"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Warisan Terakhir dari Nenek
Hujan deras mengguyur kota sejak pagi. Lin Suyin berdiri di bawah payung hitam, menatap kosong ke arah liang kubur yang baru saja ditutup tanah basah. Air matanya sudah kering sejak tadi malam—sepertinya ia sudah kehabisan air mata untuk ditumpahkan.
"Suyin, kamu tidak apa-apa?" suara lembut Bibi Wang, tetangga yang sudah puluhan tahun tinggal di sebelah rumah neneknya, memecah keheningan.
Suyin mengangguk pelan, meski dadanya terasa sesak. "Aku baik-baik saja, Bibi."
Bohong. Ia sama sekali tidak baik-baik saja.
Nenek Lin—satu-satunya keluarga yang benar-benar peduli padanya—telah pergi. Wanita tua yang selalu menyambutnya dengan senyuman hangat dan sup ayam jahe itu kini terbaring dua meter di bawah tanah. Serangan jantung mendadak. Tidak ada peringatan, tidak ada kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.
Suyin mengeratkan genggamannya pada gagang payung. Kenapa semua orang yang ia sayangi selalu meninggalkannya? Dulu orangtuanya dalam kecelakaan mobil saat ia masih berusia sepuluh tahun. Lalu tunangannya—Ryan—yang tiba-tiba pergi seminggu sebelum pernikahan mereka tiga tahun lalu, membawa lari uang tabungan Suyin dan menikah dengan sahabatnya sendiri. Dan sekarang nenek.
"Nona Lin Suyin?"
Suara formal seorang pria paruh baya berjas hitam membuyarkan lamunannya. Di sampingnya berdiri seorang wanita dengan kacamata tebal, membawa tas kulit cokelat.
"Ya?" Suyin berbalik.
"Saya Pak Zhang, pengacara keluarga Lin. Ini rekan saya, Bu Chen." Pria itu menyodorkan kartu nama. "Almarhum Nyonya Lin meninggalkan wasiat untuk Anda. Bisakah kita bicara sebentar?"
Suyin melirik ke arah kerumunan pelayat yang mulai bubar. Sepupunya, Zhao Meifeng, menatapnya tajam dari kejauhan dengan senyum sinis di bibir. Suyin tahu persis apa yang dipikirkan wanita itu—warisan.
"Baiklah," ucap Suyin pelan. "Kita bicara di mobil saya."
Mereka bertiga masuk ke sedan tua Suyin yang terparkir di pinggir jalan. Hujan semakin deras memukul kaca depan, menciptakan suara berirama yang menenangkan.
Pak Zhang membuka tas kerjanya, mengeluarkan amplop cokelat tebal. "Nyonya Lin sudah menyiapkan ini enam bulan lalu, seolah beliau tahu waktunya tidak lama lagi."
Hati Suyin mencelos. Enam bulan lalu? Berarti nenek sudah merencanakan ini jauh-jauh hari?
"Di dalam wasiat, beliau mewariskan rumah di Jalan Mawar nomor 47 atas nama Anda. Juga tabungan sebesar dua ratus juta rupiah." Pak Zhang berhenti sejenak, menatap Suyin. "Dan satu benda pusaka keluarga yang sangat penting."
Bu Chen mengeluarkan kotak kayu kecil berwarna gelap dari tasnya. Kotak itu terlihat antik, dengan ukiran naga dan phoenix di permukaannya. Saat dibuka, Suyin melihat sebuah gelang giok berwarna hijau pucat tergeletak di atas beludru merah tua.
Gelang itu... indah. Warna hijaunya lembut seperti daun muda di musim semi, dengan urat-urat putih yang membentuk pola alami seperti awan. Ada aura hangat yang memancar dari benda itu, membuat Suyin merasa aneh—seolah gelang itu hidup.
"Nyonya Lin berpesan agar Anda selalu memakai gelang ini. Jangan pernah melepasnya, dan jangan biarkan siapa pun tahu Anda memilikinya." Pak Zhang menyerahkan kotak itu ke tangan Suyin. "Beliau juga meninggalkan surat ini untuk Anda."
Suyin menerima amplop putih dengan tulisan tangan neneknya. Jemarinya gemetar saat menyentuh kertas itu. Ia mengenali tulisan tegak neneknya—tulisan yang sama yang selalu menulis resep masakan untuknya.
Dengan hati-hati, Suyin membuka amplop dan membaca:
"Suyin tersayang,
Jika kamu membaca ini, berarti nenek sudah pergi. Jangan menangis terlalu lama, sayang. Nenek sudah tua dan lelah. Sudah waktunya nenek beristirahat.
Gelang giok ini adalah warisan keluarga kita yang paling berharga. Lebih berharga dari rumah, uang, atau apa pun di dunia ini. Nenek menjaganya selama puluhan tahun, menunggu cucu yang tepat untuk mewariskannya. Cucu itu adalah kamu, Suyin.
Jaga gelang ini baik-baik. Jangan sampai orang lain tahu. Jangan pernah melepasnya dari tanganmu. Gelang ini akan melindungimu, membantumu, dan memberimu kekuatan yang kamu butuhkan untuk menghadapi hidup.
Percayalah pada gelang itu. Percayalah pada dirimu sendiri.
Nenek akan selalu menjagamu dari sana.
Dengan cinta,
Nenek Lin"
Air mata kembali menggenang di pelupuk mata Suyin. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan isak. Tangannya mengambil gelang giok dari kotak dan memakainya di pergelangan tangan kanan.
