Siang itu Berlian berniat pulang kerja lebih awal, dengan tujuan untuk memberi kejutan pada sang suami. Hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang ke tujuh.
Tapi kenyataan kadang tak sesuai ekspektasi. Niat awal ingin memberi surprise, malah dirinya sendiri yang terkejut.
Berlian mendapati sang suami asyik berbagi peluh dengan adik di ranjang miliknya.
Kedua kakinya tak mampu lagi menopang badan, hatinya luruh lantak melihat kenyataan di depan mata.
"Sayang, ini tak seperti yang kamu lihat," alibi laki-laki yang menjadi suami Berlian.
Akankah Berlian tegar menghadapi atau malah hancur meratapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Again
"Loh ... Kok anda di sini?" tanya Berlian sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Tidak ada jawaban.
Tapi netra tajam yang mengarah ke arahnya membuat Berlian menunduk.
"Aawh ..", Berlian mengelus dahi yang barusan disentil olehnya.
"Sapa suruh semalam mabuk pakai acara pingsan segala?" ujarnya, reflek Berlian menutup mulutnya.
'Kok bos tahu?' batin Berlian bermonolog.
"Apa yang tidak kutahu darimu," tukasnya seolah paham jalan pikiran cewek yang berdiri di depannya ini.
"Sok-sok an pergi ke klub malam. Kalau ada masalah tuh bukan ke sana larinya. Buat repot aja," omel nya ke Berlian.
Berlian menatap netra tajam sang bos, seolah tak terima.
"Hidup... Hidup gue," umpat Berlian dalam benak. Dalam hatinya tak habis pikir, "Iya ya, kenapa gue musti ke klub malam," heran sendiri dengan pelariannya kemarin
"Ikut aku!" ajaknya tak terbantahkan.
"Kemana tuan?" tanya Berlian.
"Rapat dengan kolega bisnis," serunya.
Berlian menelisik badannya sendiri.
"Saya?" tunjuknya pada dirinya sendiri.
"Siapa lagi? Hantu?"
Berlian melihat sekeliling, cuman ada dirinya bersama sang bos.
Tak lama bibirnya cemberut, 'Enak aja disamain hantu,' kesal tanpa bisa mengutarakan.
"Tiga puluh menit lagi tak boleh telat sedetikpun, di kamarmu sudah ada baju ganti," serunya sambil berjalan menjauh.
Arah mata Berlian mengekor kemana sang bos berjalan.
Dilihatnya pria es balok itu masuk kamar tepat di sebelah kamar yang ditempati Berlian.
Berlian menepuk jidat, baru menyadari jika dirinya berada di hotel sekarang.
'Mampus, bisa-bisanya aku satu hotel dengannya. Untung aja tidak satu kamar," Berlian mengelus dada merasa lega.
Berlian kembali masuk untuk melaksanakan perintah tak terbantah.
"Harus buru-buru nih, bisa digantung gue sama bos kaku itu," gumam Berlian sambil prepare.
Berlian menemukan paper bag yang dimaksud sang bos. Bersamaan dengan itu ponsel miliknya bergetar.
"Hai sahabat tak ada akhlak. Posisi? Kamu nggak ngantor? Bisa dirujak kamu sama bos. Tiga puluh menit lagi kita diajak rapat di resto X, buruan!" suara Maura ngegas tujuh tanjakan tujuh turunan.
"Ketemu aja di lokasi. Kalau ke kantor dulu, bakalan telat," tukas Berlian menimpali.
"*Jadi ngiri aku, pilih kasih banget bos. Giliran aku t*elat, mulutnya tak berhenti berdengung. Sumbang banget," omel Maura.
Berlian tersenyum menanggapi. Berlian anggap ocehan Maura bagai kicau burung di pagi hari.
.
Berlian keluar dengan baju yang disiapkan sang bos. Kesan elegan menyatu dengan penampilan Berlian saat ini.
Nampak sang bos berdiri tegak di depan pintu kamar, seolah menunggu Berlian.
Berlian mengamati setelan yang dipakai bos nya.
"Apa dia sengaja? Biar terlihat couple?" batin Berlian mengamati penampilan sang bos dan dirinya bergantian.
"Awhhhh," Berlian cemberut karena sang bos kembali menjitak keningnya
"Hobi sekali anda melakukan KDRT," gerutu Berlian.
"Emang aku suami mu," balas sang bos dengan wajah datar.
Mendengar kata suami, membuat Berlian teringat dengan Arya plus problem-problemnya yang belum sempat terselesaikan.
"Aku harus cari bukti perselingkuhan mereka," tekad Berlian. Tak sengaja tangannya terkepal erat jika mengingat semuanya.
"Kamu mau nonjok siapa?" tanggap sang bos melihat sikap Berlian yang seperti hendak menelan orang.
"Oopppsss... Sorry Tuan," Berlian kembali ke mode awal, bersikap ramah di depan pria balok es.
.
