Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serpihan Ingatan
Kesadaranku naik perlahan seperti ditarik dari dasar air yang dalam. Kepalaku masih berat, tapi aku sudah bisa merasakan kasur di bawah tubuhku dan selimut yang menutup sampai dada. Bau kamarku langsung menyambutku. Aku membuka mata perlahan.
Lampu kamar redup. Tirai sudah ditarik. Arven duduk di kursi dekat tempat tidur, tubuhnya condong ke depan, kedua sikunya bertumpu di lutut. Begitu melihat aku bergerak, ia langsung berdiri.
"Ren."
Suaranya tegang. Ia mendekat cepat, duduk di tepi ranjang, tangannya menyentuh pipiku lalu dahiku, memastikan aku benar-benar sadar.
"Ven..." suaraku serak.
"Aku di sini," jawabnya cepat. "Kamu pingsan tadi. Kamu bikin aku takut."
Aku memaksakan diri duduk, walau kepalaku masih sedikit berputar. "Aku nggak apa-apa," kataku pelan. "Mungkin cuma kecapean."
Matanya meneliti wajahku lama, seperti mencari tanda aku berbohong. Tangannya masih menggenggam jemariku, hangat, dan terlalu erat.
Di balik kepalaku yang masih berat, serpihan itu muncul lagi. Jalan aspal yang kasar, bau bensin, suara orang berteriak. Dan wajah itu, Bima. Ia terbaring tidak bergerak di seberang jalan.
Kenapa cuma dia?
Kenapa bukan Arven yang ada di sana?
Ingatanku tidak utuh. Hanya potongan yang tajam dan menyakitkan. Tapi satu hal terasa jelas ada sesuatu yang tidak pas.
Aku menelan ludah, menahan diri untuk tidak langsung bertanya. Aku sudah tahu jawabannya akan seperti apa. Arven pasti akan mengalihkan topik. Atau bilang aku belum siap. Atau bilang dokter melarangku memikirkan hal berat. Ia selalu begitu. Dia selalu cepat menutup pintu sebelum aku sempat melihat isinya.
Aku menarik napas pelan.
"Ven," kataku hati-hati. "Tadi kamu bilang....kamu ngebolehin aku keluar. Ke mana pun aku mau."
Ia langsung diam. Tangannya sedikit menegang di tanganku.
"Iya," jawabnya setelah beberapa detik. "Kalau itu bikin kamu nggak ninggalin aku, iya."
Aku menatapnya. Wajahnya masih lelah karena menangis, tapi ada kewaspadaan yang mulai muncul.
"Beneran?" tanyaku.
"Iya," ulangnya, walau suaranya tidak seyakin sebelumnya. "Kamu mau ke mana?"
Ini satu-satunya kesempatan. Kalau aku menunggu, ia akan berubah pikiran. Atau menemukan alasan baru untuk menahanku.
Aku berpura-pura berpikir ringan. "Kamu inget foto di album yang Mas Gio kasih nggak? Foto aku waktu sekolah."
Alisnya sedikit berkerut.
"Aku pengen ke sekolah itu," lanjutku. "Aku boleh pergi ke sana?"
Arven langsung menegang. Bahunya kaku. "Seren, itu jauh. Di luar kota."
"Iya," kataku cepat, sebelum ia sempat menyusun alasan. "Tapi dokter juga bilang aku harus sering-sering keluar, kan? Nggak boleh cuma di rumah terus. Kita bisa sekalian refreshing. Aku sama kamu."
Aku sengaja menambahkan itu. Aku sama kamu. Supaya ia tidak merasa terancam. Ia menatapku lama. Seolah sedang menghitung sesuatu di kepalanya. Jempolnya bergerak pelan mengusap punggung tanganku, tapi sentuhannya tidak lagi setenang tadi.
"Kamu tiba-tiba kepikiran sekolah?" tanyanya pelan.
"Cuma penasaran," jawabku, berusaha terdengar santai. "Aku lihat fotonya. Rasanya aneh aja. Kayak itu hidup aku, tapi aku nggak kenal sama sekali."
Itu tidak sepenuhnya bohong.
Bima muncul lagi di pikiranku. Serpihan kaca yang berkilat. Wajahnya pucat, tubuhnya tidak bergerak. Tidak ada Arven di potongan itu.
Kenapa?
