NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pendekar Bintang

Bangkitnya Pendekar Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Reijii

mengisahkan perjalanan Liu Wei, seorang pemuda yang kehilangan desa dan keluarga karena serangan kelompok jahat Pasukan Bayangan Hitam. Setelah bertemu Chen Mei dari Sekte Bintang Penyusun, ia mengetahui bahwa dirinya adalah salah satu dari enam Pendekar Bintang terpilih yang bertugas menjaga keseimbangan alam semesta.

Dengan membawa Pedang Angin Biru pusaka keluarga dan Kalung Panduan Bintang, Liu Wei harus mencari Pendekar lainnya sebelum Pasukan Bayangan Hitam yang dipimpin oleh Zhang Feng menangkap mereka semua dan mendapatkan Lima Batu Kekuatan yang bisa menghancurkan dunia. Perjalanan penuh bahaya menantinya, di mana ia harus menguasai kekuatan batinnya dan menyatukan kekuatan rekan-rekannya untuk menghadapi ancaman kegelapan yang semakin besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Api Dan Kemahiran Dikota Emas Tian Jin

Kapal kayu milik Zhou Yu melaju dengan cepat di atas permukaan air yang tenang. Matahari pagi menyinari permukaan laut dengan cahaya keemasan, membuat Kota Emas Tian Jin terlihat seperti sebuah mahkota yang terpampang di pesisir. Liu Wei berdiri di bagian depan kapal, mengamati kota yang semakin dekat sambil memegang erat Kalung Panduan Bintang yang terpancar cahaya lembut.

“Kota Tian Jin dikenal sebagai pusat perdagangan dan kebudayaan di wilayah ini,” jelas Zhou Yu yang berdiri di sisinya sambil mengatur arah kapal. “Namun belakangan ini, suasana kota menjadi sangat tidak kondusif. Banyak orang yang mengatakan ada kekuatan aneh yang mengganggu ketertiban.”

Chen Mei mendekat membawa tiga mangkuk sup ikan panas. “Itu pasti karena keberadaan Wu Jing. Kekuatan api yang dia miliki terkadang sulit dikendalikan, terutama jika dia sedang dalam keadaan marah atau tertekan. Katanya dia menjadi penjaga di sebuah kuil kuno di tengah kota.”

Setelah beberapa saat lagi, kapal berhasil menyandar di dermaga Kota Tian Jin. Mereka segera turun dan berjalan menuju pusat kota yang ramai. Jalan-jalan yang dipenuhi dengan pedagang dan pembeli terlihat lebih sepi dari biasanya. Wajah-wajah orang-orang di sekitar tampak khawatir, bahkan ada yang berjalan dengan tergesa-gesa seolah ingin segera pulang ke rumah.

“Saya merasa ada sesuatu yang tidak benar,” bisik Liu Wei sambil mengamati sekeliling. “Udara di sini terasa sangat tegang.”

Tiba-tiba, suara teriakan terdengar dari arah kuil yang terletak di atas bukit kecil di tengah kota. Sebuah lautan api merah menyala terang di sekitar area kuil, namun anehnya tidak ada satu pun bangunan yang terbakar. Api itu hanya mengelilingi tembok tinggi kuil seperti penjaga yang tak terlihat.

“Itu pasti dia,” kata Zhou Yu dengan serius. “Kita harus segera pergi ke sana sebelum ada korban yang tidak perlu.”

Mereka berlari dengan cepat melewati jalan-jalan yang semakin sepi hingga sampai di kaki bukit. Di sana, sekelompok pria berpakaian hitam dengan lambang kepala naga hitam sedang berusaha mendekati area yang dikelilingi api. Liu Wei mengenali mereka sebagai anggota Pasukan Bayangan Hitam.

“Ternyata mereka sudah sampai sebelum kita juga,” ucap Chen Mei dengan wajah muram. “Sepertinya mereka sudah merencanakan semuanya dengan matang.”

Di depan kelompok itu, seorang pria dengan rambut merah kecoklatan yang mengembang seperti nyala api berdiri tegak. Badan besarnya dibaluti baju besi hitam dengan aksen merah, tangannya terbuka lebar sambil mengendalikan lautan api yang mengelilingi kuil. Wajahnya gagah dengan alis yang tebal dan mata yang menyala seperti bara api—dia adalah Wu Jing, Pendekar Api.

