NovelToon NovelToon
Benih Titipan Sang Milyarder

Benih Titipan Sang Milyarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Slice of Life / Single Mom / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Komedi
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?

Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.

Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.

Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bantu Aku, Joann!

Kael menyentuh hidung Biann. Bayi itu terkejut dan diam. “Kasih aku satu menit. Kita bakal beresin ini.”

Kael mengobrak-abrik tas popok. Ada alas lipat. Pasti ini tempatnya. Dia membentangkannya di kasur dan meletakkan Biann di atasnya.

Biann tetap diam, dan Kael menganggap itu tanda persetujuan.

“Tenang, nak,” katanya.

Matanya Biann terpejam kuat dan dia menangis lagi. Kael kembali ke tas dan menemukan benda menjijikkan.

Empeng.

Dia menahannya sebentar.

Kael menempelkan empeng itu ke bibir Biann, dan Biann langsung mengisapnya dengan kuat.

“Lihat? Aku hebat, kan? Merawat bayi enggak semenyeramkan itu!"

Biann terus mengisap sementara Kael kembali mengaduk isi tas.

Dia menarik keluar popok. Setidaknya yang ini dia kenal. Di sampingnya ada kotak plastik kecil. Dia membukanya, dan benar, tisu basah yang lembut.

“Mantap,” katanya. “Kamu hampir siap, Boy.”

Empengnya terlepas, tapi sebelum Biann sempat menangis lagi, Kael mengambilnya dari perlak dan memasukkannya kembali ke mulut sang bayi.

“Tos, ya!”

Lengan Biann pun bergerak ke sana ke mari saat Kael memperhatikan pakaian yang dipakai Biann.

Celana Levis yang menali sampai ke bahu, kancingnya di depan.

Kenapa ada yang memakaikan ini ke bayi yang perlu ganti popok?

Kenapa bukan celana training saja?

Tapi inilah yang harus ia hadapi. Kael mulai membuka kancing dari leher ke bawah, menyingkap perut bulat Biann dan bagian popoknya.

Popok yang dia ambil cocok. Dia melakukannya dengan benar. Perekatnya ada di kedua sisi kaki. Dia membuka semuanya dengan percaya diri, lalu sadar, mungkin seharusnya dia melakukannya dengan runtut.

Tidak ada jalan keluar. Kaki Biann terlanjur terbebas, dan dia sadar kalau bajunya akan kena kotoran saat popok dilepas.

"Telanjang aja, lah ya."

Kael menarik satu tangan Biann dari lengan baju dan empengnya terlempar lagi. Dia mengambilnya dan memasukkannya kembali ke mulut Biann. Tapi begitu tangan kedua terbebas, Biann sudah berguling-guling di kasur.

“Jangan, jangan, jangan nangis,” kata Kael sambil memasang empeng itu lagi.

Astaga.

Pekerjaan yang seharusnya tiga menit ini akan menjadi jadi dua puluh menit.

Air masih terdengar mengalir di shower. Kael merasa sanggup. Dia bertekad mengganti popok dan memakaikan baju pada bayi ini sebelum Maggie keluar.

Akhirnya, pakaian ribet itu berhasil dilepas. Bayi itu menggigil.

Oh.

Tidak.

Dia kedinginan.

Bagaimana caranya menjaga dia tetap hangat sambil mengganti popok?

Kael tidak mungkin menyerahkan kembali bayi yang sudah setengah telanjang ke Maggie.

Dia bergerak cepat menuju perekat kecil di sisi popok terbuat dari velcro dan mudah dilepas. Tapi begitu popoknya terbuka, dia dihadapkan pada pemandangan yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan.

Kotoran bayi berwarna kuning dan mengalir ke mana-mana.

Apa yang salah dengan anak ini?

Tinja tidak seharusnya berwarna atau bertekstur seperti itu.

Apa dia sakit?

Naik pesawat menyebabkan sesuatu yang mengerikan di dalam tubuhnya?

Perlu dokter?

Pendaratan darurat?

Dia yakin mereka sedang di atas laut.

"Ya Tuhan."

Kael mengambil satu tisu basah dan mulai membersihkan kekacauan itu. Lengket, basah, dan ada di mana-mana. Dengan cepat menyebar ke seluruh alas ganti. Dia terus menyeka.

Popoknya penuh sampai meluap. Tidak heran Biann begitu rewel. Kael tidak tahu harus berbuat apa. Dia menyisihkan popoknya, tapi sialnya popok itu terbalik dan kotoran kuning pun menyebar ke seprai.

Itu urusan nanti.

Dia mengelap dua kali.

Tiga kali.

Empat kali.

Rasanya tidak ada habisnya kotoran kuning ini. Dia tidak tahu harus menaruh tisu kotor di mana, jadi dia menumpuknya di atas popok.

Biann menendang-nendang, kakinya menyenggol tumpukan tisu kotor itu dan menyebarkannya di kasur, lalu kotorannya mengenai lutut. Bian menyapu tumpukan itu menjauh dan tangannya ikut tertutup kotoran.

Kael mengambil tisu lain, mencoba membersihkan lutut Biann dan tangannya sendiri.

Kael tidak percaya bisa sampai ke tahap ini. Bayi itu jelas sakit. Seprai penuh kotoran kuning yang meleleh. Dan dia sudah sampai di tisu basah terakhir.

Kael menariknya dari tas, berharap Maggie punya cadangan di tempat lain. Dia membersihkan sampai kelihatannya Biann sudah bersih.

