NovelToon NovelToon
Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.

Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.

Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.

Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.

"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekerasan Terselubung

Aku tidak tidur semalaman.

Hanya duduk di sudut kamar, memeluk lutut, menatap pintu dengan mata terbuka lebar. Menunggu. Entah menunggu apa. Mungkin menunggu Leonardo masuk dan memberikan hukuman. Mungkin menunggu keajaiban yang tidak akan pernah datang.

Tapi yang datang hanya keheningan.

Keheningan yang mencekam. Yang membuat setiap detik terasa seperti jam.

Pagi datang dengan cahaya matahari yang masuk lewat jendela. Tapi aku tidak bergerak dari sudut kamar. Tubuhku sudah mati rasa. Kakiku kesemutan karena posisi yang sama terlalu lama. Tapi aku tidak peduli.

Yang kupeduli cuma satu hal.

Kapan Leonardo akan datang?

Sekitar pukul sembilan, pintu terbuka.

Leonardo masuk. Mengenakan kemeja hitam dengan celana bahan abu-abu gelap. Rambut rapi seperti biasa. Wajah tenang.

Terlalu tenang untuk seseorang yang istrinya baru saja mencoba kabur semalam.

Dia melirik ke arahku yang masih di sudut. Ekspresinya tidak berubah.

"Mandi. Ganti baju. Lima menit," perintahnya dengan nada datar.

Aku tidak bergerak.

"Nadira." Nada suaranya turun sedikit. Lebih gelap. "Jangan buat aku ulangi perintah."

Aku akhirnya bangkit dengan kaki gemetar. Masuk ke kamar mandi dengan langkah goyah.

Di cermin, aku melihat pantulanku. Wajah pucat. Mata merah dan bengkak. Rambut kusut. Seperti hantu.

Aku mandi dengan air dingin. Berharap bisa membersihkan perasaan jijik pada diriku sendiri. Tapi tidak berhasil. Rasa jijik itu tetap menempel.

Ganti baju dengan dress hitam yang sudah disiapkan di lemari. Warna yang tidak pernah ada sebelumnya di lemari ku. Hitam total. Seperti baju berkabung.

Aku keluar dari kamar mandi. Leonardo masih berdiri di sana. Menunggu.

"Ikut aku," ucapnya sambil berjalan keluar.

Aku mengikuti dengan kaki berat. Turun tangga. Tapi bukan ke ruang makan atau perpustakaan.

Kami turun ke basement.

Basement yang terakhir kali kulihat saat Riccardo dibunuh.

Jantungku langsung berdegup cepat. Tidak. Tidak. Jangan ke sana.

"Leonardo, kumohon..." bisikku. "Aku... aku tidak mau ke sana..."

Dia tidak menjawab. Terus berjalan turun tangga beton yang dingin.

Aku terpaksa mengikuti. Karena kalau aku tidak ikut, dia akan menyeretku. Dan itu lebih memalukan.

Sampai di basement, bau darah langsung menyerang hidungku. Bau yang tidak bisa terlupakan. Bau yang mengingatkan pada malam itu.

Tapi basement sekarang terlihat berbeda. Lebih... ramai.

Ada lima orang yang berlutut di tengah ruangan. Tangan mereka terikat di belakang. Mulut dibungkam dengan kain. Wajah penuh lebam dan darah.

Marco berdiri di samping mereka dengan tongkat besi di tangan. Andrey ada di sudut dengan pistol di pinggangnya.

Dan ada dua pengawal lain yang tidak kukenal. Berdiri di dekat pintu dengan senjata.

"Ini lima orang yang mencoba mengkhianati RED ASHES minggu lalu," jelas Leonardo dengan nada seperti guru yang menjelaskan pelajaran. "Mereka mencoba mencuri data rahasia dan menjualnya ke organisasi rival. Andrey melacak mereka. Marco menangkap mereka. Dan sekarang... mereka akan menerima hukuman."

Aku menatap lima orang itu dengan horor. Mereka menatap balik dengan mata penuh ketakutan dan permohonan.

"Kenapa... kenapa kau bawa aku ke sini?" tanyaku dengan suara gemetar.

"Karena kau perlu melihat," jawab Leonardo sambil berdiri di sampingku. Tangannya memegang pinggangku. Genggaman yang kuat. Memastikan aku tidak bisa lari. "Kau perlu mengerti apa yang terjadi pada orang yang mengkhianatiku. Pada orang yang mencoba meninggalkanku."

Tidak. Tidak. Aku tidak mau melihat ini.

