Kisah Pencinta Yang Asing
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Yang Terbakar
Kegilaan Chelsea Van Der Wood telah mencapai titik nadir. Merasa terhina karena Max lebih memilih wanita yang tengah mengandung daripada kekuasaan yang ia tawarkan, Chelsea berusaha menjebak Max dalam sebuah pertemuan bisnis palsu di sebuah hotel penthouse tertutup.
Obat itu bekerja dengan sangat cepat. Max merasakan suhu tubuhnya meningkat drastis, keringat dingin membasahi kemejanya, dan jantungnya berdegup seperti genderang perang. Pandangannya mulai kabur, namun saat Chelsea mendekat dengan gaun tidur tipis dan mencoba menyentuhnya, trauma dan cinta Max pada Guzzel menciptakan benteng pertahanan yang luar biasa.
"Jangan... sentuh... aku!" geram Max, mendorong Chelsea hingga wanita itu tersungkur. Dengan sisa kesadaran yang menipis, Max berhasil keluar dari ruangan itu, tersandung-sandung menuju lift, dan memerintahkan supirnya untuk membawanya ke satu-satunya tempat yang ia tuju, Apartemen Guzzel.
Guzzel terkejut saat mendengar gedoran pintu yang brutal tengah malam itu. Begitu pintu dibuka, Max nyaris jatuh menimpanya. Napas Max panas, matanya merah padam oleh gairah yang dipaksakan oleh kimia.
"Max? Kau mabuk?" Guzzel panik, ia menuntun Max ke tempat tidur.
"Guzzel... Chelsea... dia memberiku sesuatu," rintih Max. Ia merobek dasinya, kancing kemejanya terlepas satu per satu. Tubuhnya yang atletis tampak tegang, otot-ototnya menonjol akibat tekanan obat yang memaksa hormonnya meledak. "Aku butuh kau. Kumohon, Guzzel... hanya kau yang bisa menyentuhku."
Guzzel mundur selangkah, tangannya melindungi perutnya yang sudah besar di usia enam bulan. "Tidak, Max. Tidak dalam kondisi seperti ini. Kau sedang di bawah pengaruh obat, kau tidak sadar!"
Namun Max sudah berada di ambang batas kesabaran. Pengaruh obat itu membuat setiap sel di tubuhnya berteriak menuntut pelepasan. Ia merangkak mendekati Guzzel, suaranya parau dan penuh tuntutan. "Aku sadar siapa kau! Kau Guzzel-ku, Lia-ku... kumohon, bantu aku, aku akan berusaha Pelan"
Guzzel tetap menolak, ia takut guncangan emosional dan fisik akan membahayakan kandungannya. Melihat penolakan itu, Max yang frustrasi meraih tangan Guzzel.
Dengan napas terengah di leher Guzzel, ia memohon. "Jika kau tidak ingin aku masuk... setidaknya gunakan tanganmu. Tolong aku, atau aku akan gila."
Melihat penderitaan Max yang luar biasa, Guzzel akhirnya luluh. Dengan tangan yang gemetar, ia mencoba memuaskan Max. Namun, setelah beberapa saat, Max merasa itu tidak cukup. Gairah yang dipicu obat itu terlalu besar untuk sekadar diselesaikan dengan tangan.
Max menangkap kedua tangan Guzzel, menguncinya di atas bantal. Ia menatap mata Guzzel dengan pandangan yang dalam, mencampurkan nafsu yang membara dengan kasih sayang yang manipulatif namun romantis.
"Guzzel... lihat aku," bisik Max, suaranya rendah dan sangat menggoda. Ia mengusap perut Guzzel dengan lembut, seolah-olah sedang berkomunikasi dengan janin di dalamnya. "Kau dengar itu? Anak kita... dia merindukan Daddy-nya. Dia ingin Daddy-nya berkunjung dan menyapanya lebih dekat."
Guzzel menarik napas tajam. "Max, jangan bawa-bawa bayi kita untuk ini..."
"Tapi dia benar-benar merindukanku, Lia," rayu Max lagi, kini ia menciumi sepanjang garis rahang Guzzel, memberikan sensasi panas yang membuat pertahanan Guzzel mulai runtuh.
"Mommy-nya sangat pelit malam ini. Padahal Daddy sedang kesakitan. Katakan pada Mommy-mu agar membiarkan Daddy masuk sebentar saja... hanya untuk menyapa jagoan kecil kita."
Rayuan itu, digabungkan dengan ingatan akan malam-malam panas mereka di Paris, akhirnya membuat Guzzel pasrah. Ia tidak bisa lagi menolak pria yang tengah berjuang melawan pengaruh obat demi tetap setia padanya. Guzzel membuka kakinya perlahan, memberikan izin yang paling dinanti Max.
Penyatuan itu terjadi dengan sangat intens dan lambat. Max bergerak dengan kehati-hatian yang luar biasa meski tubuhnya sedang dipacu oleh obat. Ia memastikan posisinya tidak menekan perut Guzzel, namun tetap memberikan penetrasi yang dalam dan penuh perasaan.
"Oh, Guzzel..." rintih Max saat ia akhirnya menyatu sepenuhnya. Rasa sakit dari obat itu seketika berganti dengan kenikmatan yang murni.
Setiap gerakan Max adalah sebuah pemujaan. Ia menciumi perut Guzzel di sela-sela penyatuan mereka, membisikkan janji-janji cinta yang membuat Guzzel merasa begitu dihargai. Suasana kamar itu menjadi sangat panas, dipenuhi suara napas yang memburu dan rintihan nikmat. Guzzel, yang awalnya menolak, kini justru terbuai dalam ritme yang diciptakan Max.
Ia merasakan bayi dalam kandungannya bergerak, seolah-olah benar-benar menyadari kehadiran sang ayah yang begitu dekat.
Max tidak berhenti. Ia memuaskan Guzzel berkali-kali, memastikan bahwa istrinya merasakan puncak yang sama sebelum ia membiarkan dirinya sendiri lepas.
Di bawah pengaruh obat yang perlahan mulai memudar dan digantikan oleh kelelahan yang nikmat, Max terus membisikkan kata-kata manis.
"Kau lihat? Dia tenang sekarang karena aku sudah di sini," bisik Max setelah mereka mencapai puncak bersama. Ia berbaring di samping Guzzel, memeluk perut besar itu dengan posesif. "Terima kasih telah menyelamatkanku, Lia. Terima kasih telah membiarkan Daddy masuk."
Malam itu, kegilaan Chelsea justru berakhir dengan mempererat ikatan batin antara Max, Guzzel, dan calon anak mereka. Max membuktikan bahwa sekuat apa pun obat yang diberikan, cintanya pada Guzzel adalah penawar yang paling ampuh. Guzzel tertidur dalam dekapan Max, merasa benar-benar utuh, sementara Max bersumpah dalam hati bahwa esok hari, Chelsea Van Der Wood akan membayar mahal atas setiap tetes keringat dan penderitaan yang ia alami malam ini.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading 😍