Di lobi, Berlian berjalan beriringan dengan sang bos.
Plok.... Plok.....
Tepuk tangan terdengar di samping mereka.
"Wow.... Wow ... Tangkapan kakak nggak kaleng-kaleng....," decih kagum Intan mengamati penampilan Tuan Dominic Alexander, bos Berlian.
"Luar biasa," lanjutnya memuji.
"Kirain kakak itu istri yang jujur, setia, cinta sama mas Arya. Ternyata ....." Intan menggantung ucapannya dan meneliti tampilan Dominic dari atas ke bawah.
"Tutup mulutmu!" Berlian menatap tajam ke arah adik yang tak tahu diri itu.
"Sok suci.... ternyata najis....," ucap Intan tajam.
"Bilang apa kamu?" Berlian mendekat hendak menampar Intan.
"Nggak usah sok bersih kak. Pake nuduh mas Arya selingkuh, ternyata kakak sama saja.Sekarang aku tanya, sudah berapa laki-laki yang kamu ajak ke ranjang?" ocehan Intan membuat emosi Berlian memuncak.
Plak....
Tamparan keras mendarat di pipi Intan sampai berbekas.
"Jangan samakan aku dengan jalang seperti dirimu," kata kasar keluar dari bibir Berlian.
"Jalang teriak jalang," balas Intan tak terima.
Dominic mengamati tanpa mau ikut campur.
"Pagi-pagi keluar hotel berdua, apa itu namanya kalau bukan jalang? Sengaja tebar pesona ke pria hidung belang," imbuh Intan.
"Kurang ajar," Berlian tak terima akan hinaan Intan.
Berlian mendekat hendak menyumpal mulut sang adik yang terus memprovokasi.
Belum sampai tangannya menyentuh, Intan jatuh terduduk duluan.
"Kau....," Berlian lupa sang adik pintar bersandiwara. Kalau dia aktris, sudah dapat piala kali, sebagai ratu drama terbaik.
Di waktu yang bersamaan datang lah Arya.
"Apa yang kamu lakukan? Tega sekali pada adikmu!" Arya menatap tajam Berlian.
Berlian memutar bola matanya malas. Muak dengan situasi saat ini.
Arya meraih tangan Intan dan menolongnya.
"Sudah selesai drama kalian?" tanggap Berlian.
"Tuan Dom, maaf membuat anda menunggu," Berlian menghampiri sang bos yang berdiri tak jauh darinya.
"Mas Arya, jangan biarkan kakak pergi. Sudah ketangkep basah tuh, dia selingkuh," sela Intan ingin menghambat Berlian pergi.
Arya mengamati penampilan pria yang berdiri di samping Berlian. Auranya seakan tak tersentuh.
"Wajahnya tak asing," monolog Arya dalam benak.
"Kita pulang! Kita selesaikan masalah kita baik-baik. Jangan seperti anak kecil," Arya meraih tangan sang istri
Oleh Berlian ditepisnya tangan Arya.
"Nggak sudi," balas Berlian.
"Pulang saja sama gundikmu yang kegatelan itu," tatap sinis Berlian ke arah Intan sang adik
"Mas Arya, kakak jahat sekali padaku. Sudah ku bilang padanya, kalau kamu melakukan itu karena ada andil dia juga. Salah siapa tak bisa kasih anak," ucap Intan dengan gesture mengusap perut.
"Kita pergi tuan Dom," Berlian bersiap melangkah. Tak ingin melanjutkan drama yang kesekian kalinya.
Belum sampai kaki yang terangkat menyentuh lantai, Arya mencekal lengan Berlian dengan kuat.
"Awh... Sakit," keluh Berlian saat tangan Arya memelintir lengannya.
"Stop!" suara Dominic menggelegar.
"Laki-laki yang hebat tak akan menganiaya wanitanya," seru Dominic. Aura wajah Dominic seakan mengintimidasi Arya.
"Nggak usah ikut campur, ini urusan internal rumah tangga saya," balas Arya.
"Secara tidak langsung anda sudah melibatkan saya tuan," ucapan Dominic membuat Arya mengerutkan kening.
"Berlian adalah staf saya, dan ini jam kantor. Berlian menjadi tanggung jawab saya sekarang. Meski anda adalah suaminya. Tak boleh ada yang menganggu karyawan saya, apalagi di depan mata," tegas Dominic.
Dominic menggandeng Berlian, "Kita berangkat!" ujarnya tegas.
"Mas Arya, tuh lihat. Mana ada bos seromantis itu. Pake gandengan tangan segala," ujaran Intan masih bisa ditangkap oleh Berlian.
Arya mengepalkan erat genggamannya.
.
Hening, dingin, sepi. Berlian tak bisa menjabarkan situasi saat ini.
Berlian duduk diam di samping sang bos.
Mobil melaju perlahan keluar area hotel.
Seolah tak terjadi apapun barusan.
.
.
.
Krik.... Krik ...
😀