"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Gladis membanting tubuhnya ke lantai kamar, tangannya gemetar hebat saat meraih ponsel dari saku.
Dengan harapan terakhir yang tersisa, ia mendial nomor Alex.
“Angkat, Lex. Tolong angkat...” bisiknya lirih di sela isak tangisnya.
Nada sambung terdengar membosankan, satu kali, dua kali, hingga akhirnya terputus ke kotak suara.
Gladis mencoba untuk menghubungi Alex, namun kekasih yang ia bangga-banggakan itu tetap tidak memberikan jawaban.
Pria itu seolah hilang ditelan bumi tepat di saat Gladis paling membutuhkannya.
Gladis tidak menyadari bahwa di lantai bawah, Arkan sedang duduk di depan laptopnya dengan ekspresi dingin.
Sebuah perangkat lunak penyadapan sedang terbuka, menampilkan setiap aktivitas ponsel Gladis secara real-time. Arkan melihat nama "Alex" berkedip berkali-kali di layarnya.
Arkan menutup laptopnya dengan dentuman pelan.
Ia berdiri, rahangnya mengeras. Langkah kaki pantofelnya yang berat mulai menaiki tangga spiral satu per satu, menciptakan irama yang mencekam di keheningan malam.
Ceklek!
Arkan membuka pintu kamar Gladis tanpa mengetuk.
Ia mendapati Gladis sedang duduk bersimpuh di lantai di depan koper yang masih setengah kosong, ponsel masih menempel di telinganya.
"Dia tidak akan mengangkatnya, Gladis," suara bariton Arkan menggema di ruangan itu.
Gladis tersentak kaget dan hampir menjatuhkan ponselnya.
"Apa maksudmu? Kamu tahu aku meneleponnya?"
Arkan melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, dan bersedekap.
"Aku tidak membiarkan aset berhargaku berkomunikasi dengan orang asing tanpa pengawasanku. Ponselmu sudah berada di bawah kendaliku."
Gladis berdiri dengan cepat, matanya menyala karena amarah.
"Kamu menyadap ponselku?! Kamu benar-benar gila, Arkan! Itu privasiku!"
"Privasimu berakhir saat kamu menjadi istriku," sahut Arkan datar.
Ia berjalan mendekat, merampas ponsel dari tangan Gladis sebelum gadis itu sempat bereaksi.
Arkan menatap layar ponsel itu sesaat, lalu memasukkannya ke dalam saku celananya sendiri.
"Hentikan harapan kosongmu pada pria itu. Dia sedang sibuk dengan wanita lain saat ini, Gladis. Aku punya fotonya jika kamu ingin melihat seberapa 'setia' calon yang kamu banggakan itu."
Gladis terdiam, tenggorokannya terasa tercekat.
"Kamu bohong..."
"Aku tidak pernah membuang waktu untuk berbohong," Arkan menunjuk koper Gladis dengan dagunya.
"Cepat berkemas dan kita berangkat tiga jam lagi. Jika kamu masih mengharapkan Alex datang menyelamatkanmu, lupakan. Besok pagi, saat matahari terbit, jarak antara kamu dan dia adalah ribuan mil laut."
Arkan berbalik menuju pintu, namun ia berhenti sejenak dan menoleh.
"Dan satu hal lagi. Jangan mencoba menyembunyikan apa pun dariku. Di atas kapal pesiar nanti, aku bukan hanya suamimu, tapi aku adalah Kapten bagi setiap orang di sana. Tidak ada sudut gelap yang tidak bisa kujangkau."
Pintu tertutup kembali, meninggalkan Gladis yang kini benar-benar merasa lumpuh.
Ia menatap koper di depannya dengan pandangan kosong.
Pelabuhan, laut lepas, dan sembilan bulan bersama pria yang mengontrol setiap embusan napasnya.
Gladis menyadari, pelayarannya menuju "neraka" baru saja dimulai.
Detik demi detik berganti dan ia harus masuk ke dalam mobil.
Mobil SUV itu meluncur membelah kegelapan fajar menuju Pelabuhan Tanjung Priok.
Cahaya lampu jalan yang masuk melalui kaca mobil sesekali menerangi wajah Gladis yang sembap.
Ia terus menghapus air matanya dengan punggung tangan, namun isakannya tak kunjung reda.
"Sembilan bulan di laut..." gumam Gladis pelan, hampir seperti bisikan putus asa.
Matanya menatap kosong ke arah luar, membayangkan daratan yang sebentar lagi akan hilang dari pandangannya.
Bagi Gladis, ini bukan perjalanan wisata, melainkan masa pembuangan.
Arkan, yang duduk di balik kemudi dengan seragam kapten yang kaku dan berwibawa, tetap menatap lurus ke depan. Sorot matanya sedingin es yang membelah samudera.
"Simpan tangisanmu, Gladis. Kita hampir sampai," ucap Arkan, suaranya berat dan penuh otoritas.