Marco mulai bergerak. Mengangkat tongkat besinya.

Lalu memukul salah satu tahanan di punggung.

Bunyi benturan keras. Diikuti erangan yang tertahan karena mulut dibungkam.

Aku memejamkan mata. Tapi tangan Leonardo langsung menyentuh daguku. Memaksaku membuka mata.

"Lihat," bisiknya di telingaku. "Jangan menutup mata. Lihat apa yang kulakukan pada pengkhianat."

Marco memukul lagi. Dan lagi. Suara benturan. Suara tulang yang mungkin retak. Suara erangan kesakitan.

Aku merasa mual. Perutku bergejolak. Aku ingin muntah tapi tidak ada yang bisa keluar.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti jam, Marco berhenti. Salah satu tahanan sudah tidak bergerak lagi. Entah pingsan atau... atau lebih buruk.

Leonardo melepaskan genggamannya di pinggangku. Berjalan ke depan. Berdiri tepat di hadapan lima tahanan yang sudah babak belur itu.

"Kalian tahu aturannya," ucapnya dengan suara yang sangat tenang. "Sekali masuk RED ASHES, tidak ada jalan keluar kecuali kematian. Kalian sudah bersumpah. Tapi kalian memilih untuk mengkhianati."

Dia mengangkat tangan kirinya. Membuat isyarat.

Andrey langsung bergerak. Mengangkat pistolnya. Mengarahkan ke kepala lima orang itu.

DOOOR!

Tembakan pertama.

DOOOR!

Kedua.

DOOOR!

Ketiga.

DOOOR!

Keempat.

DOOOR!

Kelima.

Semua jatuh. Darah mengalir dari kepala mereka. Membasahi lantai beton.

Aku berteriak. Tidak bisa menahannya lagi. Berteriak sekeras-kerasnya sambil menutup telinga dengan kedua tangan.

Tapi terlambat. Aku sudah melihat semuanya. Sudah melihat lima orang mati di depan mataku.

Leonardo berbalik. Menatapku dengan tatapan kosong.

"Bereskan dan bakar mereka. Jangan sampai ada orang yang tahu," perintahnya pada dua pengawal yang berdiri di dekat pintu.

Mereka mengangguk. Langsung bergerak mengambil terpal besar.

Leonardo berjalan ke arahku. Aku mundur sampai punggungku menabrak dinding.

"Jangan... jangan mendekat..." bisikku. Air mata mengalir deras. Tubuh gemetar tidak terkendali.

Tapi dia tetap mendekat. Tangannya meraih wajahku dengan lembut. Sangat lembut. Kontras dengan apa yang baru saja terjadi.

"Ini yang terjadi pada orang yang mencoba meninggalkanku," bisiknya. Suaranya lembut tapi kata-katanya seperti pisau. "Ini yang akan terjadi pada siapa pun yang mencoba membawamu pergi dariku."

"Kau... kau monster..." aku menangis. "Kau pembunuh... kau..."

"Ya. Aku semua itu." Dia tidak membantah. "Tapi aku juga satu-satunya orang yang akan melindungimu dari dunia yang lebih kejam dari aku. Satu-satunya orang yang tidak akan pernah meninggalkanmu."

Dia mengangkatku. Menggendongku seperti pengantin walau aku memberontak.

"Lepaskan! Lepaskan aku!"

Tapi genggamannya terlalu kuat.

Dia membawaku keluar dari basement. Naik tangga. Kembali ke kamar.

Meletakkanku di tempat tidur dengan lembut.

Aku langsung meringkuk. Memeluk bantal sambil menangis sejadi-jadinya.

Leonardo duduk di tepi tempat tidur. Tangannya mengusap rambutku.

"Aku tahu kau membenciku sekarang," ucapnya pelan. "Aku tahu kau pikir aku monster terburuk yang pernah ada. Dan mungkin kau benar."

Dia berbaring di sampingku. Memelukku dari belakang walau aku mencoba menjauh.

"Tapi aku melakukan ini karena aku mencintaimu," bisiknya di telingaku. "Dengan caraku sendiri. Cara yang mungkin salah. Cara yang mungkin menyakitimu. Tapi ini satu-satunya cara yang kutahu."

"Ini bukan cinta..." aku berbisik di antara isak tangis. "Ini obsesi... ini kegilaan..."

"Mungkin." Pelukannya mengerat. "Tapi ini yang kumiliki. Dan aku tidak akan melepaskanmu. Pernah."

Tangannya mengusap lenganku dengan gerakan menenangkan yang justru membuat aku semakin takut.