Saat gelang itu melingkar di kulitnya, Suyin merasakan sensasi aneh—seperti aliran hangat yang menjalar dari pergelangan tangan ke seluruh tubuhnya. Nyaman. Menenangkan. Seperti pelukan nenek.
"Terima kasih, Pak Zhang, Bu Chen," ucap Suyin, menyeka mata. "Apa ada yang perlu saya tanda tangani?"
Setelah mengurus beberapa dokumen, kedua pengacara itu pamit. Suyin duduk sendiri di dalam mobil, menatap gelang di tangannya. Hujan mulai mereda, meninggalkan kabut tipis di jalanan.
Ia mengangkat tangan, melihat gelang itu dari berbagai sudut. Cahaya sore yang samar-samar menembus awan membuat giok itu berkilau lembut. Cantik sekali. Tapi kenapa nenek bilang gelang ini begitu penting? Kenapa harus dirahasiakan?
"Nenek, apa sebenarnya gelang ini?" bisik Suyin pada dirinya sendiri.
Tentu saja tidak ada jawaban.
Dengan helaan napas panjang, Suyin menyalakan mesin mobil dan berkendara pulang ke apartemennya di seberang kota. Rumah nenek di Jalan Mawar terlalu besar dan sepi untuk ditinggali sendirian—setidaknya untuk saat ini. Ia butuh waktu untuk siap menghadapi kenangan di setiap sudut rumah itu.
Apartemen studio Suyin kecil dan sederhana. Hanya satu kamar dengan dapur mini dan kamar mandi sempit. Tapi ini rumahnya selama lima tahun terakhir, sejak ia memutuskan mandiri dan tidak mau merepotkan nenek terus-menerus.
Ia melempar tas ke sofa, melepas sepatu, dan langsung ambruk di kasur. Lelah. Lelah secara fisik dan mental. Pemakaman, tangisan, tatapan iba orang-orang, senyum palsu keluarga besar yang tiba-tiba peduli sekarang nenek sudah pergi...
Suyin memeluk bantal, menatap langit-langit apartemen yang retak di beberapa bagian. Gelang giok di tangannya terasa hangat—hangat yang menenangkan, tidak panas. Aneh.
Matanya mulai terasa berat. Ia tidak sadar kapan mulai tertidur.
Mimpi itu datang begitu nyata.
Suyin berjalan di sebuah taman yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Taman yang begitu luas, dengan rumput hijau segar yang terasa lembut di bawah kaki telanjangnya. Bunga-bunga aneh berwarna-warni yang tidak ia kenal tumbuh di mana-mana—beberapa bercahaya lembut seperti kunang-kunang.
Di tengah taman, ada sebuah mata air jernih yang airnya begitu bening hingga ia bisa melihat dasar kolamnya. Suara air yang mengalir pelan menciptakan melodi menenangkan.
"Suyin..."
Ia menoleh. Nenek Lin berdiri di bawah pohon besar dengan bunga putih yang gugur seperti salju. Wanita tua itu tersenyum—senyum hangat yang sangat Suyin rindukan.
"Nenek?" Suyin berlari menghampiri, tapi entah kenapa jaraknya tidak pernah mendekat. "Nenek, jangan pergi lagi!"
"Nenek tidak kemana-mana, sayang. Nenek akan selalu ada di sini." Nenek Lin mengulurkan tangan, menunjuk ke arah gelang di tangan Suyin. "Taman ini adalah hadiah nenek untukmu. Rawatlah dengan baik."
"Taman? Apa maksud—"
"Kamu akan mengerti. Percaya pada gelang itu. Percaya pada dirimu sendiri."
Bayangan nenek mulai memudar, bersamaan dengan seluruh taman yang perlahan tenggelam dalam kabut putih.
"Nenek! Tunggu!"
Suyin terbangun dengan napas terengah-engah. Keringat dingin membasahi keningnya. Ia duduk di kasur, melihat sekeliling apartemen yang gelap—hanya diterangi cahaya lampu jalan dari jendela.
Mimpi. Hanya mimpi.
Tapi kenapa terasa begitu nyata?
Suyin mengusap wajah dengan kedua tangan. Tangannya berhenti saat merasakan sesuatu di hidungnya—aroma tanah basah. Aroma yang sama seperti dalam mimpinya.
Jantungnya berdegup kencang. Ia mengangkat tangan, mencium pergelangan tangannya yang memakai gelang. Aroma itu berasal dari sana.
"Apa... apaan ini?"
Suyin menyalakan lampu kamar, menatap gelang giok dengan was-was. Gelang itu terlihat normal—sama seperti tadi sore. Tapi aroma tanah basah itu masih tercium jelas.
Ia bangkit dari kasur, pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Air dingin yang menyentuh wajahnya sedikit menenangkan pikiran yang kacau. Saat menatap pantulan dirinya di cermin, Suyin melihat sesuatu yang aneh.
Kulitnya... bercahaya?
Tidak, bukan bercahaya seperti lampu. Tapi ada aura sehat yang berbeda dari biasanya. Kantung mata yang biasanya hitam karena kurang tidur berkurang drastis. Kulitnya terlihat lebih segar, lebih kencang.
Suyin menyentuh pipinya, tidak percaya. Apa ini juga karena gelang?
"Nenek, apa sebenarnya yang kau berikan padaku?"
Pertanyaan itu bergema di kamar mandi kecil tanpa jawaban. Tapi jauh di dalam hati Suyin, ia tahu—hidupnya baru saja berubah. Dan gelang giok hijau di tangannya adalah kunci dari semua perubahan itu.
Ia hanya belum tahu seberapa besar perubahan yang akan terjadi.