NovelToon NovelToon
DxD : Phenex Rebirth

DxD : Phenex Rebirth

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Terlahir kembali sebagai Riser Phenex—bangsawan iblis paling dibenci dengan reputasi sampah—bukanlah pilihan yang buruk bagi seorang pemuda dari dunia modern. Dengan sistem "Yui" yang bermulut tajam namun setia, serta kekuatan terlarang dari masa lalu yang terkubur (Meliodas), Riser memutuskan untuk berhenti mengejar wanita yang tidak menginginkannya. Di hari Rating Game yang seharusnya menjadi kehancurannya, dia justru membakar naskah takdir. Dia membatalkan pertunangan, melepaskan gelar "pecundang", dan mulai membangun "keluarga" sejatinya sendiri. Dari pedang Saeko Busujima hingga kesetiaan Yasaka, Riser tidak hanya ingin bertahan hidup; dia ingin mendominasi dunia supranatural dengan gaya yang elegan, sarkastik, dan tak terbantahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Terlupakan

Ibukota Lilith adalah tempat di mana kemegahan dan dekadensi hidup berdampingan dalam harmoni yang palsu. Di pusat kota, menara-menara tinggi berlapis emas menusuk langit ungu Underworld, namun di pinggirannya, terdapat distrik tua yang terlupakan—sebuah labirin gang-gang sempit yang lembap dan berbau debu sejarah. Di sinilah, jauh dari pengawasan para bangsawan tinggi, sisa-sisa klan yang jatuh mencoba bertahan hidup di antara bayang-bayang.

Riser melangkah melepaskan jubah merah kebesarannya, menyerahkannya pada Yubelluna sebelum menyuruhnya tetap berada di jarak yang aman. Kini, ia hanya mengenakan kemeja hitam sederhana dengan kerah terbuka. Penampilannya masih terlihat seperti bangsawan, namun tanpa atribut mencolok, ia tampak seperti seorang pengembara kelas atas yang sedang tersesat.

Langkah kakinya membawanya lebih dalam ke sektor barat, area di mana bangunan-bangunannya terbuat dari batu hitam yang sudah berlumut. Semakin jauh ia melangkah, denyut di dadanya semakin kuat. Itu bukan sekadar detak jantung; itu adalah resonansi garis keturunan.

[ Deteksi Jarak: 200 Meter ]

[ Resonansi Energi: 89% ]

[ Target: Keturunan Leviathan (Murni) ]

Riser berhenti di depan sebuah kedai tua yang hampir runtuh. Di sana, di sudut jalan yang temaram, seorang wanita sedang duduk di bangku kayu kecil sambil menatap kosong ke arah langit. Rambutnya panjang dan berwarna perak keunguan, menutupi sebagian wajahnya yang pucat namun memiliki struktur yang sangat anggun. Ia mengenakan pakaian lusuh yang sudah memudar warnanya, namun aura yang terpancar darinya membuat udara di sekelilingnya terasa lebih "berat" dan tenang secara bersamaan.

Dia adalah Ingvild Leviathan.

Riser tidak segera mendekat. Dia berdiri di balik pilar batu, mengamati wanita itu. Ingvild tampak sedang bersenandung pelan—sebuah melodi yang tidak terdengar oleh telinga manusia, namun getarannya menggetarkan partikel mana di udara. Setiap kali nadanya naik, riak air kecil muncul di genangan air di dekat kakinya, meski tidak ada angin yang bertiup.

[ Analisis Kemampuan: Sonic Dominion (Pasif/Tidak Stabil) ]

[ Kondisi Fisik: Lemah ]

[ Catatan: Penyakit tidur atau ketidakstabilan mana akibat garis keturunan yang terlalu kuat bagi tubuh yang belum terbangkitkan. ]

"Melodi yang indah, namun penuh dengan kesepian," suara Riser memecah keheningan gang tersebut.

Ingvild tersentak. Dia menoleh perlahan, matanya yang berwarna ungu laut menatap Riser dengan rasa bingung dan sedikit ketakutan. Dia tidak terbiasa didekati oleh orang asing, apalagi seseorang yang memancarkan tekanan keberadaan sekuat Riser.

"Siapa... Anda?" tanya Ingvild, suaranya terdengar seperti denting harpa yang retak.

Riser melangkah maju dengan pelan, memastikan setiap gerakannya terlihat tidak mengancam. "Hanya seorang pengembara yang tertarik pada lagu yang bisa menggerakkan air tanpa menyentuhnya."

