Alitza Zeefanya Bella, atau sering disapa Zee adalah seorang gadis cantik yang ceria. Seperti nama yang diberikan oleh orang tuanya yang berarti gadis cantik yang ceria yang selalu ada dalam lindungan Tuhan.
Hidupnya baik-baik saja, terlahir cantik serta besar di lingkungan keluarga kaya yang harmonis membuat dirinya tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh kepedulian.
Semua baik-baik saja sampai dirinya harus kehilangan seluruh alasan kebahagiaan nya. Membuat dirinya harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang wanita tua yang menjadi pengasuhnya sejak bayi.
Bekerja didunia malam membuat dirinya dipandang miring oleh semua orang. Namun dirinya tak peduli, hanya dirinya yang tahu seperti apa sesungguhnya yang ia jalani.
Akankah nasib baik kembali berpihak padanya? atau justru kehidupannya semakin sulit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PGM 04
Keduanya sampai di club, masuk lewat pintu samping gedung menuju loker yang memang sudah disediakan untuk semua pegawai club.
Keduanya keluar berdampingan, namun saat hendak keluar pintu, tanpa sengaja Maya menyenggol seseorang.
"Nggak punya mata lo!! ". Hardik seorang yang Maya senggol.
" Kalem aja keleus.. nge gas aja lo ". Sahut Maya santai.
" Dasar manusia nggak berguna! ". Hardiknya lagi membuat Maya terpancing emosi.
" Heh.. mulut ye nggak pernah disekolahin kayanya ya, Sinta!! Mau gw robek tuh mulut! ". Balas Maya tak kalah sengit.
" May udah deh.. kerja juga belum udah pada ribut aja sih". Zee menengahi perdebatan Maya dan wanita bernama Sinta itu.
"Nggak bisa Zee. ni mak lampir tiap hari bikin masalah mulu". Maya tak mau kalah. Ia sebenarnya sudah tak suka dengan Sinta sejak dulu. Gayanya yang sok bossy, merasa si paling senior padahal hanya berbeda beberapa minggu dengan Maya.
" Gw yang lebih dulu kerja disini, harusnya kalian tuh lebih hormat sama senior". Dan benar saja, Sinta merasa dirinya orang yang wajib dihormati karena merasa senior.
"Iya deh iya mbak Sinta yang paling senior. Maaf ya.. silahkan lanjutkan mau ngapain". Zee menarik Maya menjauh, ia tak mau Maya terkena masalah hingga dipanggil bos mereka.
"Apa lo liat-liat!! Dasar ben*ong!! ".Bentak Sinta yang melihat Maya melirik benci padanya.
" Ish!! Kamu tuh, dia makin semena-mena kalau nggak dilawan Zee. Eike sebel banget ama tuh hawa!! ". Logat kemayunya langsung keluar sepenuhnya jika sedang kesal begini.
" Iya deh iya.. tuh hawa emang panas banget dah ah". Maya mendengus sebal karena Zee malah melawak.
"Zee!!!". Zee berbalik, pun dengan Maya yang ikut membalikkan tubuhnya saat mendengar seseorang memanggil Zee.
Senyum Zee terkembang melihat sosok yang kini berjalan cepat menghampiri dirinya dan Maya.
" Kak Aurel.. " Seru Zee senang.
Sementara gadis bernama Aurel itu kian dekat dengan Zee. Dan setelah berada didepannya, Aurel menarik Zee kedalam pelukannya.
"Kangen banget ih sama adek aku ini.. " Aurel menggoyang kan tubuh Zee yang ada dalam pelukannya.
"Aku juga kangen. Kakak lama banget nggak kesini". Zee tak kalah antusias dari gadis bernama Aurel itu.
" Ish.. nih hawa dua, kalau udah ketemu pasti lupa sama aku". Gerutu Maya membuat kedua gadis yang tengah berpelukan itu segera melepas rangkulan mereka dan beralih menatap Maya yang sudah cemberut.
