Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.
Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.
Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.
Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Biaya Menjadi Keluarga
Sebuah taksi berhenti di depan kantor polisi. Lampu neon menerangi bangunan yang sunyi. Ayza menghela napas pelan sebelum membuka pintu dan turun.
Tak lama kemudian ia berdiri di depan meja petugas. Tangannya terlipat di depan perut. Tenang. Terlalu tenang untuk situasi seperti ini.
Di bangku besi seberang, Fahri duduk dengan wajah setengah lebam. Ada goresan merah di pelipis. Jaket kulitnya kusut. Lututnya bergoyang gelisah. Matanya beberapa kali melirik Ayza, tapi tak berani lama.
“Ini kasus perkelahian ringan,” kata petugas itu sambil meneliti berkas. “Korban mau damai. Tapi ada biaya administrasi dan ganti rugi kecil.”
Ayza mengangguk. “Berapa, Pak?”
Angkanya disebutkan. Tidak kecil bagi seseorang yang harus menghitung belanja sampai receh.
Ayza tidak langsung menjawab. Ia membuka tasnya pelan. Dompet cokelat sederhana dikeluarkan. Jarinya berhenti sejenak di atas ritsleting.
Uang itu untuk membeli sayur dan beras selama seminggu. Uang gas. Ia menarik napas sekali. Pendek, tapi terkendali.
“Bisa sekarang?” tanya petugas.
“Bisa, Pak,” jawab Ayza.
Ia menghitung lembaran itu satu per satu. Tangannya tidak gemetar. Yang bergetar hanya sesuatu di dalam dadanya, tapi tidak keluar ke wajah.
Fahri menegakkan punggung. “Kalau gak punya uang, gak usah sok mau bayar,” suaranya sinis tertahan. “Nanti aja. Tunggu Kak Reza—”
Ayza menoleh. Tatapannya lurus, tidak keras, tapi cukup membuat Fahri berhenti bicara.
“Kakakmu gak bisa dihubungi,” katanya pelan. "Kau mau menginap di sini sampai besok?"
Fahri tak menjawab, ia memalingkan wajahnya, tangannya terkepal erat.
Petugas menerima uang itu, lalu mendorong berkas ke arah Ayza. “Tanda tangan di sini, Bu.”
Ayza menandatangani dengan rapi dan tegas.
Beberapa menit kemudian, Fahri dibebaskan. Ia berdiri berdiri dan bergegas pergi dari kantor polisi. Namun langkahnya tidak ringan. Udara malam menyentuh kulitnya, terasa lebih dingin.
Fahri berhenti. Tanpa menoleh ia berkata, “Jangan merasa jadi pahlawan karena bebasin gue. Karena lo bebasin gue pakai uang kakak gue.”
Ayza mengancingkan tasnya. “Aku hanya menjalankan tugasku sebagai menantu, istri kakakmu dan kakak iparmu.” Ia melangkah lebih dulu.
“Gue pikir lo bakal marah,” gumam Fahri masih dengan senyum sinisnya.
Ayza berhenti, lalu menoleh.
“Kemarahan,” katanya tenang, “tidak menyelesaikan apa pun.”
Ayza kembali melanjutkan langkahnya. Fahri terdiam sejenak, lalu mengibaskan tangannya berjalan menuju parkiran.
Dalam mobil, Ayza duduk diam. Tangannya terlipat di pangkuan. Di kepalanya, ia sudah menghitung ulang belanja besok. Mengganti lauk, mengurangi satu kebutuhan.
"Harus cukup," batinnya.
Ia tidak mengeluh, tidak menyalahkan. Namun jauh di dalam hatinya, satu keputusan mengeras pelan. Ia tak akan terus menutup lubang yang tidak dibuatnya.
***
Ayza baru saja selesai menyiapkan sarapan ketika Fahri keluar dari kamar. Rambutnya masih berantakan, wajahnya kusut dan lebam semalam masih terlihat.
Ia menatap meja. Di sana hanya ada nasi putih, telur dadar tipis, tumis sayur sederhana dan air putih.
Fahri mendengus. “Serius?” Ia mendorong piring dengan ujung jari. “Ini doang?”
Ayza tidak langsung menoleh, apalagi menjawab. Ia melanjutkan menuang air panas ke cangkirnya sendiri.
“Biasanya sarapan di rumah ini nggak kayak gini,” lanjut Fahri. “Minimal ayam lah. Atau daging. Ini?” ia menunjuk meja. "Kampungan banget. Kayak menu sarapan orang kismis."
Ayza duduk di seberangnya. Gerakannya tenang, tidak terburu-buru. “Kita lagi hemat,” ucapnya singkat.
Fahri tertawa pendek. “Hemat apaan? Kak Reza itu—”
“Kak Reza tidak menambah uang belanja,” potong Ayza, suaranya datar.
Fahri terdiam sepersekian detik, lalu menyendok telur dengan malas. “Terus?”
Ayza mengaduk tehnya pelan. “Uang keperluan rumah kemarin dipakai.”
Sendok Fahri berhenti di udara. “Dipakai buat apa?”
Ayza mengangkat wajah, menatap adik iparnya lurus. Ia tidak menuduh, atau menyalahkan. “Buat ngeluarin kamu dari kantor polisi.”
