NovelToon NovelToon
Takdir Abadi: Dua Jiwa, Satu Jalan Pedang

Takdir Abadi: Dua Jiwa, Satu Jalan Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Lonceng Kematian di Arena Keadilan

​Kabar tentang apa yang terjadi di pelataran Li Jian menyapu Puncak Awan Berkabut bagai badai topan. Belasan gundukan es berwarna merah kehitaman yang dulunya adalah murid Sekte Dalam, serta wujud Han Lin yang cacat total dan meracau ketakutan, membuat seluruh sekte gempar.

​Bahkan beberapa Tetua Sekte Dalam yang awalnya berniat menghukum Li Jian atas tuduhan pembantaian sesama murid, mendadak membungkam mulut mereka saat melihat plakat Tantangan Duel Hidup dan Mati yang berlumur darah di tangan Han Lin.

​Dalam hukum Sekte Pedang Awan, dendam darah yang telah memuncak menjadi Tantangan Arena Keadilan tidak boleh dicampuri oleh siapa pun, bahkan oleh Pemimpin Sekte sekalipun. Ini adalah penyelesaian mutlak.

​Matahari kini tepat berada di atas kepala. Cahayanya menyengat, namun anehnya, udara di sekitar Arena Keadilan—sebuah panggung batu obsidian raksasa yang diukir dengan susunan formasi pelindung kuno—terasa dingin mencekam.

​Ribuan murid Sekte Dalam, dan bahkan beberapa murid elit Sekte Luar yang mendapat izin khusus, memadati tribun penonton. Di kursi kehormatan tingkat atas, Tetua Utama duduk dengan wajah muram, diapit oleh tiga tetua lainnya.

​"Tingkat Lima dengan Qi setara cairan perak murni... Apakah anak itu benar-benar manusia?" bisik seorang Tetua berjanggut merah, matanya tak lepas dari pintu masuk arena.

​Tiba-tiba, kerumunan terbelah.

​Zhao Tian melangkah maju. Jubah putihnya berkibar, disulam dengan benang emas yang melambangkan status elitnya. Di tangannya, ia memegang Pedang Awan Bertuah, sebuah senjata spiritual tingkat menengah yang memancarkan pendaran api merah menyala. Aura Kondensasi Qi Tingkat Tujuh miliknya meledak maksimal, menekan napas murid-murid di sekitarnya.

​Meski tampak megah dan penuh amarah, siapa pun yang cukup jeli bisa melihat setitik kegelisahan di kedalaman mata Zhao Tian. Han Lin yang cacat telah menceritakan kengerian es absolut Li Jian padanya semalaman suntuk.

​Zhao Tian melompat ke atas panggung obsidian, menancapkan pedangnya ke lantai. "Li Jian! Keluar kau, sampah iblis! Hari ini aku akan membersihkan sekte dari anjing pembelot sepertimu!" suaranya menggelegar, diperkuat oleh Qi apinya.

​Keheningan menjawab teriakannya. Detik demi detik berlalu, hingga terdengar suara langkah kaki yang sangat pelan, berirama, dan santai dari arah jalan setapak.

​Li Jian muncul. Ia tidak mengenakan jubah kebesaran, hanya jubah putih standar murid sekte yang ujungnya sedikit compang-camping akibat pertarungannya di Lembah Kabut Beracun. Wajahnya tenang, tanpa riak emosi sedikit pun. Benda panjang terbalut kain hitam bertengger diam di punggungnya.

​Saat kaki Li Jian menginjak anak tangga pertama Arena Keadilan, suhu di seluruh alun-alun turun drastis. Embun beku mulai merambat di tepian panggung obsidian.

​Di dalam pikiran Li Jian, Yueyin tertawa merdu. Tawanya mengisyaratkan kebosanan sekaligus antisipasi akan sebuah tontonan berdarah. "Bocah sombong itu telah menelan Pil Pembakar Darah. Dia mencoba memaksakan kultivasinya mendekati Tingkat Delapan untuk melawan hawa Yin-mu. Jangan beri dia waktu untuk bernapas."

​Li Jian terus berjalan hingga ia berdiri dua puluh langkah dari Zhao Tian. Tangannya perlahan meraih ke balik punggung, menarik Gerhana dan membiarkan kain hitamnya terlepas ditiup angin. Pedang besi tumpul yang hitam legam dan berat itu mendengung pelan, seolah kelaparan.

​"Kau terlalu banyak bicara, Zhao Tian," ucap Li Jian datar. "Tarik napas terakhirmu. Arena ini akan menjadi makammu."

​Urat di pelipis Zhao Tian menonjol. "Mati kau!!"

​Zhao Tian menerjang maju dengan kecepatan kilat. Pedang apinya meninggalkan jejak merah di udara. "Seni Pedang Awan Mengalir: Naga Api Pembelah Langit!" Tebasan itu menciptakan ilusi naga api raksasa yang mengaum, membawa gelombang panas yang melelehkan lantai obsidian di bawahnya. Ini adalah serangan mematikan yang bahkan bisa mengancam kultivator Tingkat Delapan awal. Zhao Tian mengerahkan seluruh kekuatannya sejak detik pertama.

​Para murid di tribun menahan napas. Api itu terlalu besar, menyapu separuh arena dan menelan siluet Li Jian sepenuhnya.

​"Dia terbakar!" teriak salah satu pengikut Fraksi Zhao kegirangan.

​Namun, kegembiraan itu hanya berumur satu detik.

​Dari pusat pusaran api raksasa tersebut, sebuah suara sedingin gletser terdengar. "Tebasan Bintang Jatuh."

