Han Chuan adalah seorang anak desa yang ceria dan penuh semangat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan melukis pemandangan dan bermain bersama teman-temannya di bukit kecil dekat desa. Hidupnya sederhana dan bahagia hingga suatu hari, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang bermain bola bersama teman-temannya, langit tiba-tiba menggelap. Suara raungan aneh menggema dari hutan, dan makhluk-makhluk iblis menyerang desa tanpa ampun. Anak-anak yang bermain bersamanya menghilang satu per satu, ditelan oleh iblis saat di bersama ibunya. Ketika Han Chuan turun dari bukit, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan desa hancur, dan jasad para penduduk berserakan. Dalam keputusasaan, ia juga menyaksikan ibunya yang ternyata seorang dewa yang turun tangan melawan para iblis. Namun malang, sang dewa tewas ditusuk dari belakang dan tubuhnya dilahap utuh oleh iblis. Rasa sakit dan amarah yang tak tertahankan membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam diri Han Chuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FAUZAL LAZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Sorak-sorai murid-murid lain terdengar riuh. Sebagian ternganga, tidak percaya Han Chuan bisa menahan serangan tombak sekaligus menyerang balik begitu cepat.
“Pergerakan senior Han Chuan sangat rapi, bahkan berhasil menekan Bai Ling,” ucap seorang wanita dengan mata berbinar.
“Iya, kau benar… tapi bagaimana bisa ya? Aku sangat jarang melihatnya berlatih,” timpal murid lain dengan nada heran.
Han Chuan berdiri tenang. Pedangnya masih terselip di dalam sarung, tatapannya dingin, seolah ia belum benar-benar menganggap serius pertarungan itu.
Bai Ling menggeram marah. Ia menghentakkan kakinya lalu melesat lagi, tubuhnya bagaikan panah yang ditembakkan. Tanah retak di bawah pijakannya. Dengan teriakan keras, ia mengayunkan tombaknya bertubi-tubi ke arah Han Chuan.
Tombak Bai Ling menari liar, membelah udara dengan suara menderu, menekan Han Chuan tanpa henti. Bai Ling menyerang membabi buta, tidak memberi celah sedikit pun.
Han Chuan hanya bergerak ringan. Sesekali tangannya menepis gagang tombak dengan kecepatan kilat,Dan ia menangkis ujung tombak dengan pedangnya yang masih bersarung, menghasilkan suara logam beradu keras.
Setiap serangan Bai Ling seakan menghantam dinding baja. Wajahnya mulai memerah karena marah sekaligus frustrasi, sementara Han Chuan masih tersenyum tipis, tubuhnya nyaris tidak bergeming.
Bai Ling melompat mundur, napasnya terengah. Ia menyeka keringat di pelipisnya.
“Apakah kau cuma bisa berdiri dan menghindar saja? Kalau bisa, maju dan lawan aku! Jangan hanya diam dan terus menghindar!” ucap Bai Ling dengan nada frustasi. Satu pun serangannya tidak ada yang berhasil, justru ia yang terpukul mundur dan terpojok.
“Hemmm… Han Chuan lumayan juga, bahkan bisa memukul mundur Bai Ling,” ujar seorang senior yang menonton di pinggir arena.
Han Chuan menatap Bai Ling dengan serius. “Baiklah, kau ingin aku menyerang, kan? Kalau begitu, bersiaplah.”
Ia menarik pedangnya dari sarungnya dengan suara logam srekk! dan melesat maju. Gerakannya cepat, langkahnya menghentak lantai latihan. Pedangnya berayun tajam, mengeluarkan desing wuuush! saat menebas udara. Bai Ling juga maju, tombaknya berputar dan menimbulkan suara swiiing! seolah membelah angin.
Kedua senjata saling beradu. yang menimbulkan percikan api kecil yang memancar dari pedang dan tombak yang saling beradu.
Namun, baru beberapa serangan berlangsung, tiba-tiba sebuah anak panah melesat di antara mereka.dan menancap kuat di tanah arena, membuat keduanya berhenti seketika.
“Han Chuan! Kau bilang mau berlatih denganku, kenapa malah berlatih dengan pecundang ini?!” suara lantang seorang wanita terdengar. Ia melompat masuk ke tengah arena, dan menunjuk tajam ke arah Bai Ling. Dia adalah
Bai Ling mendengus, wajahnya merah karena marah dan malu. “Han Chuan! Kau tidak malu selalu berlindung di belakang perempuan?”
Belum sempat Han Chuan menjawab, Xue Lin menatap Bai Ling dengan tatapan dingin. Ia lalu menginjak anak panah yang menancap di tanah, lalu menendangnya. Thwaakk! Panah itu melesat lurus, berkilat dengan energi spiritual,dan hampir mengenai wajah Bai Ling. Ujungnya menggores pipinya hingga muncul bekas luka tipis.
Bai Ling terdiam. Ia menahan amarahnya, giginya bergemeletuk krek krek menahan emosi. Namun ia tidak melawan lagi.
Han Chuan dan Xue Lin sudah berada di lapangan yang lebih luas, di samping akademi.
Xue Lin segera mengambil panahnya dan menembakkannya ke arah Han Chuan. Swooosh! Swooosh! Anak panah melesat cepat, satu per satu. Han Chuan mengangkat pedangnya dan menebas setiap anak panah itu dengan gerakan gesit. CLANG! CLANG! CLANG! Percikan cahaya Qi muncul setiap kali pedangnya menghantam ujung anak panah. Ia terus maju ke depan, pedangnya menari di udara, menebas dengan kecepatan tinggi.