Fahri terdiam sejenak, lalu berkata. “Lo pasti boros. Masa cuma bayar segitu doang uang lo langsung habis.”
Ayza menghela napas pelan. "Kakakmu cuma ngasih uang seperlunya. Gak lebih. Jadi kalau ada kebutuhan diluar prediksi, Kakak terpaksa harus berhemat."
“Tinggal minta lagi sama Kak Reza. Beres. Ribet amat jadi orang."
“Kakakmu gak bisa dihubungi,” jawab Ayza tenang. “Ayah minta Kakak urus.”
Fahri mendengus. "Gak mungkin Kak Reza gak bisa dihubungi." ia mencondongkan tubuhnya ke depan. "Jangan-jangan sengaja gak mau lo hubungi." Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas. "Lo cuma istri siri yang gak dianggap." ia terkekeh, menertawakan Ayza.
Ayza tidak menjawab langsung. Ia mengambil sepotong telur, memakannya pelan. "Aku hanya sementara. Gak butuh perhatian."
Fahri mendengus, meletakkan sendoknya. "Gue jadi males di rumah," ujarnya lalu beranjak dari duduknya dan kembali ke kamarnya.
Tak lama kemudian, Fahri keluar dari kamarnya. Ia memakai kaus polos dan celana gelap. Jaket jeans disampirkan asal di bahu. Ia tak melirik meja makan, apalagi pamit. Langkahnya lurus ke arah garasi.
Beberapa detik setelah pintu tertutup, suara motornya meraung. Gas digeber kasar dan tak lama, suaranya menghilang di ujung jalan.
Ayza menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia menatap kursi yang tadi diduduki Fahri, masih agak bergeser. Sendoknya terletak miring tak rapi, isinya tak habis.
“Bunda yang lembut,” gumamnya pelan. “Ayah yang tenang.” Tangannya menyusun piring satu per satu. “Dan anak-anak mereka…”
ia menggeleng pelan tak melanjutkan kata-katanya. Tak perlu.
Ponselnya bergetar di atas meja. Ayza melirik layar. Nama Ayah menyala.
Ia berhenti sejenak sebelum mengangkat, menarik napas lebih dalam dari biasanya. “Assalamu’alaikum, Yah,” ucapnya lembut.
“Wa’alaikumsalam.” Suara Rahman terdengar berat, tapi hangat. “Bagaimana semalam, Za? Fahri sudah pulang?”
“Alhamdulillah sudah, Yah,” jawabnya tenang. “Setelah… urusan administrasi dan ganti rugi diselesaikan.”
Ada jeda, lalu helaan napas di seberang. “Syukurlah,” kata Rahman, kali ini lebih ringan. “Za…”
"Iya, Yah?"
“Ayah percaya kamu bisa jaga Fahri.” Suaranya merendah, bukan memerintah. “Anak itu… keras. Ayah harap kamu sabar.”
Ayza memejamkan mata sebentar. Bukan lelah, lebih seperti menenangkan sesuatu di dada.
“InsyaAllah, Yah,” katanya. “Ayza akan jaga sebaik yang Ayza bisa.”
Telepon ditutup. Layar ponsel kembali gelap.
Ayza menatap pantulan wajahnya sendiri di layar hitam itu beberapa detik, lalu meletakkannya pelan di meja. Ia kembali membereskan sisa sarapan.
“Ujian,” gumamnya lirih, hampir tak bersuara. “Kalau ini caranya…”
Piring terakhir disusun, meja kembali rapi. Dan Ayza tahu, ini hanya permulaan.
***
Ayza membuka dompetnya dan menghitung isinya. "Tinggal lima puluh ribu," batinnya.
Reza tak pulang sudah beberapa hari. Tak ada pesan, tak ada kabar dan tak bisa dihubungi.
Ia menutup dompet itu pelan. “Aku nggak punya pilihan lain,” gumamnya lirih.
Bermodal uang lima puluh ribu, Ayza memesan taksi. Sepanjang perjalanan ia menatap ke luar jendela. Bibirnya terus bergerak, sementara jari-jarinya menggeser manik-manik tasbih.
Taksi berhenti, Ayza turun dan berdiri di depan sebuah gedung tinggi berlapis kaca. Namanya terpampang rapi di bagian atas, nama yang selama ini hanya ia dengar dari percakapan keluarga, tak pernah ia datangi.
Ayza menarik napas. Gedung itu terasa asing baginya, namun ia tetap melangkah masuk.
Gamisnya longgar menjuntai sampai mata kaki. Hijab panjang menutup dada hingga pinggul. Cadar terpasang rapi, menyisakan mata yang tenang, meski lelah. Beberapa pasang mata menoleh. Ada yang sekadar melirik, ada yang terang-terangan menilai.
Ayza tak mempercepat langkah, tak pula menunduk. Ia berhenti di depan meja resepsionis.
“Permisi.”
...🔸🔸🔸...
..."Ada harga yang harus dibayar hanya karena kita berada di posisi yang salah, pada waktu yang salah."...
..."Ia tidak marah. Ia hanya belajar, sampai di mana batas yang tak boleh ia lewati lagi."...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