Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.
Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.
Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.
Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.
Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.
Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Brak.....
Adam menutup pintu kamar hotel dengan kasar. Dia memojokkan tubuh Nayla di pintu dan mengangkat kedua tangannya ke atas kepalanya.
Adam yang tidak sabaran mencium bibir Nayla dengan sangat rakus, dia sudah menahan hasrat sejak tadi saat di restoran.
"Pelan-pelan sayang" ucap Nayla di sela-sela ciumannya.
"Tidak bisa baby, tubuhmu membuatku gila" kata Adam.
Dia memasukkan lidahnya kedalam mulut Nayla, dan mengabsen satu persatu deretan gigi wanita itum lidah keduanya saling membelit satu sama lain mencari kepuasan.
Ciuman Adam turun ke leher jenjang Nayla, dia meninggal jejak merah di sana. Sedangkan tangan yang satunya meraba punggung Nayla menurunkan resleting gaun yang di kenakan oleh wanita itu.
Dengan sekali gerakan, gaun yang di kenakan Nayla sudah turun ke bawah memperlihatkan tubuh polos wanita itu yang hanya berbalut pakaian dalam saja.
Tatapan Adam menggelap, nafasnya memburu merasakan gejolak hasrat dalam tubuhnya. Dia melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Nayla. Dia meremas kedua dada Nayla dengan penuh nafsu.
"Akhhh.... Sayang" desah Nayla sambil mendongak ke atas menikmati sentuhan Adam.
"Nikmati saja baby, setelah ini aku akan membawamu terbang" ucap Adam, dan memasukkan dada Nayla kedalam mulutnya.
*****
Di dalam rumah yang mulai sunyi, hanya terdengar suara detik jam dinding yang berdetak pelan. Lampu kamar Zayyan masih menyala temaram, menandakan sang pemilik belum juga terlelap. Bocah kecil itu mondar-mandir di atas ranjangnya, matanya berkali-kali menoleh ke arah pintu kamar, seolah berharap sosok yang ditunggunya tiba-tiba muncul.
“Daddy… daddy…” gumamnya lirih, suaranya terdengar serak karena terlalu sering merengek.
Sejak di rumah omanya Zayyan gelisah merindukan daddy nya. Sudah lama Adam tidak pernah bermain dengan putranya, dia selalu pulang larut malam. Sementara pagi-pagi sekali sang daddy juga sudah harus berangkat kerja, tidak ada waktu bersamanya.
Kiandra duduk di tepi ranjang, menatap putranya dengan tatapan lembut bercampur lelah. Tangannya mengelus punggung kecil itu, mencoba menenangkannya.
“Sayang, tidur ya. Daddy lembur kerja, pulangnya nanti malam.” bujuk Kiandra dengan lembut.
Zayyan menggeleng kuat-kuat, bibirnya mulai mengerucut, matanya berkaca-kaca. “No my… Zay lindu daddy, mau main cama daddy…” ucapnya dengan suara bergetar.
Kalimat sederhana itu membuat dada Kiandra terasa sesak. Ia tahu betul, Adam sudah terlalu sering pulang larut dalam beberapa minggu terakhir. Pekerjaan, rapat, dan urusan kantor seakan tak ada habisnya. Dan tanpa disadari, waktu untuk keluarga semakin tergerus.
Kiandra menghela napas panjang, menahan rasa bersalah yang tiba-tiba menyelinap. Ia kembali mengusap rambut Zayyan dengan lembut, lalu tersenyum menenangkan.
“Bagaimana kalau kita telepon daddy?” tawarnya.
“Mau, mommy!” seru Zayyan spontan. Wajahnya langsung berbinar, seolah harapan baru saja dinyalakan. Ia duduk manis, kedua tangannya memegang selimut, matanya menatap mommy nya dengan antusias.
Kiandra mengambil ponselnya dari nakas. Jarinya sedikit ragu sebelum menekan nama Adam di layar. Ia tahu suaminya pasti sedang sangat sibuk, tetapi melihat wajah penuh harap putranya, ia tak punya hati untuk menolak.
Tuttt…
Tuttt…
Nada sambung terdengar panjang. Kiandra melirik Zayyan yang kini memiringkan kepalanya, seakan mencoba mendengar suara dari ponsel itu.
Tut…
Tak ada jawaban sama sekali dari Adam.
Kiandra mencoba lagi, memencet tombol panggil ulang.
Tut…
Tut…
Masih sama. Sambungan terus berdering tanpa diangkat.
Perlahan, senyum di wajah Zayyan memudar. Matanya yang tadi berbinar kini meredup. Bahunya sedikit turun, bibirnya kembali mengerucut, kali ini lebih dalam.