"Aku mengurungmu karena aku takut kehilanganmu," lanjutnya. Suaranya terdengar... rapuh? "Aku sudah pernah kehilangan seseorang yang penting. Dan aku bersumpah tidak akan membiarkan itu terjadi lagi. Bahkan kalau itu artinya aku harus menjadi monster di matamu."

Aku tidak menjawab. Tidak bisa. Yang bisa kulakukan hanya menangis.

Menangis untuk lima orang yang baru saja mati. Menangis untuk Arman yang mungkin akan bernasib sama. Menangis untuk diriku yang sudah tidak tahu harus bagaimana lagi.

"Jangan pernah coba kabur lagi," bisik Leonardo. "Karena kalau kau coba lagi, hukumannya tidak akan seperti ini. Hukumannya akan jatuh pada orang yang kau sayangi. Ayahmu. Ibumu. Bahkan teman-teman lamamu."

Ancaman yang sangat jelas.

"Aku tidak mau menyakiti mereka," lanjutnya. "Tapi aku akan lakukan kalau kau memaksaku. Karena satu-satunya cara membuatmu tinggal adalah dengan memastikan kau tidak punya tempat lain untuk dituju."

Dia mencium kepalaku. Lama. Lalu bangkit dari tempat tidur.

"Istirahatlah. Besok kita akan mulai lagi dengan pemahaman yang lebih baik." Dia berjalan ke pintu. "Dan Nadira..."

Dia berhenti tanpa menoleh.

"Aku harap ini yang terakhir kalinya aku harus menunjukkan sisi ini padamu. Karena aku lebih suka kau melihatku sebagai suami. Bukan sebagai eksekutor."

Lalu dia keluar. Menutup pintu pelan.

Bunyi klik dari kunci digital terdengar lagi.

Dan aku ditinggal sendirian dengan trauma yang baru saja terukir di otakku.

Gambar lima orang yang ditembak tepat di depan mataku.

Suara tembakan yang akan terus bergema di kepalaku.

Dan kata-kata Leonardo yang entah kenapa terdengar lebih menakutkan dari tembakan itu.

"Aku melakukan ini karena aku mencintaimu."

Cinta.

Ini bukan cinta.

Ini penjaraan. Ini penyiksaan psikologis. Ini pembunuhan jiwa secara perlahan.

Tapi yang paling menakutkan adalah...

Bagian kecil dariku mulai bertanya.

Apa aku masih punya kekuatan untuk melawan?

Apa aku masih punya keberanian untuk mencoba kabur lagi setelah melihat apa yang bisa Leonardo lakukan?

Apa aku masih punya harapan bahwa suatu hari aku bisa bebas dari monster ini?

Atau... atau aku sudah terlalu rusak untuk diperbaiki?

Terlalu takut untuk melawan?

Terlalu lelah untuk berjuang?

Aku tidak tahu.

Yang kutahu cuma satu hal.

Hari ini, aku melihat lima orang mati.

Dan besok, mungkin giliran Arman.

Dan kalau aku tidak berhati-hati, mungkin giliran Ayah dan Ibu.

Jadi apa yang bisa kulakukan?

Menyerah?

Atau terus melawan sampai semua orang yang kusayangi mati?

Pertanyaan yang tidak punya jawaban benar.

Hanya pilihan antara buruk dan lebih buruk.

Dan aku... aku terjebak di tengahnya.

Tanpa jalan keluar.

Tanpa harapan.

Hanya dengan monster yang mengaku mencintaiku sambil menghancurkanku perlahan.

1
Abel Incess
tp sebenarnya ada baik"nya juga sih karna nadira tdk pernah di lecehkan
checangel_
Iya sih, taat pada suami harus, tapi jika aturan yang kau buat penuh tekanan untuk Nadira, apakah itu baik, Leon?🤧
checangel_
Luka bukan air mata 🤧
checangel_: Tapi lebih baik nggak dua²nya deh Kak /Facepalm/, karena terlalu riuh, kasian pikirannya 🤭
total 2 replies
checangel_
No! Penghulunya mana? Asal bilang sudah jadi milikmu 🤧
checangel_
Lima tahun itu berapa lama? 365×5= bersamanya yang penuh aturan dalam mengartikan cinta? 🤧/Facepalm/
checangel_
Seberat itu memang utang dalam realita 🤧, 50 Meter (Milyar) itu sebanyak apa /Sob/
checangel_
Meet with Rain again 🎶🤭
Leoruna: tetap mengalir🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!