Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelisah Part 2.
Hari ketiga tanpa kabar terasa lebih berat dari dua hari sebelumnya.
Aku tidak lagi sering membuka ponsel, tapi justru itu yang membuat pikiranku ke mana-mana. Setiap notifikasi lain masuk, iklan, pesan tidak penting dadaku selalu sempat berharap sepersekian detik sebelum akhirnya jatuh lagi.
Pagi itu aku duduk di meja makan bersama Arven. Televisi menyala seperti biasa. Ia sedang menuangkan kopi ke cangkirku, gerakannya terlihat sangat tenang.
Melihat nya membuatku berusaha untuk ikut tenang.
Sampai suara pembawa acara terdengar.
"Pemirsa, kami awali berita pagi ini dengan informasi terbaru. Telah ditemukan sesosok mayat seorang wanita pada hari Senin, 18 Agustus 2025, di sebuah kawasan pemukiman-"
Tanganku membeku di udara.
Sendokku berhenti tepat sebelum masuk ke mulut.
Aku menoleh ke televisi. Gambar di layar menampilkan garis polisi, mobil ambulans, wajah-wajah orang yang direkam dari jauh. Tidak ada nama, tidak ada wajah korban, tapi kepalaku sudah lebih dulu dipenuhi kemungkinan terburuk.
"Korban diduga meninggal dunia akibat bunuh diri. Hingga saat ini pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan-"
Napasku rasanya tertahan di tenggorokan.
'Tidak! Jangan ke situ! Jangan langsung ke situ.' Tapi pikiranku tidak mau mendengarkan.
'Tiga hari, tidak ada kabar, tidak ada balasan.' Pikiranku terus berkecamuk.
Tanganku mulai gemetar. Aku meletakkan sendok, meraih ponsel dengan gerakan tergesa. Jari-jariku dingin saat menekan nama Maya.
Arven memanggil namaku pelan, tapi aku sudah menempelkan ponsel ke telinga.
Berdering.
Satu kali.
Aku menahan napas.
Dua kali.
"Angkat...," bisikku hampir tanpa suara hampir seperti doa.
Tiga kali.
Tidak ada jawaban.
Aku menelpon lagi, lebih cepat, lebih panik, seolah kecepatan itu bisa mengubah hasilnya.
Berdering.
Dadaku terasa seperti ditekan dari dalam. Aku menurunkan ponsel, pandanganku mulai kabur.
"Seren," suara Arven sekarang tepat di depanku.
Aku tidak sempat menjawab. Kepalaku sudah dipenuhi bayangan-bayangan yang tidak ingin kupikirkan. Bagaimana kalau itu Maya. Bagaimana kalau aku terlambat. Bagaimana kalau tiga hari ini adalah tanda.
"Seren," ulangnya, lebih lembut.
Ia menarik kursiku mendekat, lalu berjongkok di depanku. Kedua tangannya memegang tanganku yang gemetar, ibu jarinya mengusap punggung tanganku pelan, berulang.
"Lihat aku," katanya.
Aku mencoba melihat matanya yang tenang.
"Itu belum tentu dia," ucapnya pelan, tegas tapi tidak memaksaku untuk percaya. "Berita itu tidak menyebut nama Maya kan? belum tentu itu dia."
"Tapi dia nggak pernah ngilang gini," suaraku pecah. "Aku emang nggak inget banyak soal masa lalu, Ven, tapi aku yakin dia orangnya nggak kayak gini."
Arven tidak memotong. Ia membiarkanku bicara.
"Dia ceria. Bahkan pas chat terakhir itu, dia cerita banyak hal. Orang kayak dia nggak mungkin tiba-tiba diem."
Tanganku mencengkeram lebih erat.
"Aku takut," kataku jujur.
Ia berdiri, lalu menarikku ke dalam pelukannya. Kali ini erat. Lengannya melingkar di punggungku, satu tangannya menekan kepalaku ke dadanya, seperti ingin melindungiku dari semua suara di luar.
"Aku tahu," katanya rendah. "Aku di sini."
Ia mengusap punggungku perlahan, ritmenya konsisten, menenangkan. Aku bisa mendengar detak jantungnya, sedikit lebih cepat dari biasanya, tapi stabil. Seolah ia sengaja menahannya agar aku bisa bersandar.
"Kalau mau nelpon lagi, nggak apa-apa," lanjutnya. "Kalau mau nangis juga nggak apa-apa."
Aku menggeleng pelan di dadanya. "Aku cuma pengen dia jawab."
Ia tidak bilang apa-apa. Hanya memelukku lebih erat.
