NovelToon NovelToon
Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Persahabatan / Perjodohan / Gadis nakal
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuan Dosen vs Nona Mahasiswa

Viona duduk di barisan tengah, berusaha menenggelamkan diri di antara kerumunan mahasiswa lainnya. Kepalanya masih sedikit berdenyut sisa hangover, ditambah lagi rasa malu yang belum hilang gara-gara insiden ciuman brutal semalam.

Namun, konsentrasinya buyar bukan karena pusing, melainkan karena suara bisik-bisik di sekitarnya.

"Gila, Pak Noah makin hari makin cakep aja."

"Denger-denger dia baru nikah ya? Beruntung banget sih istrinya."

"Duh, lihat tuh kemejanya... rapi banget. Pengen deh jadi asisten pribadinya."

Viona memutar bola matanya. Kalau kalian tahu aslinya dia bawel banget soal apapun pagi-pagi, kalian pasti mikir dua kali, batin Viona sinis sambil membolak-balik modul di depannya.

"Selamat pagi semuanya. Perkenalkan saya Noah Sebastian Willey," suara bariton Noah bergema, memenuhi ruangan kelas yang luas itu. Seketika, suasana hening. Aura Noah sebagai dosen benar-benar berbeda; dingin, otoriter, dan sangat berwibawa.

Noah berdiri di depan podium, matanya memindai seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti tepat di manik mata Viona. Ada kilatan rahasia di sana, sebuah senyum tipis yang hampir tidak terlihat yang hanya dikirimkan khusus untuk Viona.

"Materi hari ini adalah... Opportunity Recognition," kata Noah sambil menuliskan judul besar di papan tulis digital.

Noah meletakkan spidolnya, lalu bersedekap. Ia berjalan perlahan mendekati deretan kursi mahasiswa. "Dalam bisnis, mengenali peluang adalah kunci. Terkadang peluang itu datang di saat kita tidak siap, atau bahkan di saat kita sedang... tidak sadar."

Viona tersedak ludahnya sendiri. Dia beneran nyindir kejadian semalam?!

"Misalnya," Noah berhenti tepat di samping meja Viona. Bau parfum woody yang tadi pagi Viona hirup di atas kasur kini kembali memenuhi indra penciumannya. "Viona Skylar. Bagaimana menurut Anda tentang cara mengenali peluang bisnis di tengah situasi yang mendesak?"

Seluruh mata di kelas kini tertuju pada Viona.

Viona mendongak, menatap Noah dengan tatapan menantang. Oke, lo mau main-main ya, Pak Dosen?

"Menurut saya, Pak," jawab Viona dengan suara yang tegas, sengaja menekankan kata 'Pak'. "Peluang harus diambil dengan penuh kesadaran. Kalau kita ambil peluang saat sedang... 'tidak sadar', hasilnya mungkin akan berantakan dan membuat kita malu di pagi harinya. Benar begitu, Pak Noah?"

Satu kelas hening. Mereka tidak mengerti konteksnya, tapi mereka bisa merasakan ada percikan listrik yang aneh di antara dosen dan mahasiswi cantik itu.

Noah justru tersenyum miring, senyum yang membuat para mahasiswi lain menahan napas.

"Analogi yang menarik. Tapi terkadang, peluang yang diambil saat tidak sadar justru memberikan hasil yang paling... jujur. Silakan duduk, Nyonya, maksud saya, Nona Viona."

Viona duduk kembali dengan jantung yang berdebar kencang. Noah bener-bener gila. Dia berani menggoda Viona di depan ratusan pasang mata dengan cara yang paling intelektual sekaligus menyebalkan.

Kantin universitas sedang berada di puncak keramaian. Viona memilih meja paling pojok, berusaha membaur dengan segelas jus jeruk dan sepiring pasta. Ia ingin menikmati sisa siang ini tanpa gangguan, terutama setelah "serangan" mental yang Noah berikan di dalam kelas tadi.

Namun, suasana kantin yang tadinya bising mendadak mengalami vibe shift. Suara denting sendok dan obrolan mahasiswa sedikit mereda saat sosok jangkung dengan kemeja rapi masuk ke area kantin.

Noah.

Pria itu memegang map di satu tangan, sementara tangan lainnya berada di saku celana. Matanya yang tajam memindai area kantin hingga akhirnya mendarat tepat pada Viona.

Jantung Viona berdegup dua kali lebih cepat. Dari cara Noah menatapnya, ia tahu suaminya itu berniat untuk menghampirinya. Mungkin ingin menanyakan kepalanya yang pusing, atau sekadar ingin pamer kalau dia sudah membelikan makan siang.

Jangan ke sini, Noah. Jangan.

Saat Noah mulai melangkah ke arah barisan mejanya, Viona segera bertindak. Ia mengangkat gelas jusnya sedikit, lalu memberikan gelengan kepala yang sangat tipis namun tegas. Matanya memberikan isyarat 'Stay away' yang sangat jelas. Ia menunjuk sekilas ke arah kerumunan mahasiswi yang sedari tadi curi-curi pandang ke arah Noah.

