“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 4
Albi menoleh ke belakang dan ternyata itu teman kuliahnya dulu. “Nando, apa kabar?” tanya Albiru kembali lalu mereka berpelukan.
“Kabar baik, bagaimana dengan pertanyaanku tadi? Di mana Alisha? Apa kalian sudah putus?” tanya Nando.
“Ya begitulah, kami sudah satu tahun lebih tidak bersama. Kau sendiri?” Albiru melirik perempuan di sebelah Nando yang menggandeng Nando dengan mesra.
“Kenalkan, dia istriku, Dila.” Dila mengulurkan tangan pada Albiru lalu pada Naya secara bergantian.
“Aku pikir kau dan Hana akan sampai pelaminan, ternyata ini jodohmu ya.” Nando terkekeh dan menepuk pundak Albi.
“Dia meninggalkan aku demi pria yang lebih baik, aku bisa apa? Tidak mungkin akan terus meratapi kepergiannya. Hidup tetap berjalan, Albi.” Albiru mencerna perkataan Nando yang mana nasib mereka sama, yaitu sama-sama ditinggalkan oleh pasangan yang sangat mereka cintai.
“Kau benar.”
Mereka berempat memilih sebuah kafe untuk mengobrol ringan dan Albiru belum memperkenalkan Naya pada Nando dan Dila.
“Siapa gadis ini? Kau belum memperkenalkan dia pada kami,” tanya Nando sambil melirik pada Naya.
“Oh ini Naya, anak dari teman papaku,” balas Albi memperkenalkan Naya.
“Teman papamu atau teman hidupmu?” ledek Nando yang membuat mereka semua tertawa.
“Jangan macam-macam kau, Nando.” Mereka semua kembali tertawa dan ada rasa beban di hati Naya mengenai jawaban dari Albi saat memperkenalkan dirinya tadi.
Setelah dua jam berbincang dan bercanda di kafe tersebut, Albi akhirnya mengajak Naya pulang ke rumah, sepanjang perjalanan. Naya hanya diam tak berisik seperti biasanya.
Albi menjadi bingung dengan perubahan sikap Naya itu, dia berkali-kali bertanya apakah Naya baik-baik saja? Dan jawaban Naya selalu singkat dengan mengatakan kalau dia tidak apa-apa.
Setibanya di rumah, Naya langsung saja memasuki kamarnya dan meninggalkan Albi begitu saja, jelas Albi merasa kalau sikap Naya berubah sejak bertemu dengan Nando tadi.
“Naya kenapa? Apa kalian bertengkar?” tanya Adipati pada Albi ketika Naya masuk kamar begitu saja.
“Aku tidak tau, Pa. Dia tiba-tiba saja begitu,” jawab Albi tenang.
Albi tak mau ambil pusing, dia menuju ke dalam kamarnya sendiri dan bersiap untuk berendam. Pembicaraan dengan Nando tadi cukup membuat dirinya sadar bahwa hidup ini terus berjalan.
“Aku tidak mungkin harus menutup hati terus, sampai kapan aku begini?” gumamnya pelan.
Saat makan malam, Naya masih mendiamkannya hingga semua orang menjadi berpikir mengenai sikap Naya itu.
“Kamu sakit, Nay?” tanya Irma dengan lembut.
“Enggak kok Tan, aku cuma capek aja.” Naya menjawab dengan senyum yang dia paksakan.
“Aku ada salah sama kamu, Nay?” tanya Albiru yang sedari tadi siang merasa tak diacuhkan oleh Naya.
“Gak ada kok Mas.”
Selesai makan malam yang tenang itu, Albiru menyampaikan kepada kedua orang tuanya kalau dia ingin menikah. Irma, Adipati, dan Naya cukup kaget dengan pernyataan Albiru tersebut, mereka tidak menyangka kalau Albiru akan membuka hatinya dan tertarik untuk menikah.
“Kamu mau menikah? Apa kamu sudah menemukan calonnya?” tanya Adipati serius.
“Sudah, Pa. Aku tidak bisa memberitahu sekarang tapi yang jelas, aku akan memberitahu secepatnya setelah aku melamar gadisku itu,” jawab Albiru mantap.
Naya semakin menunduk mendengar penuturan Albiru, dia merasa kesempatannya untuk bersama Albiru hilang sudah karena Albiru sudah memiliki gadis impiannya.
