NovelToon NovelToon
DETERMINED

DETERMINED

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Murid Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tujuh

Disaat siswa lain sudah berhamburan keluar dari kelas menuju rumahnya masing-masing, para penghuni XI IPA 1 tampaknya masih asyik berdiam diri di dalam kelas. Bahkan, kelas tetangga mereka kelihatannya sudah kosong melompong, tidak ada satupun siswa yang tersisa disana. Mungkin hanya beberapa yang belum pulang karena mengikuti ekskul.

"Si Ketua Es kemana, sih. Lama banget." gerutu Lana.

"Iya, ya, kita udah nunggu lebih dari sepuluh menit dia belum nongol juga." timpal Hesty.

Setelah bel berbunyi, Rey menahan teman-temannya agar jangan dulu pulang. Seperti yang ia janjikan tadi pagi kepada Meira, cowok itu akan adu soal dengannya. Ia keluar sebentar katanya untuk mengambil soal yang sudah Bu Resma siapkan. Tapi, sampai sekarang cowok itu belum juga menampakkan batang hidungnya.

"Kabur, kali." ucap Ilham. Cowok itu mengetuk-ngetuk meja dengan penggaris, sekedar membuang rasa bosan.

Meira sendiri tampaknya tidak terlalu peduli dengan Rey. Yang menjadi pusat pikirannya adalah pesan dari orang misterius. Sejak adanya pesan itu, pikiran Meira rasanya tak karuan.

"Mei, lo kenapa?" Meira mengedipkan mata beberapa kali mendengar pertanyaan Ayara.

"Kenapa, Ra?" ia bertanya balik.

"Hadeuh, ditanya malah balik nanya. Lo dari tadi—" Ayara tak melanjutkan ucapannya saat seseorang datang dengan membawa paper bag berukuran sedang.

"Dateng juga lo, lama amat sih." sambut Lana yang sudah tidak sabar.

Rey berdiri di depan mejanya, lalu membuka paper bag itu. Ia mengambil beberapa lembar kertas dari sana, termasuk satu lembar soal.

"Gue udah minta soal dari Bu Resma. Katanya ini soal bekas ujian tahun ajaran lalu. Kalau lo bisa ngalahin gue, gue akuin lo emang lebih pintar dari gue." Rey menyunggingkan senyuman kecil. "Tapi, kalau lo kalah. Itu berarti lo—"

"Cepat kasih soalnya, aku gak punya banyak waktu." Meira menyela ucapan Rey.

Melihat Meira yang tampak mulai kesal, Rey malah semakin melebarkan senyumannya. "Oke. Setelah lo terima soalnya, simpan hp lo disini." Rey memberikan soal pada Meira, yang langsung diterimanya dengan gerakan cepat.

Rey menunjuk ke arah ponselnya yang tergeletak bebas di atas paper bag dengan dagunya, mengisyaratkan agar Meira pun menyimpan ponselnya di tempat yang sama.

Meira menatap Rey dan ponselnya bergantian. Saat hendak akan meletakkan ponsel miliknya, suara notifikasi terdengar. Semua orang melihat ke arah ponsel Meira yang menyala. Begitu pula dengan Meira, ia langsung mengurungkan niatnya dan membaca terlebih dahulu notifikasi itu.

2 Pesan dari No Name.

No Name :

Percayalah Meira, ibumu masih hidup.

Datanglah ke tempat ini.

No Name mengirim lokasi.

Tangan Meira bergetar membaca pesan itu. Dadanya terasa bergemuruh. Tanpa pikir panjang, ia segera menyambar tas nya dan berlari keluar dari kelas, hingga membuat soal yang diberikan Rey jatuh berserakan ke lantai.

"Mei, mau kemana?" teriak Ayara. Tidak mendapat respon sama sekali, cewek itu ikut mengambil tas nya dan berlari mengejar Meira.

"Dia kenapa?" Ilham bertanya pelan, lalu ia pun ikut keluar kelas.

"Heh, Ham, lo mau kemana?" Haris berteriak, ia melirik Abil kemudian menyusul juga.

Kepergian Meira yang tiba-tiba membuat semua orang bertanya-tanya. Berbeda dengan Rey yang hanya terdiam kaku di tempatnya berdiri. Matanya tertuju pada lembaran soal yang kini tergeletak di lantai, terinjak oleh langkah kaki teman-temannya yang terburu-buru keluar. Ada kilatan aneh di matanya, bukan amarah karena tantangannya diabaikan, melainkan sebuah keraguan yang mulai merayap.

