NovelToon NovelToon
NEGRI TANPA HARAPAN

NEGRI TANPA HARAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Sistem / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:194
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: PERJALANAN KE LEMBAH KABUT

#

Arjuna bangun dengan tubuh yang masih terasa seperti ditabrak truk, tapi setidaknya ia bisa bergerak tanpa rasanya mau pingsan. Dokter Arman datang pagi-pagi, ganti perbannya, cek lukanya, lalu mengangguk pelan.

"Kau beruntung," katanya. "Tidak ada pendarahan internal yang parah. Tulang rusukmu patah tapi tidak sampai tusuk paru-paru. Kau masih muda, tubuhmu cepat sembuh. Tapi jangan bodoh. Jangan lakukan aktivitas berat minimal dua minggu."

"Aku tidak punya dua minggu," jawab Arjuna sambil coba duduk. Setiap gerakan terasa sakit tapi ia tahan. "Aku harus pergi hari ini."

"Pergi kemana? Mau bunuh diri?" Dokter Arman menggeleng. "Dengar, anak muda. Aku sudah lihat banyak orang sepertimu. Orang yang buru-buru mau jadi pahlawan. Dan kebanyakan dari mereka berakhir di meja operasiku. Atau lebih buruk, di pemakaman."

"Aku tidak punya pilihan."

"Semua orang punya pilihan. Kau cuma tidak suka pilihannya." Dokter itu ambil tasnya. "Tapi aku tidak bisa paksa kau. Ini obat pereda sakit. Minum kalau sudah tidak tahan. Dan ini antibiotik. Tiga kali sehari. Kalau kau tidak mau infeksi jadi sepsis."

Ia berikan dua botol obat. Arjuna terima dengan tangan yang masih gemetar.

"Terima kasih, Dok. Untuk semuanya."

"Jangan berterima kasih. Cuma jaga dirimu. Dunia ini sudah terlalu banyak kehilangan anak muda yang baik."

Dokter Arman pergi. Meninggalkan Arjuna dengan Pixel yang sudah siap dengan tas ransel penuh perbekalan.

"Aku sudah cek koordinatnya," kata Pixel sambil tunjukkan peta di laptopnya. "Desa Lembah Kabut ada di tengah hutan pegunungan. Tidak ada jalan resmi. Kita harus jalan kaki dari desa terdekat, kira-kira lima jam trekking. Medannya berat. Banyak tanjakan."

"Lima jam?" Arjuna menatap tubuhnya sendiri yang penuh perban. "Aku... aku tidak yakin bisa."

"Maka kita jalan pelan. Istirahat sesering yang kau butuh." Pixel bantu Arjuna berdiri. "Ayo. Kita sudah buang terlalu banyak waktu."

Mereka keluar dari klinik saat matahari baru terbit. Udara pagi dingin, kabut tipis masih menutupi jalan. Mereka naik angkot tua yang penuh dengan petani yang mau ke pasar, lalu ganti bis menuju pegunungan.

Perjalanan terasa sangat panjang. Setiap lubang di jalan yang bikin bis bergoyang membuat luka Arjuna terasa seperti terbuka lagi. Ia gigit bibir, tahan sakit, tidak mau Pixel khawatir lebih dari yang sudah.

Mereka turun di desa kecil bernama Cibodas. Desa terakhir sebelum hutan mulai. Penduduknya menatap mereka dengan curiga. Dua anak muda dengan tas besar, wajah penuh luka, mata yang tidak tidur.

"Kalian mau kemana?" tanya seorang pria tua yang duduk di warung.

"Jalan-jalan," jawab Pixel cepat. "Mau lihat air terjun."

"Air terjun ada di arah sana," pria itu tunjuk ke kiri. "Tapi kalian sepertinya mau ke arah lain. Ke arah yang tidak ada di peta wisata."

Pixel dan Arjuna saling menatap.

"Dengar," pria tua itu melangkah lebih dekat, suaranya turun jadi bisikan. "Kalau kalian mau ke Lembah Kabut, lebih baik jangan. Tempat itu terkutuk. Orang yang masuk, jarang yang keluar."

"Terkutuk bagaimana?" tanya Arjuna.

"Kabut di sana tidak normal. Terlalu tebal. Terlalu dingin. Dan ada yang bilang... ada yang bilang tempat itu jadi sarang orang-orang yang bersembunyi dari hukum. Penjahat. Pembunuh. Orang yang tidak mau ditemukan."

"Kami harus tetap pergi," kata Arjuna. "Ada seseorang yang menunggu kami di sana."

Pria tua itu menatap mereka lama. Lalu ia mengangguk pelan, seperti mengerti sesuatu yang tidak ia katakan.

"Berhati-hatilah. Dan kalau bertemu dengan kabut yang terlalu tebal sampai kalian tidak lihat tangan sendiri, jangan panik. Berhenti. Tunggu. Kabut akan buka jalan untuk orang yang ditunggu."

Kata-kata aneh yang tidak masuk akal. Tapi Arjuna mengangguk. "Terima kasih."