Saat gapura pelabuhan mulai terlihat, Arkan memperlambat laju mobilnya.
Ia menoleh sedikit ke arah Gladis, memberikan tatapan peringatan yang tajam.
"Dan satu hal penting. Jangan lupa rahasiakan pernikahan kita di pelabuhan dan di atas kapal nanti," ucap Arkan tegas.
"Kenapa? Tadi kamu bilang kamu bangga memegang kendali atas hidupku? Sekarang kamu malu mengakuiku?"
"Ini bukan soal malu, Gladis. Di atas kapal itu, aku adalah Kapten. Jika kru tahu aku membawa istri muda di bawah tekanan seperti ini, itu akan merusak disiplin mereka. Secara sosial, kamu tetap anak asuhku yang ikut berlayar untuk studi. Paham?"
Gladis tertawa getir, suaranya terdengar menyakitkan.
"Jadi, aku adalah istri di kamar, tapi orang asing di depan semua orang? Kamu benar-benar licik, Arkan."
"Itu disebut profesionalisme, Gladis. Sekarang, perbaiki wajahmu. Aku tidak ingin orang-orang melihat nakhoda mereka membawa beban yang cengeng ke atas dek."
SUV itu berhenti tepat di depan dermaga tempat Ocean Empress bersandar.
Raksasa besi setinggi gedung sepuluh lantai itu tampak megah dengan lampu-lampu yang masih menyala.
Puluhan petugas pelabuhan dan kru kapal yang melihat mobil Arkan langsung berdiri tegak, memberikan hormat sempurna.
Arkan turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Gladis.
"Turun. Dan ingat apa kataku tadi. Panggil aku 'Kapten' atau 'Ayah' seperti biasanya jika ada orang lain. Satu kata saja bocor tentang status kita, aku akan memastikan kamu tidak akan keluar dari kabin selama sisa pelayaran ini."
Begitu kaki Arkan menyentuh dek pelabuhan, suasana di sekitar dermaga seolah membeku.
Puluhan anak buahnya, mulai dari mualim hingga kru dek, langsung berbaris rapi membentuk lorong kehormatan.
"Selamat pagi, Kapten!" seru mereka serempak dengan suara yang lantang dan tegas.
Mereka memberikan hormat sempurna, tangan kanan mereka menempel di kening dengan tubuh tegap tanpa cela.
Arkan tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk singkat, wajahnya yang kaku terlihat semakin berwibawa di bawah sinar lampu dermaga yang temaram.
Auranya benar-benar berbeda, ia bukan lagi pria yang berdebat di apartemen, melainkan seorang pemimpin tertinggi yang memegang nyawa ribuan orang di tangannya.
"Selamat pagi. Pastikan semua logistik sudah naik. Kita angkat sauh tepat pukul lima tiga puluh," jawab Arkan dengan suara bariton yang menggema, tanpa menghentikan langkahnya.
Seorang mualim satu mendekat, memberikan laporan singkat sambil sesekali melirik Gladis yang berjalan lesu di belakang Arkan.
"Semua siap, Kapten. Tapi, apakah ini nona Gladis? Puteri mendiang Pak Hendra?" tanya mualim itu dengan nada sopan dan penuh rasa ingin tahu.
Arkan berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Gladis yang matanya masih sembap.
"Ya. Dia akan ikut bersama kita selama sembilan bulan ke depan untuk observasi studi. Pastikan tidak ada kru yang mengganggunya. Perlakukan dia dengan hormat, tapi tetap awasi agar tidak masuk ke area mesin tanpa izin," ucap Arkan berbohong dengan sangat lancar, tanpa keraguan sedikit pun.
"Siap, Kapten! Selamat datang kembali, Nona Gladis," ucap anak buah Arkan sambil membungkuk hormat.
Gladis hanya mengangguk lemah, tenggorokannya terasa tersumbat.
Ia ingin sekali berteriak bahwa pria di sampingnya ini telah memaksanya menikah, tapi ia teringat ancaman Arkan di mobil tadi. Arkan adalah
"Tuhan" di sini, dan tidak akan ada yang berani melawannya.
"Bawa koper-kopernya langsung ke kabin saya," perintah Arkan pada anak buahnya yang lain.
"Kabin Kapten, Pak? Bukan di kabin tamu?" tanya salah satu kru sedikit bingung.
Mata Arkan menyipit tajam, membuat kru tersebut langsung tertunduk ketakutan.
"Kabin saya cukup luas untuk menjaganya tetap dalam pengawasan ketat. Ada masalah?"
"Ti-tidak, Kapten! Segera dilaksanakan!"
Arkan kembali berjalan, dan kali ini ia mencengkeram lengan Gladis, menuntunnya menaiki tangga gang way kapal yang tinggi.
Gladis merasa seperti tawanan yang sedang digiring masuk ke dalam sel penjara yang terapung di atas laut.
lanjut💪💪
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget