot tajam ke arah Rohman yang baru saja melangkah masuk mengekor di belakangnya dengan langkah tenang dan wajah tanpa dosa.

​"Gimana Nak? Kalian bahas apa di luar? Soal perjodohan itu, ya?" tanya Ayah dengan nada penuh harap, sementara Bunda menatap keduanya dengan senyum yang sulit disembunyikan.

​Rohman berdehem pelan, merapikan sedikit peci hitamnya sebelum menjawab dengan nada suara yang sangat meyakinkan. "Alhamdulillah Pak RT, Buk RT... Dek Rina menerima saya. Katanya, dia sudah mencintai saya pada pandangan pertama tadi di depan masjid."

​Mendengar kalimat itu, Rina merasa dunianya seolah jungkir balik. Pandangan pertama?!

​"Heh, kamu! Jangan asal bicara ya!" teriak Rina histeris. Wajahnya yang tadi sudah cerah kini kembali memerah, tapi kali ini bukan karena marah saja, melainkan malu yang luar biasa karena Rohman berbohong dengan sangat manis di depan orang tuanya.

​"Lho, tadi katanya saya ganteng?" goda Rohman pelan, melirik Rina dengan sudut matanya yang jenaka.

​"Kapan saya bilang gitu?! Tadi saya bilang kamu bau, ya!" bantah Rina sambil menghentakkan kaki. Ia menoleh ke arah Ayah dan Bunda dengan panik. "Ayah, jangan percaya! Dia itu tukang fitnah! Dia... dia..." Rina ingin membongkar soal HelloTalk, tapi ia sadar itu akan jadi senjata makan tuan jika ia mengaku sering memanggil pria ini "Sayang" di aplikasi.

​Ayah justru tertawa lepas, pemandangan yang jarang terjadi sejak perdebatan mereka tadi malam. "Sudah, sudah. Kalau kalian sudah saling goda begini, berarti Ayah nggak usah pusing lagi mikirin vendor tenda."

​"Tenda apa, Yah?! Adek belum bilang iya!" seru Rina, meskipun dalam hatinya ia mulai merasa kalah telak.

​"Nak Rohman," panggil Bunda lembut. "Rina ini memang begini, tapi aslinya dia baik. Jangan kapok ya kalau nanti sering kena semprot."

​"Tidak apa-apa, Bunda. Justru saya sudah menyiapkan stok sabar yang banyak, sekalian sama stok es krim cokelat di bagasi mobil," jawab Rohman santun, membuat Bunda langsung jatuh hati pada calon menantunya itu.

​Imron yang sejak tadi menonton dari balik pintu dapur akhirnya keluar sambil membawa cup es krim yang mulai lumer. "Nih, Dek. Makan dulu biar otaknya nggak panas. Katanya tadi tembus sampai gamis kesayangan, makanya emosinya nggak stabil."

​"CAK IMRON! MULUTNYA!" Rina menyambar bantal kursi dan melemparkannya tepat ke arah wajah Imron, namun kakaknya itu berhasil menghindar sambil tertawa terbahak-bahak.

​Di tengah kegaduhan itu, mata Rina kembali bertemu dengan mata Rohman. Pria itu memberikan senyuman kecil—senyuman yang hanya untuk Rina—seolah mengirimkan pesan rahasia: 'Selamat datang di masa depan kita, Sayang.'.

​Rina mendengus, mencoba membuang muka, tapi ia tak bisa menutupi senyum kecil yang akhirnya terukir di sudut bibirnya. Sialan, batinnya, ternyata 'orang aneh' ini beneran tipe gue.

1
Putri Lauren
lanjuttt thor KLO bisa double
Putri Lauren
lanjut thor
Moza Tri Utami: lanjut dong thorr
total 2 replies
Putri Lauren
mantap
Putri Lauren
aku suka Thor lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!