Mereka masuk ke hutan. Jalan setapak yang sempit, licin karena lumut, dikelilingi pohon-pohon tinggi yang menghalangi sinar matahari. Udara dingin, lembab, setiap napas terlihat seperti asap.

Sejam pertama masih oke. Arjuna bisa jalan dengan bantuan tongkat yang Pixel buat dari ranting. Tapi sejam kedua, kakinya mulai lemas. Napasnya tersengal. Keringat dingin membasahi bajunya.

"Istirahat," kata Pixel, berhenti di bawah pohon besar. "Kau pucat sekali."

"Aku tidak apa-apa," bohong Arjuna. Tapi saat ia coba melanjutkan, kakinya goyah, ia hampir jatuh kalau Pixel tidak tangkap.

"Bohong yang lebih baik," Pixel membaringkan Arjuna di tanah yang kering. "Istirahat sepuluh menit. Minum obat. Makan sesuatu."

Arjuna tidak bisa protes. Tubuhnya tidak kuat. Ia berbaring di sana, menatap dedaunan di atas yang bergerak ditiup angin pelan.

"Kau pikir dia benar-benar di sana?" tanya Arjuna pelan. "Ayahku? Atau ini semua jebakan?"

"Entah," jawab Pixel sambil buka botol air, berikan ke Arjuna. "Tapi kita sudah sampai sejauh ini. Tidak ada gunanya balik sekarang."

"Kalau ini jebakan, kita akan mati."

"Maka kita mati bersama. Lebih baik dari mati sendirian, kan?"

Arjuna tersenyum tipis. "Kapan kau jadi filosofis begini?"

"Sejak aku hampir mati beberapa kali minggu ini." Pixel duduk di sebelahnya, tatap langit yang tertutup dedaunan. "Kau tahu, dulu aku pikir hidupku akan mudah. Jadi hacker. Cari uang. Hidup nyaman. Tapi kemudian aku ketemu kalian dan... dan hidupku jadi kacau. Jadi berbahaya. Tapi anehnya..."

Ia berhenti sebentar.

"Anehnya aku merasa lebih hidup sekarang dari sebelumnya. Merasa aku benar-benar berguna untuk sesuatu. Bukan cuma buat bobol akun bank orang kaya yang tidak akan sadar kehilangan beberapa juta."

"Kau berguna, Pixel," kata Arjuna. "Sangat berguna. Tanpa kau, aku sudah mati di warnet waktu itu. Atau di gudang. Atau di pelabuhan. Kau... kau sudah selamatkan nyawaku berkali-kali."

"Dan kau selamatkan hidupku dengan kasih aku alasan untuk berjuang." Pixel tersenyum. "Jadi kita impas."

Mereka diam sebentar, menikmati kesunyian hutan yang hanya ditemani suara burung dan angin.

"Sari pasti ketakutan sekarang," bisik Arjuna. "Sendirian di rumah Adrian. Tidak tahu apakah kita akan datang atau tidak."

"Dia kuat," kata Pixel. "Lebih kuat dari yang dia pikir. Dia akan bertahan."

"Aku harap kau benar."

Mereka lanjutkan perjalanan setelah sepuluh menit. Jalannya semakin menanjak, semakin licin. Pixel harus sering bantu Arjuna yang kakinya terus tergelincir. Beberapa kali Arjuna jatuh, lututnya berdarah, tapi ia bangkit lagi. Terus jalan. Tidak ada pilihan lain.

Jam ketiga, kabut mulai muncul. Tipis dulu. Lalu semakin tebal. Semakin tebal sampai mereka hampir tidak bisa lihat jalan di depan.

"Ini kabutnya," kata Pixel. "Kabut yang pria tua itu bilang."

Mereka berhenti. Kabut begitu tebal sampai Arjuna tidak bisa lihat Pixel yang cuma sejengkal di sebelahnya. Dingin. Sangat dingin sampai jarinya mati rasa.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Arjuna.

"Dia bilang tunggu. Kabut akan buka jalan untuk orang yang ditunggu."

Mereka tunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Tidak ada perubahan. Kabut tetap tebal.

Lalu tiba-tiba, angin datang. Angin kencang yang tidak ada sebelumnya. Meniup kabut, membukanya seperti tirai, menciptakan jalan sempit yang bisa mereka lihat.

"Jalan," bisik Pixel. "Ada jalan."

Mereka ikuti jalan itu. Kabut di kanan kiri tetap tebal tapi di tengah ada jalur yang jelas. Seperti seseorang memang membuka jalan untuk mereka.

Sepuluh menit berjalan, mereka sampai di ujung hutan. Dan di sana...

Di sana ada desa kecil. Sangat kecil. Mungkin cuma sepuluh rumah. Semua rumah kayu sederhana dengan atap jerami. Tidak ada listrik. Tidak ada kendaraan. Hanya lampu minyak yang menyala redup dari jendela.

"Desa Lembah Kabut," gumam Pixel.