Xue Lin tidak kalah. Ia menembakkan anak panah dalam jumlah banyak, dan di setiap ujung anak panah dialiri Qi hingga menyala api. SWIISHH! KRAKK! Api dari ujung panah menyambar ke udara, membakar tanah dan debu di sekitar.
Seorang pria yang berdiri di samping menatap kagum. “Lihat! Lihat! Mereka berdua sangat hebat. Tuan muda Han Chuan juga sangat pandai dalam berpedang,” ujarnya pada seorang wanita di sampingnya.
“Hei, bukankah menonton terlalu dekat berbahaya? Nanti bisa kena anak panah!” wanita itu memperingatkan.
Benar saja, salah satu anak panah yang ditangkis Han Chuan melesat ke arah pria itu, mengenai bagian topinya dengan THUUKK!, dan pria itu langsung jatuh pingsan.
“Sudah kubilang kan?” ucap wanita itu tanpa peduli.
Xue Lin menatap Han Chuan dengan serius. “Hebat juga kau, Han Chuan. Kalau begitu, coba tahan serangan ini Panah Penghancur!”
Dengan gerakan cepat, sebuah anak panah berbalut api muncul dari busurnya dan melesat lurus ke arah Han Chuan, meninggalkan jejak cahaya merah di udara. FSSHHH!
Han Chuan langsung memasang kuda-kuda. “Mari kita lihat sehebat apa seranganmu. Tebasan Pembelah Angin!” Ia mengayunkan pedangnya, dan sebuah bilah pedang berkilat meluncur cepat, menebas anak panah api itu di udara.
Benturan antara kedua teknik itu menghasilkan gelombang energi. Barang-barang di sekitar berantakan, debu beterbangan, dan sorakan kagum terdengar. Wanita yang menonton menutup matanya sejenak, takjub dengan kekuatan yang terpancar dari dua murid itu.
Debu perlahan menghilang, dan terlihat mereka berdua berdiri tenang di tengah lapangan. Akhirnya, mereka tertawa bersama.
“Xue Lin, kau semakin hebat, ya,” ucap Han Chuan sambil tersenyum.
Xue Lin membalas dengan tawa ringan. “Haha, tidak juga. Malahan kamu, Han Chuan, yang semakin hebat. Apakah itu tadi teknik rahasiamu?” tanyanya sambil menatap Han Chuan penuh rasa penasaran.
“Bukan, tadi cuma teknik yang diajarkan sedikit oleh Guru Huangji,” balas Han Chuan santai.
“Achuan, Xue Lin, ayo kita makan siang dulu,” panggil Han Ling, ayah Han Chuan.
Mereka berdua mengangguk dan mengikuti Han Ling dari belakang.
Sementara itu, wanita yang menonton pertarungan itu menepuk teman prianya yang pingsan akibat kaget tertusuk anak panah di topinya. “Hei, hei! Cepat bangun, ayo kita pergi dari sini!” serunya sambil menggoyangkan tubuh pria itu.
Namun, bukannya bangun, pria itu malah mendengkur pelan. Kesal, wanita itu menamparnya dengan tegas, lalu langsung pergi meninggalkannya.
“Hahhh… aku tidak mati,” ucap pria itu sambil bangkit dan mencabut anak panah dari topinya. Melihat wanita yang menamparnya sudah pergi, ia segera berlari mengikuti langkahnya.
Hari pun semakin siang. Han Ling bersama Han Chuan dan Xue Lin akhirnya sampai di kediaman keluarga Han.
“Kalian duduk dulu di sini. Aku akan mengambil makanan yang baru saja selesai aku masak,” ucap Han Ling sambil tersenyum. Ia pun masuk ke dalam rumah, tak lama kemudian keluar lagi dengan beberapa hidangan hangat, lalu meletakkannya di meja di depan mereka. Aroma masakan langsung memenuhi ruangan.
Mereka bertiga duduk rapi. Sendok dan sumpit pun mulai bergerak, mengisi piring masing-masing dengan lauk.
“Achuan, tiga hari lagi akan diadakan Konferensi Pemburu Iblis. Ayah harap kau ikut serta,” ucap Han Ling dengan nada serius sambil menatap putranya.
Han Chuan menelan suapan nasi, lalu menjawab pelan, “Rencananya aku memang ingin ikut, Ayah… tapi aku belum menemukan teknik rahasiaku.” Ia kembali menyendok makanan, wajahnya tetap tenang, namun matanya menyiratkan keraguan.
“Ayah tahu, akhir-akhir ini kau selalu memikirkan cara untuk mendapatkan teknik rahasia,” ucap Han Ling dengan nada lebih lembut. “Tapi itu ada di dalam dirimu sendiri, hanya kau yang bisa menemukannya. Ayah tidak bisa banyak membantu.”
Han Ling lalu merogoh baju luarnya, mengeluarkan sebuah buku usang yang sampulnya tampak lusuh dan sedikit berdebu. Ia pun menyerahkannya kepada Han Chuan.
“Ambillah buku teknik ini. Mungkin berguna untukmu.”
Han Chuan menerima buku itu dengan kedua tangannya. Ia menatap sebentar, lalu meletakkannya di samping tempat duduknya.