​ZRAAAK!

​Gelombang energi cair berwarna perak meledak dari dalam api. Api fana milik Zhao Tian tidak sekadar padam, melainkan membeku. Ilusi naga api itu berubah menjadi patung es berwarna merah kehitaman, sebelum akhirnya hancur berkeping-keping oleh ayunan sebuah pedang tumpul raksasa.

​Li Jian melesat menembus pecahan es tersebut. Matanya berkilat dengan niat membunuh yang absolut.

​Zhao Tian terbelalak ngeri melihat api kebanggaannya dihancurkan semudah memecahkan kaca tipis. Ia buru-buru mengangkat Pedang Awan Bertuah miliknya untuk menangkis tebasan vertikal Li Jian.

​KLAAANG!!

​Suara benturan logam bergema hingga memekakkan telinga. Gelombang kejut meretakkan lantai obsidian di sekitar mereka.

​Mata Zhao Tian melotot hingga nyaris keluar dari rongganya. Kekuatan fisik yang disalurkan melalui pedang hitam tumpul Li Jian itu tidak masuk akal. Rasanya seperti ditimpa oleh sebuah gunung. Terlebih lagi, hawa Yin absolut merambat melalui senjatanya, merobek aura pelindung Tingkat Tujuh-nya seakan itu terbuat dari kertas basah.

​Krak... krak...

​Pedang Awan Bertuah tingkat menengah itu mulai retak, diselimuti oleh lapisan es biru.

​"T-Tidak mungkin! Kultivasiku lebih tinggi darimu! Aku jenius dari Sekte Dalam!" Zhao Tian melolong putus asa, mencoba menarik pedangnya mundur.

​"Jenius?" Li Jian tersenyum sinis. "Di mataku, kau hanyalah batu pijakan yang terlalu rapuh."

​Li Jian memutar pergelangan tangannya, menekan Gerhana lebih keras.

​PRANG!

​Pedang kebanggaan Zhao Tian hancur menjadi puluhan kepingan es baja. Momentum tebasan Li Jian terus melaju tanpa halangan. Namun, alih-alih membelah kepala Zhao Tian, Li Jian dengan sengaja memutar gagang Gerhana, menghantamkan sisi tumpul pedang raksasa itu langsung ke dada Zhao Tian.

​BOOM!

​Terdengar suara tulang dada yang remuk redam. Zhao Tian memuntahkan pilar darah ke udara. Tubuhnya meluncur mundur bak layang-layang putus, menabrak pilar formasi pelindung arena hingga pilar itu bergetar hebat.

​Ia jatuh tengkurap di atas lantai obsidian yang dingin. Napasnya tersengal, organ dalamnya terluka parah, dan kinh-kinh meridian di dadanya mulai membeku.

​Ribuan pasang mata di tribun terdiam dalam keheningan yang mencekik. Pertarungan ini bukan duel; ini adalah pembantaian sepihak.

​Li Jian tidak menghentikan langkahnya. Ia menyeret ujung Gerhana di atas lantai batu obsidian, menciptakan suara goresan yang menyayat hati, berjalan perlahan menghampiri Zhao Tian yang merangkak putus asa.

​"Hentikan!"

​Sebuah suara penuh tekanan spiritual meledak dari kursi kehormatan. Tetua Utama berdiri, matanya memancarkan aura kemarahan. "Pertandingan ini sudah jelas pemenangnya! Li Jian, sebagai sesama murid sekte, berikan belas kasihan dan jangan mengambil nyawanya!"

​Langkah Li Jian terhenti. Ia memiringkan kepalanya, menatap Tetua Utama dengan tatapan kosong yang bahkan membuat sang tetua, seorang kultivator tahap Bina Pondasi, merasakan hawa dingin di tengkuknya.

​"Belas kasihan?" Li Jian mengulangi kata itu perlahan. Ia menoleh menatap Zhao Tian yang gemetar di bawah kakinya. "Saat dia merampas obat ibuku selama lima tahun, di mana belas kasihannya? Saat dia mengirim pembunuh ke Lembah Kabut Beracun, di mana aturan sekte?"

​Li Jian mengangkat Gerhana tinggi-tinggi. Cahaya matahari memantul pada bilah hitam legam tersebut, namun tidak memberikan kehangatan sedikit pun.

​"Ini adalah Arena Keadilan," bisik Li Jian, suaranya mengalun ke seluruh penjuru.

1
alex kawun
kecewa berat deh
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
Dian Pravita Sari
dlegek cerita gak tamat lagi pengarang nya binatang gak tanggung jawab
alex kawun
elok nya di certain dong suasana dan kesibukan sekte yg di tinggal kan mc nya
alex kawun
kagum dgn susunan bahasa dan kata2 dari author sangat rinci dan teratur , nampak kelas nya bukan kaleng2
semangat & lanjuuuut thor
Night Watcher
sayang banget zhao dibunuh..
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
Eko
bantaaaaaaiiiii
Eko
mantap Thor
Night Watcher
sbg sesama murid, kok zhao tian bisa berkuasa memerintah yg lain thor? apa penyebabnya?
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏
Eko
hahahaha...hanya mengantarkan nyawa
Eko
trik sampah licik
Eko
ayoooo lebih kuat lagi
Eko
mantap Thor
Eko
bantaaaaaaiiiii lah
Eko
ayoooo bantaaaaaaiiiii
Eko
alur cerita yang bagus dan menarik
Night Watcher
nyoba ngintib..
Lekat Wahyudi
👍👍👍
Udin Alex
lanjut thor
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!