Mereka masuk ke desa. Tidak ada orang di jalan. Terlalu sepi. Terlalu sunyi. Seperti desa hantu.

Tapi di ujung desa, ada satu rumah yang lebih besar dari yang lain. Rumah kayu dengan teras lebar. Dan di teras itu, duduk seorang pria.

Pria dengan kacamata. Rambut yang sudah mulai memutih. Wajah yang kurus tapi mata yang... mata yang Arjuna kenal sangat baik.

Mata ayahnya.

"Hendrawan..." bisik Arjuna.

Pria itu berdiri. Melangkah turun dari teras. Dan saat ia dekat, saat cahaya lampu minyak menerangi wajahnya dengan jelas, tidak ada keraguan lagi.

Itu ayahnya.

Hendrawan Surya.

Masih hidup. Masih bernapas. Masih di sini.

"Arjuna," suara pria itu bergetar. "Anakku. Kau... kau datang."

Arjuna tidak bisa bergerak. Tidak bisa bicara. Cuma menatap pria di depannya dengan mata yang mulai basah.

"Kenapa?" akhirnya suaranya keluar. Serak. Hancur. "Kenapa kau biarkan aku pikir kau mati? Kenapa kau tidak bilang kau masih hidup? KENAPA?!"

Hendrawan melangkah maju, tapi Arjuna mundur.

"Jangan... jangan dekat. Jangan sentuh aku. Aku tidak... aku tidak tahu apakah aku mau memelukmu atau memukulmu sekarang."

"Arjuna, biarkan ayah jelaskan..."

"Jelaskan apa?! Jelaskan kenapa kau membiarkan anakmu sendiri menderita?! Membiarkanku menangis di atas kuburan kosong?! Membiarkanku berjuang sendirian melawan monster yang kau ciptakan?!"

"Ayah melakukannya untuk melindungimu!"

"DENGAN MEMBOHONGIKU?!" Arjuna berteriak, air matanya jatuh deras sekarang. "Dengan bikin aku pikir aku yatim?! Itu bukan perlindungan! Itu pengkhianatan!"

Hendrawan terdiam. Wajahnya hancur. Ia jatuh berlutut di tanah, tangannya gemetar.

"Kau benar," bisiknya. "Kau benar, anakku. Ayah pengkhianat. Ayah pengecut. Ayah... ayah tidak layak jadi ayahmu."

Ia menangis. Menangis keras seperti orang yang sudah menahan terlalu lama. Bahunya bergetar, tangannya menutupi wajahnya, suara tangisnya terdengar seperti orang yang patah total.

"Maafkan ayah," raungnya. "Maafkan ayah yang tidak bisa melindungimu dengan cara yang benar. Yang tidak cukup kuat untuk hadapi kau langsung. Yang memilih kabur dan sembunyi seperti pengecut. Maafkan ayah..."

Arjuna menatap pria di depannya. Pria yang dulu terlihat begitu kuat, begitu bijaksana. Sekarang hanya pria tua yang patah, yang menangis seperti anak kecil.

Dan melihat itu, kemarahan Arjuna perlahan mencair. Digantikan oleh sesuatu yang lebih kompleks. Campuran antara marah, sedih, lega, bingung, dan... dan rindu. Rindu yang sudah ia tahan sejak ia pikir ayahnya mati.

Ia melangkah maju. Perlahan. Lutut ke tanah di depan ayahnya. Dan ia memeluknya.

Memeluk erat. Begitu erat sampai tulang rusuknya yang patah terasa sakit luar biasa tapi ia tidak peduli.

"Aku benci kau," bisiknya di telinga ayahnya. "Aku benci kau karena kau bohong. Tapi aku... aku juga mencintaimu. Dan aku rindu. Sangat rindu."

Hendrawan memeluk balik. Memeluk anaknya yang sudah ia pikir tidak akan pernah ia peluk lagi. Mereka menangis bersama di tengah kabut tebal, di desa yang tidak ada di peta, dikelilingi kegelapan malam.

Pixel berdiri beberapa meter jauh, memberi mereka ruang. Matanya juga basah melihat reuni yang begitu menyakitkan tapi juga begitu indah ini.

"Ayo masuk," kata Hendrawan akhirnya, suaranya serak. "Ayo masuk. Ada banyak yang harus ayah ceritakan. Banyak yang harus kita rencanakan. Karena besok... besok kita akan memulai perang yang sebenarnya. Perang untuk menyelamatkan Sari. Dan perang untuk menghancurkan Adrian Mahendra sekali untuk selamanya."

Mereka masuk ke rumah kayu itu. Hangat dari api di perapian. Sederhana tapi terasa seperti rumah.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Arjuna merasa ia tidak sendirian lagi.

Ia punya ayahnya kembali.

Meski hubungan mereka mungkin tidak akan pernah sama lagi.

Meski kepercayaan sudah retak.

Setidaknya mereka masih punya satu sama lain.

Dan itu... itu cukup untuk sekarang.

Setidaknya sampai perang dimulai.

Dan sampai mereka semua mungkin mati mencoba.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!