“Aku ke kamar dulu ya, Om, Tante.” Naya pergi dari ruang makan tersebut dengan hati perih, dia sudah menyukai Albiru sejak pertama melihatnya waktu pertemuan keluarga itu dan setuju dijodohkan tapi sekarang? Albiru malah ingin menikah dengan gadis lain.
Di dalam kamarnya, Naya menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan menangis sesegukan dengan wajah dia benamkan dibantal. Tak lama terdengar suara pintu berderit yang menandakan ada orang masuk, langkah kaki itu sangat dia hafal—langkah kaki Albiru yang perlahan mendekat padanya.
“Kenapa? Seharian ini sikapmu berubah padaku. Apa kamu tersinggung dengan pembicaraan antara aku dan temanku tadi?” tanya Albiru penasaran dengan sikap Naya.
Naya tidak menjawab dengan suara melainkan dengan gelengan kepala.
“Duduklah, Nay. Aku sedang bicara denganmu.” Naya kembali menggelengkan kepalanya.
Terdengar di telinga Naya kalau Albiru menghela nafas lalu perlahan dia merasa bagian kasur di dekatnya tertekan. Naya melirik sedikit dan kaget melihat wajah Albiru begitu dekat dengannya.
“Aku ingin bicara denganmu, tolong duduklah dengan baik, Naya Relamia.” Suara tegas itu membuat Naya tak berkutik dan dengan terpaksa dia duduk sambil menunduk dan memainkan jemarinya.
“Apa yang membuatmu begini?” tanya Albiru kembali. Naya hanya memberikan gelengan kepala dan Albiru kembali bertanya. Berkali-kali pertanyaan Albiru hanya dibalas dengan gelengan oleh Naya sampai pria itu kehabisan akal.
“Mau sampai kapan kau akan menjawab pertanyaanku dengan sebuah gelengan hah? Aku butuh jawaban yang pasti, Nay. Aku bingung dengan sikapmu ini,” terang Albiru dengan suara sedikit meninggi.
“Aku kesal Mas, aku itu suka sama kamu. Memang kamu pikir aku ngapain bertahan di sini kalau bukan untuk merebut hatimu? Tapi kamu sama sekali tidak menganggap aku ini penting, aku hanya sekedar anak dari teman papa kamu dan kamu akan menikahi gadis yang kamu cintai. Aku itu cemburu, aku marah dan aku kesal. Tapi aku sadar kalau aku bukan siapa-siapa buat kamu,” jelas Naya dengan suara serak lalu tangisnya pecah seketika setelah memberikan jawaban itu pada Albiru. Butuh keberanian ekstra dia menyampaikan perasaannya.
Albiru tersenyum lalu memegang dagu Naya agar menatapnya. “Aku mengerti dengan perasaanmu itu, Nay. Bukan aku tidak peka, hanya saja aku tidak mau memberikan harapan karena kau tau sendiri kalau aku belum bisa melepaskan Alisha di hatiku.” Naya tak berani menatap mata Albi. Tapi tangan Albi masih setia di dagunya sehingga wajah itu tidak bisa dia tundukkan.
“Setelah berbincang dengan Nando, aku sadar kalau aku tidak bisa menutup hati selamanya. Aku juga berhak bahagia dengan hidupku, aku berhak menikah dengan pilihanku.” Naya mengangguk paham mendengarnya.
“Iya Mas aku paham, kamu bisa menikah dengan gadis yang kamu mau.” Albi kembali tersenyum.
“Aku mau kamu menjadi pendampingku, Naya. Kamu gadis yang aku inginkan itu.” Naya menatap Albiru dengan mata membelalak kaget.
“Mas Albi serius?”
”Aku tidak pernah bercanda dengan sebuah keputusan, Nay.”
“Tapi ... bukannya kamu gak cinta sama aku, Mas.”
“Untuk saat ini belum, tapi aku akan berusaha belajar mencintai kamu. Apa kamu mau menemani aku sampai cinta itu hadir?” Naya tersenyum bahagia dan menghapus air matanya.
“Aku gak lagi mimpi kan?” Albi mencubit lengan Naya dan gadis itu meringis.
“Sakit kan? Berarti semua ini bukanlah mimpi.” Naya langsung memeluk Albiru hingga keduanya tertidur di atas kasur. Albiru membalas pelukan itu dengan hangat, dia memejamkan mata setelah membuat keputusan ini.
Albiru dan Naya memberitahu kalau saat ini mereka memiliki hubungan. Tentu saja Irma dan Adipati sangat senang mendengarnya, itu yang mereka inginkan.