"Aduh Maya.. jangan ngambek dong. Nanti seksi nya ilang loh.. " Goda Aurel membuat Maya mencebik namun tersipu.
Kemudian Aurel dan Maya langsung berangkulan dan cipika cipiki selayaknya teman dekat yang lama tak berjumpa.
"Ikut aku ke ruangannya Leon yuk.. " Aurel. menggandeng tangan Zee.
"Aku disini kerja kak.. lagian nggak enak sama yang lain juga". Tolak Zee halus.
Aurel adalah tunangan dari Leon, bos tempat Zee bekerja. Hubungan Zee dan Aurel. bisa dikatakan sangat dekat, selayaknya seorang kakak beradik.
Dari jauh, Sinta yang melihat kedekatan Zee dan Aurel mengepalkan tangannya. Ia benar-benar membenci Zee. Mengapa selalu gadis itu yang mendapat keberuntungan dan dekat dengan orang-orang berpengaruh di tempat kerja nya ini.
" Dasar s*alan!!! ". Umpat Sinta sebelum berlalu pergi dari tempatnya berdiri.
" Huh, dasar mak lampir ngeselin". Gerutu Maya yang rupanya melihat keberadaan Sinta sebelumnya.
"Apa May? ". Tanya Aurel yang mendengar Maya menggerutu.
" Tuh si Sinta. Nggak seneng banget ngeliat Zee tenang". Jelas Maya membuat Aurel. memasang wajah kesal juga.
"Masih kerja di sini juga itu orang? ". Tanya Aurel yang kini wajahnya sudah terlihat kesal.
" Masih lah, makanya eike tadi liat juga karna dia kerja disini". Zee hanya menghela nafasnya panjang.
"Leon gimana sih! Bukannya dipecat orang nggak profesional gitu" Gerutu Aurel.
"Udah lah kak.. Sinta profesional kerja kok kak, makanya bang Leon masih pertahanin juga". Zee mengelus lengan Aurel guna menenangkan gadis itu.
" Heleh, profesional darimana sih Zee. Kamu nggak inget apa yang dia lakuin ke kita setahun lalu? ". Aurel mengingat kan Zee.
" Inget kak.. nggak akan pernah lupa. Cuma ya mau gimana, kan nggak perlu jadi orang yang sama kaya penjahat". Jelas Zee dengan seulas senyum tenang.
"Nih hawa tuh bawaannya kalem mulu jeng. Mana bisa Nih anak emosi. Sebel eike juga". Maya nimbrung.
" Kalo eike jadi Zee, udah eike botakin kepala si Sinta s*alan itu". Geram Maya yang justru membuat Zee terkekeh.
flashback 1 tahun lalu
Malam itu Zee bekerja seperti biasa. Melayani setiap tamu VIP yang datang karena memang ia ditugaskan oleh Leon hanya untuk tamu VIP di club nya saja.
Semua masih tampak normal saja dan baik-baik saja hingga Sinta memanggil dirinya.
"Kamu dipanggil pak Leon ke ruangannya". Ucap Sinta dengan raut wajahnya yang serius. Membuat dahi Zee mengerut.
" Ada apa? ". Tanya Zee
"Ya mana gw tau. Kan elo anak emas nya pak Leon". Sindir Sinta dengan nada sewot.
Tak ingin urusannya jadi keruh, Zee memilih menjauhi Sinta dan berjalan kearah ruangan Leon yang juga ada di lantai 2 bangunan itu.
tok.. tok.. tok..
Zee mengetuk pintu ruangan kerja Leon. Memanggil nama Leon beberapa kali namun tak ada jawaban dari dalam.
" Permisi pak.. ". Kembali Zee berseru.
" Bang Leon kemana ya? ". Gumam Zee.
Akhirnya Zee memutuskan masuk kedalam ruangan bosnya setelah beberapa waktu menunggu didepan pintu namun tak kunjung ada jawaban dari dalam.
" Bang Leon!! ". Seru Zee saat melihat Leon tergeletak diatas lantai. Seperti nya lelaki itu pingsan.