Rey perlahan berlutut, memungut lembaran kertas itu satu per satu. Ia sempat melirik ke arah paper bag tempat ia meminta Meira menaruh ponselnya tadi. Di sana, ponsel miliknya sendiri masih tergeletak, layar gelapnya seolah menertawakan rencananya yang berantakan.

"Kenapa reaksinya kayak gitu?" gumam Rey pelan.

Ia teringat raut wajah Meira yang memucat dan tangannya yang bergetar hebat sebelum akhirnya lari sekuat tenaga. Itu bukan raut wajah seseorang yang takut akan soal ujian, itu adalah raut wajah seseorang yang baru saja melihat hantu atau mendapatkan harapan yang sangat tipis.

...\~\~\~...

Cuaca siang yang terik tak menghalangi Meira, langkahnya sudah seperti dalam lomba jalan cepat. Jalanan tampak lumayan ramai. Ia menggenggam ponselnya erat-erat, sesekali matanya melihat kesana untuk memastikan bahwa ia berjalan ke arah yang benar. Hatinya tergerak setelah mendapatkan pesan itu. Jarak antara sekolah dengan lokasi yang dikirim orang misterius itu ternyata tidak terlalu jauh. Hanya berjarak dua ratus meter saja.

Meira menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah Kafe bernuansa klasik. Matanya melirik ponsel dan bangunan di depannya bergantian. Meira berdiri terpaku. Dadanya terasa bergetar. Ia mulai mengatur napasnya yang tersengal-sengal dan mencoba menguasai dirinya.

Meira melanjutkan langkahnya memasuki Kafe itu. Sampai di depan pintu, Meira menghela napasnya sejenak lalu membuka pelan pintu kaca itu pelan. Aroma kopi langsung menyeruak ke dalam indra penciumannya. Meira mengedarkan pandangannya pada pengunjung yang tidak terlalu banyak.

"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" seorang pelayan menghampiri Meira yang hanya mematung di ambang pintu.

"Eh?" Meira baru sadar. Matanya beralih menatap wanita di hadapannya.

"Saya.. mau cari seseorang." jawab Meira terbata. Pelayan itu kelihatan bingung.

Meira tidak bersuara lagi. Ia melihat ke sekitar. Beberapa orang pengunjung kini melirik ke arahnya dengan ekspresi bertanya-tanya, membuat Meira menegakkan badannya berusaha untuk tidak terpengaruh.

...\~\~\~...

Meira merenung di dalam kamarnya. Ia masih kepikiran dengan sebuah fakta baru yang di dapatnya dari seorang manajer Kafe siang tadi.

"Dulu ibu kamu memang pernah bekerja disini. Kebetulan, yang punya Kafe ini adalah suami dari temannya. Tapi, tiga tahun yang lalu dia tiba-tiba saja menghilang, saya sudah cari dia kemana-mana. Bahkan nomor teleponnya juga tidak aktif."

Meira menatap pria yang katanya adalah manajer di Kafe itu, ia duduk berhadapan dengan pria itu.

"Ibu kerja paruh waktu?" Meira mulai bersuara. "Emangnya dia punya pekerjaan lain? Dan siapa teman Ibu disini?" tanyanya penasaran.

Pria itu mengangguk. "Iya, dia bekerja sebagai guru."

Meira mulai berpikir serius. "Guru?"

"Seingat saya dulu dia guru Matematika di SMP Trisakti." pria itu memperhatikan penampilan Meira yang masih menggunakan seragam sekolah, yang tampaknya ia kenal. "Kamu sekolah di SMA Trisakti? Teman Bu Arini juga mengajar disana, setelah dipindahkan dari SMP dulu."

Meira sedikit terkejut mendengar penjelasan dari manajer Kafe itu. "Siapa, Pak?"

"Namanya Bu Hera, istri dari pemilik Kafe ini yang tadi saya sebutkan. Mereka sering berbarengan kalau kesini bersama satu orang guru lain, siapa ya saya lupa namanya." ia kemudian mengerutkan alisnya terlihat mengingat sesuatu. "Oh, iya. Ibu kamu pernah menitipkan sesuatu pada saya. Tunggu sebentar."

