NovelToon NovelToon
Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ibu Mertua Kejam / Anak Yatim Piatu / Action / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Santet Elit

Malam di High Tower tidak pernah benar-benar sunyi, namun kegelapan kali ini terasa memiliki berat yang tidak wajar. Di dalam kamar pribadinya, Nayara duduk bersimpuh di atas sajadah kecil yang ia bawa dari panti asuhan. Jemarinya bergerak ritmis meraba butiran tasbih kayu yang permukaannya sudah halus dimakan usia. Setelah ketegangan di depan ribuan kilatan kamera pada konferensi pers siang tadi, ia merasa gedung ini semakin asing, seolah-olah setiap sudut marmer putihnya menyimpan mata yang mengintai.

"Ya Allah, berikan hamba kekuatan untuk menjaga martabat ini," bisik Nayara, suaranya parau.

Tiba-tiba, lampu kristal di langit-langit berkedip sekali, lalu padam total. Kegelapan pekat langsung menyergap, menyisakan hanya cahaya rembulan yang masuk melalui jendela kaca besar. Nayara terdiam, napasnya tertahan. Ia merasakan suhu ruangan merosot drastis hingga napasnya mengeluarkan uap putih yang tipis. Di tengah keheningan itu, bau pengharum ruangan lemon yang segar mendadak menghilang, digantikan oleh aroma kemenyan yang tajam dan bau anyir yang menusuk indra penciumannya.

"Siapa di sana?" tanya Nayara, suaranya bergetar namun tetap berusaha tegar.

Tidak ada jawaban, hanya suara gesekan kuku yang halus di balik dinding marmer yang mahal. Nayara mencoba berdiri, namun kakinya terasa sangat berat, seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang mencengkeram pergelangan kakinya ke lantai.

Di ruangan lain, Arkananta sedang duduk di balik meja jati ruang kerjanya, menatap laporan intelijen tentang pengadaan logistik panti asuhan yang baru saja dikirim oleh Bayu. Tiba-tiba, Arkan mencengkeram dadanya. Paru-parunya mendadak kosong, dan rasa dingin yang membekukan merambat cepat di sepanjang tulang belakangnya.

"Tuan Arkan? Anda baik-baik saja?" Bayu yang berdiri di depannya segera melangkah maju dengan wajah waspada.

"Ambilkan oksigen... aku harus menggunakan napas manual, Bayu," Arkan terengah, wajahnya memucat seketika saat pendarahan kecil mulai muncul di gusinya—efek absorbsi paksa. "Nayara. Ada sesuatu yang terjadi pada Nayara. Sifat pendingin Terra tidak ada di sini untuk meredamnya."

"Saya akan periksa ke kamar Nyonya sekarang," ucap Bayu tegas.

"Siapkan unit intelijen. Ini bukan sabotase teknis. Aku merasakan distorsi frekuensi... kegelapan ini sangat pekat," Arkan berdiri dengan rahang mengeras, buku jarinya memutih mencengkeram tepian meja.

Arkan memejamkan mata, mencoba memfokuskan sisa tenaganya pada resonansi yang mereka miliki. Penglihatannya yang tadi tajam mendadak berubah menjadi abu-abu, sebuah fenomena yang membuatnya seolah-olah melihat apa yang dilihat Nayara dalam kegelapan. Di dalam kepalanya, ia mendengar bisikan-bisikan parau yang menyebut nama Nayara dengan nada penuh kebencian.

Kembali di kamar Nayara, sebuah bayangan hitam mulai mewujud di sudut ruangan, bergerak mendekat dengan gerakan yang tidak alami. Nayara merasakan lehernya semakin tercekik, persis seperti sensasi yang ia alami saat konferensi pers tadi, namun kali ini jauh lebih kuat dan nyata.

"Pergi! Jangan mendekat!" Nayara berteriak, jemarinya semakin erat menggenggam tasbihnya hingga butiran ketiga yang retak itu terasa menusuk kulitnya.

"Gadis miskin... kamu hanya noda..." sebuah bisikan terdengar tepat di telinganya, meski tidak ada orang di sana.