“Daddy nggak angkat…” gumamnya lirih, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Kiandra menelan ludah. Hatinya terasa perih melihat perubahan ekspresi putranya. Ia segera memeluk Zayyan, menarik tubuh kecil itu ke dalam dekapannya.
“Daddy pasti lagi sibuk, sayang. Sekarang Zayyan tidur dulu ya, nanti kalau daddy telpon Mommy bangunkan Zayyan" ucapnya lembut, meski hatinya sendiri tidak sepenuhnya yakin.
Zayyan menyandarkan kepalanya di dada Kiandra. Tangannya mencengkeram baju sang ibu, napasnya mulai tersengal kecil. “Zay mau daddy…” bisiknya pelan, suara polos itu terdengar seperti permohonan.
Kiandra memejamkan mata sejenak, menahan emosi yang menggelayut. Ia mengusap punggung Zayyan perlahan, menepuk-nepuk dengan ritme menenangkan.
“Iya, mommy tahu. Mommy juga kangen daddy,” jawabnya lirih.
Beberapa menit berlalu. Isak kecil Zayyan perlahan mereda, digantikan napas yang mulai teratur. Tangisnya berubah menjadi dengusan kecil tanda kantuk mulai menguasai tubuh mungilnya. Kiandra tersenyum tipis, meski hatinya masih terasa berat.
Ia membaringkan Zayyan dengan hati-hati, menarik selimut hingga menutupi tubuh kecil itu. Di kening putranya, Kiandra mengecup lembut.
“Tidur yang nyenyak ya, sayang. Besok daddy pasti main sama Zay,” bisiknya.
Zayyan tak menjawab. Matanya sudah terpejam, namun alisnya masih sedikit berkerut, seolah mimpi pun masih menyimpan rindu.
Kiandra berdiri pelan, dia memotret wajah putranya dan mengirimkannya kepada Adam dengan tambahan pesan pada suaminya.
"Kamu lagi sibuk ya, Zayyan menangis merindukan mu"
Setelah itu Kiandra mematikan lampu kamar putranya, lalu melangkah keluar. Di ruang tengah, ia berhenti sejenak, menatap layar ponselnya yang masih gelap, tidak ada pesan balasan dari suaminya.
Ia menghela napas panjang. Malam semakin larut, dan di dalam hatinya, Kiandra hanya berharap satu hal, semoga kesibukan Adam tak membuatnya lupa, bahwa di rumah ada dua hati kecil yang selalu menunggunya pulang.
Kiandra yang lelah akhirnya memutuskan istirahat di kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, lalu menarik selimut menutupi tubuhnya. Tak lama Kiandra memejamkan matanya terlelap.
Pukul dua dini hari Adam baru tiba di rumah. Saat masuk kedalam rumah, suasaan sudah tampak sepi tidak ada satu orang pun keculai dirinya dan juga sang pembantu yang baru saja membukakan pintu untuknya.
Adam melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju ke lantai atas. Dia menuju ke kamar putranya terlebih dahulu sebelum masuk kedalam kamarnya.
Ceklek....
Dia membuka pintu kamar putranya lalu masuk kedalam. Dia mendekati ranjang putranya seraya menundukkan sedikit tubuhnya.
"Maafkan daddy terlalu sibuk sayang" ucap Adam seraya mencium kening putranya, ada rasa bersalah dalam dirinya.
"Daddy janji, besok akan mengajakmu bermain" gumam Adam, dia membenarkan selimut putranya, kemudian meninggalkan kamar putranya.
Dia masuk kedalam kamar pribadinya dengan sang istri. Di lihatnya ke arah rajang, ternyata sang istri sudah terlelap.
Namun suara langkah Adam membangunkan Kiandra.
"Kamu baru pulang? Maaf aku tidak menunggumu" ucap Kiandra seraya bangkit dan mendudukkan tubuhnya.
"Tidak apa-apa, kamu lanjut tidur lagi aja" ucap Adam seraya mengusap wajah ngantuk istrinya.
Kiandra mengangguk pelan, "Tadi aku menghubungimu tapi tidak kamu angkat. Zayyan rewel minta main sama daddy nya" kata Kiandra.
"Maafkan aku, tadi aku sangat sibuk. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan saat itu juga" jawab Adam bohong, padahal dia sedang berduaan dengan gundiknya sehingga tidak punya waktu untuk mengangkat panggilan istrinya.
Adam duduk di ranjang, dan membawa tubuh Kiandra kedalam pelukannya. Kening Kiandra mengeryit merasakan aroma lain dari tubuh suaminya.
"Aroma sabun"