Televisi masih menyala. Arven meraih remot dan mematikannya tanpa melihat, lalu kembali memelukku seolah dunia luar tidak perlu masuk dulu.
Aku menutup mata.
Di antara hangat tubuhnya dan suara napasnya yang dekat, kepanikanku sedikit mereda. Tapi kekhawatiran itu tidak hilang. Aku nggak ingat kapan tepatnya tangisku berhenti. Yang aku tahu, napasku sudah lebih teratur, dan tanganku masih berada di genggaman Arven.
"Kita keluar sebentar, ya," katanya akhirnya, suaranya rendah dan tenang. "Nggak jauh. Cuma biar kepalamu nggak muter terus."
Aku mengangguk. Hari itu, aku nggak merasa keberatan mengikuti ajakannya.
Kami pergi ke sebuah tempat umum yang terbuka semacam area pejalan kaki dengan kafe kecil dan lampu-lampu gantung. Ada suara orang berbincang, tawa kecil, musik pelan dari kejauhan.
Begitu melangkah keluar dari mobil, Arven langsung mengalungkan jaketnya ke bahuku.
"Biar hangat," katanya singkat, seolah itu hal paling wajar di dunia.
Aku tersenyum tipis. Hal-hal kecil seperti itu selalu berhasil membuat dadaku sedikit lebih hangat.
Kami berjalan berdampingan. Tangannya tidak menggenggam tanganku penuh, hanya jari kelingking yang sengaja menyentuh. Tapi sentuhan kecil itu cukup membuatku fokus ke sini, ke sekarang, bukan ke ponsel yang sejak tadi menghantui pikiranku.
Arven beberapa kali mengajakku berhenti beli minuman hangat, duduk sebentar, melihat orang-orang lalu lalang. Ia tidak memaksaku bicara, tapi selalu ada disampingku. Bahunya jadi tempatku bersandar ketika pikiranku mulai kosong lagi.
"Tarik napas," bisiknya ketika ia merasa tubuhku kembali tegang. "Aku di sini."
Aku menurut. Dan untuk beberapa menit, aku benar-benar lupa kenapa dadaku tadi terasa sesak.
Sampai akhirnya aku melihat seseorang.
Awalnya aku ragu. Tapi semakin dekat, aku semakin yakin. Langkah kakiku melambat begitu wajah itu terasa familiar.
Aku ingat jelas. Ingatan itu datang tanpa perlu dipaksa.
Hari itu saat pertama kali kami bertemu di Indomaret Maya tersenyum lebar, menggandeng seorang pria di sampingnya.
"Ini Gio," katanya waktu itu. "Tunangan aku."
Dadaku terasa mengencang.
"Kamu kenapa?" tanyanya pelan.
"Itu..." Aku menelan ludah. "Itu tunangannya Maya."
Arven mengikuti arah pandangku. Tangannya refleks meraih pergelangan tanganku, untuk menenangkanku
"Kamu mau tanya?" katanya, seolah sudah tahu isi kepalaku.
Aku mengangguk. Ada sesuatu yang tiba-tiba hidup di dadaku. Harapan kecil. Mungkin Maya baik-baik saja. Mungkin ada penjelasan atas semua yang terjadi 3 hari terakhir.
Aku mendekat lebih dulu. Arven tetap di sampingku.
Aku mendekat satu langkah.
"Mas Gio, ya?" suaraku keluar lebih pelan dari yang kuharapkan. "Tunangan Maya, kan?"
Ia menoleh.
Butuh beberapa detik sebelum ia benar-benar menatapku. Wajahnya berubah perlahan dari netral, menjadi terkejut.
"Iya mbak," jawabnya akhirnya. Suaranya rendah.
Aku menarik napas, berusaha tetap berdiri tegak. "Aku Seren. Temannya Maya."
Matanya berkedip cepat. Ada jeda yang panjang sebelum ia merespons.
"Maya nggak bisa dihubungi," lanjutku, kali ini lebih hati-hati. "Biasanya dia selalu ngabarin. Aku cuma pengen mastiin dia baik-baik aja."
Aku berharap ia akan tersenyum. Mengangguk. Mengatakan Maya sibuk, atau lupa membawa ponsel, atau apa pun selain ekspresi itu.
Tapi yang kulihat justru sebaliknya.
Wajah Gio runtuh pelan. Aku merasakan jari Arven menguat di tanganku.
Gio menghela napas panjang, berat. Ketika ia bicara, suaranya bergetar, hampir tak terdengar di tengah keramaian yang tiba-tiba terasa jauh.
"Maya..udah nggak ada, mbak."