"Saya bukan noda!" Nayara memejamkan mata dengan rapat, lalu mulai melafalkan sholawat dengan kecepatan yang meningkat sebagai refleks pertahanan batin. "Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad..."

Saat kalimat itu keluar dari bibirnya, Nayara merasakan panas yang membakar di matanya. Ia terpaksa membuka mata, dan kali ini, dunianya tidak lagi gelap. Ia melihat aliran energi hitam yang keluar dari balik pot bunga hias di sudut kamar—sebuah benda santet yang ditanam secara sistematis. Itulah saat pertama kali ia menggunakan Cursed Eye of the Truth secara sadar, melihat kebohongan yang disembunyikan dalam bentuk energi ghaib.

"Bayu, dobrak protokol isolasi. Bawa aku ke sana sekarang!" perintah Arkan di ruang kerja, ia mencoba berdiri meski kakinya gemetar akibat beban energi Void yang ia serap dari Nayara.

"Tapi Tuan, kondisi Anda—sistem saraf Anda bisa terganggu," Bayu memperingatkan secara taktis.

"Eksekusi perintahku, Bayu! Nayara sedang bertarung sendirian. Jika aku tidak datang, energi hampa ini akan melumatnya sebelum matahari terbit!" Arkan membentak, suaranya menggelegar meski napasnya masih terputus-putus.

Arkan melangkah keluar dari ruang kerja dengan bantuan Bayu, setiap langkahnya terasa seperti menginjak duri besi. Ia tahu bahwa serangan ini adalah balasan dari Nyonya Besar melalui Kyai Hitam atas keberanian Nayara sebelumnya. Martabat istrinya sedang diuji dengan cara yang paling kotor, dan Arkan tidak akan membiarkan satu pun energi gelap itu menyentuh jiwa Nayara tanpa melewati tubuhnya terlebih dahulu.

Di depan pintu kamar Nayara yang terkunci otomatis, Arkan memukul pintu itu dengan tinjunya. "Nayara! Buka pintunya!"

Tidak ada jawaban dari dalam, hanya suara rintihan tertahan dan aroma kemenyan yang semakin kuat hingga menembus celah pintu. Arkan merasakan ulu hatinya semakin melilit, menandakan bahwa Nayara sedang berada di titik nadir pertahanannya.

"Bayu, hancurkan kuncinya!" seru Arkan dengan mata yang mulai berkilat penuh amarah.

Di dalam kamar, Nayara terus menatap titik energi hitam itu dengan mata yang kini berwarna keemasan redup. Ia melihat benang-benang hitam yang mengikat napasnya. Dengan sisa tenaganya, ia mengarahkan tangannya ke arah pot bunga tersebut.

"Hancur..." bisik Nayara pelan.

Seketika, pot bunga itu pecah berantakan tanpa disentuh. Di saat yang sama, pintu kamar terbuka hancur. Arkananta masuk dan langsung menerjang ke arah Nayara, menangkap tubuh gadis itu tepat sebelum Nayara jatuh pingsan karena energinya terkuras habis.

"Jangan lepaskan lenganku, Nayara. Tatap aku... biarkan aku mengambil sisa racun ini dari paru-parumu," Arkan mendekap kepala Nayara di dadanya, mengabaikan rasa dingin yang kini berpindah sepenuhnya ke tubuhnya sendiri.

Nayara membuka matanya sedikit, melihat wajah Arkan yang penuh dengan keringat dingin. "Arkan... baunya... sangat busuk. Seperti kematian yang dipaksakan."

"Aku merasakannya juga. Tidurlah. Di tempat ini, setiap napasmu adalah kedaulatanku. Tidak ada yang boleh menyentuhmu lagi," bisik Arkan, suaranya melunak sepenuhnya dalam protokol resonansi.

Arkan menatap sekeliling kamar yang berantakan, lalu matanya tertuju pada pecahan pot bunga yang mengeluarkan cairan hitam berbau busuk. Ia tahu ini adalah serangan ghaib tingkat elit. Ia menoleh pada Bayu yang berdiri di pintu dengan wajah tegang.

"Amankan sampel itu, Bayu. Lacak frekuensi pengirimnya. Aku ingin data ini di atas mejaku sebelum fajar," perintah Arkan dengan nada taktis-efisien.