Arven menarik napas panjang. Aku bisa melihat ia tidak suka ini. Tapi ia juga terjebak oleh kata-katanya sendiri.
Akhirnya ia berkata, "Oke."
Dadaku bergetar kecil, antara lega dan takut.
"Tapi di sana kamu harus denger kata aku, ya?" lanjutnya. "Kalau aku bilang istirahat, kamu istirahat. Kalau aku bilang cukup, kita pulang. Nggak ada maksa."
Aku mengangguk pelan. "Iya."
Ia masih menatapku, seolah mencoba membaca isi kepalaku.
"Aku cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa lagi," katanya lebih pelan. "Aku nggak mau kejadian setahun lalu terulang lagi."
Setahun lalu.
Kata-kata itu membuat napasku tersendat sesaat.
Aku memaksakan senyum kecil. "Aku juga nggak mau."
Ia membantuku berbaring lagi, menarik selimut sampai ke bahuku. Tangannya menyisir rambutku ke samping dengan gerakan yang lembut dan penuh perhatian. Terlalu lembut sampai terasa seperti cara untuk memastikan aku tetap di tempatnya.
"Aku siapin semuanya," katanya. "Kita berangkat lusa. Biar kamu besok istirahat dulu."
Aku mengangguk lagi.
Saat ia berdiri untuk mematikan lampu, aku memalingkan wajah ke arah jendela yang gelap. Dadaku masih terasa tidak tenang. Aku tidak tahu apa yang akan kutemukan di sana. Mungkin tidak ada apa-apa. Mungkin cuma rasa kosong yang sama.
Tapi kalau hanya Bima yang muncul di ingatanku saat aku hampir pingsan tadi, itu bukan kebetulan. Dan untuk pertama kalinya sejak aku kehilangan ingatan, aku tidak ingin Arven membantuku mencari jawaban.
Aku ingin melihatnya sendiri.
...****************...
BONUSS VALENTINE EDITION 😆 (gemes aja si pgn buat kek gini, berhubung hari ini aku upload nya pas Valentine ♡⸜(ˆᗜˆ˵ )⸝♡)
"Hari ini Valentine," kata Arven pelan, menatapku dengan senyum kecil yang sulit ditebak.
"Terus?" jawabku cepat, berusaha terdengar biasa saja, meski aku tahu sudut bibirku tidak bisa benar-benar menyembunyikan rasa penasaran.
"Terus....."
Ia melangkah mendekat tanpa ragu, satu tangannya melingkar di pinggangku. Gerakannya tenang seperti biasa, seolah semua sudah ia pikirkan sejak lama. Di tangan satunya, ada setangkai mawar merah.
"Cuma satu?" tanyaku, pura-pura mengejek.
Arven tidak langsung menjawab. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan pita kecil berwarna merah muda, lalu dengan ekspresi serius yang dibuat-buat, ia mengikat pita itu di rambutnya sendiri. Ikatannya berantakan, miring, bahkan hampir lepas.
"Apa lagi itu?" tanyaku, menahan tawa.
Ia menahan napas sebentar, lalu berkata dengan suara lebih pelan dari biasanya, "Mawar ini...." dia menunjuk bunga di tangannya, lalu menunjuk dirinya sendiri, "...sama orangnya sekalian, buat kamu."
"Aku nggak bawa apa-apa lagi," katanya jujur. "Jadi ya ini aja. Mawar sama aku."
Beberapa orang di sekitar kami melirik. Aku bisa merasakan tatapan itu, tapi Arven tidak terlihat peduli. Untuk pertama kalinya, dia justru terlihat sedikit canggung. Tangannya di pinggangku mengencang, seolah memastikan aku benar-benar ada di situ.
Aku tertawa. Benar-benar tertawa. Dan dia ikut tertawa juga, meski wajahnya masih memerah.
Aku berdiri berjinjit dan mencium ujung hidungnya dengan cepat. Ia langsung terdiam, matanya membesar sesaat sebelum akhirnya tersenyum lebar, senyum yang jarang ia tunjukkan pada orang lain.
Beberapa detik itu terasa tenang. Suara sekitar seperti menjauh. Arven tetap memelukku, tidak berkata apa-apa lagi. Tatapannya hanya tertuju padaku. Seolah-olah di dunia ini memang cuma ada aku yang penting untuknya.