Selagi menunggu, Meira terdiam, terkejut sesaat setelah mendengar nama salah satu gurunya disebut sebagai teman dari Mamanya.

Pria jangkung dengan setelan kemeja kotak-kotak itu pergi ke sebuah ruangan di samping dapur. Tak lama kemudian, ia kembali seraya membawa sebuah kotak kecil. Ia memberikan kotak itu kepada Meira.

"Dua hari sebelum Ibumu menghilang, saya menemukan kotak ini di atas meja kasir. Di dalamnya juga ada surat yang tertulis untuk menyuruh saya memberikan ini pada seseorang bernama Meira. Kamu Meira, kan?" jelasnya.

Meira mengangguk, ia menatap kotak berwarna cokelat di tangannya. Sekarang, pikirannya mulai menerawang jauh.

Meira menyudahi lamunannya. Ia beranjak dari kasur dan berjalan ke arah tas gendong yang tergeletak di atas meja belajar. Diraihnya kotak pemberian dari Pak Rudy —Manajer Kafe, kemudian ditatapnya dengan sendu.

"Meira pasti bisa bertemu sama Mama." ucap Meira lirih sambil memandang kotak ditangannya.

Meira mendudukkan dirinya di pinggir kasur. Ia kemudian membuka kotak itu dengan perlahan. Benar apa yang dikatakan Pak Rudy, terdapat surat disana.

Tolong berikan ini pada anakku, Meira. Dia pasti mencariku.

Meira juga menemukan sebuah kalung beserta foto disana. Ia mengingat kembali, kalung itu adalah kalung miliknya, pemberian dari Papa. Foto didalamnya juga menunjukkan dirinya bersama dengan seorang wanita berumur sekitar tiga puluh tahun akhir. Itu Mamanya. Dan foto itu diambil pada hari yang sama dengan kalung yang diberikan Papanya saat ulang tahun Meira. Tepat satu hari sebelum insiden kebakaran terjadi di rumahnya.

Meira membenamkan foto itu ke dadanya. Matanya terpejam rapat. Hatinya bergejolak hebat saat ini. Seandainya ia diizinkan untuk kembali pada hari itu, ia tidak akan meminta untuk merayakan acara ulang tahunnya di rumah. Ia tidak mau membiarkan kedua orangtuanya pergi. Meira ingin mengubah momen tujuh tahun lalu. Ia tidak ingin kehilangan Mama dan Papanya seperti saat ini.

"Ma, Pa, Mei rindu kalian." setetes air mata mengalir dari pelupuk matanya.

"Lo kenapa tiba-tiba pergi dan ngilang gitu aja, Mei? Gue teleponin juga nomor lo gak aktif. Lo kemana?" tanya Ayara bertubi-tubi ketika ia akhirnya bisa menemukan Meira di kamar. Sahabatnya itu baru sampai di rumah.

Meira tak langsung menjawab. Ia sedikit terkejut dengan kedatangan Ayara, buru-buru ia hapus air matanya. "Hp aku lowbat."

"Lo nangis?" Ayara mengangkat kepala Meira, melihat kedua mata cewek itu yang memerah.

Meira menggeleng. "Nggak, kok." katanya berbohong.

Ayara menatap Meira dengan tatapan curiga. "Lo gak bisa bohongin gue."

Meira tidak menjawab, ia memalingkan wajahnya ke arah jendela kamar yang sedikit terbuka.

"Sebenarnya ada apa, Mei? Please ceritain ke gue. Lo kan udah janji bakal selalu cerita kalau ada apa-apa." ucap Ayara memelas.

"Aku dikasih ini." Meira menunjukkan foto dan kalung tadi.

Ayara mengerutkan keningnya, dia melihat foto yang sudah mulai kusam itu di tangan Meira. "Itu lo sama ibu lo?" Meira mengangguk sebagai jawaban.

"Lo dapet dari mana? Jadi gara-gara ini lo pergi gitu aja tadi?" Ayara menatap Meira penasaran. "Orang misterius itu yang ngarahin lo kesana?"

"Iya."

...\~\~\~...

1
Zanahhan226
ups, penuh misteri sekali ini..
listia_putu
ceritanya bagus kok, udah melewati 10 bab yg aku baca. tp kenapa pembacanya sedikit??? heran....
Zanahhan226
menarik dan misterius..
Zanahhan226
halo, aku mampir, Kak..
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
anggita
mampir ng👍like aja☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!