"Siap, Tuan. Apa yang harus saya lakukan dengan Nyonya Besar?" tanya Bayu.

Arkan mengeratkan pelukannya pada Nayara yang sudah tidak berdaya. "Katakan padanya, jika dia ingin bermain dengan kegelapan, aku akan memastikan kegelapan itu yang akan menelan seluruh kursi High Council terlebih dahulu."

Arkananta mengangkat tubuh Nayara dengan hati-hati, memindahkannya ke sofa besar yang jauh dari pusat ledakan energi hitam tadi. Wajah Nayara tampak pucat pasi, namun napasnya yang tadi tersengal kini mulai berangsur stabil meski masih sangat lemah. Arkan sendiri merasakan sendi-sendinya kaku, sisa-sisa energi dingin dari serangan Kyai Hitam masih bersarang di dalam aliran darahnya melalui resonansi yang mereka bagi.

"Tuan, ini adalah media kutukan Janin Kosmik yang gagal. Sepertinya energi Nyonya Nayara menghancurkannya tepat sebelum ritual ini selesai," Bayu mendekat.

Arkan menatap benda menjijikkan itu dengan mata yang mendingin. "Jadi ini alasan Nyonya Besar begitu tenang saat kita pulang dari Red Line. Dia tidak butuh kata-kata untuk menghancurkan martabat; dia cukup menggunakan tangan kotor Kyai Hitam."

"Apa kita harus memanggil tim medis keluarga?" tanya Bayu ragu.

"Jangan. Mereka adalah informan High Council. Berita tentang 'kerapuhan' Nayara adalah amunisi yang mereka cari," Arkan mengusap keningnya yang berdenyut. "Bawa air hangat dan tasbih cadangan dari ruang kerjaku. Nayara tidak boleh kehilangan jangkarnya."

Saat Bayu keluar, Nayara perlahan membuka matanya. Penglihatannya masih sedikit kabur, namun ia bisa merasakan kehadiran Arkan di sisinya bukan sebagai sosok politisi yang angkuh, melainkan sebagai pria yang benar-benar kelelahan karena menanggung rasa sakit yang sama.

"Arkan... mata saya... saya bisa melihat akar busuknya," bisik Nayara serak.

"Simpan energimu, Nayara. Di High Tower, penglihatanmu adalah senjata, tapi kesehatanmu adalah integritasku," jawab Arkan, jemarinya tanpa sadar merapikan rambut Nayara yang berantakan.

"Tidak, saya harus mengatakannya. Benang-benang hitam itu... mereka terhubung ke arah paviliun timur. Ke arah kamar Nyonya Besar," Nayara mencoba duduk meski kepalanya terasa seperti dihantam palu godam.

Arkan terdiam, rahangnya mengeras hingga otot pipinya berkedut. Dilema martabat menyelimuti benaknya; menyerang ibunya sendiri berarti menciptakan skandal besar bagi karier politiknya, namun membiarkan ini berlanjut berarti membiarkan Nayara mati perlahan.

"Kenapa Anda tidak melepaskan saya saja? Jika saya pergi ke Terra, rasa sakit di tulang rusuk Anda akan berhenti menggigil," tanya Nayara tiba-tiba, matanya berkaca-kaca menatap Arkan.

Arkan menatap Nayara tajam, matanya yang abu-abu berkilat dalam temaram cahaya lampu darurat yang baru menyala. "Dan membiarkan mereka menang? Membiarkan martabat yang kita pertaruhkan di depan media tadi siang menjadi debu?"

"Tapi ini membunuh Anda perlahan, Arkan! Anda menderita karena saya!" suara Nayara meninggi, memicu denyut perih di tulang rusuk Arkan.

"Lalu biarkan aku hancur sebagai laki-laki yang menjaga miliknya, bukan sebagai pengecut yang membuang pasangannya karena takut pada sedikit rasa sakit," balas Arkan dengan nada yang mutlak. "Di dunia politik, luka fisik itu bisa diobati. Tapi noda pada harga diri karena meninggalkan jangkar sendiri... itu adalah kematian yang sebenarnya."