Tisu itu dia taruh di tumpukan lainnya.

“Oke. Kamu udah mendingan?”

Empengnya jatuh lagi, tapi Biann tidak menangis. Bahkan hampir tampak tersenyum.

“Tuh, udah beres.”

Tapi saat dia berkata begitu, lendir kuning lain keluar dari bagian bawah Biann.

“Apa?” Kael mengambil tisu yang paling tidak kotor dan menyeka lagi. “Masih ada berapa banyak lagi di dalam perut kamu?”

Bagaimana kalau ini serius?

Haruskah dia memanggil Maggie?

Maggie bakal panik?

Dia sendiri panik?

Iya.

Dia panik.

Kael meraih HPnya dan menelepon kakaknya. Kakaknya punya bayi. Pasti dia tahu soal hal begini.

Telepon diangkat di dering kedua. “Kenapa kamu nelepon pakai satelit?”

“Aku lagi di udara.”

“Kamu seharusnya di Jogjakarta.”

“Aku transit ke Jakarta.”

“Ngapain?”

Dia harus menghentikan obrolan ini. “Joann, diam dan dengar dulu. Aku jemput Maggie dan bayinya. Kita mau ke pernikahan Adiputra.”

“Dia setuju?”

“Dia lagi mandi di pesawat.”

“Terus kamu butuh aku buat apa? Butuh kakak buat ngobrol soal perempuan? Begini, Kael, kalau seorang pria sangat mencintai seorang wanita dan mereka—”

“Joann. Diam. Ini serius. Biann ada di sini. Aku yang jaga dia sementara Maggie mandi. Aku rasa dia sakit.”

“Dia muntah? Itu normal.”

“Enggak. Popoknya penuh lumpur kuning. Ada yang salah!”

Joann tertawa keras dan lama, sampai tubuhnya terasa panas.

“Apaan sih, Joann? Ini enggak lucu!”

Joann masih tertawa. Dia hampir memutuskan sambungan, tapi adiknya butuh bantuan.

“Joann! Apa aku harus mendaratkan pesawat ini? Aku enggak tahu kita sejauh apa. Aku harus tanya Cesar daratan terdekat yang punya rumah sakit.”

Akhirnya Joann bisa mengendalikan diri. “Kael, kotoran bayi baru lahir emang enggak sama warnanya—” Joann tertawa lagi.

“Enggak sama warna apa?”

“Kotorannya. Warnanya memang kuning. Itu normal. Karena mereka belum makan makanan padat. Sierra juga pup kuning sampai mulai makan makanan beneran. Bayi cuma minum susu. Memang begitu tampilannya.”

Dia mengembuskan napas panjang. “Oke. Aku paham.”

“Jadi kamu lagi ganti popok pertamamu?”

“Iya.”

“Kamu ketemu tisu basahnya?”

“Ketemu.”

“Kamu ingat cara pakaiin bajunya lagi?”

“Enggak. Itu kesalahannya.”

“Aku juga enggak bisa bantu soal itu. Kayaknya kamu harus beliin dia beberapa baju bayi yang simple.”

“Oke.” Dia ragu. “Gimana tahu arah popoknya?” Kael mengangkat kaki bayi itu lagi. “Perekatnya dari belakang ke depan atau sebaliknya?”

“Cari gambar lucunya. Itu bagian depan.”

Kael membalik popok. Ada gambar lumba-lumba di satu sisi. Dia memindahkan sisi itu ke depan.

“Angkat kakinya buat selipin popok ke bawah, lalu tarik bagian depan sampai hampir sejajar dengan belakang. Habis itu tempel perekatnya.”

Kael mengangkat kaki Biann dan menyelipkan popok ke bawahnya. “Oke, paham.”

“Ada satu hal beda antara bayi laki-laki dan perempuan,” kata Joann. “Kamu harus nutupin—”

Kael berhenti mendengarkan saat semburan pipis Biann melesat ke udara. Cairan itu jatuh ke popok bersih, seprai, dan tangannya.

“Sial!”

...𓂃✍︎...

...Tak semua luka perlu dibalas. ...

...Sebagian cukup dilepaskan....

...────୨ৎ────...

1
Cindy
lanjut
Nar Sih
asyikk ahir nya recana kael berhasil meggie ikut 👍
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Rainn Ziella
😭🤣
Karunia Disha
ehh,, aq ikut ngos"an🤣
Karunia Disha
maggie yg mau melahirkan tp aq yg deg"an😆
DityaR 🌾: 🤭🤭🤭🤭 wkwkwk
total 1 replies
Rainn Ziella
Cieeee
Rainn Ziella
Wkwkwk totalitas bngt 😭
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Rainn Ziella
Bahlil aja 😭🗿
Rainn Ziella
Langka ni orang
Rainn Ziella
Dikata bom apa 🗿
Rainn Ziella
Banyak nanya ihh kesel ya meg 😭🤣
Adellia❤
om ganteng udah nandain seseorang🥰🥰
Afrilho
Mampir👍
Rainn Ziella
Ga expect bgt meg 😭🤣
Azarah Jaimani Azarah
untung gk lahiran di mobil kayak aku .
tapi aku gk naik limosin aku naik mobil trios mobil keluarga yg sederhana .
Rainn Ziella: Serius kak? Terus lahirannya sama siapa kak pas di mobil itu
total 1 replies
Adellia❤
untung enggak pake boxer rainbow🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!