tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Pertemuan Dua Arsitek
Laboratorium The Sound-Box dipenuhi asap biru yang berbau logam terbakar. Suara alarm yang melengking kini bercampur dengan suara gemeretak listrik dari server yang kelebihan beban. Di ambang pintu, Arthur berdiri diam. Cahaya merah darurat menyinari wajahnya yang kini tampak sangat mirip dengan ayahnya, namun dengan ketenangan yang tidak pernah dimiliki Marcus.
"Sudah cukup, Marcus," suara Arthur terdengar stabil, menembus kekacauan suara di ruangan itu tanpa perlu berteriak.
Marcus menggerakkan kursi rodanya maju, wajahnya yang rusak tampak mengerikan di bawah lampu yang berkedip. "Kau datang untuk mengambil kembali 'mahakaryamu', Arthur? Kau datang untuk merampas satu-satunya cara dunia bisa merasa damai?"
"Aku datang untuk menyelamatkanmu dari dirimu sendiri," balas Arthur. Ia menoleh ke arah Elias yang berdiri mematung di samping Valerius. "Dan untuk menjemput anak-anak yang tersesat."
Pengkhianatan dan Penyesalan
Elias menunduk, tangannya gemetar hebat. Alat yang ia serahkan kepada Valerius ternyata hanyalah pemicu sabotase yang sudah disiapkan Arthur. "Paman Arthur... mereka bilang Mia bisa sembuh..."
"Kesembuhan yang ditawarkan dengan cara membungkam dunia adalah penjara, Elias," ucap Arthur lembut. "Mia tidak butuh keheningan total. Dia butuh suara yang jujur."
Valerius, yang menyadari bahwa ia telah tertipu, melemparkan kaset pita yang terbakar itu ke lantai. "Kau pikir sabotase kecil ini bisa menghentikan SoniCorp? Menara di permukaan sudah mulai menyiarkan frekuensi dasar. Dalam sepuluh menit, seluruh London akan berada di bawah kendaliku!"
Ia menekan tombol eksekusi di konsol utama. Menara raksasa di atas Canary Wharf mulai berdengung, mengirimkan gelombang infrasonik yang membuat tanah di bawah kaki mereka bergetar.
Perang Frekuensi Terakhir
"Lyra, ambil alat kontrol manual di tas Ayah!" teriak Arthur.
Lyra segera bergerak, menyambar tas kulit tua milik ayahnya. Di dalamnya terdapat sebuah osilator analog yang tidak terhubung ke jaringan digital mana pun. Inilah kelemahan terbesar SoniCorp: mereka terlalu bergantung pada algoritma, sementara Arthur selalu mengandalkan intuisi fisik.
"Gunakan nada D-minor sebagai dasarnya, Lyra! Kita akan membuat resonansi balik!" Arthur mulai memutar tuas pada alatnya.
Ayah dan anak itu kini berdiri berdampingan. Arthur memimpin dengan nada rendah yang berat, sementara Lyra mengisi celah-celah frekuensi dengan nada tinggi yang tajam. Suara yang mereka hasilkan bukan lagi musik, melainkan sebuah gelombang penghancur yang dirancang untuk membatalkan sinyal menara Valerius.
Ruangan itu mulai berguncang hebat. Kaca-kaca laboratorium pecah berkeping-keping. Marcus berteriak, mencoba mengoperasikan konsolnya, namun jemarinya tidak lagi sanggup mengimbangi kecepatan harmonisasi Arthur dan Lyra.
Runtuhnya Menara Kaca
"Sistemnya berbalik arah!" teriak salah satu teknisi Valerius. "Energinya kembali ke pusat data!"
Valerius mencoba lari menuju pintu darurat, namun sebuah ledakan sirkuit di depannya menghalangi jalan. Di tengah kekacauan itu, Marcus hanya duduk diam. Ia menatap Arthur untuk terakhir kalinya. Ada sebuah kilatan kesadaran di matanya—mungkin rasa syukur, atau mungkin pengakuan akan kekalahannya.
"Pergilah, Arthur," bisik Marcus melalui alat bicaranya. "Bawa suara itu pergi dari sini. Biarkan aku tinggal di dalam keheningan yang kubangun sendiri."
Arthur ragu sejenak, namun Lyra menarik lengannya. "Ayah, tempat ini akan runtuh! Kita harus membawa Elias keluar!"
Dengan satu sentakan kuat, Arthur menarik Elias yang masih terguncang. Mereka berlari menembus lorong yang mulai runtuh, tepat saat menara raksasa di atas mereka mulai kehilangan keseimbangan dan meledak dalam jutaan serpihan kaca.
Di Tepi Kehancuran
Mereka berhasil keluar melalui saluran pembuangan dan muncul di tepian Thames tepat saat matahari terbit. Di belakang mereka, markas SoniCorp hanyalah tumpukan puing yang berasap. London yang tadinya membeku dalam frekuensi aneh, perlahan-lahan mulai bernapas kembali. Suara sirene polisi, klakson mobil, dan teriakan orang-orang terdengar begitu indah karena itu adalah suara yang nyata.
Elias jatuh terduduk di aspal, menangis tersedu-sedu. "Aku hampir menghancurkan semuanya..."
Lyra berlutut di sampingnya, meletakkan tangan di bahu Elias. Ia tidak marah. Ia tahu betapa beratnya beban yang dipikul pemuda itu. "Kita semua pernah membuat kesalahan karena cinta, Elias. Ayahku, Nenek, bahkan Marcus."
Arthur berdiri menatap sungai, memegang osilator tuanya yang kini sudah mati. Ia tahu, meskipun SoniCorp hancur, perjuangan untuk menjaga kejujuran suara baru saja dimulai.
"Ayo pulang," kata Arthur. "Masih banyak instrumen yang perlu diperbaiki di Cornwall."
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