Nayara tertegun. Ia meraba butiran tasbih kayu di tangannya, merasakan permukaannya yang retak. Di tengah serangan santet yang mencoba memutus nyawanya, ia justru menemukan pengakuan yang tidak pernah ia duga dari pria sedingin Arkananta.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Nyonya Besar berdiri di sana dengan gaun malam sutra berwarna marun, wajahnya tampak sangat tenang—terlalu tenang.

"Ada apa dengan keributan ini, Arkan? Dan bau apa ini? Mengapa kamar istrimu berantakan seperti gudang Forgotten Zone?" Nyonya Besar melangkah masuk dengan angkuh, menutupi hidungnya dengan sapu tangan beraroma amber.

Arkan berdiri perlahan, menghalangi pandangan ibunya dari Nayara. "Nyonya Besar, Ibu tahu persis frekuensi apa yang baru saja meledak di ruangan ini. Ini adalah bau kegagalan dari investasi metafisika yang Ibu sewa."

"Jaga bicaramu, Arkananta!" Nyonya Besar mendesis. "Aku datang ke sini karena listrik padam, bukan untuk mendengarkan delusi istrimu yang kumat."

"Listrik padam karena resonansi gelap yang Ibu tanam di sini mencapai batasnya," Arkan melangkah mendekat dalam protokol hormat-dingin. "Hormat saya pada posisi Ibu tidak akan menghalangi saya untuk menyeret Kyai Hitam ke depan dewan etik jika suhu di ruangan ini turun sekali lagi tanpa alasan."

"Kamu berani mengancam ibumu sendiri demi gadis panti ini?" wajah Nyonya Besar memerah karena amarah yang memuncak.

"Saya tidak sedang mengancam, Nyonya Besar. Saya sedang menetapkan kedaulatan baru," Arkan menunjuk ke pintu. "Keluar sekarang. Dan pastikan sarapan besok pagi disajikan tanpa ada sabotase metafisika, atau saya akan memastikan High Council kehilangan seluruh kursi parlemen mereka sebelum fajar."

Nyonya Besar mengepalkan tangannya, menatap Nayara dengan kebencian murni sebelum akhirnya berbalik dan pergi dengan hentakan kaki yang keras. Suasana kamar kembali sunyi, menyisakan bau anyir yang perlahan memudar.

Arkan kembali duduk di samping Nayara, seluruh kekuatannya seolah menguap begitu ibunya pergi. Ia menyandarkan kepalanya di bahu sofa, napasnya berat dan manual.

"Terima kasih, Arkan," bisik Nayara, meletakkan tangannya di atas tangan Arkan yang masih memutih karena cengkeraman emosi.

"Jangan berterima kasih, Nayara. Di tempat ini, setiap senyum adalah belati yang dilapisi madu. Kita baru saja menyatakan perang terbuka," jawab Arkan pelan. "Mulai besok, kita akan menggunakan 'Opsi Ketiga'."

Nayara mengangguk, ia tahu perjalanan mereka masih panjang. Sambil menggenggam tasbih kayunya, ia mulai membisikkan doa syukur. Meski High Tower adalah penjara marmer yang dingin, malam ini ia tahu bahwa di sampingnya ada seorang komandan yang tidak akan membiarkannya tenggelam dalam kegelapan sendirian.

1
Kartika Candrabuwana
iya. makasih ya.
prameswari azka salsabil
bagus arkan
prameswari azka salsabil
mantap betul
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
kasihan mereka
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
waduh pengacau lagi
prameswari azka salsabil
sabar nay
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
joss arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
mantap arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
tegar nayara
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
miga baik baik saja
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
Kartika Candrabuwana
pasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
iya betul arkan
Kartika Candrabuwana
tetao semangat arkan
Kartika Candrabuwana
bagys nayara
Kartika Candrabuwana
semangat arkan
Kartika Candrabuwana
yetap beraholawat nayara
Kartika Candrabuwana
lasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
wah ada pahar ghaib
Kartika Candrabuwana
semoga arkan dan nayara baik baik saja
Kartika Candrabuwana
jangan lupa bersholawat nayara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!