“Jangan berani mendekati kuil ini!” teriak Wu Jing dengan suara yang menggema seperti guntur. “Saya tidak akan membiarkan kalian menyentuh apa pun yang ada di dalamnya!”

Seorang pria tinggi dengan wajah tajam yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok itu melangkah maju. Liu Wei mengenalnya dari cerita Chen Mei—Zhao Hu, salah satu jenderal utama Pasukan Bayangan Hitam dan anak buah tangan Zhang Feng.

“Wu Jing, kamu tahu bahwa kita tidak ingin membuat masalah,” ucap Zhao Hu dengan senyum yang tidak bisa dipercaya. “Kita hanya ingin kamu bergabung dengan kita dan menyerahkan Batu Kekuatan Api yang kamu miliki. Bersama kita, kamu bisa mendapatkan kekuatan yang tidak terbatas.”

“Kekuatan yang kamu maksudkan adalah kekuatan untuk menghancurkan dunia!” balik Wu Jing dengan marah. “Saya tidak akan pernah bergabung dengan kelompok seperti kalian yang hanya menginginkan kehancuran!”

Tanpa berlama-lama lagi, Zhao Hu memberi isyarat kepada anak buahnya. Beberapa dari mereka menarik senjata khusus yang terbuat dari logam hitam, kemudian mulai mengeluarkan aliran energi gelap yang mencoba menekan lautan api Wu Jing. Api yang tadinya menyala terang mulai redup karena energi gelap itu.

“Kita harus membantu dia sekarang!” teriak Liu Wei sambil menarik Pedang Angin Biru yang segera menyala dengan cahaya kebiruan.

Ketiganya melompat ke arah medan perang. Zhou Yu segera mengangkat tangannya ke arah sumur yang berada di dekat kuil, menarik air untuk membentuk seperti beberapa panah besar yang menyerang anggota Pasukan Bayangan Hitam. Chen Mei mengeluarkan peluru kristalnya yang menyala dengan cahaya keemasan, menembak ke arah mereka yang sedang sibuk menghadapi serangan air.

Liu Wei menghadapi Zhao Hu dengan pedangnya siap. “Kita sudah cukup melihat kekerasan yang kamu lakukan! Sekarang waktunya kamu mendapatkan balasannya!”

Zhao Hu hanya tertawa dingin. “Andaikan kamu bisa mengalahkan saya, pemuda bodoh! Saya sudah menunggu lama untuk bertemu dengan Pendekar Bintang Utama yang terkenal itu.”

Mereka saling menyerang dengan kecepatan tinggi. Pedang Liu Wei yang penuh dengan energi bintang bertempur dengan pedang besar Zhao Hu yang penuh dengan energi gelap. Setiap benturan menghasilkan percikan cahaya yang menyilaukan dan suara dentuman yang keras.

Sementara itu, Wu Jing berhasil membebaskan diri dari serangan energi gelap setelah Zhou Yu membantunya dengan mengirimkan aliran air yang membersihkan energi gelap dari area sekitarnya. Api Wu Jing kembali menyala terang, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

“Terima kasih atas bantuanmu!” teriak Wu Jing sambil mengontrol api untuk membentuk seperti naga besar yang menyerang kelompok Pasukan Bayangan Hitam.

Bersama-sama, keempat pendekar itu menghadapi ratusan anggota Pasukan Bayangan Hitam. Meskipun musuhnya banyak, kekuatan mereka yang berasal dari elemen alam dan Bintang Penyusun membuat mereka mampu bertahan. Liu Wei merasakan kekuatan dari Kalung Panduan Bintang yang semakin kuat setiap saat, seolah-olah kalung itu sedang menyatukan kekuatan keempat dari mereka.

Namun Zhao Hu bukanlah lawan yang mudah dikalahkan. Dia berhasil menghindari setiap serangan Liu Wei dengan gesit, bahkan terkadang bisa menyerang balik dengan kekuatan yang luar biasa. Saat Liu Wei sedikit terlambat menghindari, tangan Zhao Hu menyentuh bahunya dan menyuntikkan energi gelap yang membuat tubuhnya terasa seperti terbakar.

“Aduh!” teriak Liu Wei sambil terpental mundur.