Ingvild menundukkan wajahnya, mencoba menyembunyikan tangannya yang gemetar di balik lengan bajunya yang panjang. "Itu bukan lagu... itu hanya suara yang terus ada di kepalaku. Orang-orang di sini menyebutku aneh. Anda sebaiknya pergi, Tuan. Keberadaanku hanya membawa kesialan."

"Kesialan?" Riser tertawa kecil, suara tawa yang terdengar tulus namun berwibawa. Dia berhenti tepat tiga langkah di depan Ingvild. "Dunia ini sering menyebut sesuatu yang tidak mereka pahami sebagai 'kesialan'. Bagiku, kau bukan kesialan. Kau adalah simfoni yang belum diselesaikan."

Ingvild mendongak, matanya bertemu dengan mata Riser yang kini berpendar ungu redup secara halus. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ingvild merasakan sesuatu yang berbeda. Biasanya, orang-orang yang mendekatinya akan merasa sesak atau terganggu oleh frekuensi energinya, namun pria di depannya ini justru terasa seperti jangkar yang stabil di tengah badai suaranya.

[ Hubungan Variabel: Ingvild Leviathan ]

[ Minat: 45% ]

[ Status: Tertarik/Bingung ]

"Kenapa... Anda menatapku seperti itu?" bisik Ingvild.

"Karena aku melihat seorang Ratu yang sedang duduk di atas singgasana kayu yang busuk," jawab Riser, mengulurkan tangannya ke arah Ingvild. "Namaku Riser Phenex. Dan aku datang untuk memberikan panggung yang layak bagi suaramu, Ingvild."

Ingvild terpaku mendengarnya. Nama klan Leviathan adalah nama yang terkutuk sekaligus suci, dan mendengar seseorang menyebutnya sebagai 'Ratu' membuatnya merasa seolah-olah beban dunia yang selama ini ia pikul sedikit terangkat. Namun, keraguan masih menghantuinya. Dia tidak tahu siapa pria ini, tapi di dalam jiwanya, kekuatan Leviathan-nya berbisik bahwa pria ini adalah takdir yang ia tunggu selama ini.

Udara di gang sempit itu mendadak mendingin, namun bukan karena sihir es milik Ayaka. Itu adalah tekanan atmosfer yang muncul saat dua garis keturunan kelas atas beresonansi. Ingvild masih menatap tangan Riser yang terulur dengan ragu, jemarinya yang pucat bergetar di ambang sentuhan. Namun, sebelum jemari mereka bertaut, suara langkah kaki yang kasar dan berat memecah keheningan dari kedua ujung gang.

"Oi, oi... Lihat apa yang kita temukan di sini," sebuah suara serak penuh nada mengejek terdengar.

Enam pria bertubuh besar dengan pakaian kulit yang lusuh namun membawa senjata sihir tingkat rendah muncul dari balik bayang-bayang. Mereka adalah kelompok pemungut pajak ilegal dari distrik bawah, sekelompok iblis kelas rendah yang merasa berkuasa di tempat yang tidak terjangkau hukum.

"Gadis aneh ini sudah menunggak 'uang keamanan' selama tiga bulan, Tuan Bangsawan," ujar pemimpin mereka, seorang iblis bermata satu yang menatap kemeja sutra Riser dengan penuh rasa iri. "Dan kau... sepertinya kau punya banyak koin emas di dompetmu untuk membayar hutangnya. Atau mungkin, kau ingin kami mengambil gadis ini sebagai gantinya?"

Ingvild tersentak, tubuhnya mengecil dan ia mencoba bersembunyi di belakang pilar kayu. "Tolong... pergilah. Jangan libatkan diri Anda," bisiknya pada Riser, suaranya penuh ketakutan.

Riser tidak menarik tangannya. Ia bahkan tidak menoleh ke arah para preman itu. Matanya tetap terkunci pada manik mata ungu laut milik Ingvild.

"Dunia ini sangat berisik, bukan?" tanya Riser pelan, mengabaikan teriakan pemimpin preman yang merasa diabaikan. "Suara-suara rendah seperti mereka seringkali menenggelamkan melodi yang sesungguhnya."

"Brengsek! Beraninya kau mengabaikanku!" Pemimpin preman itu menghunus belati sihirnya dan menerjang maju.

Riser hanya mendesah pelan. Tanpa melihat ke belakang, ia menjentikkan jarinya.

BUM!

Sebuah gelombang tekanan gravitasi yang sangat padat meledak dari tubuh Riser. Bukan api, melainkan murni kompresi mana yang dikendalikan dengan tingkat Master. Preman yang menerjang itu terhenti di udara seolah menabrak dinding beton, sebelum akhirnya terhempas ke lantai batu dengan bunyi tulang yang retak. Lima temannya membeku di tempat, merasakan paru-paru mereka seolah diperas oleh tangan yang tak terlihat.