" Bang!! "
"Bang! Bangun bang.. " Zee menepuk pipi bos nya dengan pelan.
"Duh gimana ini.. Bang Leon kenapa bisa gini sih". Zee kebingungan, ia terus berusaha membangunkan Leon dan berhasil.
Mata yang sejak tadi terpejam itu mulai mengerjap. Membuat Zee bisa bernafas lega.
" Bang.. " Panggil Zee lagi.
"Zee.. " Suara Leon terdengar lirih.
"Iya bang? Ada yang kerasa bang? ". Tanya Zee panik.
"Kepala aku pusing banget Zee.. " Zee berusaha membantu Leon untuk bangun dengan menopang tubuhnya yang jauh lebih besar dari Zee.
Leon yang merasakan pusing juga merangkul erat pundak Zee yang tengah membantu dirinya.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN!!!! ". Zee langsung menoleh, didepannya Aurel tengah menatap tajam ia dan Leon.
Jika dilihat, saat ini Zee dan Leon seperti tengah berpelukan.
" KALIAN!!! ".
"Kak!!! Kak Aurel!!! ". Teriakan Zee tak dihiraukan oleh Aurel. Aurel berbalik dan keluar dari ruangan itu tanpa mendengar penjelasan Zee maupun Leon.
" Aduh gimana ini.. " Zee kembali dilanda kebingungan. Jika ia mengejar Aurel dan melepaskan Leon, maka bos nya itu akan terjatuh.
"Biarkan dulu. Bantu Aku dulu.. Aku akan menjelaskan semua pada Aurel nanti". Leon menenangkan Zee yang nampak panik. Kepalanya terasa berdenyut dan ingin segera merebahkan dirinya. Soal kekasih hatinya, ia akan menjelaskan duduk permasalahannya nanti.
" Tapi kak Aurel bang.. " Suara Zee sudah bergetar. Ia takut Aurel salah paham dan akhirnya marah pada dirinya.
"Dia akan jadi urusanku nanti". Tegas Leon dan akhirnya Zee menurut dan membantu Leon merebahkan tubuhnya diatas sofa diruangannya itu.
Selesai membantu Leon, Zee bergegas keluar mencari Maya. Ia meminta air hangat apda Maya untuk diberikan pada Leon.
" Kenapa bisa begini sih bos?? ". Tanya Maya dengan panik saat melihat kondisi bos nya.
" Nggak tau May. Ada yang sengaja mencampur obat ke dalam minuman ku" Terang Leon membuat Maya dan Zee saling pandang.
"Maksud abang? ". Tanya Zee
" Sepertinya ada yang memang merencanakan ini untuk membuat Aurel salah paham". Leon bukan baru satu dua hari berada didunia malam. Hal seperti ini sudah tidak mengejutkan lagi.
"Harusnya aku bisa hindari. Ini malah aku yang kena. S*al". Umpat Leon yang sudah lebih baik dan kini duduk bersandar pada kursi.
" Tidak usah panik. Aurel akan paham setelah aku menjelaskan duduk permasalahn nya ". Leon menepuk pelan kepala Zee yang tertunduk. Lelaki itu tau pasti apa yang Zee khawatir kan.
" Aku takut kak Aurel tidak percaya dan benci sama aku, bang". Cicit Zee yang akhirnya mengutarakan kegundahan nya. Ia tidak peduli jika itu wanita lain, namun Aurel benar-benar sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Dibenci oleh Aurel rasanya akan sangat sulit untuknya.
...¥¥¥°°°¥¥¥...
...Sapa nih biang kerok nya?? Sabar Zee.. kukasih kau cobaan bertubi diawal, nanti dikasih manis-manis semanis madu deh ya🤭😁...
...Happy reading semua nya🫰🫰...
...Sarangheyo readers yang baik hati❤❤❤💋💋💋🥰😍😍 Jangan lupa ritualnya ya, tinggalkan jejak.. like komen nya jangan lupa 💋🥰🥰🥰🫰😍❤😍😍😘😘😘...