Zhao Hu melihatnya dengan senyum sombong. “Kamu masih terlalu muda dan lemah, Pendekar Bintang Utama. Tidak mungkin kamu bisa mengalahkan kekuatan kegelapan yang kita miliki!”

Saat Zhao Hu siap menyerang dengan serangan mematikan, Wu Jing muncul dari samping dengan tubuhnya yang menyala seperti bola api. Dia menendang Zhao Hu dengan kekuatan penuh, membuat pria itu terpental jauh dan jatuh di atas tanah yang terbakar karena panas dari tubuh Wu Jing.

“Kita tidak punya waktu untuk bermain-main lagi!” kata Wu Jing sambil berdiri di sisinya. “Mari kita selesaikan ini sekarang juga!”

Liu Wei mengangguk, kemudian menutup matanya dan fokus pada kekuatan yang ada di dalam dirinya. Dia merasakan getaran dari Kalung Panduan Bintang, dari tato di tangannya, dan dari kekuatan teman-temannya di sekelilingnya. Ketika dia membuka mata lagi, matanya menyala dengan cahaya keemasan yang kuat.

Bersama Zhou Yu dan Chen Mei, mereka mengeluarkan serangan gabungan—angin biru dari Pedang Angin Biru, air biru dari Zhou Yu, api merah dari Wu Jing, dan cahaya keemasan dari Chen Mei. Serangan itu menyatu menjadi satu bentuk seperti bintang enam sisi yang menghantam langsung ke arah Pasukan Bayangan Hitam.

Suara ledakan yang sangat kuat terdengar, dan ketika asapnya hilang, sebagian besar anggota Pasukan Bayangan Hitam sudah terlindas atau melarikan diri. Zhao Hu yang masih bisa berdiri melihat mereka dengan wajah penuh kemarahan.

“Ini belum selesai!” jeritnya dengan suara yang menggema. “Pimpinan kita akan datang dan menghancurkan kalian semua!”

Setelah itu, Zhao Hu melarikan diri dengan cepat ke arah hutan yang berada di belakang kota. Wu Jing ingin mengejarnya, tapi Chen Mei menarik bajunya.

“Biarkan dia pergi. Kita sudah mendapatkan apa yang kita butuhkan di sini. Yang penting adalah kamu aman dan bersedia bergabung dengan kita.”

Wu Jing menghela napas dalam dan kemudian melihat ke arah Liu Wei dengan ekspresi yang lebih lembut. “Kamu benar. Saya sudah cukup sendirian dan marah selama ini. Saatnya saya bergabung dengan kalian untuk melindungi dunia dari ancaman yang sesungguhnya.”

Dia menarik bagian bajunya yang terbuka, menunjukkan tanda bintang berwarna merah menyala di bagian dadanya. Tanda itu segera bersinar dengan cahaya yang sama dengan tanda pada teman-temannya.

“Baiklah,” kata Chen Mei dengan senyum lega. “Sekarang kita sudah menemukan tiga Pendekar Bintang. Masih ada tiga lagi yang harus kita temukan sebelum terlambat. Yang berikutnya adalah Xie Lan, Pendekar Tanah yang berada di Desa Batu Besar di pedalaman.”

Liu Wei mengangguk, meskipun tubuhnya masih terasa lemah karena energi gelap dari Zhao Hu. Dia tahu bahwa perjalanan mereka akan semakin sulit, dan ancaman dari Zhang Feng dan Pasukan Bayangan Hitam akan semakin besar. Namun dengan adanya teman-teman baru yang kuat dan setia, dia merasa lebih siap untuk menghadapi segala rintangan yang akan datang.

Di atas langit Kota Emas Tian Jin, pola enam bintang bersinar lebih terang dari biasanya—tiga bintang sudah menyala dengan terang, sementara tiga lainnya masih tampak redup, menunggu saat mereka akan bangkit bersama.

 

1
sakau
nicee😘
beby
gas lanjuttt
beby
🫡🫡
tyson
💪💪💪
mamak
😘😘
ajanh
🫡🫡
andi
👌👌
andi
mantap
sambo
keren
lukman
uraa
lukman
joss
ciko
👍👍
bara
lanjut👍👍
jarot
lanjuty
andikubro
🫡🫡
andikubro
✊️✊️
bakacimpuang
lumayan bagus👍
bakacimpuang
shap
songcu
shap,lanjutkan
songcu
bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!