[ Status: Ancaman Dinetralkan ]

[ Penggunaan Energi: 0.5% ]

[ Analisis: Sampah tidak layak untuk dieksekusi ]

"Ingvild," panggil Riser lagi, suaranya kini lebih dalam dan bergema. "Suara di kepalamu itu... itu bukan kutukan. Itu adalah otoritas. Kau adalah keturunan Leviathan. Kau tidak diciptakan untuk takut pada serangga seperti mereka. Kau diciptakan untuk memerintah laut dan suara."

Riser melangkah maju satu langkah lagi, kali ini ia meraih tangan Ingvild secara paksa namun lembut. Begitu kulit mereka bersentuhan, sistem Riser melepaskan lonjakan energi murni untuk menstabilkan sirkuit mana Ingvild yang selama ini tersumbat oleh ketakutan dan penyakit tidurnya.

[ Inisialisasi: Sinkronisasi Garis Keturunan ]

[ Target: Ingvild Leviathan ]

[ Status: Aktivitas Mana Bangkit ]

Mata Ingvild membelalak. Pendaran biru elektrik mulai keluar dari tubuhnya. Udara di sekitar mereka mulai bergetar hebat, menciptakan suara dengungan yang membuat para preman yang tersisa jatuh berlutut sambil memegangi telinga mereka yang berdarah.

"A-apa ini...?" Ingvild terengah, air mata mulai mengalir di pipinya saat ia merasakan kekuatan yang selama ini menekannya kini justru mengalir keluar seperti bendungan yang runtuh.

"Ini adalah suaramu yang sebenarnya," ucap Riser. "Keluarkan. Jangan ditahan. Biarkan mereka mendengar simfoni sang penguasa laut."

Ingvild menarik napas dalam, dan tanpa sadar, ia melepaskan sebuah teriakan melodi yang sangat indah namun mematikan. Gelombang suara biru transparan menyebar secara melingkar, menghancurkan sisa-sisa dinding bangunan yang sudah rapuh dan membuat para preman itu pingsan seketika akibat guncangan saraf.

Setelah gelombang itu mereda, Ingvild lemas dan hampir jatuh, namun Riser dengan sigap menangkap tubuhnya, mendekapnya erat. Ingvild bersandar di dada Riser, menghirup aroma api dan kegelapan yang entah kenapa terasa sangat menenangkan baginya.

"Kau melakukannya dengan baik, Ratuku," bisik Riser di telinganya.

[ Hubungan Variabel: Ingvild Leviathan ]

[ Loyalitas: 35% (Meningkat Drastis) ]

[ Status: Terikat Takdir ]

Yubelluna muncul dari balik bayangan, menatap pemandangan itu dengan mata yang sulit diartikan. Ia melihat bagaimana tuannya memeluk wanita asing itu dengan penuh proteksi—sebuah pemandangan yang jarang terjadi.

"Tuanku, area ini akan segera dikepung oleh penjaga ibukota karena ledakan suara tadi," lapor Yubelluna dengan nada datar yang profesional.

"Kita bawa dia pulang," jawab Riser tanpa melepaskan Ingvild. "Kastel Phenex akan menjadi panggung barunya. Siapkan kamar terbaik, dan Shizuka harus segera memeriksa kondisinya begitu kita sampai."

Riser menunduk, melihat Ingvild yang kini tertidur lelap di pelukannya akibat kelelahan pasca-aktivasi kekuatan. Dengan satu kepakan sayap api biru yang megah, Riser menghilang dari gang tersebut, meninggalkan kehancuran dan legenda baru yang akan segera menghantui telinga para tetua dewan.

1
SR07
plot nya kok kaya mundur ya?
SR07
bukannya udh gabung sama rias ya? atau di episode awal gue salah baca?
SR07
esdeath kemana dah?
SR07
cemburu Ama bocah🤣
SR07
intinya cemburu
SR07
awokawokawok 🤣
SR07
ada yang cemburu nih🤣
SR07
Yui cemburu 🤣
SR07
up lagi bro
mutia
sistemnya agak serem ya😂
SR07
jir galaknya 🤣
SR07
ngobrol Ama bantal guling gak tuh wkwkwk 🤣
SR07
system nya galak amat dah🤣
Muhd Zulfitri
thor buat anime cheined Soldier /Pray/
RavMoon: saya akan mempertimbangkan nya setelah proyek ini berjalan setengahnya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!