Viona tidak mau menjadi sasaran empuk gosip sebagai "mahasiswi kesayangan dosen" atau lebih parah lagi, identitasnya sebagai istri Noah terbongkar sebelum ia sempat membangun reputasinya sendiri di kampus S2 ini.

Noah menghentikan langkahnya. Ia sempat diam sejenak, menatap Viona dengan tatapan yang sulit dibaca, sedikit kecewa, tapi juga terlihat gemas dengan tingkah istrinya yang seolah sedang bermain detektif-detektifan.

Noah akhirnya membelokkan langkahnya menuju stan kopi di sisi lain kantin. Namun, sebelum benar-benar menjauh, ia mengeluarkan ponselnya dari saku.

Drrt... Drrt...

Ponsel Viona di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari 'Pak Dosen':

Noah: "Oke, gue nggak akan ke sana. Tapi sebagai gantinya, nanti malam lo yang harus 'melayani' gue makan malam di rumah. Tanpa protes."

Viona mendengus kecil sambil menyembunyikan senyumnya di balik gelas jus. Ia melirik ke arah Noah yang kini sedang menunggu kopinya. Noah sempat menoleh sekilas ke arahnya, memberikan satu kedipan mata yang sangat cepat, hampir tidak terlihat oleh siapa pun kecuali Viona, sebelum akhirnya ia berjalan keluar kantin dengan wibawa dosennya yang tak tergoyahkan.

"Dasar manja," gumam Viona pelan.

"Siapa yang manja, Vio?" tiba-tiba seorang teman sekelasnya duduk di depannya, membuat Viona hampir tersedak. "Tadi lo lihat nggak? Pak Noah keren banget ya, bahkan pas cuma beli kopi doang."

Viona berdehem, berusaha menormalkan ekspresinya. "Ah, masa? Biasa aja menurut gue. Malah kelihatan ribet."

———

Dapur mewah yang tadinya terlihat seperti katalog majalah interior itu kini berubah menjadi medan perang. Asap tipis mengepul dari arah kompor, sementara aroma benda terbakar, yang seharusnya adalah ayam bumbu, menusuk hidung. Viona berdiri di tengah kekacauan itu dengan apron yang miring dan bercak saus di pipinya.

Noah menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu dapur, melipat tangan di dada sambil memandangi tumpukan penggorengan yang gosong.

"Gue lupa... lo bahkan nggak bisa bedain mana garam mana gula kalau nggak dicicipin dulu," ucap Noah datar, tapi ada nada geli yang tertahan di suaranya.

Viona menyeka dahinya dengan punggung tangan, meninggalkan noda tepung baru di sana. "Lo yang nyuruh gue layani makan malam, Noah! Sekarang lo nyesel kan? Lo pikir jadi koki itu gampang?" sahut Viona galak, meski sebenarnya dia sendiri ingin menangis melihat hasil masakannya yang lebih mirip arang daripada makanan manusia.

Noah melangkah masuk ke area dapur, mematikan sakelar exhaust fan yang berisik. Ia mengambil spatula dari tangan Viona yang tampak gemetar.

"Udahlah, kita pesen makanan aja lewat aplikasi. Lagian kalau lo jadi istri orang lain, mungkin lo udah dibuang ke laut di hari kedua pernikahan gara-gara bikin dapur orang meledak," kata Noah santai, tangannya terulur mengambil selembar tisu untuk mengusap noda di pipi Viona.

Viona tersentak pelan saat jemari Noah menyentuh kulit wajahnya. Sentuhan itu singkat, tapi hangatnya tertinggal. "Dih! Berlebihan banget lo! Gue masih ada kelebihan lain ya selain masak!"

Noah mengangkat sebelah alisnya, menatap Viona dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik yang bikin Viona salah tingkah.

"Oh ya? Apa? Selain jago bikin kerusuhan di kampus dan bikin gue hampir gila semalam di club?"

Wajah Viona langsung merah padam. Ingatan sialan itu lagi.

"Gue jago manajemen hotel! Gue pinter! Dan... gue bisa bikin lo nggak bosen, kan?" jawab Viona asal, berusaha membela harga dirinya.

Noah terdiam sejenak. Ia mendekat, memerangkap Viona di antara tubuhnya dan pinggiran kitchen island. Aroma parfum Noah yang maskulin kini bercampur dengan bau gosong, tapi entah kenapa, suasana justru terasa sangat intim.

"Bener," bisik Noah rendah. "Lo emang nggak pernah bikin gue bosen, Vio. Bahkan dari sebelum kita nikah pun, lo satu-satunya orang yang bisa bikin hidup gue nggak datar."

Viona menahan napas. Noah yang mode jujur begini jauh lebih berbahaya daripada Noah yang mode dosen galak.

"Sekarang mandi sana. Lo bau asap," potong Noah tiba-tiba, merusak suasana romantis yang baru saja terbangun. Ia menepuk puncak kepala Viona sebelum mengambil ponselnya untuk memesan makanan. "Gue pesen steak. Jangan protes soal kalori, lo butuh tenaga buat bimbingan tesis sama gue habis makan."

Viona mengerucutkan bibir, berjalan menjauh sambil menggerutu pelan. "Dasar dosen diktator. Tadi aja manis, sekarang balik lagi jadi singa."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!